Seringkali
dalam perjalanan hidup kita bertemu orang-orang tanpa menyadari betapa besar
pengaruh mereka kelak. Ada yang hanya singgah sebentar, ada yang hadir untuk
jangka panjang, meninggalkan jejak tak terlihat yang membentuk cara kita
memandang dunia. Disinilah tulisan ini dibuat sebagai penegas bahwa sesuatu
yang berarti perlu diabadikan, walau hanya lewat sebuah kata racikan sederhana.
Murid yang Berkarakter
Aku adalah seorang guru di salah sekolah swasta. Lahir dari keluarga religius, aku dibesarkan dengan batasan yang tegas mengenai interaksi dengan lawan jenis. Prinsip ini menjadi pegangan yang kukuh. Hingga suatu ketika, kemunculan seorang gadis sederhana bernama Safitri mulai menggoyahkannya.
Safitri bukan gadis yang mencolok, tetapi ada ketenangan dan kelembutan dalam dirinya yang membuat setiap pertemuan terasa berbeda. Tatapannya yang jujur, tutur katanya yang penuh hormat, dan senyumnya yang hangat perlahan menembus benteng prinsipku.
Sebenarnya aku sendiri bingung dengan apa yang kurasakan. Cinta memang tak pandang bulu, ia bisa menyerang siapa saja, tanpa memandang status, usia, pola pikir, atau latar belakang pendidikan. Dari awal, aku tidak pernah berniat menaruh perasaan pada Safitri . Sebagai seorang guru, aku selalu berusaha profesional, menjaga batas antara perasaan pribadi dan kode etik seorang pendidik.
Secara fisik ia terlihat biasa saja, tidak mencolok dan sederhana. Namun, ada sesuatu dalam kepribadiannya yang membuatku seorang dewasa merasa respect, salut, dan kagum. Ia tidak hanya tampil sederhana, tetapi juga berbicara dengan lembut dan kalem, menunjukkan sikap pemalu yang menawan. Kehadirannya jarang mencuri perhatian di media sosial, namun setiap tindakan dan kata-katanya memancarkan ketulusan. Yang paling membuatku tersentuh dari Safitri adalah sikap tawadhu-nya terhadap guru, keikhlasan dan penghormatan yang tulus itu membuat hatiku tak bisa menahan rasa kagum, sekaligus timbul dorongan untuk melindungi kelembutan hatinya.
Dalam kesederhanaannya, Safitri memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar paras; ia memiliki hati dan karakter yang meninggalkan jejak mendalam bagi siapa pun yang mengenalnya. Bukan hanya sikap tawadhu-nya kepada guru yang membuatku kagum. Etos kerja dan rasa tanggung jawabnya ketika diberi amanat, ditambah semangat pantang menyerah dalam menapaki bangku pendidikan, membuat rasa hormatku padanya semakin mendalam. Apapun amanat yang diberikan kepadanya selalu dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, bahkan ia kerap tidak memperdulikan kesehatan demi tanggungjawab yang diamanatkan.
Yang
lebih mengagumkan adalah, meski ia berasal dari latar belakang keluarga yang
carut-marut akibat broken home, hal itu sama sekali tidak menjadi penghalang
baginya. Safitri tetap pantang menyerah, bekerja maksimal dalam
setiap tugas, dan konsisten menunjukkan dedikasi yang luar biasa. Ketangguhan
dan keseriusannya ini bukan hanya mencerminkan kedewasaan di usianya, tetapi
juga membuatku semakin ingin melindungi, menghargai, dan belajar dari
keteladannya. Dalam setiap langkah dan usahanya, aku melihat sebuah keteguhan
hati yang jarang ditemui, sesuatu yang membuat sosok sederhana ini menjadi
begitu istimewa di mataku.
Meski
aku berusaha menjaga profesionalisme dan jarak yang pantas, ada dorongan tak
kasat mata yang membuatku ingin melindunginya. Aku ingin memastikan ia selalu
baik-baik saja, bebas dari luka dan kekecewaan, di tengah perjalanan hidup yang
kadang kejam. Ada rasa ingin menjaga, ingin menuntun, meski aku tahu itu bukan
peran seorang guru untuk campur tangan secara emosional. Hingga akhirnya saat
Safitri lulus pun tiba, menandakan sebuah babak baru di masa masa
mendatang.
Sebuah Pengabdian Hidup
Selama berstatus guru-murid, aku sama sekali tidak pernah berkomunikasi lebih dalam atau intens dengan Safitri . Namun, sejak kelulusannya yang menandai babak baru kehidupannya, aku merasa khawatir tentang kondisi gadis polos dan sederhana itu.
