Pesan Kemanusiaan Dari Lombok

Foto: ngenetyuk


Beberapa waktu lalu penulis jatuh dari sepeda. Disebut teledor amat juga terbilang tak seberapa, wong batas kecepatan hanya 40 km per jam jalannya. Toh itu juga efek apes dari tabrakan beruntun.

Hanya saja namanya blai mungkin tak bisa dihindari. Persis seperti kalah menang  Timnas Indonesia dalam berbagai turnamen yang diikuti.

Seberapa jauh berusaha dan berbenah tapi kalau masih blai tak berjodoh kampiun, ya harus bagaimana lagi. Atau kalah menang dalam perebutan sayembara politik kenegaraan yang akan memasuki babak baru tahun mendatang.

Lupakan tentang politik, beberapa hari lalu istilah blai kembali menghampiri negeri pertiwi. Pulau Lombok yang brrjuluk seribu masjid kembali diterpa kegoncangan 7 skala ricther.

Tak tanggung tanggung hingga tulisan ini dibuat, korban meninggal kurang lebih sembilan puluhan. Semoga para korban yang berpulang mendapat tempat terbaik disisi Dzat Ilahiyyah nan tertunggal.

Feedback kemanusiaan

Sebuah kelabu yang tak diharapkan di awal bulan kemerdekaan. Namanya blai harus bagaimana lagi gerangan. Tentu dalam kondisi kelam ini seakan harus mendadak menyetel paradigma sufisme. Tentang segala sesuatu terjadi di jagat raya ditentukan atas Fadholnya Allah SWT.

Praktis, sepertinya hukum alamiah kemanusiaan. Gempa Lombok memberikan sentuhan status kemanusiaan dengan berbagai simpati dan empati yang silih berganti menghampiri. Ntah itu hanya berupa ucapan Pray For Lombok di jagat maya, atau berbentuk eksekusi tindakan nyata.

Pemberitaan media pertelevisian minggu ini juga tak henti hentinya memberondong dalam menyorot kabar kegoncangan. Menjadi oase panasnya pemberitaan pendaftaran capres cawapres di pekan awal bulan kedelapan.

Laga AFF U16 antara Indonesia vs Kamboja pun terkena feedback kemanusiaan dari gempa Lombok. Luapan doa menjelang laga tumpah ruah dari jutaan suporter yang membanjiri Gelora Delta Sidoarjo. Lalu ditutup dengan seremonial penyerahan sumbangan amal korban gempa yang dialokasikan dari tiket penjualan pertandingan.

Pemandangan kemanusiaan yang sungguh Epic di negeri yang multi heterogenitas. Serasa menguatkan bahwa sinar kemanusiaan menang masih ada, ditengah gejolak konflik kepentingan dan perpolitikan yang membawa ego primordial.

Sebab itu sangat biadab apabila kelabu Lombok yang berbalut semangat satu  kemanusiaan sebangsa. Nyatanya malah dipecah dan disekat oleh para pelakor dengan berbagai isu sara bernuansa identitas perpolitikan, naudzu billah.

Ini hal lumrah terjadi menjelang sayembara politik negeri pertiwi. Apalagi gubernur NTB "Tuan Guru Bajang"  memang akhir akhir ini kerap menjadi sasaran kritik para oposisi. Usai sikap pribadinya yang  mendukung presiden Joko Widodo, mengalihkan diri dari kubu oposisi. Tentu hal semacam ini akan memicu argumentasi kosong  tak bertuan yang malah bersifat destruktif.

Pelakor, itulah dogma yang juga pantas disematkan pada pihak pemecah kesatuan demi sejengkal primordial. Sama pula dengan redaksi pelakor rumah tangga, keduanya mempunyai kesamaan jobdis; merusak keharmonisan rumah tangga, menggoyang kepercayaan, atau merusak jalinan aliansi keikaan.

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.