Kajian Al Hikam: Washilah dan Ziarah Kubur


Foto: Pustaka Al Muhibbin

Al Hikam 
Penjelasan kyai Djamal

(Edisi Menjelang Napak Tilas 2018)



Hakekat Wasilah

Pengajian Al Hikam kali ini merupakan pengajian terakhir sebelum libur seiring datangnya Ramadhan. Seperti tahun tahun sebelumnya menyambut Ramadhan Kyai Djamal beserta Jamaah Al Hikam pun mengadakan rangkaian Napak Tilas Auliya tahunan. Sebab itu pula pada pengajian kali ini, Kyai Djamaluddin Ahmad tidak menyinggung perihal hikmah Syekh Ibnu Atto'illah. Melainkan memapar sekilas tentang washilah dan ziarah kubur beserta dalil dan kaifiyahnya.

Hal pertama kali yang disinggung KH. Moh Djamaluddin Ahmad tiada lain tentang pengertian washilah. Salah satunya adalah dari Sayyid Alwi yang mengatakan bahwa washilah adalah sesuatu yang dipergunakan untuk mendekatkan diri pada Allah SWT.

Sementara Guru Kyai Djamal semasa nyantri, Syekh Masduqi Lasem mengatakan hal yang sama persis. Dimana dalam kuliah subuhnya di tahun 1966 pernah mengatakan bahwa Washilah adalah amal yang dipergunakan untuk mendekatkan diri pada Allah SWT.

Adapun Terkait dasar Washilah sendiri seperti dipaparkan dalam QS Al Maidah : 35, dimana disinggung secara gamblang redaksi washilah.


" Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan"  (5: 35).

Disisi lain dalam salah satu Haditsnya, Rasulullah Saw juga pernah bersabda, " Gunakan washilah dengan Aku dan para ahli Bait-ku pada Allah SWT. Karena sesungguhnya tidak ditolak orang yang bertawassul pada kami. (HR. Ibnu Majah).

Dua tokoh waliyullah sekaligus dua Mursyid utama dari dua thoriqoh besar, syekh Abduk Qadir Al Jailani (Qadiriyah) dan Syekh Abu Hasan As syadhilli (Syadhiliyyah) juga pernah mengatakan sebuah gagasan.

Dimana Syekh Abdul Qadir Al Jailani mengatakan bahwa jika kamu seakan memohon ampun atau meminta. Maka memitalah  pada Allah SWT dengan perantara Aku (Syekh Abdul Qadir).

Disisi lain Syekh As Shadliyyi turut memberikan gagasannya, dimana barang siapa yang punya hajat pada Allah SWT, dan ia ingin hajatnya dipenuhi maka bertawassullah kepadaku dan perantara aku.

Dengan demikian dapatlah diketahui bahwa Washilah merupakan hal yang vital dalam agama Islam. Selain itu secara umum dalam kehidupan selalu menggunakan Washilah untuk mencapai sebuah tujuan.

Sebut saja ketika seseorang ingin bertemu seseorang presiden misalnya, maka tertuntut olehnya mencari sebuah Washilah sebagai perantara pertemuannya. Tidak asal bertemu begitu saja dengan presiden, tanpa sebuah Washilah yang berarti.

Washilah Pada Rasulullah

Washilah terbaik adalah merujuk pada Nabi Muhammad Saw sendiri. Karena memang beliau menjadi Washilah bukan hanya ketika masih hidup, tetapi sebelum lahir atau bahkan setelah berpulang.

Pertama, ketika Nabi belum lahir di dunia. Sebelum terlahir ke dunia saat itu pernah digunakan washilah oleh Nabi Adam As ketika beliau dalam proses penghukuman atas kelalaiannya memakan buah khuldi dan diturunkan ke bumi.

