(6) Pohon Beringin di Negeri Imantaka


(6) Pohon Beringin di Negeri Imantaka


Sore kala itu walau mentari telah perlahan condong kearah barat, namun nuansa atmofsir panas masih tampak menyelimuti hari-hari. Mungkin gegara tensi tinggi menjelang sayembara politik di pertengahan tahun nanti. Dibawah pohoh beringin tua tampak sosok yang tak asing di jagat pewayangan. Fisiknya kurus dengan hidung yang panjang pula, siapa lagi kalau bukan Prabu Welgeduwelbeh alias Lurah Petruk Si Kantong Bolong, sang tuan pethel sakti Welgeduwelbeh.

Sebenarnya penampakan dirinya dalam seri episode kali ini tiada lain karena kegundahan hatinya menentukan pilihan tentang dua langkah yang akan ditempuhnya sebagaimana dipaparkan dalam dua seri sebelumnya. Mencari Ki Ganesha untuk mencari jawaban atas penyakit yang dialami pethel sakti terkasih sebagaimana di opsikan Mahaguru Smarasanta, atau memilih untuk mecari petunjuk tentang “Lautan Ilmu” sebagaimana disinggung oleh Kyai Smarasanta pada pertemuan terakhir kalinya.

Ditengah proses perenungan menentukan pilihan, terlintas di benak Ki Petruk tentang eksistensi pohon beringin tua yang disandarinya. Kala itu Sang Prabu Welgeduwelbeh berbincang dengan dirinya sendiri bahwa pohon beringin mempunyai kontribusi besar yang mampu menjadi garda penopang sendi kehidupan. Selain berperan sebagai penjaga kelestarian mata air madyapada, beringin tua tersebut mempunyai urgensi mempersatukan jagat madyapada Hastina dari kepentingan kaum elit atas identitas pribadi yang kerap didewa-dewakan tiada henti.

“Mengapa pohon beringin tua ini tak tampak tuah eksistensinya. Hingga tak orang yang turut ikut membagi idealismenya untuk duduk bersama dibawah lindungan kanopi dari akarnya”, kata Ki Petruk merenungi fenomena jaman “Now” tersebut.

Diamatilah pohon beringin tua megah itu olehnya, seketika itu pula Ki Petruk tampak tersetak saat melihat banyak poster kaum elit yang berlomba menempel di sisi lain pohon beringin tersebut.

“ Salah satu alasan mengapa pohon beringin tak tampak lagi eksistensi menawan adalah idealisme poster-poster kaum elit yang mengepung dan menancap di batang kejantanan. Hingga sebabkan keengganan para perawan kahyangan untuk bersama menikmati keteduhan dibawah rimbunanya kanopi si beringin tua".

***

Diheningnya suasana seketika terdengar suara yang tak asing ditelinga pewayangan. Terlihat dari jauh seakan tampak sosok putih pula diatas dahan pohon.

“Bukan hanya itu saja cerita mirisnya pohon beringin tua pelindung jagat madyapada”, kata suara tersebut

“Siapakah engkau gerangan, apakah engkau empu penunggu pohon beringin ini yang hendak protes atas kelancangan kaum elit yang memperalat pohon beringin kepunyaanmu”, kata Petruk.

“Engkau terlalu larut dengan kenyamanan petualangan sebagai seorang punakawan. Hingga engkau lupa dengan kolega seperjuangan”.

Tiba-tiba sosok putih tersebut turun dari pohon beringin tua menghadap Ki Petruk si Kantong Bolong. “Hanoman !!!. Mengapa engkau bisa hadir pula disini. Lantas apa maksud dari perkataan engkau sebagaimana tadi ?”. Papar Petruk dengan kondisi kaget atas kehadiran Hanoman.

“Petruk, terkait renunganmu tentang poster-poster elit tersebut aku sependapat. Hanya saja hal yang mengganjal benakku bukan hanya perihal poster-poster kaum elit yang mencatut si beringin tua. Melainkan pada tindakan busuk elit istana yang seolah memuja kehebatan tuah si beringin pelindung nusantara Imantaka, menyiarkan sana-sini eksistensi beringin tua. Namun pujaan-pujaan tersebut sekedar sebuah alat untuk memperkaya diri melalui sesajen-sesajen pemanja empunya si beringin tua”.

