Kajian Al Hikam: Keutamaan Maulid Nabi Saw (Bagian Pertama)


Pengajian Al Hikam KH Moh Djamaluddin Ahmad (19 November 2018)


Penjelasan Kyai Djamaluddin

Pengajian Al Hikam edisi hari ini bertepatan dengan tanggal 12 Rabiul awwal yang merupakan hari kelahiran Rasulullah Muhammad Saw. Sebab itu Kyai Djamaluddin Ahmad memfokuskan untuk membahas tentang  Maulud Nabi Saw, sebagaimana tertera dalam dua lembaran (Lihat Foto)  berisikan perkataan para sahabat dan para ulama seputar Fadhilah Bulan Maulud Nabi Saw.


Adapun "dawuh-dawuh" tersebut dikutip Kyai Djamal dari kitab An Ni'mah Al Kubra 'ala Al 'Alam fi Mauludi Sayyidi Waladi Adam karangan Al Imam As Syihabuddin Ahmad Bin Hajar Al Haitami As Syafi'i (899 H - 974 H / 1494 M - 1566 M).

Pertama, adalah perkataan Sayyidina Abu Bakar As Shidiq, "Barangsiapa yang menginfaqkan satu dirham atas dibacanya Maulid Nabi Saw, maka ia adalah temanku di surga ".

Melalui perkataan Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu Anhu diatas, dapat disimpulkan bahwa sejak era Khulafaur Rasyidin atau bahkan masa Rasulullah Saw sebenarnya sudah terdapati budaya memperingati Maulud Nabi. Meski pada masa tersebut peringatan Maulud Nabi belumlah diperingati secara ijtimaiyyah.

Jika ingin bukti lebih kuat lagi terkait anggapan Maulud Nabi sudah ada sejak jaman Nabi. Maka dapatlah direnungi dari sebuah hikayat tentang Nabi Saw yang pernah ditanya seputar alasan puasa hari Senin.

Dalam suatu  waktu, Salah satu sahabat pernah bertanya pada Nabi Saw, " sebab apa diperintahkan puasa hari Senin ?". Nabi pun menjawab secara jelas, " Itu adalah Hari Kelahiranku sekaligus hari diutusku (sebagai Rasulullah)".

Artinya, dari sepenggal  hikayat  diatas ditarik kembali premis, bahwa puasa Sunnah hari Senin mengandung pesan tersembunyi tentang peringatan hari ulang tahun Nabi Muhammad Saw. Dimana batasan waktunya bukan hanya diperingati setahun sekali, sebenarnya malah diperingati semingguan.

Selain memperingati Maulud dengan cara puasa Sunnah hari Senin. Para sahabat Nabi adakalanya justru lebih memilih memperingati Maulud dengan cara memperbanyak amal shodaqoh, seperti yang diteladankan oleh Sayyidina Abu Bakar sebagaimana diatas.

Kyai Djamaluddin Ahmad menyebut memeringati Maulud Nabi Muhammad Saw merupakan sebuah proses menghidupkan Sunnah Nabi Saw. Persis seperti Hadist Nabi, " Barang siapa yang menghidupkan Sunnahku maka berarti (seseorang tersebut) cinta aku. Barangsiapa yang mencintaiku maka kelak akan bersamaku di surga".

Adapun pengertian Sunnah sendiri, Kyai Djamaluddin mengartikan sebagai "Dawuh-dawuh (Perkataan) Nabi, perbuatan-perbuatan Nabi, dan hal hal Ikhwal. Yang berarti perbuatan kondisi batin".

Kedua, Sayyidina Umar bin Khattab juga pernah berkata seputar Maulud Nabi Muhammad Saw. Dikatakan olehnya, " Barang siapa yang mengagungkan Maulud Nabi Saw, maka sungguh ia telah menghidupkan agama Islam".

Berkaitan perihal Maulud Nabi sebagai bagian dari upaya menghidupkan agama Islam. Kyai Djamal menceritakan sebuah hikayat tentang kondisi Islam yang kalah telak dalam fase awal perang salib. Hikayat ini juga berkaitan dengan sejarah awal dicanangkan peringatan Maulud Nabi Saw secara ijtimaiyyah.

( Perang Salib  dan Peringatan Maulud Nabi )

Di fase awal perang salib, pasukan muslim kerap mengalami kekalahan telak dari pasukan salib. Hal ini bahkan terjadi berulang-ulang kali. Akhirnya Malik Al Mudhofar (Nama Aslinya: Abu Said Al Irbili) selaku salah satu pimpinan muslim pun memutuskan menyelidiki untuk merefleksikan diri tentang apa yang membuat pasukan muslim rentan mengalami kekalahan dalam perang salib.