Hal ini merujuk pada Hadist Riwayat Imam Baihaqi yang sanadnya adalah Sayyidina Umar bin Khattab. Dimana dalam hadits tersebut dipaparkan panjang lebar bahwa Nabi pernah menceritakan kala asmanya pernah dipakai Nabi Adam As ketika dalam proses penghukuman.

Adapun Nabi Adam As sendiri mengetahui asma Muhammad dari sebuah tulisan di pilar pilar Ars, saat asma Allah SWT bersanding dengan asma Rasulullah Muhammad Saw.  Hasilnya saat Nabi Adam As bertawasul menggunakan nama Muhammad Saw akhirnya Allah SWT pun mulai memperhatikan hajat Nabi Adam As.

Kedua, ketika asma Nabi Muhammad Saw dijadikan tawasul ketika masih hidup. Seperti dirujuk sebuah hadist riwayat Tirmidzi. Diceritakan dari Usman bin umaid bahwa pernah ada seseorang lelaki buta menghadap Nabi Muhammad Saw dan mengurai panjang tentang hajatnya agar Nabi Muhammad Saw merelakan berdoa kepada Allah SWT agar menyembuhkan penyakitnya.

Hasilnya Nabi pun berkata, kalau engkau ingin demikian maka akan aku doakan. Tapi kalau mau memilih sabar maka sabarlah, karena hal itu merupakan hal yang lebih baik.

Berhubung lelaki tua tersebut memilih tentang kesembuhan penyakitnya, maka Nabi Muhammad Saw pun segera berdoa dan meminta lelaki tersebut untuk berwudhu dahulu. Sebelum juga diperintahkan Nabi untuk melafalkan sebuah doa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw. Bu Idnillah penyakit tersebut sembuh, dan lelaki tersebut kembali mampu melihat.

Ada hikayat lain seputar hal yang sama, dimana kali ini merujuk pada kitab Shahih Muslim juz 6. Diceritakan bahwa pernah ada laki laki yang masuk masjid dihari Jumat, persis ketika Nabi Muhammad Saw sedang berada di mimbar.

Lelaki tersebut kemudian menguraikan pada Nabi tentang kekacauan akhibat kekeringan panjang yang telah melanda daerahnya. Seperti ladang yang kering, jalanan yang putus, dan sebagainya. Dengan maksud agar Nabi sudi untuk memohonkan pada Allah SWT atas hajatnya.

Seketika itu pula Nabi mengangkat tangan kemudian berdoa, " Allahumma Aghisna ". Bi Idznillah  seketika itu datanglah awan hitam dan tak lama kemudian bersambut guyuran hujan.

Ketiga, Ketika Nabi Muhammad Saw sudah dipanggil oleh Allah SWT. Meski sudah berpulang wafat namun Nabi Muhammad Saw masih juga dapat memberi kemanfaatan dalam proses washilah.

Dirujuk dari kitab Al Jauhar Muadhom, dipapar dari Abu Hajar  Al Asqolani dari Abi Said yang dirujuk hingga Sayyidina Ali Bin Abi Thalib ra. Diceritakan bahwa ketika tiga hari setelah pemakaman Rasulullah Saw, pernah ada seorang Badui yang berziarah ke makam Rasulullah. Disana Badui tersebut berguling guling dan meletakkan debu makan Nabi Muhammad Saw diatas kepalanya.

Kemudian Badui tersebut bermunajat tentang sebuah hajat yang berintikan , " Ya Rasul ketika engkau bersabda kami telah mendengarkan. Bahwa apa yang Allah SWT firmankan, maka sesuai dengan apa yang engkau sabdakan. Dan sungguh jikalau namaku ketika aniaya daripada Allah, lalu mendekati Rasul, maka Allah akan memaafkan juga".

Usai hajat dipaparkan seketika itu pula terdengar suara dari dalam makam Rasulullah. "Sungguh tuhanmu telah memaafkan".

