Salam Dari Arabiyyah

Timnas Sepakbola Wanita Arab saudi

Kala Unta Bermain Bola

Berbincang tentang peradaban jazirah arab tentu pertama kali yang akan dirujuk adalah penisbatkan dengan perihal perkembangan agama Islam sejak era Rasulullah SAW, Khulafa Urrasyiddin, atau bahkan masa dinasti-dinasti dengan berdasar pertalian darah (Umaiyyah, Abasiyyah, Ayubiyyah, Fathimiyyah, hingga daulah Turki Ustaniyyah). Meskipun peradaban arabiyyah memang sudah ada jauh sebelum kedatangan Muhammad SAW sebagai rasul terakhir yang diutus menyampaikan risalah nubuwwah, semisal tradisi ziarah ke ka’bah yang memang sudah menjadi tradisi bahkan sejak masa kerasulan Ibrahim As bersama kedua putranya Ismail As dan Ishaq As.

Sedang diera modern kini jazirah arab kerap mengerucut dengan negara kerajaan Saudi Arabiyyah sebagai salah satu negara islam terbesar di asia barat daya, tentu saja dengan faham wahabi sebagai faham khas kenegaraannya. Faham yang kerap kali dianggap beberapa kalangan pemikir islam moderat sebagai faham yang mengusung misi permunian ajaran islam dari segala ibadah berbau bid’ah. Hingga salah satu klimaksnya adalah fenomena 1926 saat penguasa Saudi Raja Ibnu Saud merencanakan untuk membongkar makam Rasulullah SAW beserta mandat larangan sistem bermadzab hingga akhirnya hal tersebut tak jadi terealisasi seiring upaya diplomasi komite Hijaz (Cilal Bakal NU) sebagai wakil organisasi ‘ulama pesantren Indonesia.

Selain hal diatas timur tengah Arabiyyah kerap kali disoroti para pewarta dengan berbagai rangkaian gejolak pergolakan sebagai bagian dari peradaban kekinian, diantaranya seperti estafet konflik rezim Israel dengan pejuang HAMAS dan FATAH Palestina terkait pergolakan Yerussalam (Kota Tiga Agama), pergolakan pejuang ISIS, puing-puing Al Qaedah dan Taliban, hingga konflik kudeta penguasa kenegaraan seperti yang terjaadi di Mesir, Turki, atau Libia.

Dengan demikian dapatlah ditarik simpulan lepas bahwa pergolakan peradaban di Jazirah Arabiyyah memanglah dinamis sekali, apalagi bangsa Arab sejak dulu memang terkenal mempunyai paradigma “Ashobiyyah” dengan fanatisme berlebih terhadap kabilah dan kelompok sosial yang dianut. Alhasil fenomena “perang budaya” untuk menujukkan keseksistensian menjadi hal yang kerap menghiasi keseharian bangsa Arabiyyah.

Sudah lah lupakan saja, paparan diatas hanya sekedar prolog feedback dari sebuah pewacanaan membincang sub tema tentang Jazirah Arabiyyah yang memang sebenarnya tidak ada keterkaitan sama sekali dengan wacana sepakbola di negeri para unta padang pasir. Hanya saja ketika membincang geliat sepakbola di jazirah Arabiyyah dengan merenungkan kondisi regional setempat yang memang sarat akan Ashobiyyah, dogma primordial sekte agama, konflik antar kabilah, atau sekat-sekat lainnya. Tentulah bukan sekedar hal biasa namun sangat lah “istimewa” bagi negeri yang memang terlahir dari kultur kabilah yang sarat ethonentris dan primordial. 

Namun sekat-sekat tersebut terbantahkan dengan kondisi realita “peradaban sepakbola di negeri unta” dimana sepakbola bukan hanya sekedar tren ikut-ikutan melainkan menjadi sebuah bangunan peradaban dengan berbagai prestasi yang begitu menawan, bahkan mampu menjadi basis perlawanan peradaban bola di Trio Asia Timur; Korea Selatan, Jepang, dan Tiongkok.