“Sejak kapan engkau berada tempat ini Hanoman si wanara putih?”. Tanya Petruk heran.

“Sebenarnya daku disini juga mempunyai sebuah misi yang disuguhkan guru Smarasanta untuk memutihkan negeri Imantaka dari warna hitamnya tipu daya, hasutan domba, dan kabar-kabar hoax serta menjaga marwah pohon beringin tuah sebagai maskot tapal batas negeri Imantaka”.


***
Petruk kaget mendengar kata Imantaka yang tentu tak asing di telinga para penggiat punakawan. Memang semasa Prabu Puntadewa belum mokhsa kehadirat Ilahiyyah, dirinya pernah ditugasi membegal Jamus Kalimasada yang raib dibawa Ning Mustikaweni dari Imantaka.

 “Jadi ini negeri Imantaka. Negeri agung yang katanya penuh bumbu kepercayaan pada spiritualitas tentang nilai Sang Hyang Ilahiyyah”, kata Petruk.

“Imantaka memang tak seperti cerita-cerita klasik jaman jadul. Sejak senjata globalisasi dengan dua pisaunya hadir ke permukaan jagat madyapada Imantaka, maka tatanan Imantaka telah bermetamorfosis tidak sempurna. Alhasil paradigma-paradigma akuistik yang dipenuhi budaya mengunggulkan kuantitas diri pun perlahan meresap pada tradisi-tradisi di Imantaka”.

Mendengar perkataan Hanoman tentang Imantaka, Petruk pun heran. “Sebentar, sejak kapan engkau tahu banyak tentang seluk beluk jagat Imantaka. Bukankah engkau masih tertidur lelap tatkala peristiwa pencurian Kalimasada oleh putri Imantaka ?”, tanya Petruk kembali.

‘Memang saat itu aku masih tertidur lelap dalam pemanjaan senyapnya informasi dan acuh tak acuh pada pergolakan di madyapada. Tapi berkat arahan Ki Nala Gareng dengan mustika tablet saktinya maka daku mulai sedikit terbuka perkembangan di jagat nusantara. Bukankah dengan sekali klik-klik kita kan mampu menembus jagat halus madyapada. Jawab Hanoman memberikan klarifikasi.

“ Sesuai dengan dugaanku bahwa si gila teknologi tersebut yang berada dibalik berubahnya mainsite penyikapanmu tentang teknologi informasi berbasis virtual.Memang demikian, melalui media-media sakti itu semua sekat-sekat kasta madyapada akan terbuka melalui sihir-sihir virtual yang ada dibaliknya. Hanya saja media-media tersebut juga memiliki dampak besar bagi pengembangan mainsite generasi now. Dulu kebutuhan sandang-pangan-papan merupakan trilogi kebutuhan pokok keseharian, namun sekarang hadirnya peradaban virtual memberikan sentuan narsisme diri yang lambat laun menjadi sebuah kebutuhan dalam keseharian”. Bantah Petruk mencoba tidak mau sependapat dengan produk Gareng  yang merupakan rival utamanya.

“Begitu menakutkan sekali ternyata pusaka sakti Ki Gareng”. Kata Hanoman usai mendengar argumentasi Ki Petruk Welgeduwelbeh.

“ Pusaka tersebut adalah sumber segala keinstanan di jagat madyapada. Dulu untuk berkomunikasi dengan jarak jauh harus melakukan uzlah tapabrata agar dikaruniai oleh Hyang Iahiyyah sebuah ilmu bashirah telepati untuk dapat bercakap dengan kolega dari jarak yang jauh. Namun kini cukup dengan media layar sakti tersebut ilmu telepati akan mudah untuk digunakan oleh seseorang secara instan.”. Kata Petruk kembali menjelaskan mustika Gareng.

“Bukankah itu hal yang luar biasa dalam sebuah kemajuan umat manusia ?”, tanya Hanoman.

