Motivasi Garuda Dari Negeri Paman Ho



Beberapa waktu lalu penikmat bola dikejutkan dengan keberhasian Vietnam U23 melaju ke final Piala Asia U23 di Tiongkok Meskipun dalam partai puncak Nguyen Quang Hai cs takluk 1-2 atas timnas Uzbekistan U23, namun sepak terjang Vietnam U23 di Piala Asia U23 cukup membuat dunia kembali mempertimbangkan posisi negara kawasan ASEAN dalam persaingan sepakbola di kancah benua Asia.

Tak tanggung-tanggung tim kuat semacam Iraq dan Qatar pun digasaknya di babak sebelumnya. Kemonceran Vietnam U23 di Piala Asia U23 mengafirmasikan tentang hebatnya pengembangan tunas muda di negeri lumbung padi tersebut. Sebelumnya prestasi serupa juga ditunjukan Vietnam U19 di beberapa tahun lalu yang berhasil mendapatkan tiket Piala Dunia U20 2017 usai mendaratkan kaki di semi final Piala Asia U19 pasca menjungkal Bahrain 1-0.

Tentu semua pencinta bola Indonesia akan merasa iri dengan prestasi yang diperlihatkan Vietnam U23. Semua pemerhati bola tentu masih ingat benar bahwa Tahun 2017 lalu dua muda Vietnam keok telak dalam dua event besar yang diselenggarakan AFF. Vietnam U23 gagal bersaing dengan Thailand U23 dan Indonesia U23 dalam babak penyisihan Sea Games Malasyia  sedang timnas U19 mereka juga mengalami nasip serupa di turnamen AFF U19 Myanmar.

Bahkan nasip serupa sebelumnya juga dialami Timnas senior Vietnam di Piala AFF 2016 usai terjungkal oleh Timnas Indonesia besutan Riedl di babak Semi Final. Serangan tujuh hari tujuh malam yang digalang Vietnam pun tak dapat merubah agregat akhir 4-3 untuk timnas Indonesia yang mengantarkan Garuda ke partai puncak. Meskipun di fase puncak Timnas Indonesia kembali meraih tradisi Runner Up pasca takluk atas Thailand dengan agregat 2-3. Namun itu tahun lalu, terbukti Vietnam tahun 2018 ini berhasil move on dari rangkaian hasil minus tahun lalu dengan bukti konkret Runner up Piala Asia U23.

Lantas apa maksud pembahasan dialeka tentang kegemilangan negeri tetangga tersebut, sebagaimana disinggung diawal bahwa keberhasilan Vietnam mengejutkan dunia bola di Piala Asia U23 tentulah sedikit banyak membuat iri para penggiat bola Indonesia. Ucapan selamat atas keberhasilan mengorbitkan zona ASEAN di kancah persaingan Asia memang terdengar diberbagai media maya. Namun pertanyaan beredaksi “kapan giliran timnas Indonesia ?”  pun tak kalah marak menghiasi jagat virtual. Asumsi pribadi bahwa pernyataan kedua inilah yang benar diucap berdasar “baper” dibandingkan pernyataan ucapan selamat sebagaimana pertama.

Wajar saja prestasi sepakbola Indonesia memang sangat membutuhkan sebuah oase ditengah dahaga panjang. Lemari Senayan GBK pun terbilang kosong tanpa isi tropi resmi sebagai penguat jati diri Garuda. Hanya sebuah tropi mini yang menghiasi, itu pun didapat dari level junior Piala AFF jenjang U19 era kepelatihan Indra Sjafri periode pertama. Tahun 2017 lalu saja trio Timnas junior gagal berbicara banyak di turnamen resmi yang diikuti.

Membawa nama besar Luis Milla Timnas U23 hanya mampu merebut medali perunggu di Sea Games Kuala Lumpur usai di jungkalkan sang rival bubuyutan Malasyia U23 di semi final. Bahkan sebelumnya Timnas U23 asuhan Milla membawa hasil minor usai pasca gagal lolos dari Kualifikasi Piala Asia U23 Tiongkok. Mirisnya Garuda muda takluk 0-3 dari sang rival Malasyia di fase kualifikasi tersebut.

Sementara jenjang Timnas U19 asuhan Indra Sjafri yang diekspektasikan berlebih atas permainan ciamik di Toulon Tournamen dengan wonderkid muda semacam; Egy Messi, Rafli sang santri, Feby Eka, atau Hanies Saghara juga hanya mampu meraih peringkat tiga di Piala AFF U19 yang berlangsung di Myanmar.

