About Me

header ads

Kilas Balik Kedigdayaan Daulah Abbasiyah



Diakui atau tidak  bahwa Daulah Abbasiyah merupakan salah satu dari kedigdayaan Umat Islam tempo dulu, terutama dalam perkembangan kebudayaan Islam sebagai salah satu media dakwah pada saat itu. Jika Daulah Umayyah dikenal sebagai Dinasti yang handal dan unggul dalam hal ekspansi kekuasaan dan penaklukan negeri seberang dalam rangka perluasan daerah kekuasaan Islam. Maka Daulah Abbasiyah justru minor akan tindakan ekspansi kekuasaan seperti yang dilakukan pendahulunya Daulah Umayyah. Nyatanya Daulah Abbasiyah justru lebih eksis dalam membangun sebuah peradaban dan kebudayaan Islam lewat budaya dan ilmu pengetahuan.

Proses assimilasi dan akulurasi budaya yang ditempuh Daulah Abbasiyah inilah yang menjadikan Dinasti Abbasiyah terbilang lebih lama eksis daripada Dinasti Ummayyah yang lebih mengandalkan penyebaran Islam lewat kekuatan fisik semacam ekspansi. Meski pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, Dinasti Umayyah juga pernah beliau bawa menjadi Dinasti yang bebas dari agresi militer ke daerah lain. Namun sepeninggal cicit Sayyidina Umar bin Khattab tersebut  Dinati Umayyah kembali harus berjibaku dengan peperangan dan ekspansi militer.

Jika dilihat dari proses awal pendirian dua Dinati diatas, baik Umayyah atau Abbasiyah, pasti terdapat perbedaan yang signifikan. Perbedaan pertama adalah proses pendiriannya, jika Daulah Umayyah berdiri lewat pertikaian panjang dengan kelompok Syiah atau Awaliyyin baik pada masa Sayydidina Ali bin Abi Thalib ra, Sayyidina Hasan bin Ali ra, hingga Sayydina Husain bin Ali ra yang dipungkasi dengan peristiwa Karbala berdarah. Maka cara memeroleh kekuasaan Daulah Abbasiyah cenderung lebih “kalem”, kontroversi gerakan keturunan bani Abbas yang dipimpin oleh Abu Abbas As Saffah pun tidak dipenuhi kontroversi panjang seperti yang terjadi pada Muawiyah bin Abu Sofyan selaku pendiri Daulah Ummayyah.

Salah satu kecerdikan dari Abu Abbas As Saffah adalah propoganda yang dilakukan di saat Daulah Ummayyah sedang panas-panasnya efek perebutan kekuasaan dikalangan putra kerajaan. Kala itu Abu Abbas As Saffah bukan sepenuhnya mengatas namakan Bani Abbas sebagai basis propoganda, namun ia memakai embel-embel “Bani Hasyim”, tujuannya bukan hanya untuk menisbatkan pada garis keturunan Rasulullah Saw, namun justru lebih cenderung untuk mencari dukungan kelompok Syi’ah [ Fanatis Sayyidina Ali bin Abu Thalib] yang menjadi musuh utama Dinati Ummayah. [1] Abu Abbas merasa dirinya lebih layak menjadi Khalifah karena merasa baninya memiliki kedekatan dengan nasap Rasulullah daripada bani Umayyah.[2]

Barulah ketika Abu Abbas sudah mempunyai basis pendukung yang kuat, maka barulah ia melakukan perlawanan dan kudeta pemerintahan Dinati Ummayyah yang saat itu sedang lemah-lemahnya. Baik karena serangan dari para pemberontak yang umumnya adalah Syi’ah dan Kawarij, atau karena faktor perang saudara untuk berebut kekuasaan sepeninggal Khalifah Hisyam bin Abdul Malik. Puncaknya adalah tewasnya Khalifah Marwan bin Muhammad di Mesir dalam pengejaran yang dilakukan kelompok oposisi pemerintahan yang dipimpin Abu Abbas As Saffah Abu Muslim Al Khurasany.

Perbedaan kedua antara Daulah Ummayah dan Daulah Abbasiyah adalah dalah hal pemilihan lokasi ibukota sebagai pusat dari gerakan. Jika Daulah Ummayyah memilih Damaskus [ Syiria] sebagai  lokasi pusat gerakan pemerintahan, yang awalnya notabenenya merupakan daerah basis pendukung Muawiyah bin Abu Sofyan dan mayoritas penduduknya merupakan bangsa Arab. Maka Abu Abbas As Saffah alih alih memilih daerah Hijaz sebagai daerah ibukota, jutru ia lebih memilih memboyong gerakan yang dipimpinnya ke daerah Baghdad [ Irak ] yang mayoritas bangsanya adalah bangsa Persia [ Asia tengah ].

