Kyai Ma'ruf Amin di Pusaran Kerinduan NU

Sumber: kompas.com
Penyerahan guru besar Kyai Ma'ruf Amin oleh presiden Jokowi
 di UIN Maliki Malang


Kopi sudah disiapkan di meja. Begitu pula remote tv yang siap siaga menyetel pertandingan bola sehabis maghriban. Ini pertandingan merupakan semi finalnya Indonesia u16 di ajang AFF U16.

Apalagi tim penjegal adalah Malasyia yang merupakan rival bubuyutan, meski hanya dalam kancah junior. Tapi tak ubah dag dig dug laga bertajuk el clasicco asia tenggara menjadi hal yang ditunggu hingga menit injury time tiba. Mulut pun sudah disiapkan bercuwawak dan berpisuh pisuh menyambut jeger garuda muda.

Siapa sangka menjelang kick off dimulai. Jantung sudah terkena kejutan tak terduga. Bukan datang dari starting eleven para punggawa garuda muda.  Justru presiden Jokowilah yang menjadi pemain utama kali ini.

Membuat Jokowi disorot para media sebagai key player yang mempunyai kreativitas dalam bermanuver. Alhasil petang ini pembahasan bola mendadak teralihkan dengan panasnya geliat pendaftaran capres cawapres.

Terkhusus, manuver Jokowi menjelang tikungan terakhir yang mengganti Mahmud MD dengan Kyai Ma'ruf Amin sebagai cawapresnya. Sontak banyak pengamat politik yang berargumentasi bahwa terseretnya Kyai Ma'ruf dalam politik pilpres efek dari hasil lobying para partai dengan mempertimbangkan kepentingan koalisi.

PKB sebagai poros utama menggalang dukungan basis Nahdliyyin, menjadi salah satu praduga atas dipilihnya Kyai Ma'ruf Amin sebagai setelan Jokowi untuk pengamanan koalisi. Itu belum lagi premis mempersiapkan netralitas sembilan koalisi dalam menyongsong pilpres edisi 2024.

Meski bukan kejutan, terpilihnya Kyai Ma'ruf sebagai cawapres menjadi sebuah trending topic bagi ormas Nahdlatul 'Ulama. Banyak pula pihak yang optimis terhadap sepak terjang pasangan perpaduan nasionalis - religius tersebut.

Kharisma dan kebijaksanaan Kyai Ma'ruf Amin tentulah menjadi sebuah strength bagi elektabilitas Jokowi. Apalagi Posisi kyai Ma'ruf yang berada dipuncak hierarki Nahdlatul 'Ulama serta pengaruhnya dalam kubu Islam ketat.

Kerinduan NU struktural

Dalam lima tahun terakhir ini NU struktural semakin mesra bersama Jokowi dengan berbagai kebijakannya. Sebab itu pula tak heran jika PBNU yang digalang Kyai Said Aqil ngotot ngototan mengupayakan NU agar mampu lebih mesra bersama Jokowi. Dalam hal ini posisi cawapres yang diincar.

Premis pribadi ini bukan asal comot, toh menang NU struktural akhir akhir seakan menjadi koalisi non partai presiden Jokowi. Hasilnya chemistry NU bersambut pemanjaan berbagai kebijakan pemerintah. Sebut saja pengesahan Hari Santri Nasional yang dipropagandakan oleh PBNU, propoganda Islam Nusantara, atau diangkatnya para tokoh NU sebagai pahlawan nasional.

Dengan demikian penulis sangat yakin bahwa penunjukan Rais 'Aam PBNU Kyai Ma'ruf Amin sebagai cawapres Jokowi. Bukan hanya mempertimbangkan kompetensi Kyai Ma'ruf sebagai sosok ulama sepuh dengan pengalaman serba komplit. Tetapi terdapat intrik politik kepartaian didalamnya, termasuk pula intervensi PBNU sebagai bagian dari pihak yang dekat dengan pemerintah.