“ Engkau salah, telepati instan meskipun sekilas terlihat memberi kemanfaatan namun disisi lain juga memberikan sentuan buruk bagi perkembangan jagat kemanusiaan. Ilmu Telepati yang didapat dengan cara instan tanpa melalui riyadhah tapabrata tentu akan lebih rentan terpengaruh dengan penyakit hasutan sebagai konsekuensi pengamalan keinstanan”.

***

“ Lupakan tentang basa-basi ini Hanoman, ceritakan kembali tentang apa yang engkau ketahui tentang Imantaka serta keeksistensian taji pohon beringin tua ini. Katamu engkau sudah lama menjadi intel dadakan yang biasa blusukan ke gang-gang”, Petruk beropini.

“ Seperti yang kau renungkan tadi, pohon beringin tua ini sebenarnya bukanlah sebuah pohon beringin biasa yang pelengkap untuk menghijaukan jagat madyapada. Bukan pula sebuah hiasan mata yang kerap digunakan oleh generasi jaman now sebagai latar belakang background untuk berfoto selfi, kemudian foto tersebut diupload ke jagat maya dengan penambahan kata puitis hasil ijtihad, dengan mengaharpkan imbalan pengakuan akan narsisme yang dilakuka dibalik simbol bertuah pohon beringin penjaga Imantaka”. Papar Hanoman mencoba menjelaskan.

“Aku juga berfikir demikian, tatkala aku bersandar di pohon beringin ini aku merasakan aura luar biasa hingga menusuk indra penciumanku yang memang sensitif"

“Aura itu bukan berasal dari rintihan pohon beringin melainkan dari bau badan dariku yang memang sudah tiga hari belum mandi. Aku belum mandi tapi aku masih cantik juga.” Cetus sosok wanara putih tersebut.

Mendengar jawaban si wanara putih, petruk kesal bukan kepalang atas surprise yang telah didapatkannya. 

“Dasar aura itu ternyata datang dari bau tubuhmu. Pantas indra penciumanku serasa tak asing dengan aura tersebut”.

***

Wanara putih pun kembali meluruskan, “ sudah  biar ku lanjutkan presentasi hasil pengamatanku dari objek penelitian di negeri Imantaka. Engkau tahu mengapa aku bersembunyi di balik rimbunan kanopi pohon beringin ?”, cetus wanara putih.

Petruk pun geleng-geleg kepala mendengar argumentasi Hanoman wanara putih. Ia juga semakin wegah dengan basa-basi yang tiada ada hentinya. Seketika itu pula Hanoman melanjutkan dialeknya. “ Karena memang penghuni Imantaka kini memandangku sebagai hewan yang harus serta merta dibinasakan, diperkusi tiada henti, dan dicap sebagai kriminal yang harus menetap dijeruji besi tanpa peduli klarifikasi”.

“ Bukankah engkau memang seorang wanara hanoman ?”, kata petruk melakukan umpan balik terhadap opini si wanara putih.

“ Bukan, aku bukanlah hewan. Mana ada hewan yang dapat berbicara, menulis tentang aneka dialeka tentang aneka pengalaman yang dijumpa”.

“Mungkin tindakan persekusi mereka juga imbas dari tindakan jahil engkau seperti mencuri beras petani jelata hingga pemerintah pun mendatangkan beras impor. Atau imbas dari tingkah lakumu yang kerap menggoda perawan-perawan Imantaka dengan bujuk tipu kata”. Petruk mencoba menyerang si wanara putih.

“Semua bermula dari dogma kaum elit Imantaka yang melabeli daku sebagai seorang yang hendak melakukan makar terhadap pemerintah yang berdaulat. Padahal tindakan yang ku perbuat hanya mencabut sebuah poster salah satu kaum elit yang menempel pada pohon beringin ini, hanya karena niatku untuk menyelamatkan sarang semut yang terjebak dalam perekat poster-poster kaum elit tersebut. Toh mereka acuh terhadap klarifikasi pribadi yang hendak ku kata. Hasilnya pun aku memutuskan untuk menyembunyikan diri diatas kebijaksanaan pohon beringin tua ini.”

