About Me

header ads

Memahami Hakekat Ta’at Dalam Perspektif Filsafat Ilmu



Prolog

Dalam kehidupan bermasyarakat tentu tak bisa lepas dari sebuah aturan (Norma), ada norma Agama, Norma Sosial, Norma Hukum, Norma Keluarga, dan lain sebagainya. Yang pasti dari aneka aturan tersebut mempunyai sebuah kesamaan satu sama lain. Yakni sama sama berperan untuk mengatur sebuah tatanan  agar tidak rusak, hancur, dan jelek. Sebab itu adanya sebuah aturan haruslah ditaati untuk menuju sebuah tatanan kehidupan yang baik, bukan malah dilanggar. 

Seperti halnya contoh, adanya aturan agama seperti tata cara pergaulan, atau tata cara berbusana syar’i, pastilah aturan agama ini menyandang fungsi untuk menata kehidupan yang harmonis dan bebas dari kemaksiatan yang mengarah pada kehancuran moral. Dengan demikian kesimpulannya adalah bahwa sebuah aturan sosial haruslah dita’ati bukan malah dilanggar.

Paparan diatas pasti menimbulkan pertanyaan, Lantas apa sebenarnya perilaku Ta’at itu sendiri ?, Hakekat sebenarnya bagaimana ?, Adakah batasan sebuah Ta’at ?

Nah, agar kita mendapat pemahaman pengertian taat secara Kaffah (Sempurna) maka haruslah kita mengupas istilah Ta’at dalam pendekatan filsafat ilmu, yakni; Ontologi (What: Apa), Epistimologi (Why: Mengapa), Aksiologi (How: Bagaimana).

Ontologi Ta’at 

Pendekatan ontologi merupakan dasar sebuah filsafat ilmu, dimana kita diharapkan mampu mengetahui keberadaan sebuah objek. Dalam hal ini pendekatan Ontologi menggunakan pertanyaan What (Apa) dalam menyikapi sebuah objek (hal) yang menjadi sebuah pilihan. Dalam hal ini memunculkan pertanyaa, Apa itu perilaku Ta'at ?.

Dengan kata lain Ta’at dalam sudut pandang Ontologi berasal dari istilah arab  طَعَة  yang mengandung sebuah arti perilaku; Ikut, Tunduk, Patuh, Hormat, hingga Ta’dhim. 

Kepada siapa harus ikut, tunduk, patuh, hormat, atau Ta’dhim ?. Faktanya seseorang akan ta’at kepada individu / sesuatu yang dianggap memiliki derajat atau posisi yang lebih tinggi. Contoh; Ta’at seorang hamba (Makhluq) kepada Allah Sang Pencipta (Khaliq), Ta’at Ummat kepada Rasul, Ta’at seorang Anak (Walad) kepada Orang Tua (Walid), maupun Ta’at siswa (murid)  pada guru (Syekh).

Namun perlu dicatat bahwa Ta’at haruslah diikuti dengan kesadaran diri, dan kerelaan tulus untuk tunduk atas segala perintah yang diberikan. Mengerjakan sebuah perintah secara terpaksa juga bukanlah sebuah bentuk keta’atan sesungguhnya.

Bisa disimpulkanlah bahwa secara ontologi : Ta’at merupakan sebuah perilaku untuk ikut, tunduk, patuh, hormat, ta’dhim pada individu atau  sesuatu yang dianggap mempunyai derajat dan posisi yang lebih tinggi dengan dibingkai sebuah kesadaran diri dan kerelaan tulus untuk tunduk mengikuti setiap perintah.

Epistimologi Ta’at. 

Setelah kita mengetahui pertanyaan mendasar apa (what) yang dimaksud ta’at sebagaimana melalui pendekatan ontologi. Maka kita juga harus menggunakan pendekatan Epistimologi untuk mengetahui seberapa penting perilaku taat.

