Antara Majapahit, Gajahmada, dan Putra Daerah Lamongan

Sejarawan Agus Sunyoto melakukan kajian tentang Gajahmada dan Lamongan

Foto: Youtube ( VikyBK ) 

Perbincangan tentang kerajaan Majapahit mungkin lebih terdengar familiar daripada kerajaan Hindu lain, termasuk kerajaan Airlangga sekalipun. Penyebabnya bervariasi, ada yang memandang Majapahit sebagai inspirasi para founding father dalam membentuk legalitas formil negara Indonesia. Ada yang melihat sudut pandang intrik konflik perebutan politik kekuasaan sesama keluarga kerajaan. Bahkan mungkin ada yang terhipnotis dari serial drama klasik Tutur Tinular buatan S Tidjab, dengan tambahan cerita fiktif Arya kamandanu beserta pedang sakti naga Puspa.

Kefamiliaran peradaban Majapahit bahkan berlaku di lingkungan masyarakat Lamongan. Ini dibuktikan dengan kerap kali diadakan kegiatan bernuansa penggaliannya napak tilas Majapahit di Lamongan oleh beberapa paguyuban maupun instansi formil. Padahal dilihat dari sudut pandang peninggalan bukti sejarah di Lamongan, justru peradaban kerajaan Kahuripan-nya Airlangga yang terbilang resmi menjadi bagian sejarah Lamongan. Sebagaimana dikuatkan dengan berbagai bukti sejarah seperti dituturkan di awal penjelasan.

Jika ingin tahu apa yang membuat jejak peradaban Majapahit intens diperbincangkan dalam bagian sejarah Lamongan. Mungkin hikayat Patih legendaris Gajahmada yang berperan sebagai daya tarik perbincangan tersebut.

Berdasarkan cerita yang beredar turun temurun di masyarakat Lamongan, dikatakan bahwa Patih Gajahmada yang menurut kitab Paraton muncul secara tiba-tiba kala tragedi makarnya Ra Kuti. Oleh warga setempat dianggap sebagai putra daerah asal wilayah Lamongan, yang terlahir dari seorang wanita bernama Dewi Andongsari. Adapun penyebutan Dewi Andongsari merujuk pada sebuah petilasan kuno di Dusun Cancing, Desa Sumberejo, Kecamatan Ngimbang, Kabupaten Lamongan.

Menurut forkware yang beredar di masyarakat setempat, dengan dikuatkan pula oleh Mbah Sulaiman selaku juru kunci makam Dewi Andongsari. Maka sekiranya perlulah mengetahui hikayat turun temurun tersebut, teruntuk sebuah pembahasan utuh sejarah Majapahit yang penuh misteri.

Disebutkan oleh Mbah Sulaiman bahwa Dewi Andongsari merupakan ibu kandung Gajahmada, yang berstatus sebagai selir Prabu Raden Wijaya, pendiri kerajaan Majapahit. Dikarenakan kedengkian dua permaisuri Raden Wijaya, Dara Petak dan Dara Jingga. Akhirnya muncul keinginan dua permaisuri tersebut untuk membunuh Dewi Andongsari yang kala itu sedang mengandung bayi laki laki.

Berkat kesetiaan salah satu prajurit Keraton, akhirnya Dewi Andongsari terselamatkan dari rencana pembunuhan. Demi keselamatan, Dewi Andongsari pun harus rela diasingkan di sebuah daerah bernama Cancing.

Cerita turun temurun tersebut berlanjut dengan meninggalnya Dewi Andongsari yang dimakamkan di tempat  bernama Gunung Ratu. Hingga akhirnya seorang kepala dukuh setempat bernama Ki Gede Sidowayah memungut Gajahmada yang saat itu masih bayi.

Dikarenakan Ki Gede Sidowayah merasa kurang mampu dalam mengasuh bayi. Akhirnya bayi tersebut pun dititipkan pada adik perempuannya bernama Nyai Wurawari yang tinggal di desa Modo. Nah, disinilah yang menjadi latar belakang munculnya forkware masyarakat setempat terkait nama Joko Modo (Pemuda dari Modo) sebagai  nama kecil dari Gajahmada.