Petruk tersentak mendengar penjelasan wanara putih, “Ternyata pengaruh sihir globalisasi sudah sampai menjangkit negeri Imantaka. Begitu parahkah pengaruhnya sampai negeri luhur yang dipenuhi kepercayaan pada nilai kemanusiaan rahmatal lil alamin berganti menjadi negeri idealis tertutup yang cenderung memanjakan diri dengan nilai kemanusiaan yang hanya diperuntukan untuk kalangan mereka saja”.

“Mungkin saja dibalik etnosentrisme Imantaka tersirat sebuah pesan politik untuk melancarkan misi khusus menyambut sayembara politik yang akan berlangsung dalam waktu dekat ini”. Kata Hanoman.

Mendengar pembicaraan sayembara politik Petruk pun semakin serius bercakap tentang dialeka, “ Sayembara politik memang-benar menggiurkan dan menggoda semua pihak. Mulai ksatria baja hitam, kepala partai pasaran, hingga rakyat jelata yang mencoba mengambil momentum untuk mendapatkan cipratan pesangon dari penggiat sayembara politk”.

***

“Seberapa nikmatkah sayembara politik, hingga banyak pihak saling sikut berebut kursi pemenang hingga tak jarang terjadi serangan blackcampign besar-besaran atau bahkan hoax yang tak karuan dan serangan jalur bokong lainnya”, kata Hanoman berargumentasi.

“Engkau ini bangsa wanara, mana mungkin engkau faham manisnya kampiun sayembara politik. Kau lihat belum menjadi kampiun sayembara politik para elit Imantaka sudah berani bertindak ekslusif mengunggulkan diri sebagai bangsa pilihan tuhan. Hingga menafsirkan secara sepihak firman Sang Hyang Ilahiyyah untuk menjustifikasi kalangan mereka sendiri, lalu memandang kelompok lain sebagai kasta kedua. Bayangkan bagaimana nantinya jika mereka memenangi sayembara politik dan menjadi raja dengan embel-embel rahmatal lil alamin. Tentulah mereka akan lebih nikmat membuat kebijakan yang semakin ekslusif memanjakan kelompok mereka. Bagaimana bukankah itu sebuah nikmat yang tak bisa didustakan. Kelakuan mereka yang meyingkirkan lawan saingan tanpa perlawanan secara jantan itu lebih busuk daripada perlawanan hukum rimba wanara yang dilakukan secara adil dan jantan”, Papar Petruk panjang lebar.

“Cukup Petruk hentikan jangan berdialeka busuk dibelakang lawan saingan. Seorang punakawan hendaknya bertugas untuk menasehati para insan, bukan malah menebar propaganda yang belum diketahuinya termasuk tentang apa fakta yang sebenarnya terjadi di Imantaka, bukan opini penafsiran berdasarkan umpan balik pendapat seseorang ”, bentak sosok wanara putih.

“ Apa maksudmu Hanoman, apa yang sebenarnya terjadi dengan dirimu. Bukankah yang pertama-kali membincang perihal Imantaka adalah engkau sendiri ”, Petruk mencoba melakukan klarifikasi.

Petruk si kantong bolong terkejut untuk kedua kalinya setelah melihat Hanoman memancarkan sinar putih. Saat itu pula dihadapannya didapati sosok lain yang sebenarnya merupakan sosok asli dari jelmaan Hanoman si wanara putih melalui ajian maling rupa.


“Dewi Ning Mustikaweni !!!”, kata Petruk terkejut seraya melempar kantong bolong yang menutup akhir dialeka.



(Dibuat pada Jum'at, 19 Januari 2018)

----
Prev: Sayembara Politik Bagong   -   Next: Togog dan Kebebasannya


----

5 komentar:

  1. Mantap. Request narasi Pertarungan petruk dengan pethel saktinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. masukan diterima gan. tapi pethelnya petruk belum sembuh dari pnyakit karatan. mungkin perlu disembuhkan dulu.. hehehe

      Hapus
  2. really liked this article because it gives a lot of inspiration thanks. please visit my website Daftar Situs Poker Online

    BalasHapus

Terima kasih atas masukan anda.