Bahkan di babak Kualifikasi Piala Asia U19 yang berlangsung di Korea Selatan, Egy Cs kembali menjadi lumbung gol rival bubuyutan Malasyia usai kalah 1-4 disamping dibantai empat gol tanpa balas atas tuan rumah Korsel. Alhasil Timnas U19 pun terdampar di posisi tiga klasemen dibawah Korsel dan Malasyia. Beruntung kegagalan telak di Kualifikasi tersebut tak berdampak pada keikutsertaan Timnas di Piala Asia U19 yang memang menjadi host penyelenggara hajatan tersebut.

Hanya Timnas U16 asuan Fahri Husaini yang cukup memberikan harapan di tahun lalu usai berhasil meraih tiket putaran final Piala Asia U19 2018 dengan predikat sempurna tanpa kekalahan. Bahkan mengungguli tuan rumah Thailand U16 dengan skor tipis 1-0. Keberhasilan ini mengobati luka turnamen sebelumnya dimana Timnas U16 gagal total dalam fase grup Piala AFF U16.

Padahal berbagai kebijakan bola memang silih berganti di “Upgrade”, mulai proyek jangka panjang “penataran luar negeri” berjilid yang berlangsung di Uruguay. Sebagaimana program Timnas Primavera di Italia era Kurniawan Dwi Julianto dan Kurnia Sandy, beberapa pemain muda potensial antar jenjang pun dikirim ke lembaga SAD Uruguay laksana Gatot kaca yang digembleng di kawah Chondrodimuko agar mendapat skil luar biasa pasca penggemblengan. Setidaknya ada beberapa pemain muda yang diekspektasikan berlebih saat itu semacam; Syamsir Alam, Zaenal Haq, Alfin Tuasalamony, Yericho Cristiantoko, Alan Marta, hingga Reffa Money.

Tapi ntah apa yang salah dengan proyek jangka panjang tersebut, nyatanya alumni SAD Uruguay belum mampu berbicara banyak di level sepak bola professional apalagi membawa prestasi Timnas Indonesia di turnamen resmi. Ntah apa yang salah dengan program pembinaan tersebut, sebagaian pengamat bola memang menyebut tak adanya Follow up pembinaan pasca lulus dari SAD menjadi salahs satu alasan disamping isu komersialisme PSSI. Tapi sudahlah nikmati saja manis pahit cerita kelamnya.

Karena itulah cara instan program “ngebon pemain asing dan keturunan” (Baca: Naturalisasi) pun terbayang di benak PSSI era akhir kepemimpian Nurdin Halid di tahun 2010, yang kembali mengantarkan Timnas Indonesia menjadi Runner Up Piala AFF. Hasilnya cara instan naturalisasi pemain pun dianggap solusi alternatif di tahun-tahun berikutnya. Alhasil program “ngebon” besar-besaran pun hinggap di tubuh Garuda.

Dimulai Greg Ngkowo (Nigeria), Victor Igbonefo (Nigeria), Tony Cussel (Belanda), Jhony Van Beukering (Belanda), Sergio Van Dijk (Belanda), Diego Michels (Belanda), hingga Raphael Maitimo (Belanda). Sayangnya program mengorbitkan pemain secara Instan pun belum mengangkat prestasi timnas Indonesia, bahkan di Piala AFF edisi 2014 dengan bekal program naturalisasi malah gawang Garuda yang dijaga Kurnia Meiga untuk pertama kalinya terbantai telak atas Filipina degan skor 0-4, sebuah ironi yang menyesakkan pada saat itu.

Alhasil kritik besar-besaran terhadap program naturalisasi pun menggaung di kalangan penggiat bola tanah air kala itu. Apalagi kala itu muncul pemain muda potensial produk binaan dalam negeri yang bahkan skilnya tak kalah dengan para pemain naturalisasi, sebut saja Andik Vermansyah, Titus Bonai, Patrick Wanggai, dan sederet wonderkid dalam negeri lainnya.

Karena itulah PSSI pun mulai menggiatkan program pembinaan tunas muda dalam negeri, diantaranya seperti mewajibkan klub-klub kasta tertinggi Liga Indonesia untuk membuat pula skuad muda guna digodok dalam satu kompetisi profesional ISL U-21 (Sekarang: Liga 1 U19). Sejak saat itu pula mulai muncul sederet bintang muda semacam putra Fandi Eko Utomo yang mengantarkan Persela U-21 sebagai kampiun ISL U21, hingga bintang Persisam Lerby Eliandry. 

