Agustus Datang Sayang



Sebenarnya rangkaian kata ini dibuat ditengah kebuntuan otak untuk merangkai dialek wacana kekinian. Sementara merangkai kata murni sebuah pembiasaan yang harus disetel dengan informasi dan pengalaman. 

Dengan kata lain disinilah sebuah pembiasaan menjadi keniscayaan yang tak dapat dinafikan. Dalam pandangan Islam perilaku ini terdapat pada sebuah proses keistiqomahan.

Pembiasaan hal yang berulang ulang akan berpotensi membentuk sebuah budaya realitas. Hingga pada akhirnya hal tersebut menjadi sebuah corak identitas. Ini tiada lain merupakan tabiat sosial tanpa batas.

Katakanlah sejak Agustus menghampiri, hadirnya bulan kelahiran bangsa Indonesia tersebut menjadi sebuah perayaan wajib. Sejak masuk tanggal pertama penjuru jalan dan gang gang penuh dengan parodi warna merah putih. Lalu tampak deretan tiang bambu berbalut bendera kenegaraan sakti.

Tak luput pula estafet lomba-lomba berbondong memperingati. Karnaval dengan arakan foto foto pahlawan negeri. Upacara serentak di berbagai instansi. Atau yang lebih pasti adalah parodi gerak jalan putra putri pertiwi.

Sebuah realitas negeri yang biasa terjadi di bulan kedelapan. Katanya sih sebagai penghormatan bulan kelahiran. Persis seperti ungkapan Bung Karno, jangan sekali kali melupakan sejarah sendiri.

Yang menarik dari agustusan edisi tahun ini, tiada lain berbarengan dengan dua hajatan kenegaraan. Momennya bersaamaan dengan Asian Games dimana Jakarta Palembang menjadi host penyelenggaraan. Sementara yang satunya adalah pendaftaran capres cawapres pemilu tahun depan.

Tentu kesemua budaya perayaan hari kemerdekaan, tiada lain terjadi karena adanya proses pembiasaan. Sehingga menjadi sebuah perayaan wajib yang kerap ditunggu di bulan kedelapan. 

Nah, ini sebenarnya momentum tepat untuk mengajarkan pembiasaan nilai perjuangan kebangsaan. Masalahnya  kerap kali nilai hanya dipandang teoritis belaka, yang dituang dalam coretan kata. Apalagi nilai berbasis sejarah yang kerap ditafsirkan sebagai cerita, bak dongeng pengantar lelapnya mata.

Penulis sendiri masih bingung harus bagaimana menawarkan argumentasi solusi tentang kegundahan seputar ini tema. Era sekarang saja isu nasionalisme masih harus tersatir dengan hal yang spesifik seperti agama.

Meski banyak cendekiawan dan tokoh agama yang membantah pemisahan kedua dogma. Toh realita publik antara Nasionalisme - Agama (Islami) masih terkotak kotak dalam sebuah paradigma. 

Ingin bukti, lihat pola penentuan formasi Capres Cawapres akhir akhir ini. Realitanya publik masih saja terjebak paradigma lama, melabeli ini tokoh dari kalangan nasionalis lalu ini dari kalangan agamis.

Hingga tulisan ini dirancang, handphone pribadi masih memutar playlist lagu kawakan. Ya, awal Agustus menang penuh kemesraan. Mengirim pesan rindu tentang nilai heroik pengorbanan.

Melalui lambaian kain merah putih yang tertempa angin pelan. Melalui pesan lagu wajib nasional yang mulai menjebol indra pendengaran. Melalui foto para pahlawan yang mulai terpajang di selembaran.

Melalui gemuruh hentakan kaki para peserta gerak jalan. Melalui parodi arakan sandiwara karnafal dengan aneka penyamaran. Melalui rapinya barisan peserta upacara tujuh belasan.

Agustus datang sayang. Kemesraan ini janganlah cepat berlalu. Kemesraan ini ingin ku kenang selalu. Hatiku damai jiwaku tentram di sampingmu.


Jatipandak, 05 Agustus 2018

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.