Kajian Al Hikam: Hikmah 289 (Cara Menerima Nikmat Penghuni Maqom Baqo')

Kyai Djamal bersama Habib Djamal

“ Dan yang sempurna ialah seorang hamba yang keluar dari nur tauhid, maka ia bertambah kesadarannya dan lenyap dari melihat sesuatu selain Allah, maka jadilah bertambah kedekatannya.

Maka dekatnya kepada Allah tidak menutup pisahnya, demikian pula pisahnya tidak mempengaruhi atau menutupi kedekatannya. Dan Fana’nya dari mahluk tidak menghalangi tetap ingatannya, demikian ingatnya kepada mahluk tidak merintangi fana’nya, dapat menempatkan segala sesuatu pada tempatnya, dan memberi pada sesuatu  tentang haknya”
(Hikmah 289)

*)

Kajian hikmah ini merupakan kelanjutan dari dua hikmah sebelumnya (Hikmah 287-288) yang memaparkan tentang penyikapan mahluk Allah terhadap nikmat pemberian Allah SWT, dimana hikmah 287 menjelaskan tentang penyikapan orang yang lalai (Ghafilun) terhadap nikmat pemberian Allah.

sedangkan hikmah 288 memaparkan tentang penyikapan orang yang tenggelam dalam makam fana’ (ahli hakekat) terhadap nikmat Allah. Adapun hikmah ini (289) berisikan penjelasan tentang penyikapan orang yang berada dalam maqom baqo’ terhadap nikmat pemberian Allah SWT.



Orang yang berada dalam maqom baqo’ merupakan golongan yang mampu menggabungkan antara syari’at dan hakekat. Golongan yang masuk kategori ini maka ia akan meminum “Nur Tauhid” (Ilmu tentang keesahan tuhan) sehingga ia akan tenggelam dalam ilmu tentang Nur Tauhid yang penuh dengan kebijaksanaan.

Orang yang berada dalam maqom baqo’ ini sebelumnya telah memasuki tahapan maqom fana’ (ahli hakekat) yang mana dalam maqom tersebut seseorang akan mabuk (tidak sadar) karena yang selalu diingat dalam fikirannya hanyalah Allah SWT dan menafikan diri dari sifat-sifat kemahlukan. 

Adapun Jika sudah keluar dari maqom fana’, maka orang tersebut barulah akan sadar terhadap keadaan dirinya namun kedekatannya kepada Allah seperti ketika berada dalam maqom fana’ tidak akan ikut hilang.

Orang yang telah berada dalam maqom baqo jika diuji sebuah penyakit oleh Allah SWT maka dalam praktiknya orang tersebut selain melakukan permohonan kepada Allah juga melakukan sebuah usaha ikhtiar untuk menyembuhkan sebuah penyakit tersebut. Inilah perbedaan antara orang yang berada dalam maqom baqo’ dengan yang masih tenggelam dalam maqom fana’.

Orang yang berada di Maqom Baqo’ usai keluar dari makom fana’ maka wajib baginya bergaul atau melebur dengan manusia sesuai dengan tugasnya yang diberikan oleh Allah SWT, semisal diberi amanat sebagai  guru mursyid thariqoh, menjadi guru fiqh seperti; Imam Hanafi, Maliki, Syafi’I, Hambali. 


Atau bisa saja melaksanakan tugas yang diberikan oleh Allah SWT untuk berkelana sepertihalnya; Dinnun Al Mishri, Ibrahim Bin AL Khawas, dan lain sebagainya. Adapun tujuan mereka berkelana adalah untuk menolong seseorang yang membutuhkan pertolongan.

Al Hikayat (Pertolongan Waliyullah Kelana)


Diceritakan oleh Kyai Djamal yang tak disebutkan sumber cerita tersebut; Disebuah lautan terlihat sebuah perahu yang dipenuhi oleh orang-orang yang hampir tenggelam.


Tiba-tiba diseberang perahu tersebut terdapat seorang yang berjalan diatas air mengikuti arah perahu yang hamper tenggelam tersebut (orang tersebut sebenarnya adalah Waliyullah).

