Guru Muda Vs Guru Tua

Guru Tua dalam suatu pembelajaran
Menjadi guru tidak mudah, tidak hanya menyampaikan pengetahuan saja. Akan tetapi dia berfikir bagaimana menjadikan murid-muridnya menjadi insan yang bernoral dan favorit muridnya.

Ada nilai yang diharapkan oleh guru agar dapat melekat pada murid. Guru berusaha agar muridnya dapat memahami apa yang telah disampaikan di sekolah. Amanah yang didapatkan juga tidak ringan, yaitu menjadi orang tua kedua setelah orang tua kandungnya. Peran yang sama untuk terus mengawasi dan membimbing serta menjadi penentu sang murid kelak. 

Persiapan menjadi guru menjadi penting mengingat tugas mulia akan dia sandang ketika benar-benar menjadi guru. Terlebih calon guru muda yang sekarang sedang menjalani studinya,


mereka telah memproyeksikan dirinya menjadi seorang guru yang sebenarnya. Dari mulai pakaian, gaya rambut, cara jalan dan prilaku kesehariannya akan dia jaga dengan baik.

Terkadang semua itu dipengaruhi oleh pengalaman yang dia dapatkan ketika dulu pernah diajar oleh guru di sekolah dasar. Dan ini salah satu yang dimaksud dengan terdapat nilai yang diharapkan oleh guru. Juga menjadi layak ketika seseorang yang sedang belajar pada naungan pendidikan, sangat jelas orientasi mereka rata-rata menjadi guru.

Lantas bagaimana perbedaan calon guru yang belajar pada disiplin ilmu pendidikan dengan calon guru yang tidak sama sekali belajar mengenai pendidikan.

Setidaknya akan terbangun dan membentuk atau mempunyai ‘ruh’ untuk terus mendidik dan membimbing calon muridnya yang belajar pada pendidikan, dan ini jelas menjadi pembeda diantara keduanya. 

Sama seperti pelayan pada bank syari’ah, bank tersebut tidak akan secara maksimal dapat menerapkan syariah. selama pelaku atau pelayan tersebut belum mendapatkan pemahaman yang mendalam mengenai syari’ah itu sendiri. Meskipun sebatas pelatihan.

Seharusnya seseorang yang selesai belajar pada disiplin ilmu perbankan syari’ah dijadikan pelayan atau pelaku bank yang penulis maksudkan diatas. karena dia mulai ketika belajar sudah ber’syari’ah’ dengan demikian syari’ah dapat dijalankan dengan baik. 

Guru muda yang dimaksudkan penulis adalah guru yang belum lama mengajar di instansi pendidikan dan calon guru itu sendiri. Sedangkan guru ber’umur’ ialah guru yang sudah lama mengajar, yang sudah malang melintang menyebarluaskan ilmunya dan sudah menginjak usia yang tidak lagi dikatakan muda akan tetapi masih berkecimpung di dunia pendidikan. 


Penulis mempunyai pengalaman yang dibimbing oleh guru ketika masih belajar di Madrasah Aliyah Negeri, dan juga dosen sepuh berasma pak Djazuli yang kebetulan masih mendampingi penulis. meskipun dari segi tugas berbeda antara guru dan dosen.

Akan tetapi yang menjadi menarik adalah pengalaman yang beliau ceritakan kepada murid-muridnya. Salah satu alasan yang menjadikan beliau sampai sekarang tetap bertahan menjadi pendidik adalah ingin tetap mengfungsikan otaknya,

kepikunan menjadi hal yang kerap kali menghantui dalam hidupnya. Dengan kata lain solusi yang beliau jalankan adalah tetap mengajar agar otaknya selalu dalam keadaan aktif. Kemudian beliau terus bercerita,

pada kesempatan kali ini penulis semakin terkesima ketika menyimak dengan sangat memperhatikan beliau dalam bertutur kata. Menurut beliau dulu sekitar 78-an gaji guru sangat minim yaitu hanya Rp 347,- lebih rendah daripada penghasilan tukang korek api yang seminggunya rata-rata mendapatkan Rp 500,-. Sehingga banyak guru pada waktu itu yang beralih fungsi mencari pekerjaan lain dan menanggalkan profesinya sebagai guru.

Situasi ini sangat berat, belum tentu kita pada zaman sekarang tetap bertahan menjadi guru. Akan tetapi beliau menjadi orang yang barangkali penulis sangat apresiasi, yaitu menjadi salah satu guru yang tetap bertahan meskipun dalam kondisi yang berat.

Penulis sangat setuju apabila guru yang ber’umur’ ini tetap ada pada institusi pendidikan meskipun tidak semuanya, agar menjadi penyeimbang. Hanya saja bedanya guru muda dan guru yang ber’umur’ terletak pada kecakapan teknologi, 

Menurut penulis tidak ada masalah. Akan tetapi yang dapat dicontoh oleh guru muda adalah keyakinannya yang tinggi untuk turut mengawal dan membimbing calon-calon penerus bangsa ini.

Dengan sisa-sisa hidupnya tetap ia dedikasikan untuk menjadi guru, meskipun keberadaannya kian tersingkirkan. Dengan berbekal pengalaman yang ia dapatkan, dapat menjadi bahan atau modal yang dapat diajarkan, sehingga kelak berkat usahamu terlahir guru-guru yang tercerahkan. Tidak hanya motivasi finansial semata tapi terlebih niat suci untuk terus mengabdi pada bangsa ini.


( Dibuat pasca mengampu matkul Etika Profesi Guru PAI Asuhan FITK UIN Maliki Makang Pak Djazuli)




Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.