Bahkan terkini peradaban bola di negara kawasan jazirah Arabiyyah (Liga Arab) mencatatkan rekor luar biasa, dimana untuk pertama kalinya sejak digelarnya Piala Dunia 1930 di Uruguay kawasan Arab meloloskan empat wakil dalam gelaran turnamen empat tahunan yang terkini akan dilangsungkan pada 2018 mendatang di Rusia. Adapun keempat negara tersebut antara lain; Arab Saudi (AFC), Mesir (CAF), Tunisia (CAF), serta Maroko (CAF) yang mengandaskan tim kuat “Pantai Gading” .

Rekor terbesar selama pagelaran Piala Dunia sebagaimana ditas menjadi bukti bahwa sepakbola memang telah menjadi sebuah peradaban baru di negeri unta yang memang sangat kental nuansa sekat-sekat baik kepentingan ashobiyyah atau bahkan dogma faham setempat yang telah menjadi mainsite kenegaraan. Diantaranya seperti Arab Saudi dengan faham wahabi yang memang terkenal pemberlakuan syari’at islam secara “ketat” diberbagai lini, tentu saja melalui kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh raja sebagai pimpinan tertinggi kerajaan Saudi Arabiyyah. 

Nah, terkait “bola” diantara kebijakan tersebut adalah larangan bagi para perempuan untuk memasuki stadiun di berbagai kota Saudi. Dalam artian negara membatasi hak para kaum perempuan dalam menikmati geliat sepakbola secara penuh. Alhasil mereka pun hanya mampu menikmati geliat bola secara tidak langsung ntah melihat melalui siaran Telivisi atau media internet. Sebelum akhirnya larangan ini terevisi pasca pihak kerajaan melalui pangeran mengeluarkan fatwa per-okteober 2017 yang memperbolehkan kaum perempuan untuk memasuki stadium sepakbola sekaligus memperbolehkan pula bagi para perempuan untuk mengemudikan kendaraan.

Meskipun demikian ketika para perempuan Saudi masih terbatasi haknya untuk unjuk gigi bereksistensi dalam geliat bola. Toh, hal tersebut bukan menjadi sebuah kendala untuk memajukan sebuah peradaban bola di negeri unta. Tanpa didukung “yel-yel” support kaum hawa di stadium apalagi para WAGS nan menggoda, geliat bola di jazirah Arabiyyah (Arab Saudi) masih tetap mengudara menunjukkan taji eksistensi yang begitu luar biasa. Prestasi timnas Saudi pun terbilang moncer mampu menembus lima kali edisi piala dunia meskipun kerap kali tak mampu berbicara banyak menuju fase knockout, serta enam kali menjadi finalis Piala Asia dimana tiga diantaranya berpredikat kampiun.

Bukan hanya Saudi, mesir sebagai negeri tetangga di benua seberang pun tak kalah prestisius. Kerap kali dilanda gejolak pemerintahan sejak rezim Bashar perkembangan geliat bola di negeri pyramid tersebut tetaplah memberikan warna yang menawan. Bahkan Mesir pun tetap mampu mengimbangi para kompetitornya dalam geliat ajang tertinggi benua hitam (Piala Afrika) seperti Ghana, Pantai Gading, atau bahkan Kamerun. Meskipun realnya Mesir menjadi tim paling sedikit dibanding dua negara Jazirah Arab zona CAF (Tunisia dan Maroko) dalam pengalaman berpartisipasi di Piala Dunia. Namun setidaknya Mesir menjadi negara pengumpul tropi terbanyak dalam gelaran Piala Afrika dengan 7 kali juara dan 2  kali berstatus runner up.

Bukan hanya timnas saja yang menawan, peradaban bola di negeri Arabiyyah skala regional tak kalah cemerlang. Tercacat beberapa klub-klub lokal asal jazirah Arab mampu berbicara banyak di berbagai ajang lintas negara sesuai zona yang ditempati. Siapa yang tak kenal klub legendaris mesir Al Ahly dan Al Zamalek yang sampai kini dua klub mesir tersebut berstatus sebagai peraih titel terbanyak kanca Liga Champions Afirika. Sementara di Saudi sebagai negara Arabiyyah di zona AFC terdapat pula klub yang mencacat prestasi gemilang lintas negara semacam  At Ittihad,  Al Ahli, hingga Al Hilal. Nama terakhir bahkan musim ini berpredikat sebagai finalis Liga Champions Asia melawan tim kuat asal Jepang Urawa Red Diamond.

