Behavioristik-kah Pendidikan Pesantren

Behavioristik-kah Pendidikan Pesantren ?

Pesantren merupakan lembaga pendidikan islam yang sudah berdiri sejak ratusan tahun yang lalu. Di lembaga inilah diajarkan dan didirikan ilmu-ilmu agama kepada santri. Pesantren berasal dari kata “santri” dengan awalan Pe- dan akhiran –an yang berarti tempat tinggal santri.

Soegarda poerbakawatja juga menjelaskan bahwa pesantren berasal dari kata santri yaitu seseorang yang belajar agama islam, sehingga dengan demikian pesantren mempunyai arti tempat orang berkumpul untuik mempelajari agama islam. Tujuan dari pesantren itu sendiri adalah “Menciptakan dan mengembangkan kepribadian muslim, yaitu kepribadian yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, berakhlaq mulia, bermanfaat bagi masyarakat layaknya Rasulullah Muhammad SAW”.

Pesantren merupakan suatu komunitas tersendiri, dimana Kyai, Ustadz, Pengusrus Pesantren, serta para santri hidup bersama dalam suatu lokasi / komplek, berlandaskan nilai-nilai agama lengkap dengan norma-norma dan kebiasaan-kebiasaannya sendiri. Pesantren merupakan keluarga besar dibawa asuhan seorang Kyai atau ulama, dan dibantu oleh para pengurus pesantren dan para ustadz-ustadznya. Dalam dunia pesantren, seorang santri mempunyai dua orang tua, pertama yakni ibu-bapak yang melahirkannya dan yang memberi nafkah fisik, serta kyai dan Bu Nyai yang menjadi orang tua kedua yang mengasuhnya di pesantren.

Penbelajaran di pesantren biasanya diberikan dalam bentuk sorogan, bandongan, halaqah, dan hafalan. Sorogan ialah belajar secara individual dimana seorang santri berhadapan dengan seorang Ustadz, akhibatnya akan terjadi proses interaksi saling-mengenal antara keduanya. Bandongan ialah belajar secara kelompok yang diikuti oleh seluruh santri, biasanya metode ini dilakukan oleh Kyai langsung. Halaqah ialah diskusi untuk memahami isi kitab, bukan untuk mempertanyakan benar dan salahnya.

Salah satu hal yang menarik yang terdapat pada pesantren adalah rasa tawadhu’(hormat) seorang santri kepada Kyai. Seorang santri biasanya memiliki rasa hormat yang tinggi kepada seorang kyai, hal ini dikarenakan seorang kyai merupakan pemberi nafkah batin bagi mereka. Jika orang tua kandung dianggap sebagai pemberi nafkah fisik berupa sandang, pangan, dan papan, maka bagi mereka kyai merupakan pemberi nafkah batin berupa Ilmu manfa’at. Ilmu tentu lebih mulia daripada dunia, olehkarena itu para santri memiliki rasa tawadhu’ yang tinggi kepada Kyai mereka. Para santri yakin bahwa kyai tidak mungkin akan mengajarkan hal-hal yang salah dan bertentangan dengan islam.

Sikap tawadhu’ santri kepada kyai terlihat dalam proses pembelajaran, ketika Kyai menjelaskan suatu hal kepada para santri, para santri tentu akan langsung merespon stimulus yang diberikan oleh Kyai. Perkataan dari seorang kyai seakan-akan menjadi firman tuhan yang pasti selalu benar sesuai dengan ajaran islam. Akhibatnya tidak ada sanggahan sedikit pun dari santri terhadap perkataan dari Kyai.

Hal ini memberikan kesimpulan pada kita bahwa proses pembelajaran tersebut terfokus pada stimulus dan respon antara pendidik (dalam hal ini Kyai) dengan peserta didik (santri). Akhibatnya dalam pembelajaran tersebut keaktifan dari santri terbatasi oleh stimulus dan respon tersebut.

Berdasarkan sekilas paparan diatas, maka sebagian orang berpendapat bahwa pembelajaran di Pesantren cenderung Behavioristik yang terfokus pada Stimulus dan Respon antara Kyai dengan Santri. Pembelajaran di pesantren cenderung pasif karena para santri selalu mengikuti pendapat dari kyai mereka.

