Adu Posisi, Playmaker Jokowi atau Trequartista Prabowo

Foto: Kompas.com

Sebenarnya ogah membahas politik pilpres. Tapi secuil prediksi laga Asian Games Indonesia vs Palestina sore ini menggugah untuk berargumentasi.

Laga klasik Jokowi vs Prabowo di pilpres tahun depan diprediksi tetap menyuguhkan keepikan tersendiri. Kejutan awal dalam penentuan nama cawapres masing masing kubu menjadi penegas; Kyai Ma'ruf  di kubu Jokowi dan Sandiaga Uno di kubu Prabowo.

Tak usah dipaparkan kronologis penentuan masing masing cawapres yang sarat drama. Pastinya dua nama yang dipilih masing masing kubu mencerminkan taktik strategi yang digunakan menyongsong laga nanti.

Dalam laga sepakbola secara sederhana ada dua alternatif strategi yang tampak dalam pertandingan yang kondisinya satu kubu sudah memperoleh status leading. Pertama, menjaga momentum keunggulan dengan bermain rapat di area kedalaman. Sebab itu strategi ini perlu menekankan keseimbangan aliansi para pemain untuk mempertahankan status leading.

Sedang alternatif strategi kedua, adalah berusaha menyerang dengan variasi serangan melalui pergerakan aktif pemain, dengan diharuskan mampu bermanuver ke gawang lawan.

Nah, jika diperhatikan seksama dalam pola strategi laga politik Jokowi vs Prabowo tahun depan. Terdapat kesesuaian dua alternatif strategi sebagaimana diatas.

Playmaker Legendaris

Dipilihnya Kyai Ma'ruf Amin sebagai cawapres Jokowi menggantikan Mahfud MD bukan asal asalan. Nampaknya kubu Jokowi memang lebih memilih untuk memakai pemain bertipe Gelandang bertahan daripada Gelandang serang.

Ini sebenarnya lumrah bagi kubu Jokowi selaku capres pertahana yang posisinya memang sedang leading atas tim lawan.  Sebab itu Jokowi memutuskan memakai player bertipe Defense Midfielder, daripada tetap menyerang menggunakan  posisi Attack Midfielder yang beresiko rawan terkena damage counter attack.

Apalagi Kyai Ma'ruf memang bukanlah gelandang bertahan biasa. Status Ulama sepuh dalam diri Kyai Ma'ruf, membuatnya menyandang tugas sebagai Playmaker legendaris yang kenyang pengalaman dan teruji kala menjaga area pertahanan keumatan. Persis seperti dogma tua tua keladi yang juga melekat pada gelandang bertahan  semacam; Michael Carrick, Sergio Busquets, Andrea Pirlo, Camoranesi, hingga Didier Deschamps.

Jika Kyai Ma'ruf berperan sebagai Playmaker veteran di posisi Defend Midfielder yang ditugaskan mengamankan zona kedalaman dan sesekali  melancarkan umpan umpan penyerangan, maka Sandiaga Uno berstatus sebaliknya. Ia merupakan wonderkid potensial di posisi Gelandang serang.

Trequartista Modernis

Jelas sudah bagi Sandiaga Uno dipilih Prabowo sebagai cawapresnya difungsikan untuk mengejar ketertinggalan Prabowo dari sang pertahana. Terlepas dari isu monoisme bendera dengan balutan mahar politik.

Apalagi Sandiaga Uno merupakan tipe pemain modern di era millenial. Ia dipilih bukan sekedar berperan di posisi murninya sebagai Attack midfielder. Yang diharapkan menambah daya serang sekaligus menghasilkan asist asist berkualitas untuk Prabowo.

Kondisi ini memungkinkan Sandiaga Uno berevolusi peran, dari sekedar Playmaker menjadi seorang Trequartista. Artinya daya serang kubu ini tidak hanya fokus pada pergerakan Prabowo sebagai striker murni.

Sebagai Trequartista, Sandi diharapkan  mampu menambah daya serang tim dengan posisi barunya sebagai penyerang lobang. Keputusan Prabowo mengembangkan permainan dengan inovasi Trequartista modern, tentu bertujuan untuk meningkatkan serangan ke kubu Jokowi selaku tim yang sedang leading.

Sebuah perang taktik dari  laga sarat gengsi yang patut ditunggu. Jokowi dengan Kyai Ma'ruf Amin sebagai Playmaker veteran di posisi Defend Midfielder. Sedang di kubu Prabowo memainkan seorang Attack Midfielder ala Trequarista bernama Sandiaga Uno.

Siapakah cawapres yang bakal menggila di laga nanti. Playmaker legendaris atau Trequartista modernis.

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.