Jika di analisis salah satu pertimbangan yang logis dari Abu Jakfar tentang tindakan tersebut adalah agar Daulah Abbasiyah bisa terbebas dari pengaruh budaya Arab yang cenderung kesukuan [Ashobiyah] yang mana keadaan ini takutnya bisa berpotensi menimbulkan gejolak di kalangan Daulah Abbasiyah.

Tetapi dengan dijadikannya Baghdad sebagai basis ibukota membuat Daulah Abbasiyah bisa leluasa menjalankan roda pemerintahan dan mengembangkan peradaban dan kebudayaan. Apalagi jika dilihat dari runtutan sejarah maka kita akan temui fakta sejarah bahwa bangsa Persia dikenal sebagai bangsa yang mempuyai peradaban dan etos kerja yang tinggi, lewat kerajaan Persia dengan kepercayaan Majusi yang menjadi salahsatu kepercayaan terbesar sebelum Islam datang untuk mematahkannya.

Adapun perbedaan antara Dinasti Ummayyah dan Dinati Abbasiyah untuk jelasnya bisa dilihat dari tabel berikut;

Kategori

Umayyah

Abbasiyah

Pendiri

Muawiyah bin Abu Sofyan

Abu Abbas As Saffah

Proses Berdirinya

Perang Berebutkekuasaan dan gejolak konflik dengan kaum Syi’ah [ Pendukung Sayyidina Ali bin Abu Thalib ra]

Melalui gerakan propoganda [kampanye] untuk menggulingkan Dinati Ummayyah

Pemilihan Ibukota

Damaskus, karena basis loyalis Muawiyyah

Baghdad, karena ingin bebas dari pergolakan bangsa Arab yang dikenal kesukuan

Fokus

Ekspansi kekuasaan serta Penalukan Bangsa luar demi perluasan daerah kekuasaan

Pengembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan, dengan pendirian Baitul Hikmah, dan Madrasah Nidhomiyah



Kemajuan peradaban Islam pada masa Abbasiyah terbilang moncer, dengan menjamurnya cendekiawan muslim di berbagai bidang. Sebut saja Ibnu Sina dan Ar Farobi yang merupakan ahli dokter berstatus filosif, Al Khawarizmi dengan temuan Alajabar sebagai rumus dasar matamatika, Ibnu Rusydi dan Ibnu Kholdun sebagai filosof yang mampu sejajar dengan Plato dan Aristoteles, dan masih banyak lagi lainnya.

Belum lagi banyaknya para sufi sebagai ciri khas filsafat Islam semacam; Robiatul Adawiyah, Hasan Al Basri, Syekh Junaid Al Baghdadi, dan lain sebagainya. Kemonceran pengetahuan dan kebudayaan di masa Daulah Abbasiyah ini sedikit banyak terwujud berkat usaha, kerja keras, dan kecintaan terhadap pengembangan kebudayaan. Bahkan pada masa Khalifah harun Ar Rasyid didirikan Baitul Hikmah sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Belum lagi adanya Madrasah Nidhomiyah sebagai lemaga pendidikan formal yang dimiliki umat Islam yang pada akhirnya menjadi rujukan lembaga pendidikan sesudahnya semacam Al Azhar Kairo, Ummul Qura Saudi Arabiyah, bahkan Harvard di Amerika.

Salah satu rahasia kemajuan Dauah Abbasiyah di bidang peradaban dan ilmu pengetahuan adalah tidak adanya batasan dalam pengembangan Ilmu Pengetahuan, selagi tetap dalam koridor Al Qur’an dan Hadist. Ilmu pengeahuan pun disikapi lebih luas lagi, tidak hanya seputar ibadah dan amalan amalan berbau fiqh dan ilmu kalam. Namun lebih luas lagi, pengembanga ilmu pengetahuan pun merangkul berbagai aspek kehidupan dalam ruang msyarakat, sehingga pada masa Abbasiyah akhirnya muncul berbagai cendekiawan musim yang ahli bukan hanya dibidang agama tapi juga ilmu-ilmu diluar ibadah semacam; Kesehatan, sosiologi, psikologi, geografi, matematika, dan lain sebagainya.


[1] Iqbal, Peranan Dinasti Abbasiyah Terhadap Peradaban Dunia, (Jurnal Studi Agama dan masyarakat IAIN palangkaraya: Desember 2015) Hal 271

[2] Serli Mahroes, Kebangkitan Pendidikan Bani Abbasiyah Perspektif Sejarah Pendidikan Islam, (JURNAL TARBIYA Volume: 1 No: 1 2015), Hal 78



Oleh: Rizal Nanda Maghfiroh

(Dibuat dalam rangka tugas Matakuliah Sejarah Peradaban Islam, Pascasarjana UNISLA )

Posting Komentar

0 Komentar