Pendekatan Epistimologi menggunakan pertanyaan (Why) mengapa, artinya setelah kita mengetahui hakekat keberaadaan sebuah hal (What: apa), maka kita juga harus dituntut untuk mengetahui alasan mengapa hal tersebut bisa terjadi (Why: Mengapa), atau alasan seberapa penting hal tersebut jika diwujudkan.

Melalui pendekatan Epistimologi menyikapi perilaku Ta’at, memuculkan pertanyaan, “ Mengapa kita harus punya sikap Ta’at ?”, atau pertanyaan “ Mengapa Islam memerintakan perintah ta’at ?”.

Untuk menjawab pertanyaan (Why: Mengapa) pastinya diperlukan sebuah dalil (dasar, rujukan) sebagai penguat. Sebuah dalil haruslah kuat, rasional, dan mampu diterima akal. Sebab itulah dalam  sebuah proses Ijtihad (berfikir) ala Islam terdapat dua Dalil (dasar) yang digunakan sebagai rujukan, yakni; 

Pertama dalil Naqli (Dalil yang paten, telah ditetapkan, tidak bisa diubah) meliputi Al Qur’an dan Hadist (Sunnah), dan Kedua Dalil Aqli yang bersumber dari akal tiap individu (orang).


Diantara dalil Naqli yang dapat menjawab mengapa kita harus Ta’at adalah; QS. An Nisa: 59


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا


 Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya" (QS: Nisa :59)

Ayat tersebut termasuk ayat dari surah madaniyah (ayat yang turun ketika nabi hidup di Madinah). Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan perkataan Ibnu Abbas. Bahwa asbabun nuzul Surat An Nisa ayat 59 ini berkenaan dengan Abdullah bin Hudzafah bin Qais, ketika ia diutus oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk memimpin suatu pasukan khusus.

Abdullah memerintahkan pasukannya mengumpulkan kayu bakar dan membakarnya. Saat api sudah menyala, ia menyuruh pasukannya untuk memasuki api itu. Lalu salah seorang pasukannya menjawab, “Sesungguhnya jalan keluar dari api ini hanya Rasulullah. Jangan tergesa-gesa sebelum menemui Rasulullah. Jika Rasulullah memerintahkan kepada kalian untuk memasuki api itu, maka masukilah.”

Dimana kandungan dari ayat tersebut Islam membagi sebuah Perilaku Ta’at dalam tiga jenjang; Ta’at Kepada Allah (Berada dalam tingkatan pertama), Ta’at Kepada Rasul (Tingkatan kedua), dan Ta’at Kepada Ulil Amri (Tingkatan ketiga). Adapun Ulil Amri sendri bisa diartikan “Wong sing duwe perintah” / Pemimpin, baik itu Pemimpin pemerintahan, agama, hingga keluarga.

Sementara Dalil Aqli (dalil yang bersumber dari akal) mengenai alasan mengapa harus ta’at dapatlah ditemukan dalam tiap proses berfikir tiap individu. Artinya pendapat fikiran seseorang tentang alasan mengapa seseorang harus ta’at itu sebenarnya disebut Dalil Aqli, asal tidak bertentangan dengan Dalil Naqli (Al Qur’an dan hadist).

Contoh Dalil Aqli, disini saya menyebut alasan seseorang harus Ta’at adalah karena dalam kehidupan diperlukan seorang yang didaulat menjadi pemimpin (Khalifah fil Ardh) sebagai pengatur, sebab itu maka sebagai anggota tentu haruslah ta’at dan ikut pada pemimpin. Nah, Pendapat saya ini sebenarnya merupakan bagian dari Dalil Aqli tentang megapa harus Ta’at (pada Ulil Amri).


Aksiologi Ta’at.

