Sekilas Tentang Simbah Yai Abdul Wahab Hasbullah - Pahlawan Nasional Tiga Zaman

Sekilas Tentang Simbah Yai Abdul Wahab Hasbullah - Pahlawan Nasional Tiga Zaman
Makam Almaghfurullah Kyai Wahab Hasbuillah Di Tambakberas
Tak ada bosan-bosannya membahas tentang kyai nasionalis Almaghfurullah KH. Abdul Wahab Hasbullah, beliau merupakan putera dari pasangan Kiai Hasbullah dan Nyai Latifah yang ahir pada Maret 1888 di Tambakberas Jombang. Disamping sebagai arsitek dan motor penggerak Nahdlatul ‘Ulama (NU) sekaligus sebagai perwakilan ‘Ulama di parlemen presiden Soekarno, 

Almagfurullah KH. Abdul Wahab Hasbullah merupakan salah satu Masyayikh Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum Tambakberas Jombang, sebuah pondok pesantren tertua di Jombang yang didirikan oleh KH. Abdus Salam (Mbah Soichah) sekitar tahun 1838 M dengan sebutan Pondok Selawe. Adapun Mbah Soichah sendiri merupakan seorang keturunan raja Majapahit yang gigih melawan tentara Belanda hingga beliau sampai di daerah Jombang dan mendirikan sebuah pesantren kecil yang dikenal sebagai pondok selawe dimana pesantren tersebut merupakan cikal bakal berdirinya pondok pesantren Bahrul ‘Ulum Tambakberas.

Berdasarkan antologi NU tentang profil Almaghfurullah KH. Abdul Wahab Hasbullah dikatakan bahwa beliau menempuh 20 tahun untuk menadalami ilmu agama di berbagai pesantren diantaranya seperti; pesantren Langitan Tuban (Kiai Ahmad Sholeh), Mojosari Nganjuk (Kiai Zainuddin), Tawangsari Sepanjang (Kiai Mas Ali dan Kiai Mas Abdullah), Branggahan Kediri (Kiai Fakihuddin), kademangan Bangkalan (Syaikhona Kholil), Tebuireng Jombang (Kiai Hasyim ‘Asyari), pesantren Cempaka, hingga memutuskan untuk menimba ilmu di Makkah Mukarromah dengan berguru pada beberapa guru besar seperti; Syekh Mahfudz At termasi, Syekh Khatib Minangkabau, Syekh Mukhtarom Banyumas, Syekh Umar Bajened, Syekh Abu Hamid Kudus, Syekh Asy’ari Bawean, Syekh Bakir Yogya, Syekh Said Al Yamani, dan beberapa syekh ternama lainnya yang tidak biasa kami sampaikan satu persatu tanpa mengurangi rasa hormat dan kewibawaan beliau semuanya.

Hasil karya Almaghfurullah KH. Abdul Wahab Hasbullah cenderung bersifat gerakan tidak seperti guru beliau Almaghfurullah Hardatussyaikh KH. Hasyim Asy’ari yang banyak meninggalkan buah kitab seperti Adabul ‘Alim Wal Muta’alim hingga Nurul Mubin fi Khikayati Rasulullah. Selain menjadi arsitek pendirian Nahdlatul ‘Ulama bersama Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari (1926), Almaghfurullah Mbah Wahab juga merupakan penggagas Sarekat Islam (SI) Cabang Makkah (1914) selama beliau menuntut ilmu di Makkah Al Mukarromah, penggagas berdirinya perguruan pendidikan “Nahdlatul Wathan” (1916) di Surabaya, mendirikan kelompok diskusi “Tasywirul Afkar” (1918) di Tanah Suci Makkah, memprakarsai berdirinya “Nahdlatul Tujjar” di Surabaya (1918) sebagai penyangga ekonomi masyarakat islam, menjadi inspirator berdirinya “Syubannul Wathon” (1924) yang menjadi cikal bakal GP ANSOR, hingga memprakarsai tradisi jurnalistik dikalangan NU dengan mendirikan majalah tengah bulanan “Soeara Nahdlatoel Oelama yang dipimpin langsung oleh beliau sebaga pimpinan redaksi selama 7 tahun.

Mbah Abdul Wahab Hasbullah dikenal kental dengan kecintaannya terhadap bangsa Indonesia, hal ini tampak pada tindakan beliau yang senantiasa menggalang pembaharuan kalangan generasi muda untuk mempunyai semangat cinta tanah air. Lagu Ya Lal Wathon yang beliau ciptakan pada masa-masa upaya merebut kemerdekaan menjadi bukti nyata kecintaan beliau pada bangsa Indonesia, pasca kemerdekaan dimasa orde lama Soekarno beliau juga senantiasa aktif dalam pergerakan mengawal NKRI. 