Kisah napak tilas patih termasyhur Majapahit di Modo, oleh masyarakat lokal kembali dikaitkan dengan beberapa bukti sejarah. Kali ini berupa sebuah Sitinggil (Arti: Bukit Tinggi) yang merupakan tempat favorit Joko Modo untuk mengawasi kerbau-kerbau gembalanya dari arah atas. Selain itu di daerah Modo juga terdapat sebuah Sendang (Kolam) bernama Sendang Sidowayah, sebagai persembahan Joko Modo teruntuk ayah angkatnya.

Budayawan senior Agus Sunyoto dalam salah satu kegiatan napak tilas Gajahmada di Lamongan selatan, pernah mengutarakan hal menarik tentang hikayat Gajahmada di Lamongan. Agus Sunyoto tak menampik forkware masyarakat setempat tentang anggapan Gajahmada lahir di Lamongan.

Namun pengarang buku "Atlas Walisongo" tersebut memberikan statement berbeda tentang asal muasal Gajahmada yang menurut Forkware merupakan anak dari seorang selir. Dikatakan oleh Agus Sunyoto bahwa Dewi Andongsari merupakan putri dari Raja Kertanegara, raja terakhir kerajaan Singosari. Artinya Gajahmada sebenarnya merupakan cucu dari seorang raja termasyhur.

Penjelasan Agus Sunyoto tersebut terbilang logis jika dilihat dari bukti sejarah. Hal ini dikuatkan dengan adanya Prasasti Gajahmada (1273 saka / 1351 m) yang ditemukan di area candi Singhasari Malang yang juga didirikan atas keinginan Gajahmada sendiri. Sejarawan Universitas Indonesia Agus Aris Munandar menyebut bahwa pendirian tempat ibadah ( Caitya ) oleh Gajahmada mungkin merupakan sebuah penghormatan dari Gajahmada kepada Kertanegara selaku leluhurnya, karena budaya pembangunan caitya biasanya adalah ditujukan kepada kerabat yang masih terikat hubungan darah.

Meski terdapat beberapa bukti peninggalan sejarah sebagai penguat anggapan masyarakat setempat tentang Gajahmada sebagai putra daerah Lamongan. Namun tampaknya beberapa bukti tersebut belum begitu kuat untuk menunjukkan fakta bahwa Gajahmada memang terlahir di Lamongan. Alasannya dari sumber sejarah tersebut tak menyertakan ulasan lebih dalam tentang hikayat Gajahmada melalui bukti kongkrit, bukan sekedar melalui forkware turun temurun. Hasilnya catatan kesejarahan Indonesia hingga kini pun masih nihil informasi tentang teori Gajahmada lahir di Lamongan.

Meski demikian penjajakan tentang hikayat Gajahmada di Lamongan tetaplah menjadi hal menarik yang wajib untuk digali secara tuntas. Ini disebabkan banyaknya indikator lain sebagai bukti penguat tentang posisi Lamongan sebagai daerah vital dalam peradaban Majapahit. Sebut saja seperti situs kuno di Bedander (Kabuh, Jombang) yang berbatasan dengan Lamongan bagian selatan.  Dimana dalam Paraton memang disebutkan nama Bedander sebagai  lokasi Gajahmada (Pemimpin pasukan Bhayangkara) menyembunyikan Raja Jayanegara dari  keraton yang dikuasai Ra Kuti.

Ini belum termasuk mengaitkan dengan situs candi di Boworejo (Desa Cangkring, Kecamatan Bluluk, Kabupaten Lamongan). Dimana lokasi ini pernah ditemukan empat pasang prasasti Biluluk, yang terbilang menjadi satu satunya sumber sejarah yang memilki tingkat kejelasan akurat tentang anggapan Lamongan sebagai bagian peradaban Majapahit.



Sumber:

Tulisan merupakan sub penggalan naskah berjudul "Lamongan Sebagai Pusat Sejarah Indonesia". Dalam buku Pemuda Rantau Lamongan (2018), copyright Diaspora Muda Lamongan

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.