Namun sayang berbagai rentetan konflik kepentingan stekholoder sepakbola Indonesia kala itu yang memunculkan dualisme lintas batas; dari Badan Tertinggi (PSSI-KPSI), Liga Profesional (ISL-IPL), dualisme berbagai klub, bahkan merembet pada dualisme Timnas. Semua penggiat bola pastinya mengingat tragedi kelam 2012 saat laga penutup fase grup Kualifikasi Piala Dunia 2014 Zona Asia ditengah konflik dualisme PSSI, saat Timnas Indonesia (versi PSSI kubu Djohar Arifin) bersua Bahrain dikandangnya. 

Secara tak terduga anak asuh Aji Santoso diberondong 10 gol tanpa balas oleh para pemain Bahrain. Parahnya di fase grub babak ketiga tersebut Indonesia mengakhiri diri sebagai tim terburuk dari 20 timnas dibabak ketiga, tanpa mendapat satupun poin plus kebobolan sebanyak 26 gol. Isu sepak bola gajah pun berhembus sampai tubuh FIFA beruntung tak ditemukan bukti penunjang kasus tersebut. Padahal pertemuan terakhir keduanya saat di Piala Asia 2007 di Senayan, Bambang Pamungkas Cs mampu menjungkalkan Bahrain 2-1 padahal saat itu Bahrain tengah onfire usai sebelumnya merengkuh Piala Teluk.

Terbaru peraturan regulasi wajib menyertakan tiga pemain U23 saat laga play on dalam Liga 1, hingga menihilkan pemain asing serta pembatasan usia diatas 35 tahun di Liga 2 pasca PSSI terbebas dari sanksi Kemenpora. Atau inovasi baru Liga Santri Nusantara untuk menjangkau bakat-bakat bola di lingkungan pesantren disamping tetap memberlakukan Piala Soeratin dan ajang semi professional lainnya. Akan tetapi realnya semua usaha tersebut masih belum memberikan prestasi tertinggi pada Timnas Indonesia di berbagai jenjang usia. Tahun 2017 lalu saja Timnas Indonesia terbilang cukup gagal dalam merengkuh target juara yang dimandatkan oleh PSSI di beberapa turnamen.

Memang alasan redaksi kata yang kerap terdengar di penggiat bola sebagai peredam kekecewaan adalah bahwa “Prestasi sepakbola itu didapat melalui sebuah proses panjang dalam pemberdayaan bukan didapat melalui cara instan, apalagi Timnas memang memang baru terbebas dari sanksi pembekuan FIFA”. Pertanyaanya, sampai kapan mencapai happy ending dalam proses panjang tersebut. Lantas bukankah sepakbola Indonesia memang sudah terbilang tua usianya, jadi harus sabar menunggu manisnya prestasi sampai kapan lagi. Bukankah berbagai jenis program pembinaan telah diupayakan oleh penyelenggara sepakbola Indonesia, bahkan usaha menempuh cara instan naturalisasi pemain berbakat juga ikut menghiasi hari-hari.

Ntah siapa yang patut disalahkan atas ketidak monceran prestasi Timnas Indonesia, apakah Menpora sebagai komandan utama program pemuda, apakah PSSI dengan program-program unggulannya, apakah stekholder timnas yan kerap menggonta ganti pelatih kepala, apakah para pemain sebagai pejuang lapangan bola, apakah Badan Liga Indonesia sebagai badan yang mengurusi profesionalisme liga, atau para suporter yang kerap gaduh mendukung klub tercinta.

Sayangnya sebagai penikmat bola melalui layar kaca dan portal-portal maya pribadi hanya mampu mengkritisi lewat dialeka sederhana seperti yang sedang pribadi lakukan sekarang. Jika berbicara tentang siapa yang patut disalahkan maka tak akan ada habis untuk diceritakan, apalagi kekurangan-kekurangan tersebut ditranslate dalam kata-kata tentulah akan sampai buntu otak untuk menguraikan berbagai kebrobokan yang terjadi di sepakbola Indonesia.
  
Lantas bagaimana dengan Timnas Indonesia di tahun 2018 sekarang, tentulah keberhasilan Vietnam U23 mengharumkan ASEAN di kancah AFC haruslah menjadi pelecut tentang permainan ciamik pertandingan demi pertandingan. Setidaknya empat hajatan besar siap menanti di tahun 2018; mulai dari Timnas U23 di Asian Games  yang diekspektasikan berhasil melaju minimal sampai empat besar, Timnas U19 sebagai tuan rumah Piala Asia U19, Timnas U16 yang bertolak ke Malasyia untuk hajatan serupa, hingga Piala AFF akhir tahun yang diharapkan sebagai oase Timnas Senior, Semoga.


2 komentar:

Terima kasih atas masukan anda.