Orang tersebut berkata kepada para penghuni kapal yang hampir tenggelam, “Barang siapa yang mau selamat dari kapal ini maka harus membeli ucapanku ?”

Semua penghuni kapal tersebut tak percaya oleh perkataan dari orang asing tersebut karena merasa takut terhadap sosok yang berjalan diatas air tersebut, akan tetapi tiba-tiba ada seorang pemuda yang sahut berkata “Aku mau mebeli ucapanmu sebanyak 1000 dinar”.

Kemudian waliyullah tersebut memberi persetujuan si pemuda dan mengajarkannya sebuah lafadz keilahian dan meyuruh mengucap ketika terjadi sebuah bencana atau musibah. Usai mengajarkan maka wailiyullah tersebut pun hilang entah kemana.

Akhirnya suatu saat terjadilah sebuah gelombang besar yang menyapu dan menenggelamkan kapal yang hampir tenggelam tersebut. Semua penghuni kapal hanyut oleh derasnya arus kecuali seorang pemuda yang diajarkan oleh waliyullah sebagaimana diatas.


Pemuda tersebut terdampar disebuah pulau berpenghuni. Di pulau inilah seorang pemuda tersebut bertemu seorang wanita cantik dimana setiap ia akan menikah dan hendak melangsungkan pernikahannya maka si calon suami dari wanita tersebut mati tak wajar, kejadian ini berulang hingga tiga kali dengan kejadian yang sama. Hingga pada akhirnya semua orang penghuni pulau tersebut ketakutan untuk memperisteri gadis cantik tersebut. 

Melihat wanita cantik tersebut  si pemuda pun jatuh hati atas keelokan dari dari si wanita, ia pun berencana hendak melamar gadis tersebut dan mengabaikan saran dari para warga untuk melarang memperisteri si gadis dengan dalih peristiwa kematian yang menimpa orang yang hendak memperisteri.


Pemuda tersebut pun melamar si gadis dan gembira setelah mendengar persetujuan si gadis untuk menerima lamarannya. Ketika pemuda tersebut tidur tiba-tiba ia tersadar berada melayang dilangit dengan sosok putih yang membawanya dan memperlihatkan pada pemuda sesosok jin besar dari atas langit. 

Kepada si pemuda sosok putih tersebut menceritakan bahwa jin besar tersebut merupakan dalang peristiwa kematian yang menimpa setiap calon pengantin dari wanita yang akan dinikahinya. Lalu mengatakan bahwa si pemuda akan mendapati nasip yang sama atas terror jin besar, kecuali menuruti pesan sosok putih tersebut, dimana disuatu malam pemuda tersebut disuruh untuk menutup setiap lubang pada rumah yang ditempati oleh si pemuda.

Setelah itu ketika sosok jin besar tersebut muncul dihadapan si pemuda sebagaimana waktu yang ditentukan oleh sosok putih misterius, pemuda tersebut diminta agar tidak takut ketika dihampiri jin besar dan diminta untuk membaca lafadz ilahiyah sebagaimana yang telah diajarkan oleh waliyullah sebelumnya.

Setelah tersadar pemuda tersebut pun melaksanakan maklumat dari sosok misterius yang ditemuinya. Ia pun menutup setiap lubang pada rumah yang ditempatinya pada waktu yang ditentukan sebelumya. Alhasil ketika si pemuda mendapati jin besar yang hendak membunuhnya, ia pun segera membaca sebuah lafadz ilahi yang telah dihafalkannya.

Jin besar tersebut pun menjerit terbakar kepanasan dan berusaha mencari jalan keluar melalui lobang-lobang rumah, karena sebelumnya telah ditutup maka jin besar tersebut tak mendapati sebuah lobang yang dapat ia gunakan untuk keluar sehingga jin tersebut pun musnah hangus akhibat lafadz keilahiyahan yang telah diucap oleh si pemuda. 

Kemudian si pemuda tersebut pun dengan gembira melaksanakan pernikahan dengan gadis cantik yang telah dilamarnya hingga dikaruniai anak dan menjadi keluarga yang sejahtera. 