Setelah lama menganalisis,  Abu Said Al Irbili mendapatkan sebuah jawaban atas perenungannya. Abu Sa'id menyadari salah satu sabda Nabi Saw, "Orang Islam kelak akan seperti Buih (Jawa: Untok) yang selalu ikut terseret sebuah arus (Tidak Punya Kekuatan)".

Mengapa bisa demikian terjadi ?. Hal demikian terjadi dikarenakan dua sebab utama yang menjadi penghambat. Pertama, adalah kencintaaan pada dunia (Hubbud Dunya). Dan kedua, adalah takut pada mati (ketika jihad berperang).

Berkenaan dengan kekalahan umat Islam dalam masa masa awal perang salib. Oleh Kyai Djamaluddin disebut sebuah faktor yang mempengaruhi kekalahan tersebut, dalam hal ini pengaruh perebutan kedudukan (kekuasaan). Dikarenakan pada masa masa itulah era kekhilafahan dengan turun temurunnya dinasti-dinasti yang sarat kepentingan ashobiah dan pertalian darah. Sehingga pastilah hal semacam ini akan menyebabkan retaknya sebuah persatuan umat Islam. 

Perihal kekhilafahan, hal menarik diucapkan Kyai Djamaluddin. Dikatakan dalam pengajian, bahwa era kekhilafahan bersambut dengan banyaknya kholifah. Dari berbagai kholifah yang memerintah, Sofyan As Tsauri (w 161 H) mengatakan pihaknya hanya lebih lima Kholifah yang masuk kategori "Urrasyidin", yaitu: Abu Bakar As Shidiq, Umar bin Khattab, Ustman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, dan Umar bin Abdul Aziz dari Dinasti Umayyah (Cucu Umar bin Khattab ra).

Dari sabda Nabi Saw sebagaimana dimaksud diatas, inilah yang membuat Malik Al Mudhofar semakin yakin bahwa kesatuan umat Islam akan bertambah apabila mampu menghayati nilai perjuangan dari Sirrah Nabawiyah.

Saat itu memang belum muncul kitab yang secara khusus mengulas tentang Maulud Nabi beserta Sirrah Nabawiyah. Kalau pun ada, penjelasan Sirrah Nabawiyah hanya sekedar berupa potongan-potongan dari hadist yang dihimpun para ahli hadist semacam Imam Bukhari, Imam Muslim, atau Imam Anshori Nasa'i.

Latar belakang inilah yang mendorong Malik Al Mudhofar untuk berencana menghidupkan kembali Sirrah Nabawiyah yang telah luntur. Puncak usahanya adalah pengadaan sayembara membuat sebuah Sirrah Nabawiyah Muhammad Saw.

Melalui sayembara yang dibuat Malik Al Mudhofar inilah akhirnya muncul sosok 
Al Hafidz Ibnu Dihyah, yang tercatat sebagai mushonif kitab tarikh Sirrah Nabawiyah pertama berjudul " At Tanwil  fi Mauludi Sirrojul Munnir".

Kitab karya Al Hafidz Ibnu Dihyah tersebut akhirnya disambut baik oleh Malik Al Mudhofar dengan imbalan berupa mahar sebesar 1000 dinar. Untuk nantinya akan diijazahkan kepada khalayak umum. 

Sejak saat inilah peringatan Maulud Nabi Muhammad Saw bukan hanya sekedar "peringatan bi Nafs" melainkan di ijtimaiyyah. Dengan bersama sama membaca Kitab At Tanwil  fi Mauludi Sirrojul Munnir karangan Al Hafidz Ibnu Dihyah secara besar-besaran setiap datang 12 Rabiul Awwal (Maulud).

Maka sejak saat pula umat Islam kembali solid dan bersatu akan spirit perjuangan menghidupkan agama Islam 'ala "manhaji nubuwwah Rasulullah Saw". Hasilnya, perang salib edisi berikutnya bersambut dengan kemenangan umat Islam atas pasukan salib Eropa. (Tamat)

***

Sejak munculnya kitab pertama bergenre Sirrah Nabawiyah bernama At Tanwil fi Mauludi Sirrojul Munnir karangan Al Hafidz Ibnu Dihyah. Maka lambat laun juga marak menyusul muncul beberapa ulama yang menulis kitab seputar hikayat Nabi Muhammad Saw. Sebut saja Hafidz Syamsuddin Mohammad bin Nashiruddin Ad Dimaskus (w 727 h) yang menyusun beberapa buah kitab serupa meliputi; Jamiul At Sardi Maulidi Nabi (Tiga Juz),  Al Hardhu roiq fi Maulidi Kholal, dan Maulidun Shoddi fi Maulidi Hadi.