Namun fakta yang terjadi berbanding terbalik dengan pernyataan diatas, banyak diantara para santri yang justru lebih aktif berkarya di luar kelas daripada mereka yang bukan santri. Para santri seakan-akan lebih mandiri dan kreatif, hal ini dapat kita lihat keseharian dari santri tersebut. Sebagai contohnya dalam pergaulan terhadap masyarakat, para santri tentu lebih mudah bergaul dan melebur jika dihadapkan dengan masyarakat daripada seseorang peserta didik yang bukan santri.

Contoh lain bahwa para santri cenderung aktif dan kreatif adalah santri di Pesantren Tauhidullah yang berlokasi di Kompleks Masjid Al Azhar, Jalan Klentengsari, Banyumanik, Semarang.  Santri di Pesantren Tauhidulloh  memiliki unit usaha bernama Lia’s Gallery yang memproduksi aneka kaligrafi dari beragam bahan dasar seperti  tembaga hingga beludru yang telah diekspor ke Malaysia, Swiss, Dubai, Singapura dan beberapa negara Timur Tengah lainnya. Setiap tahunnya, Malaysia misalnya memesan 1 sampai 2 kontainer. Satu kontainer itu mencapai 2.000 buah kaligrafi.

Di pesasntren Mudtaudiin jepara, para santri justru mampu merakit sebuah leptop yang banyak diminati pembeli, karena harganya cukup murah dan mampu bersaing dengan kualitas laptop pabrikan. Pesanan pun mulai berdatangan dari berbagai instansi pemerintah, di wilayah Jepara, Semarang, Surabaya dan Jakarta, serta berbagai akademisi dan sekolah. 

Kedua fenomena diatas memberi simpulan bahwa para santri memiliki potensi yang cukup besar, mereka cenderung aktif, kreatif, dan mandiri.Pernyataan diatas mejelaskan pada kita bahwa Pendidikan di pesantren tidak sepenuhnya menggunakan teori Behavioristik yang memfokuskan pada stimulus dan respon. Jika seseorang pendidik mendidik murid menggunakan teori Behavioristik tentu keaktifan dan kekreatifan murid akan terbatasi bahkan tidak berkembang, Akan tetapi sebagaimana dijelaskan diatas, bahwasanya santri di pesantren cenderung kreatif dan aktif terhadap sesuatu. Hal ini mematahkan pernyataan sebelumnya bahwa pengajaran di Pesantren cenderung Behavioristik.

Perlu kita ketahui bahwasanya hampir semua Kyai di Pesantren  pasti akan mengingatkan pada peserta didiknya (santri) untuk mengamalakan ilmu yang dimilikinya. Hal ini dikarenakan ilmu jika tidak diamalkan pasti ilmu tersebut tidak ada gunanya.

Syaikh Abdurrahman bin Qasim An Najdi mengatakan, “Amal adalah buah dari ilmu. Ilmu itu dicari demi mencapai sesuatu yang lain. Fungsi ilmu ibarat sebatang pohon, sedangkan amalan seperti buahnya. Maka setelah mengetahui ajaran agama Islam seseorang harus menyertainya dengan amalan. Sebab orang yang berilmu akan tetapi tidak beramal dengannya lebih jelek keadaannya daripada orang bodoh.” . Hal inilah yang menjadi dasar mengapa para kyai menyuruh para santrinya untuk mengamalkan ilmunya.

Para Kyai mengingatkan para santri untuk mengamalkan ilmunya bertujuan agar para santri tidak lupa untuk mengembangkan ilmu yang telah diterima dari kyai, sehingga santri akan lebih aktif dan berkembang dalam kehidupan mereka. Kyai tentu tidak menginginkan para santrinya menjadi orang yang pasif. Penjelasan ini, kembali memberi penjelasan pada kita bahwasanya Pendidikan di Pesantren tidak menekankan pada teori Behavioristik. Memang jika dilihat secara sekilas model pembelajaran di Pesantren mirip pembelajaran menggunakan teori Behavioristik, akan tetapi sejatinya pembelajaran di Pesantren tidak sepenuhnya menggunakan teori Behavioristik.