Bahkan hingga orde baru Soeharto pada masa menjelang wafatnya beliau, beliau masih sempat meluangkan waktunya untuk mengawal NU yang kala itu menjadi salah satu peserta pemilu. Landasan itulah yang menjadikan beliau mendapat julukan sebagai ‘Ulama Tiga Zaman; zaman merebut kemerdekan, zaman mempertahankan kemerdekaan (Orde lama), dan zaman orde baru. Atas jasa-jasa dari beliau akhirnya pada tahun 2015 Almaghfurullah KH. Abdul Wahab Hasbullah resmi ditetapkan sebagai salah satu “Pahalawan Nasional Indonesia”

Ketika beliau menjabat sebagai pengasuh Pondok Pesantren Tambakberas Jombang menggantikan perjuangan sang ayah Almaghfurullah “Kiai Hasbullah”  yang wafat pada 1920 M, beliau pula yang menggagas ide pembuatan nama “Bahrul ‘Ulum” sebagai nama resmi pesantren mengingat nama Tambakberas sendiri sebenarnya merupakan nama sebuah dusun. Selain itu Almaghfurullah Mbah Wahab juga merupakan tokoh yang merekontruksi sistem pendidikan di pesantren Bahrul ‘Ulum dengan mendirikan Madrasah Ibtida’iyyah Islamiyyah Al-Qur’an (1959) yang merupakan madrasah pertama dalam sejarah Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum Tambakberas, sebelum sistem tersebut dimodifikasi oleh Almaghfurullah KH. Abdul Fattah Hasyim tatkala menjadi pengasuh Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum.

Atas perjuangan dari Almaghfurullah KH. Abdul Wahab Hasbullah diangkatlah nama beliau sebagai nama salah satu Universitas di lingkungan Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum yaitu UNWAHA (Universitas Wahab Hasbullah) yang merupakan metamorfosis dari STAI BU dan STIMIK BU. Selain itu pada peringatan Haul Almaghfurullah KH. Abdul Wahab Hasbullah ke-43 pada tahun 2014 dicanangkan pula event “ KH. A Wahab Hasbullah Award 2014”  oleh Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum Tambakberas Jombang.

Event ini terdiri dari penganugerahan penghargaan kepada para tokoh yang dianggap mempunyai jasa dibidang-bidang tertentu yang merujuk pada tiga pilar berdirinya Nahdlatul ‘Ulama. Adapun bidang yang diperebutkan terdiri dari tiga nominasi meliputi; kategori pelopor pendidikan, kategori pelopor pengembangan ekonomi, dan kategori penggerak jam’iyyah NU. Menariknya nominasi peraih tiga kategori sebagaimana diatas bersifat terbuka, dalam artian semua warga masyarakat, lembaga, badan, atau organisasi dapat mengajukan nama yang pantas menjadi nominator peraih award guna diseleksi oleh tim seleksi yang ditunjuk oleh Yayasan Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum.

Dalam event tersebut terpilihlah H. Fathul Huda (Bupati Tuban sekaligus putra Bahrul ‘Ulum) sebagai peraih award kategori Penggerak pembangunan ekonomi, KH. Mohammad Hasan Mutawakkil Alallah (Ketua Tanfidziyyah PWNU Jatim) sebagai peraih penghargaan kategori pelopor penggerak jamiyyah NU, serta Prof. D. KH. M Tolkha Hasan sebagai peraih award kategori penggerak pendidikan. Adapun penyerahan trofi award diberikan oleh Agung Laksono selaku Menteri Koordinator Bidang Kesra RI.

Selang tahun berikutnya pada Haul Mbah Wahab ke 44 tahun 2015 diadakan pula acara serupa yaitu peringatan KH. Abdul Wahab Hasbullah Award 2015 pasca ditetapkannya KH. Abdul Wahab Hasbullah sebagai pahlawan nasional Indonesia, Hanya saja pada event kali ini tidak ada pembagian kategori per award, hanya satu kategori yakni siapa yang dipandang berjasa meneruskan perjuangan Mbah Wahab, dimana penghargaan tersebut akan diberikan pada tiga tokoh yang dinilai layak.

Edisi kedua KH. Abdul Wahab Hasbullah Award tersebut mendapati beberapa tokoh yang dinilai layak mendapatkan penghargaan meliputi; H. Choirul Anwar (Sejarawan asal Surabaya yang kerap menulis buku NU), Dr. H. As’ad Said Ali (Mantan Wakil Ketua PBNU yang aktif mendorong diangkatnya Mbah Wahab sebagai pahlawan nasional), serta Luqman Hakim Syaifuddin (Menteri Agama Republik Indonesia yang asli putra NU).

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.