(4) PETRUK MENCARI GANESHA

(4) PETRUK MENCARI GANESHA

Sudah lama memang tak melihat batang hidung para Punakawan, wajar karena dalam seri sebelumnya telah disepakati bahwa rencana perjalanan mencari garuda guna mencari petunjuk dimana Garda Panca Sirah ditunda. Tentu gegara semangat instan dari para ksatria Punakawan yang berbekal semangat belaka tanpa rencana dan bekal persiapan yang matang sebelumnya. Petruk masih sibuk mengurusi gamannya Pethel Welgeduwelbeh yang merajuk gegara jarang mendapat sentuan batin juragannya berupa nilai guna. Bagong masih sibuk sebagai Sie Perlengkapan mengumpulkan semua logistik konsumsi dan perlengkapan akomodasi. Gareng masih mengautiskan diri dengan Smartphone terbarunya meladeni para Hatters yang melecehkan gurunya kyai Smarasanta dengan sebutan liberal, sekuler,hingga antek barat yang mempunyai misi khusus untuk memecah Nusantara Hastina. Sedangkan mahaguru Kyai Smarasanta alias Lurah Semar masih merangkai Quote kata mutiara yang pantas dipetuahkan ke tiga murid abdinya.

Dikala ketiga Punakawan lainnya sibuk dengan urusan pribadinya, Ki Lurah Petruk pun tak kentinggalan pula untuk melaksanakan misi khusus yang diamanatkan sang guru Semar untuk mencari dimana Ki Ganesa berada. Guna sebagai tempat rujukan Petruk dalam menyelesaikan masalah pribadinya dengan Pethel Welgeduwelbeh hingga sebabkan munculnya noda karatan berlapis pada mata pethel.

DItengah perjalanan menuju daerah Khatulistiwa yang konon ditempati Ganesha, Petruk dihadang oleh sekawanan kelompok pasukan jihadis dengan pakaian serba putih. Salah satu dari kawanan tersebut berucap, “ Wahai pengembara, engkau kami tangkap; pertama engkau telah memasuki kawasan kami tanpa izin, kedua karena engkau berpenampilan dengan pakaian serba hitam yang tiada lain merupakan pakaian kaum pemberontak kasta istana pemerintahan sang tetua."

“Lantas apakah gerak gerikku mencurigakan dan mengancam eksistensi kalian ?. Aku tiada lain hanya seorang pengembara yang mencari sebuah keeksistensian diri akan sebuah keadilan hak asasi” Kata petruk sambil membaca sebuah kutipan Quote gurunya Smarasanta melalui Smartphone yang dipinjami dari Gareng.

Melihat Petruk mengangat Smartphone, maka gerombolan kelompok serba putih tersebut semakin yakin bahwa Petruk merupakan pengikut gerakan liberalis yang digagas bangsa-bangsa barat.
“Apa yang engkau pegang semakin mempertegas dogma bahwa engkau adalah utusan dari bangsa barat yang mencoba meracuni generasi kami dengan media sakti bernama globalisasi yang ditawarkan melalui alat sihir yang engkau pegang”, bentak salah satu dari anggota gerombolan tersebut.

Melihat suasana yang panas maka petruk mencoba mendinginkan suasana hatinya, tidak membalas dengan kata-kata atau sanggahan yang panas pula. Sejenak dirinya menyadari bahwa paraidigma sekelompok orang yang dihadapannya memang kental akan nuansa radikalisme yang berlebihan, hingga memandang orang yang berbeda dengan pendapat pribadinya dianggap sesat dan bangsat.

“ Memang susah meladeni orang yang kerap menilai sesuatu dengan hanya melihat satu sisi saja tanpa mencoba melihat sisi lain yang tak terjamah. Jika aku meladeni mereka dengan sebuah kekerasan pula maka apa bedanya daku dengan paradigma mereka. Baiklah aku akan menyerah dan mengalah sajalah. Siapa tahu ada sebuah udang di balik batu terhadap peristiwa ini.” , pikir Petruk dalam sanubarinya.

Petruk pun memutuskan untuk menyerah tanpa perlawanan pada gerombolan pasukan. Akhibatnya dirinya harus merelakan untuk dijebloskan di jeruji besi. Meskipun sebenarnya dirinya tentu akan dengan mudah mengalahkan gerombolan tersebut jika memutuskan untuk melawan. Namun ternyata Ki Petruk lebih memilih jalan tanpa kekerasan dan memutuskan untuk mencari sebuah solusi damai melalui balik jeruji besi, meskipun jika ia mau membobol kabur tentu bukan hal yang sulit bagi seorang murid Kyai legendaris Smarasanta, apalagi dulunya memang dirinya meruapakan pendekar lelana mandraguna yang kerap menantang para jago di berbagai daerah, sebelum dirinya bertemu dengan Gareng dan memutuskan untuk duel dengannya dengan akhir imbang tanpa pemenang akhibat intervensi dari Ki Lurah Bagong.

Dibalik jeruji besi Petruk bertemu dengan seorang kakek tua yang menyendiri di pojok ruangan dengan berteman sebuah lembaran kertas dan pena manual yang masih menggunakan tinta celup mangsi. Seketika itu pula Petruk tergerak untuk bersosialisasi karena memang disadari atau tidak dirinya mempunyai kepekaan tinggi untuk bersimpati hingga empati atas masalah yang dialami oleh seseorang.