Alasan lain yang membantah bahwa Pendidikan di Pesantren menggunakan teori Behavioristik sepenuhnya adalah bahwa di pesantren para santri seringkali melakukan diskusi-diskusi baik formal seperti Bahsul Masail, maupun diskusi non formal, yang kebanyakan mereka lakukan di tempat tempat santai seperti warung kopi. Pemikiran dari para santri cenderung heterogen, hal ini dikarenakan dalam pesantren mereka mampu bertukar informasi dengan sesamanya. Hal ini kembali menegaskan bahwa pendidikan di pesantren tidak sepenuhnya menggunakan teori Behavioristik.

Pernyataan-pernyataan diatas menghasilkan satu pertatanyaan pokok, yakni “jika tidak menggunakan teori behavioristik, pembelajaran di pesantren menggunakan teori apa.?”. Pertanyaan tersebut dapat kita jawab menggunakan analisa dari pernyataan sebelumnya. Di atas tadi disebutkan bahwa hampir semua kyai di Pesantren tentu akan selau mengingatkan pada para santri untuk mengamalkan ilmunya dengan tujuan agar ilmu yang dimiliki santri akan berkembang. Hal ini memberikan kesimpulan pada kita bahwa pesantren seakan-akan menggunakan teori Kontruksitivisme. Teori Kontruksitivisme adalah salah satu teori dalam pembelajaran dimana yang menjadi titik tekan dalam kegiatan belajar adalah aktifitas siswa dalam mengkontruksi pengetahuannya sendiri. Siswa diberi kebebasan untuk mengungkapkan pendapat dan pemikirannya tentang sesuatu.

Akan tetapi dalam teori Kontruksitivisme ada satu hal yang kurang berkesinambungan dengan model pembelajaran di Pesantren. Menurut teori Kontruksitivisme guru tidak mentransferkan pengetahuan yang dimilikinya, melainkan membantu siswa untuk membentuk pengetahuannya sendiri. , jadi seakan-akan pengetahuan itu berasal dari dalam siswa itu sendiri. Pernyataan inilah yang menjadikan teori Kontruksitivisme sedikit berbeda dengan model pembelajaran di Pesantren, dalam Pesantren seorang Kyai dianggap sebagai “Bahrul Ulum”(Lautan ilmu) yang menjadi sandaran bagi santri dalam kehidupan di Pesantren. Dalam pesantren kyai dianggap sebagai media Pentransfer ilmu pengetahuan, hal inilah yang membuat para santri memiliki tawadhu’(rasa hormat) yang tinggi kepada kyai mereka. Para santri percaya bahwa para ulama adalah pewaris para nabi. Penjelasan ini memberi kesimpulan pada kita bahwa model pembelajaran di pesantren sedikit memiliki corak Behavioristik.

Penjelasan  diatas tersebut memberitahukan pada kita bahwasanya model pembelajaran di Pesantren memiliki ciri Khas yang unik, yakni Integrasi (perpaduan) antara Behaviorsitik dengan Kontruksitivisme. Dalam penyampaian materi pendidikan di pesantren seakan-akan seperti Behavioristik yang menekankan pada stimulus dan respon, namun para santri di pesantren juga di biarkan secara bebas oleh kyai mereka untuk mengembangkan ilmu mereka sesuai dengan keampuan dan pengalaman mereka, seperti wacana “ Ilmu jika tidak diamalkan bagaikan pohon tanpa buah”. 

Hal ini membuktikan bahwa pendidikan di Pesantren terdapat corak dari Kontruksitivisme. Jadi tak heran kalau di Pesantren terdapat para santri yang aktif, kreatif , serta mandiri. Belum lagi pemahaman akan urgennya nilai luhur akhlak dalam rana sosial di pesantren seakan juga ikut menyulut penerapan teori lain semacam Humanisme yang berdogma memanusiakan manusia.

Daftar Pustaka
Budiningsih, Asri. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta
Daulay, Haidar Putra. 2007. Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana
Mastuhu. 1994. Dinamika Sistem pendidikan Pesantren. Jakarta : INIS
Ahmad, Djamaluddin. 2011. Dzurratun nafisah. Jombang: Pustaka Ibbien

http://alkautsar.co/?p=673 ( Diakses pada 29 Oktober 2012)
http://id.wikipedia.org/wiki/Behaviorisme (Diakses pada 31 Oktober 2012)


( Tulisan ini Ditulis Dalam Rangka Tugas Mata Kuliah Metode Belajar Mengajar FITK UIN Maliki Malang Tahun 2012)



Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.