Timnas U16 Juara, Refleksi PSSI


Sumber: Bola

Via vallen mendukung Timnas U16

Indonesia juara, tagar yang memviral di twitter usai timnas Indonesia kembali menggondol trofi AFF. Meski hanya berstatus jenjang U16, tapi gemanya menyerbu penjuru jagat maya. Dan pastinya venue GDS selaku host penyelenggara.


Way of life Indonesian, ungkapan Anthony Sutton yang serasa pas jika dikaitkan dengan candu bola Indonesia. Meski tak pernah kampiun di jenjang senior, serbuan dukungan suporter liar tak pernah surut membanjiri setiap laga timnas. Bahkan fenomena tersebut berlaku di seluruh jenjang usia. Termasuk timnas Indonesia U16 yang berjuang di ajang AFF U16.

Selain itu ekspektasi tinggi akan kampiun selalu terbalut di benak punggawa muda. Hasilnya kekalahan U19 besutan Indra Sjafri di semi final AFF U19 beberapa bulan lalu atas Malasyia menjadi hantaman telak.

Beruntung dahaga prestasi terobati dengan keberhasilan Fahri Husaini mengantarkan U16 merajai AFF U16. Usai beberapa jam lalu secara dramatis mengalahkan tim kuat Thailand lewat adu penalti 4-3. Yang lebih spesial timnas U16 berhasil menyapu seluruh kemenangan sejak fase grub hingga partai puncak.


Setidaknya timnas U16 berhasil mengisi lemari senayan dengan satu lagi tropi kemenangan di bulan kedelapan tahun ini. Sebuah kado kemerdekaan yang tertunda sejak terkaparnya timnas U23 di ajang Sea Games agustus tahun lalu.

PSSI, Wani Opo Ra !

Bangga dan gembira tentu hal lumrah. Namun bagi stekholder terkait, rasanya haram untuk berpuas diri. Ekspektasi Timnas U16 dan U19 masih berlanjut di ajang Piala Asia U16 2018 yang di targetkan mencapai semi final. Jika masih ingin bermain di event Piala Dunia Junior. Menyusul track record Thailand, Vietnam, bahkan Myanmar yang pernah berkompetisi di ajang junior kelas wahid tersebut.

Sebab itu pula PSSI sebagai badan utama yang kerap diisi intrik kepentingan dan politik, harus tertuntut untuk berbenah diri dengan analisis diri secara total.

Artinya PSSI harus mampu menunjukkan pada rakyatnya tentang bukti nyata dari upaya pembenahan dan perbaikan diri. Bukan sekedar mendogma diri sebagai kepengurusan unggulan atas prestasi yang didapat oleh timnas.

Toh, selama ini ketidak monceran prestasi timnas hanya terkesan menjadi tanggung jawab jajaran internal kepelatihan. Buktinya adalah fenomena dieluh eluhkannya pelatih timnas kala mampu berprestasi, namun langsung mengganti ketika dianggap terpleset. Terus terusan berputar dengan nama itu itu saja.

Dengan kata lain dosa kegagalan timnas kerap hanya disasar pada pihak eksekusi. Sedang si pembuat sistem malah dengan santainya tak mau analisa diri, justru lempar batu sembunyi tangan dibalik jabatan kepentingan lain.

Ini uraian tiada lain merupakan argumentasi bebas dengan mengacu kegelisahan rakyat bola yang kerap bercuwawak di jagat maya. Tentang kritikisasi pada pihak pengatur bola nasional nomor wahid, dalam hal ini Edy Rahmayadi dan PSSI.

Apalagi timnas U23 dalam bulan ini mendapat ujian berat atas target tinggi semi final Asian Games 2018. Apapun hasilnya harus diintropeksi oleh seluruh stekholder yang terlibat.

Termasuk seberapa upaya pengabdian nyata penggede PSSI. Bukan malah melanjutkan tradisi jahiliyyah, gagal juara ganti pelatih. Sesekali gagal juara ganti ketua PSSI, bagaimana wani opo ra ?.

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.