Napak Tilas: Antara Bengawan, Kapal, dan Mbah Mas Telogo Biting

Napak Tilas: Antara Bengawan, Kapal, dan Mbah Mas Telogo Biting


Daerah Jatipandak (Lamongan Selatan) sebenarya menyandang predikat penting bagi perkembangan sejarah kerajaan-kerajaan tempo dulu; baik itu Majapahit, Singosari, atau Kahuripan Airlangga yang semakin jelas napak tilasnya. Hal ini bukanlah sebuah kebetulan semata, namun jika dicermati dari model komunikasi dan perhubungan zaman dulu maka dapatlah diketahui bahwa sungai dan pesisir memegang peran penting sebagai pusat perhubungan, baik itu penyebaran informasi, perdagangan, hingga penyebaran agama dan budaya. Maka wajar pula jika muncul sebuah versi sejarah bahwa Kerajaan Majapahit di Jawa Timur berpusat di daerah yang dekat dengan daerah aliran sungai (DAS), alhasil diindikasikan pula bahwa keraton kerajaan ini berada di pinggiran Sungai Brantas.

Fakta sejarah inilah yang mungkin terasa pas jika dikaitan dengan napak tilas tokoh Mbah Mas Telogo Biting di daerah Jatipandak. Menurut sumber yang pernah kami dapat dari Kasimin selaku Juru Kunci Petilasan tersebut, bahwasahnya Mbah Mas Telogo Biting merupakan seorang utusan langsung dari Giri Kedaton arahan Sunan Giri Gresik untuk menyebarkan agama Islam di daerah sekitar aliran bengawan (termasuk Lamongan selatan). Namun tak diketahui jelas dimasa manakah kedatangan Mbah Mas Telogo Biting ke daerah Lamongan  selatan; apakah sejak masa Airlangga, Majapahit, atau penjajahan Belanda, karena memang tak ada sumber rill sejarah seperti batu nisan bercorak, prasasti, atau yang lain.

Konon dulunya Mbah Mas Telogo Biting berbekal sebuah kapal dalam berpetualang menjelajah aliran bengawan, menurut cerita di lingkungan masyarakat Jatipandak bahwasahnya daerah selatan Makam  Mbah  Mas Telogo Biting yang kini berupa persawahan lahan tebu dulunya konon merupakan cabang sungai Brantas yang juga kerap digunakan sebagai pusat perhubungan, perdagangan serta penyebaran informasi antar daerah.

Dugaan tersebut semakin menguat dengan kerap ditemukannya berbagai potongan akar batang pohon besar yang terkubur di sekitar lahan persawahan yang diduga merupakan sisa fosil pohon yang terpendam didasar sungai. Meskipun pun realita sebenarnya lokasi bengawan brantas dengan Jatipandak cukup jauh yang dibatasi dua kecamatan; Kabuh dan Kudu. Jika memang bukan sungai brantas, bisa saja bengawan yang dimakud adalah cabang dari kali lamong. Tapi tak usahlah didebati secara serius mengingat sejarah tentu banyak versi dan variasi, kadang pula harus bercampur dengan mitologi, legenda, hikayat turunan, dan napak tilas lain yang sulit dibuktikan realnya.

Bangunan Luar Petilasan

Menurut mitologi setempat yang sudah menjadi dogma turun-temurun dikatakan bahwa gundukan tanah yang ditempati petilasan Mbah Mas di areal tengah lahan perkebunan tebu merupakan sebuah fosil kapal kepunyaan Mbah Mas, dimana menurut kepercayaan setempat diyakini bahwa kapal Mbah Mas karam tenggelam di bengawan dan lambat laun tatkala sungai surut sudah ditemukan sebuah gundukan tanah dengan makam diatasnya. 

Sedang menurut cerita versi lain dari warga setempat mengatakan bahwa ketika Mbah Mas akan meninggal beliau berwasiat agar mengubur kapal kepunyaan bersama jenazahnya. Konon tiang ikat kapal beliau lambat laun menjelma menjadi sebuah pohon besar yang kini posisinya berada di sebelah selatan lingkungan formal Madrasah Ibtidaiyyah Darussalam. Sedang gundukan tanah yang diyakini kapal Mbah Mas tersebut, oleh warga setempat Jatipandak menamainya dengan sebutan “Sentono”. 

Pernah pula sekitar awal tahun 2000-an tatkala beberapa kelompok “njarangan” (Pencari kayu) melakukan penggalian di daerah Sentono, mereka menemukan bongkahan kayu besar yang akhirnya diyakini sebagai sisa fosil kapal Mbah Mas. Hal ini disebabkan karena kejadian unik ketika mereka menggergaji kayu besar tersebut, anehnya “Tahi grajen” dari kayu tersebut berwarna coklat gelap seakan nampak menyerupai warna merah gelap darah. (rnm/red)


Sumber:
 Wawancana non terstruktur sesepuh Desa Jatipandak

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.