Terkait dengan cara washilah oleh Kyai Djamal dipaparkan. Bahwa ketika berwashilah dengan bertawassul pada Nabi Muhammad Saw hendaknya ditambahkan redaksi " Bi Khaqi" sebelum asma Rasulullah Saw disebutkan. Sedangkan ketika yang diwashilai itu para Auliya atau 'ulama maka menggunakan redaksi "Bi karomati (Sunan Ampel / Sunan Drajad, Sunan Giri dan lain sebagainya).

Ziarah Kubur Pada Auliya

Terkait dengan ziarah kubur dipaparkan Kyai Djamal bahwa semula memang ziarah kubur dilarang.  Alasannya pelarangan sebelumnya adalah karena saat itu memang Nabi Muhammad Saw belum memberikan sebuah kaifiyah dan bimbingan dalam prosedur Ziarah Kubur. Namun 21 hari setelah dicetuskan pelarangan, Nabi mulai membolehkan dalam ziarah kubur. Sebagaimana hal ini dipapar dalam Hadist Riwayat Ibnu Majah.

Adapun oleh Kyai Djamal merujuk pada salah satu kaidah Qowaid Al Fiqh. Dipaparkan bahwa "Bila ada perintah setelah larangan maka hukumnya Jaiz. Mungkin fardhu, wajib, Sunnah, atau bahkan Mubah. Ziarah Kubur menjadi Sunnah karena manfaat yang ditimbulkannya baik, bisa mengarah ke Zuhud, ingat kematian, atau ingat akhirat.

Selain itu dalam kesempatan kali ini Kyai Djamaluddin Ahmad juga "mewanti wanti" tentang etika ketika berziarah kubur. Diantaranya seperti; anjuran berpakaian putih, wajib berwudhu sebelum ziarah, menunggu antrian wudhu dengan berdiri, masuk harus lewat bawah jangan sisi atas kecuali darurat, kalau bisa duduk disebelah barat menghadap makam, ketika perjalanan ziarah memperbanyak istighfar atau membaca buku buku pengetahuan, hingga sabar dan tertib dalam laku lalu lintas di perjalanan.

Satu yang paling ditekankan Kyai Djamal dalam kaifiyah Ziarah Kubur.  Bahwa ketika mau masuk area kuburan hendaknya jangan menyempatkan untuk berbelanja apalagi mampir warung. Itu namanya Su'ul Adab.

Diceritakan oleh Kyai Djamal saat berziarah ke makam Sunan Ampel, bersama tokoh semacam Kyai Abdillah, Kyai Irsyad, Kyai Saddiq, dan Kyai Solahudin. Saat itu ketika sampai gerbang gapura makam banyak rombongan jamaah yang menyempatkan untuk berbelanja dulu di area lapak sekitar gapura.

Kejadian ini pula yang menyebabkan Kyai Sadiq bercerita, bahwa dirinya mendapati Sunan Ampel dalam keadaan marah, " kok ya Iyo Aku digawe ampiran tok, kapan kapan ojok ngunu maneh".

Amalan Tampil Di Panggung

Dalam pengajian kali ini Kyai Djamal juga berbagi sebuah amalan ketika tampil didepan panggung. Terutama agar sebuah hal yang disampaikan dapat diterima oleh khalayak yang hadir.

Kaifiyahnya adalah berwashilah dengan cara bertawassul kepada Rasulullah Muhammad Saw, Syekh Abdul Qadir Al Jailani, serta ditujukan kepada hadirin - hadirat.

Baru setelah itu membaca Fatihah tujuh kali. Terakhir membaca amalan dibawah ini (Qul in kuntum) sebanyak tiga kali. 


Apadapun pembacaannya bisa dilakukan Bi sirri, karena tidak mungkin membaca  hal  tersebut bi jahri didepan khalayak umum.



(Selesai)




Catatan:

Tulisan diatas merupakan hasil rangkuman resuman pribadi merujuk Pengajian Al Hikam Kyai Moh Djamaluddin Ahmad.

Waktu: 07 Mei 2018 (Terakhir Sebelum Puasa)




Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.