Setelah kita mendapat secerah pemaaman tentang pertanyaan (What) apa itu Ta’at, dan (Why) mengapa harus Ta’at / Seberapa pentingkah Ta’at. Maka jenjang berikutnya kita juga harus mengetahui pemahaman (How), Bagaimana cara kita untuk Ta’at, baik Ta’at kepada Allah, Ta’at Pada Rasul, maupun Ta’at pada Ulil Amri sebagaimana dalam QS Nisa: 59.

Pendekatan Aksiologi selalu berkaitan dengan cara, langkah, atau prosedur utuk mendapatkan sebuah nilai (tujuan). Yang mana perbedaan langkah dan cara yang ditempuh merupakan sebuah keniscayaan yang tak bisa dihindari dalam proses penggalian nilai, karena tiap manusia diberikan daya fikir yang berbeda. 

Sebab itulah seseorang juga dibebaskan mencari jalan terbaik dalam upaya penggalian sebuah tujuan, termasuk dalam upaya mencari cara bagaimana harus ta’at baik Ta’at kepada Allah, Ta’at Pada Rasul, maupun Ta’at pada Ulil Amri. Asalkan tidak keluar dari norma-norma Islam sebagaimana diatur dalam dalil Naqli (Qur’an dan Hadist).

Jika saya yang ditanya terkait bagaimana cara Ta’at kepada Allah ?, maka perilaku Taqwa Lillahi Ta’ala (menjalankan segala perintahnya dan menjauhi larangannya dengan mengharap keridhahan dan kedekatan pada Allah tanpa embel embel niat ingin keduniawiaan) menjadi salah satu cara yang dapat ditempuh. 

Lantas bagaimana dengan cara ta’at kepada Rasulullah ?, karena Rasulullah sendiri merupakan wakil Allah Swt yang mendapat tugas untuk mengajar umatnya tentang Syari’at, maka salah satu cara Ta’at kepada Rasul menurut argumen saya adalah dengan cara senantiasa mengikuti sunnah (ajaran) yang diteladankan oleh para Rasul, baik itu nilai syari’at ajaran islam (seperti rukun iman dan islam) maupun nilai moral (akhlaq mulia yang diteladankan Rasul).

Terakhir, bagaimana cara Ta’at kepada Ulil Amri (Pemimpin)?, mengingat Ulil Amri sendiri bermakna umum (bisa pemimpin negara, pemerintah, pemuka agama, hingga pemimpin keluarga) maka wujud nyata ta’at kepada Ulil Amri pun tergantung peran masing-masing. 

Namun tetap dalam satu koridor, bahwa seorang Ulil Amri (Pemimpin) haruslah didukung dan dipatuhi dan dihormati atas segala kebijakan yang diambil, selagi kebijakan yang diambil tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadist. Apabila bertentangan maka wajib meninggalkan keikut sertaan pendapat, dengan masih tetap menjunjung nilai Tawadhu’ (rendah hati) dan Ta’dhim (Hormat) kepada pemimpin tersebut. 


Kesimpulan

Perilaku ta’at merupakan perilaku yang dianjurkan oleh Islam, ini tercermin dalam QS An Nisa: 59 yang berisikan tiga tingkatan perilaku ta’at yang wajib direalisasikan setiap Abdullah (Hamba Allah) meliputi; Ta’at kepada Allah, rasul, dan Ulil Amri. 

Dikarenakan pentingnya ta’at maka kita dituntut untuk mampu memahami hakekat ta’at sendiri, yang mana pendekatan filsafat ilmu (Ontologi, Epistimologi, dan Aksiologi) menjadi salah satu alternatif untuk menggali pemahaman ta’at mengetahui apa itu ta’at, mengapa kita diwajibkan ta’at, dan bagaimana kita seharusnya ta’at. (Selesai)





Oleh:
Rizal Nanda M
(Disampaikan dalam Pertemuan Pertama KBM Pendidikan Agama Islam. Kelas XI AKL, XI OTKP, XI BDP - SMK Islam Tikung)



Posting Komentar

0 Komentar