Salam Dari Arabiyyah

Nah, paparan diatas bukan bermaksud mengagung-agungkan peradaban bola negara lain dibanding geliat bola di negeri sendiri yang tengah berusaha menuju “Indonesia Emas”. Tapi memang lah demikian tentang realita bahwa peradaban bola di Jazirah Arabiyyah memang mampu menunjukkan eksistensi yang luar biasa sebagai basis perlawanan peta peradaban bola di daerah Asia Timur Raya yang memang tak bisa di pungkiri akan kualitas peradaban bolanya. Baik itu di persaingan gengsi antar tim nasional dalam kancah Piala Asia, Asian Games, atau Piala Dunia. Hingga persaingan klub-klub setempat dalam pagelaran ajang pertemuan klub sepak bola Asia baik AFC Champions League atau pun kasta kedua AFC League.

Lalu, bagaimana dengan di Indonesia ?. Bukan menjadi sebuah rahasia lagi bahwa peradaban bola di Indonesia mempunyai potensi luar biasa menuju kemajuan perkembangan geliat bola di masa mendatang. Basis supporter yang serba fanatik baik supporter klub lokal atau fans-fans klub top dunia menjadi sala satu faktor yang berpengaruh terhadap perkembangan geliat bola di Indonesia di masa mendatang. Alhasil klub-klub top dunia pun mulai mengarahkan perhatian suporter Indonesia sebagai pangsa pasar pengembangan bisnis sepakbola. Mulai dari kunjungan eks pemain-pemian top dunia hingga penggandengan brand lokal sebagai partnership klub, sebut saja beberapa brand; Dua Kelinci (Real Madrid), Gadget Advan (FC Barcelona), hingga Garuda Indonesia (Liverpool).

Bolehlah berekspektasi berlebihan tentang perkembangan peradaban bola Indonesia untuk masa mendatang. Asal tidak lupa juga daratan, kondisi rill persepakbolaan Indonesia yang memang bukan menjadi rahasia lagi akan carut marut sistem pengelolahannya gegara kebobrokan para stelholder sebagai penanggungjawab utama yang kerap mencampur adukkan urusan jabatan perseorangan dengan kepentingan umum dunia bola. Belum lagi fenomena “overload” antusias basis pendukung sebuah klub lokal hingga memicu goncangan budaya antar supporter.

Rasanya memang benar perkataan legenda maroko Musthofa Hadji yang pernah bermain pula dengan klub elit inggris Aston Villa bahwa sepak bola adalah agama kedua setelah Islam (Jawapos: 13 Nov 2017). Perkataannya tepat setelah ia selaku asisten pelatih Timnas Maroko berhasil mengantarkan tim afrika utara tersebut menuju panggung akbar sepakbola se-jagat usai membungkam tim langganan PD Pantai Gading. 

Sama halnya dengan fenomena fanatik buta terhadap agama yang kerap kali memunculkan konflik gegara fanatik berlebih tanpa kontrol norma moralitas. Sementara dalam bola khususnya di Indonesia fenomena fanatik berlebih terhadap ideologi sebuah peradaban bola di daerah-daerah yang dituangkan dalam sebuah klub junjungan juga kerap kali menimbulkan gejolak pertikaian antar elemen stakeholder bola. Munculnya rivalitas klasik kerusuhan opnum suporter bola seperti; Jack Mania vs Viking, Bonek vs Aremania, Boro vs La Mania, Benteng Mania vs Persikota Mania, hingga gejolak lainnya juga imbas dari fanatikme buta terhadap identitas bola. Ini sesuatu yang nyata, mengingat peradaban bola di sebuah daerah seakan sudah menjadi sebuah image dan identitas khas yang mewakili daerah tersebut.

Fanatisme yang begitu menawan dari stakeholder geliat bola di Indonesia ini pula yang akhirnya menyebabkan berbagai pihak di kasta atas berusaha berebut menguasai sistem persepakbolaan Indonesia. Alhasil carut-marut kepentingan kerap kali membuat sepakbola Indonesia mati suri akan konflik yang luar biasa sepeti estafet. Hingga peradaban bola pun kerap menjadi tumbal dari pergolakan war dalam sistem peradaban bola di Indonesia. 