Aku tidak pernah berpikir apakah perasaan ini romantika cinta atau bukan, karena yang kuutamakan adalah kondisi Safitri, bagaimana ia dapat mengembangkan potensi terbaiknya pasca lulus. Kekhawatiran inilah yang membuatku berkali-kali mendorongnya untuk meneruskan studi ke perguruan tinggi. Aku bahkan berusaha mencarikan beasiswa, mendaftarkannya ke kampus yang sesuai, dan berjanji pada diri sendiri bahwa jika ia memutuskan untuk kuliah, aku akan membantunya semaksimal mungkin hingga ia lulus.
Namun, yang terjadi sungguh berbeda. Safitri menolak semua peluang studi di perguruan tinggi, memilih jalan yang ia anggap terbaik untuk ibunda tercintanya. Tanpa sepengetahuanku Ia memutuskan membatalkan beasiswa kuliahnya dan memilih bekerja demi membahagiakan ibunda, membantu pendapatannya, masya Allah, sungguh mulia. Gadis kecil ini, yang saat itu baru berusia 18 tahun, menunjukkan ketulusan dan pengorbanan yang luar biasa. Dalam tindakannya, aku melihat sosok yang tak hanya dewasa di luar usianya, tetapi juga memiliki hati yang besar, tulus, dan pantang menyerah.
Keputusan Safitri untuk bekerja demi ibunya menunjukkan sebuah kedewasaan yang jarang dimiliki remaja seusianya. Ia tidak mencari jalan mudah, tidak membiarkan latar belakangnya menjadi alasan untuk menyerah, dan tidak membiarkan ambisi pribadi menutupi tanggung jawab terhadap keluarga. Dari sini, aku belajar sebuah pelajaran penting: kekuatan dan karakter sejati seseorang muncul ketika pilihan diambil bukan sekadar untuk diri sendiri, tetapi untuk orang lain yang dicintai. Seperti Safitri yang memilih bekerja demi ibundanya.
Safitri menunjukkan keteguhan dan keberanian yang jarang dimiliki remaja seusianya. Bayangkan, di usia 18 tahun, ia bahkan berani membeli motor secara kredit sebagai sarana untuk bekerja, menunjukkan kemandirian dan tekad yang luar biasa. Setiap langkahnya seolah mempertegas bahwa usia muda bukan alasan untuk takut menghadapi tanggung jawab dan tantangan hidup. Di balik ketegarannya, sebenarnya Safitri sangat rapuh. Aku masih ingat betapa seringnya ia menangis saat curhat tentang nasibnya, merasa tidak seberuntung anak-anak seusianya. Suaranya bergetar ketika ia berkata;
"Kadang-kadang mikir begini, kok nasibku tidak seberuntung yang lain. Teman-temanku bisa hidup lebih mudah di depan kenyataan yang seperti ini. Kadang aku merasa gelisah, pingin seperti mereka. Bahkan bapak kandungku pun pisah karena keadaan, jadi aku makin merasa berbeda. Aku iri dengan teman-temanku."
Kata-katanya
sederhana, tapi mengiris hati. Di balik ketenangan dan kemandiriannya,
tersimpan luka dan rasa kehilangan yang dalam. Ia belajar menahan air mata di
depan dunia, namun ketika berbicara padaku, segala kepedihan itu muncul tanpa
bisa dibendung. Safitri terlalu baik, dan kepolosannya
murni bagi dunia yang keras, yang jarang dimiliki orang seusiannya.
Guru Spiritualitas
Sampai tulisan ini dibuat sudah enam tahun aku mengenal Safitri , dan selama itu pula aku menjalani sebuah kisah romantika sepihak yang suatu saat berharap dapat diberi kesempatan Tuhan untuk menjaganya. Bagiku tujuan mencintai Safitri adalah bukan sekedar kepemilikan, tetapi tujuan cintaku adalah untuk mengembangkan potensi terbaik Safitri dan menjadikan dirinya sebagai wanita yang hebat dunia akhirat.
Bagiku,
Safitri juga adalah guru spiritual. Dari dirinya aku belajar tentang
pengabdian, kesabaran, doa munajat pada Ilahi, janji pada diri sendiri,
loyalitas, tanggung jawab, keteguhan menghadapi nasib, serta penerimaan takdir
yang dibalut dengan ikhlas. Bahkan jika suatu hari aku menulis kisah baru, itu
bukan berarti menggantikan namanya. Namanya akan tetap abadi dalam diam, dalam
setiap sujud di sepertiga malam, sebagai saksi kisah klasik untuk masa depan,
yang tak lekang oleh waktu meski dunia terus berubah, abadi.
(Dibuat
dalam rangka Tugas matakuliah Bahasa Indonesia )
.jpg)
Terima kasih atas masukan anda.