Muncul pula kitab bernama Maulidah Hani fi Maulidi Tsani karangan Abdurrahman Ibnu Hasan bin Abdul Ar Fath Al Mishri (L 725 H / w 888 H). Kitab  Maulidi Syarif Saw (1 juz) karangan Al Hafidz Mohammad bin Abdurrahman bin Mohammad Al Qoihari bin Hafidz As Tsaqowi. Kitab Al Maridhu Rowi karangan Al Hafidz Al Mujtahid. Kitab Al Maulidun Nabawi karangan Imam Imaduddin Ismail bin Umar Al Katsir. Kitab Al Maulidin An Nabawi karangan Imam Wajihuddin Abdurrahman (L 866 H). Kitab Maulid Al Barzanji karangan Syekh Ja'far Al barzanji. Kitab Maulid Diba'i karangan Sayyid Abdurrahman. Hingga kitab Syimtu Dhurar karangan Habib Ali.

Ketiga, Sayyidina Ustman bin Affan juga mengemukakan pendapatnya tentang Fadhilah Maulid Rasulullah Saw. Dikatakan oleh Sayyidina Usman, ". Barangsiapa yang menginfaqkan satu dirham atas dibacanya Maulid, maka seakan akan ia adalah orang yang menyaksikan / mengikuti perang badar dan Hunain.

Keempat, tak ketinggalan Sayyidina Ali bin Abi Thalib juga berpendapat seputar keutamaan Maulud Nabi. Dikatakan oleh Sayyidina Ali, "Barang siapa yang mengagungkan Maulud Nabi Saw, dan ia menjadi sebab dibacanya Maulid Nabi. Maka ia tidak meninggal dunia kecuali dengan membawa iman dan masuk surga tanpa hisab".

Berkaitan dengan redaksi "menjadi sebab dibacanya Maulid" pada Qoul Sayyidina Ali diatas. Kyai Djamaluddin mengartikan secara bebas sebagai panitia pelaksana Maulud, donatur penyumbang, hingga pihak pihak yang berjasa atas terselenggaranya kegiatan peringatan Maulid Nabi.

Sebelum memungkasi pengajian, kembali Kyai Djamaluddin menceritakan kembali hikayat Abu Lahab dan Maulid Nabi.

Nabi Saw pernah bersabda sebagaimana dikutip Imam Bukhori. Bahwa setiap hari Senin selama-lamanya siksa Abu Lahab diringankan oleh Allah SWT. Ini disebabkan Abu Lahab pernah sekali merasa gembira pada Nabi Muhammad Saw. Hanya sebatas gembira tradisi belum masuk kategori cinta.

Kronologinya ammah (budak) Abu Lahab bernama "Syuawaibah" memberi tahu pada Abu Lahab selaku majikannya tentang kelahiran keponakannya bernama Muhammad bin Abdullah. Seketika itu pula Abu Lahab merasa gembira atas kabar dari budaknya tersebut. Karena terlalu gembira, Syuawaibah pun dibebaskan statusnya dari label budak.

Seiring berjalannya waktu, gembiranya Abu Lahab pada Muhammad berganti menjadi kebencian yang nyata. Apalagi saat Nabi Muhammad Saw mendapatkan kepercayaan dari masyarakat dengan. Gelar Al Amin. Maka Abu Lahab selaku salah satu penggede kabilah Quraisy pun tersulut kedengkian pada Nabi. Puncaknya adalah tak ada hentinya berusaha untuk menghabisi nyawa Rasulullah Saw, termasuk kala menyewa pembunuh bayaran profesional bernama Surraqah.

Walaupun sisa umur Abu Lahab dihabiskan dengan kebencian nyata pada Rasulullah Saw. Namun karena Abu Lahab pernah sekali merasa gembira pada Nabi Muhammad walaupun hanya berupa gembira tradisi. Akhirnya Abu Lahab pun diringankan siksanya oleh Allah SWT setiap hari Senin. 

Sabda Nabi diatas tentang kompensasi siksa Abu Lahab inilah yang membuat Al Hafidz Syamsuddin Mohammad bin Nashiruddin dalam syairnya mempertanyakan tentang bagaimana dugaan jika ada orang yang sepanjang umurnya selalu gembira dengan Muhammad Saw ?".

Kelima, Kyai Djamaluddin mengutip perkataan Syekh Hasan Al Bashri, "Jika aku punya kekayaan sebesar empat gunung Uhud, maka akan aku dermakan semuanya untuk Maulud.

Penjelasan Kyai Djamaluddin Ahmad seputar Fadhilah Maulid Rasulullah Saw Bersambung pada pengajian Al Hikam pekan depan 26 November 2018.


Peresume
Rizal Nanda Maghfiroh, 19 November 2018


Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.