Rasanya bosan membincang carut marut bobroknya sistem pengeola bola yang pada akhirnya berdampak dengan tidak moncernya timnas akan prestasi superior yg tak kunjung didapat. Bahkan klub-klub lokal pun terkena imbas luar biasa, mulai dari kasus pidana Nurdin Halid selaku ketua PSSI hingga mulcunya dualisme liga imbas pertentangan dua pengusaha Bakri (ISL) dan Arifin Panigoro (LPI) yang akhirnya memunculkan geliat perpecahan kesatuan klub-klub di berbagai daerah.

Terpilihnya Djohar Arfin Husain sebagai ketua PSSI pun tak meredam kisruh sepakbola Nusantara seiring munculnya poros kiri yang dikomandoi La Nyala Mattailitti dengan membentuk badan KPSI (Komisi Penyelamat Sepakbola Indonesia) untuk menekan PSSI. Munculnya KPSI semakin memperporak-poranda geliat sepakbola Indonesia dengan kebijakan yang bukan memberi solusi permasalahan justru malah memperuncing masalah seiring dengan kebijakan yang terkesan menyaingi langkah PSSI kubu DJohar, diantaranya seperti membentuk Timnas sendiri pasca Djohar melarang Aji Santoso selaku pelatih Timnas saat itu untuk memanggil para pemain yang bermain di ISL. Belum lagi sanksi pembekuan sepakbola Indonesia oleh FIFA selama + dua tahun imbas konflik PSSI dengan Imam Nahrawi selaku Kemenpora teranyar.

Rasanya iri melihat geliat peradaban bola di negeri Arabiyyah, dengan aturan menihilkan kaum perempuan yang justru dalam kaca mata HAM sangat bertentangan. Namun tak ada gejolak yang berarti dari basis stekholder bola. Semuanya mengair apa adanya, mengelola bola seperti biasanya dengan wajah pembaharu tanpa carut marut intervensi-invervensi kepentingan. Ahasil Arabiyyah yang asalnya bukanlah bansga maniak bola mampu menjelma menjadi peta peradaban bola dengan pengeolaan yang professional hingga perlahan lahirkan prestasi cermeang di kancah internasioal.

Di Banding dengan Indonesia peradaban bola di Arabiyyah sangat jauh akan histroritas, di Indonesia peradaban bola sudah tampak sejak pergolakan belanda kala dengan pendirian paguyuban Jong-Jong bola sebagai media pemersatu yang pada akhirnya sepakat mendirikan PSSI. Sama halnya dengan Ittihad, Hilal, Alhi, Sepahan, dan klub asia barat daya lainnya di masa sekarang, klub-klub Indonesia pun dulu mampu menunjukkan eksistensi nyata sebagai basis perlawanan klub-klub Asia Timur Raya.

Beberapa klub kuat pernah tercacat sperti NIAC Mitra Surabaya yang berhasil menjungkalkan Arsenal 2-0 saat Pramusim 1983, PSMS Medan Era 70-an, Pelita Jaya,  hingga Karma Tiga Berlian yang pernah menjungkalkan klub elit Al Ittihat. Namun itu dulu, sekarang berubah 180 derajat dimana peta kekuatan asia tenggara sebagai basis perlawanan asia timur telah bergeser pindah ke barat menuju daratan Jazirah Arabiyyah.

Alhasil perkembangan bola di Arabiyyah kini menjadi peradaban bola kedua di Asia, bahkan mempengahuhi negeri asia tetangga semacam Persia (Iran, Iraq), syira, Kuwait, hingga Qatar yang tengah berevolusi membangun peta peradaban bola dengan salah satu rangkaiannya PD 2022. Bagaimana Indonesia, engkau dapat salam dari Arabiyyah. Negeri unta dengan jazirah padang pasir yang minim embrio bola namun kini bermetamorfosis menjadi peta kekuatan sepakbola asia bahkan dunia. Mari berhijrah Garuda..!!


Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.