Perkataan Kyai Said Aqil Siradj yang memvonis Mahfud MD bukan kader NU kala pencapresan, menjadi penegas intervensi PBNU ke ranah politik. Padahal jika dilihat pengalaman awal 2000-an, nyatanya Mahfud MD merupakan salah satu sahabat kepercayaan Gusdur bersama Rizal Ramli dan Khofifah Indar parawansa. Keterangan Ini pernah disampaikan Gus Sholah dalam Haul Gusdur 2017 lalu.

Perkataan ketum PPP Romahurmuziy tentang adanya rekomendasi empat nama kader NU ke Jokowi sebagai pertimbangan cawapresnya. Menjadi afirmasi lain adanya keterlibatan NU dalam politik praktis pilpres.

Lantas bukankah itu hak untuk berpolitik, apanya yang perlu dikritisi. Berkenaan hal diatas, Toh kalau niatnya untuk memperbaiki kualitas NKRI bukankah malah lebih baik. Daripada diam menikmati sandiwara melalui balik layar.

Memang demikian, sebenarnya tulisan ini hanya sebuah argumentasi lepas penulis sebagai Nahdliyyin kultural yang tak terikat pada wadah struktural. Sebab itu pribadi sedikit kecewa tentang pembatalan Mahfud MD sebagai cawapres Jokowi. Apalagi mendengar kabar Kyai Ma'ruf Amin sebagai supersub  di penghujung injury time.

Bukannya semata mendukung Mahfud MD yang memang kapasitasnya tak diragukan. Tapi sebagai warga NU kultural rasanya tak rela jika sosok Kyai Ma'ruf Amin dipaksa untuk terjun dalam geliat politik praktis.

Memang itu meroketkan kembali nama Nahdlatul 'Ulama dalam kancah politik nasional. Masalahnya hanya mengapa harus nama Kyai Ma'ruf Amin yang dikorbankan. Meski secara terang terangan Kyai Ma'ruf juga mengutarakan kesiapannya sebagai cawapres jika dipilih.

Salah satu alasan penulis yang menyayangkan unjuk giginya Kyai Ma'ruf Amin, tiada lain adalah posisi NU struktural yang memang terkesan berorientasi politik. Dogma ini muncul semenjak kedekatannya penggede NU dengan pihak pemerintah.

Posisi Kyai Ma'ruf Amin yang sebelumnya mampu berada di jalur tengah. Antara kubu NU yang terkesan pro pemerintah dengan kelompok Islam ketat yang terdogma kontra pemerintah. Tentu menjadi sebuah strength bagi NU dalam mengembangkan eksistensi organisasi yang berbasis civil society, sejak khittah Nahdliyyah digaungkan.

Dengan kata lain terjunnya Kyai Ma'ruf Amin ke politik praktis. Tentulah akan berimbas pada posisi Kyai Ma'ruf Amin yang semula "disakralkan" oleh para kelompok Islam di luar NU.

Sehingga disinilah kekhawatiran penulis akan tak adanya lagi sosok NU struktural yang menyandang posisi netral dalam pergolakan politik dan sosial. Yang pasti akan menyeret beragam organisasi sosial, termasuk NU sendiri.

Meski demikian tak perlulah disesalkan, toh realitas memang terjadi adanya. Realitas tipologi politik memang telah menyeret NU struktural ke pusaran politik praktis secara Kaffah.

Mungkin saja PBNU rindu kader NU menjadi orang terpenting se jagat NKRI. Sejak Gusdur sebagai presiden keempat, Hamzah Haz sebagai wakil, atau Kyai Hasyim Muzadi dan Gus Sholah yang menjadi cawapres pemilu 2004. Meski juga dua nama terakhir keok ditangan SBY - Jusuf Kalla.

Sebelum dipungkasi, mengutip kicauan super Mahfud MD (10/08/18), bagi kita yang terpenting NKRI ini terawat dengan baik. Dan keberlangsungan NKRI jauh lebih penting daripada sekedar nama ..."



Lamongan, 9 - 10 Agustus 2018

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.