KH. Moh. Djamaluddin Ahmad menyebut bahwa waliyullah sebagaimana dalam hikayat diatas meerupakan waliyullah yang ditugaskan Allah SWT untuk berkelana memberikan bantuan kepada mahluknya yang membutuhkan.


Selain itu beliau juga mengatakan bahwa orang yang sempurna adalah orang yang jikalau melihat sesamanya selalu ingat kepada Allah SWT dan juga selalu memenuhi hak-hak Allah SWT dan hak-hak manusia.

Adapun dalam hal berkumpul dengan masyarakat, KH. Moh Djamaluddin Ahmad mengatakan bahwa seseorang harus melaksanakan empat  hal; Pertama بَسْطٌ الوَجْهِ  (Basthul Wajhi) yakni orang yang berkumpul dengan masyarakat harus berwajah baik, ceria, ramah, dan tidak bengis perilakunya. 


Kedua بَدْلٌ النَد (Badlun Nadaa) yakni orang yang berkumpul dengan masyarakat harus harus suka memberi sesuatu kepada sesama dalam artian bahwa harta atau sesuatu yang dimilkinya bukan hanya menjadi miliknya sendiri melainkan juga milik kepentingan bersama dan tidak tertipu dengan jeratan dunia. 

Imam Ahmad bin Hambal pernah bertanya pada waliyullah Hatim Al Ashom, “bagaimana agar bisa selamat dari tipu daya dunia ?”. Hatim menjawab “ dengan melakukan empat hal yakni; Mudah memaafkan pembuatan kesalahan masyarakat, Jangan mudah menyakiti hati masyarakat, Suka memberi kepada masyarakat, dan jangan mengharap pemberian masyarakat".

Ketiga جَمْلٌ الأَدَئ   (Jamlul Adaa) yakni harus tabah ketika disakiti orang lain ketika berkumpul dengan masyarakat. 

Keempat كَفُ الأَدَئ (Kafful Adaa) yakni harus mencegah diri dari perbuatan yang menyakiti hati masyarakat.

Al Hikayah: (Abu Bakar dan Nenek Buta)


Diceritakan oleh KH. Djamauluddin Ahmad, pada suatu hari Rasulullah Muhammad SAW, Sayyidina Abu Bakar, dan para sahabat duduk di masjid, tiba-tiba datang seorang wanita tua yang buta menghampiri mereka.


Rasulullah yang mampu menebak hati seorang wanita tua tersebut berkata; “Siapa yang mau memenuhi hajat wanita tua ini demi Rasulullah ?”, sontak Sayyidina Abu Bakar mengacungkan diri dan bertanya pada si wanita tua “Apa Hajat engkau wahai wanita tua ?”,

“Aku tak punya apa-apa maka berilah aku sesuatu” jawab wanita tua. Sayyidina Abu Bakar bertanya lagi “ 

Apa ada lagi hajat engkau ?”. “Aku mau ada orang yang mau menikahi putriku” Jawab wanita tua.

“Apa ada lagi ?” tanya Sayyidina Abu Bakar kembali. “Aku mau memegang jenggot Sayyidina Abu Bakar” cetus wanita tua buta.

Sayyidina Abu Bakar pun menyodorkan jenggot beliau, tiba-tiba wanita tua tersebut berdoa “Demi keagungan jenggot Abu Bakar, Ya Allah sembuhkanlah mataku yang buta ini”. Subhanallah, mata wanita tua tadi yang awalnya buta atas izin Allah SWT kembali sembuh dan dapat melihat seperti mata pada umumnya.

Kesimpulan pengajian: Seseorang yang sudah dalam maqom baqo’ itu artinya orang tersebut sudah mampu menggabungkan antara hakekat dan syariat menjadi satu kesatuan, adapun orang inilah yang dapat dijadikan sebagai panutan dan rujukan terhadap sesuatu berkaitan dengan ilahiyah.





*)
Tulisan ini merupakan Resuman Pengajian Al Hikam KH. Moh. Djamaluddin Ahmad yang penulis catat ketika singgah di pesantren beliau

Tanggal : 28 Desember 2009
Tempat  : Bumi Damai Al Muhibbin Tambakberas Jombang
Oleh       : Rizal Nanda Maghfiroh

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.