“ Kakek tua mengapa engkau juga bisa masuk ke dalam jeruji besi ini, apa kesalahanmu hingga mereka tega menjebloskan engkau yang tua renta. Apakah para pasukan juga menganggap engkau sebagai tokoh garda depan dalam proses aksi makar kepada pemerintahan”, cetus Petruk bersimpati.

Si kakek tua tersebut tetap tak mau beranjak dari pijakannya, dirinya tetap masih mesra dan nyaman dengan pena dan beberapa lembar kertas korasan yang tergeletak dipojok ruangan.

“ Tampaknya engkau sangat peduli terhadap keilmuan, hingga engkau masih istiqomah menulis sebuah goresan karya pemikiran meski melalui balik jeruji besi. Siapa engkau dan dari mana engkau sebenarnya kakek tua, apa engkau mengenal Ki Ganesha ? ”, tanya Petruk dengan penuh rasa keingin tahuan.

Mendengar pertanyaan bertubi-tubi dari Petruk, Kakek tua tersebut pun akhirnya mulai beranjak dari pijakannya. Dihampirilah Petruk dengan membawa salah satu lembaran kertas yang telah ia tulis, lalu disodorkanlah secarik kertas yang telah berisi tulisan tersebut kepadanya.

“ Selamat, engkau Lulus !!!”, baca petruk pada tulisan di kertas tersebut.

“Siapakah engkau sebenarnya, apa maksud engkau sebenarnya wahai kakek tua. Apa engkaulah Ganesha ?”, Tanya Petruk pada Si Kakek Tua.

“ Hidungmu memang mancung, indra penciumanmu memang tajam welgeduwelbeh. Tapi otakmu masihlah kerdil. Bagaimana mungkin engkau lupa dan tak mengenal siapa sosok tua renta ini ”, papar kakek tua.

“ Welgeduwelbeh ?, Bagaimana engkau tahu nama samaranku, siapa engkau sebenarnya.?”

“ Kalau tahu jadinya begini, sejak awal aku akan memutuskan untuk tidak meluluskanmu”, papar Kakek Tua sambil melepas janggut pasangan dan wig putih yang dipakainya.

“ Guru Smarasanta !!!” 

“ Bagaimana guru bisa berada di sini, apa maksud yang guru katakan tadi ?”, tanya Petruk sembari bingung.

“ Ketahuilah bahwa semua hal yang engkau alami sejak awal merupakan bagian dari sebuah ujian buatmu, termasuk para pasukan putih yang telah menjebloskan engkau ke jeruji besi ini. Kesemuanya hanyalah rekayasa publik belaka yang disiapkan untuk menguji pendirian langkahmu guna sebagai bekal kelak. Sandiwara yang engkau lalui sejak awal bukanlah apa-apa dibanding sandiwara dan rekayasa diluar sana yang tentulah harus dihadapi dengan kebijaksanaan dan dengan pemikiran yang dingin, tidak malah ikut terbawa arus provokasi yang justru memicu sebuah perpecahan antar individu. Kau tahu mengapa aku meluluskanmu dalam ujian ini, karena engkau lebih rela mendahulukan kebijaksanaan dan kedamaian daripada menuruti egositas pribadi yang pada saat tertentu justru bisa memicu kearah perseteruan. Jika engkau tak lulus tentulah engkau tak akan siap melanjutkan fase pencarian garuda dalam rangka mencari petunjuk di mana mustika Garda Panca Sirah berada, karena berbagai godaan dan rintangan dari berbagai faham serta ideologi imporan akan berusaha untuk menjegal langkahmu kelak, dan pastilah engkau akan lebih mudah terombang ambing dalam perseteruan perang ideologi pemikiran”,, papar Kyai Smarasanta alias Semar panjang lebar.

“ Lantas bagaimana dengan mandat Supersemar darimu untuk mencari dimana Ganesha berada wahai mahaguru ? ”, Tanya Petruk.

Tanpaknya Kyai Semar terlanjur pergi meninggalkan hadapan Petruk dengan menggunakan aji Kantong Bolong yang memungkinkan dirinya untuk keluar dari ruangan melalui lobang kecil diantara ruangan tersebut. Hingga kepergian Kyai Semar secara mendadak membuat Petruk kembali bingung tentang langkah apa yang akan ditempuhnya dalam mencari petunjuk dimana Ganesha beradam, belum lagi terkait apa yang harus dilakukannya pasca bertemu dengan Ganesha. Seketika itu pula Petruk menemukan secarik kertas yang berisikan Quote kata-kata yang ditulis oleh mahaguru Kyai Semar. “Lautan Ilmu”, merupakan lautan tanpa batas yang mampu menyebabkan orang akan selalu ingat dan ingin berlayar kembali diatas ombaknya.”.

Sontak hal tersebut membuat Petruk kembali harus mengasah otaknya guna menafsirkan kata-kata Kyai Lurah Smarasanta yang sarat akan pesan-pesan tersirat dan mendalam pula. “Mungkin Ganesha juga berada di lautan ilmu pula sebagaimana pesan Kyai Smarasanta”, fikir Petruk mencoba berfilsafat.


-----
Prev: Penyucian Pethel Welgeduwebeh   -   Next: Petruk Mencari Ganesa  

-----


Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.