Kalah - Menang NU Struktural di Piala Presiden

Foto: nu.or.id

Secuil topik NU struktural dan NU kultural menjadi pembahasan di salah satu TV swasta sore ini menggugah untuk berargumentasi. Dikatakan bahwa Jokowi yang memiliki orang nomor satu NU "Kyai Ma'ruf Amin" harus mewaspadai NU struktural effect. Mengacu record keoknya head to head NU struktural dalam perang politik yang diikuti. 

Kekalahan trio NU di Pilpres 2004; Megawati - Kyai Hasyim, Wiranto - Gus Sholah, atau Gusdur - Marwah Daud yang tersisih dari tes medis di babak awal. Tentu ini menjadi awal degradasi NU struktural dalam ketatnya liga politik nasional.

Ini belum termasuk hasil Pilkada Jatim lalu. Gus Ipul dengan dukungan dari kalangan NU struktural, harus mengakui keunggulan Khofifah Indar Parawansa yang didukung penggiat NU kultural.

Nah, akankah Jokowi yang menggandeng Kyai Ma'ruf Amin dari kalangan NU struktural mendapatkan nasip yang sama pula seperti pendahulunya. Bahkan dalam beberapa polling ala Twitter minggu ini yang diadakan beberapa pihak sudah mendapai kekalahan kubu Jokowi - Kyai Ma'ruf Amin. Meski sebenarnya terlalu dini berspekulasi, apalagi memandang remeh kekuatan struktural NU.

Ibarat Manchester United

Ingat, NU ibarat klub klasik Manchester United sebagai tim legendaris yang penuh superior basis pendukung. Selain itu karakter khas Manchester United di era lawas, yang kerap mengorbitkan wonderkid dari akademi sendiri. seakan mengingatkan pula karakter NU era Klasik yang mampu mengorbitkan kader unggul yang mampu bersaing dalam kancah nasional.

Di musim sekarang komposisi skuadnya tak bisa disebut tak berkualitas. Meski dalam beberapa tahun terakhir tim ini tak mampu berbicara banyak di kancah sepakbola. Selalu kalah saing dengan klub semacam Manchester city yang justru dikenal royal membeli pemain yang sudah jadi.

Begitu juga dengan NU era kekinian, meski punya basis massa besar. Nyatanya di rana struktural organisasi ini justru sulit mengorbitkan kadernya meraih gelar bertajuk Indonesian best player of politics. Usaha pengorbitan pun malah kerap bersambut anggapan politisasi wadah NU, atau melenceng dari jalan khittah NU.

Namun halnya dengan Manchester United era Mou yang tetap berpotensi memberikan ancaman klub rival apabila para pemainnya sedang onfire. Seperti Paul Pogba, David De Gea, Alexis Sanchez, hingga Romero Lukaku yang justru lebih moncer kala berjersey timnas.

Di sisi lain NU struktural juga terbilang mempunyai potensi besar menggalang kekuatan besar. Apabila lini per lini mampu bermain lepas dengan daya juang trengginas. Tidak hanya memainkan bola politik di zona identitas Nahdliyyah demi unjuk gigi bendera almamater saja. Tetapi juga harus punya daya jelajah tinggi di setiap lini keumatan secara universal.

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.