Menjadi Guru Yang Baik

Guru yang baik diharapkan dalam pembelajaran di suatu sekolah 
Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Ini sesuai amanat undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen. Kalau kita bahas satu persatu mengenai esensi dari tugas utama guru, jelas sekali mengandung tugas kemanusiaan. Tugas kemanusiaan yang dimaksudkan ialah dalam ranah pendidikan (meliputi kognitif, afektif dan psikomotorik) yang mengarah pada proses kehidupan seorang peserta didik. Guru tidak hanya duduk menyampaikan kemudian keluar, tanpa memperhatikan apakah peserta didiknya memahami atau tidak dengan apa yang dia sampaikan. Menjadi guru yang baik tidaklah mudah, akan tetapi apabila menyesuaikan dengan isi daripada undang-undang yang diatas sudah termasuk kriteria guru yang baik. Setidaknya terdapat tiga fokus dengan apa yang dimaksudkan pada undang-undang diatas, yaitu profesionalitas, sertifikasi dan kesejahteraan guru.

Permasalahannya sekarang adalah latar belakang kehidupan dari guru itu sendiri, tiga kehidupan harus mereka jalani dengan baik. Kehidupan keluarga, sekolah dan masyarakat, yang notabenenya mempunyai karakteristik yang sama sekali berbeda. Pertama, kehidupan keluarga. Keluarga terdiri dari kepala keluarga, ibu rumah tangga dan anggota keluarga, andaikata yang menjadi guru adalah posisinya menjadi ayah. Maka dia menyandang dua tanggungjawab, yakni guru dan kepala didalam keluargannya. Dia harus membagi waktu dan pintar-pintar untuk menyesuaikannya, agar dapat berjalan dengan seimbang. Kedua, kehidupan sekolah. Selain berkomunikasi dengan sesama pendidik, dia harus menjalankan tugas dan tanggungjawabnya menjadi guru. Ini juga menjadi kesulitan tersendiri apabila tidak membiasakan mulai dari sekarang untuk berinteraksi dengan sebanyak-banyaknya orang serta melatih untuk turut mendidik dan membimbing teman-teman disekitar kita.

Ketiga, kehidupan masyarakat. Lingkup yang ketiga ini menjadi lingkup yang paling tersulit, dengan banyak aktifitas yang berhubungan dengan kemasyarakatan, guru dipandang menjadi seseorang yang terpandang dan menjadi figur baik yang dapat dicontoh. Tidak jarang guru menjadi tempat rujukan bagi anggota masyarakat dalam menyelesaikan masalah, dan juga guru menjadi konsultan pada kehidupan orang-orang. Terlebih guru agama, selain dia bertanggung jawab pada dirinya dan dia juga harus bertanggung jawab kepada Tuhannya.

Terlepas dari itu semua, kita akan membincang mengenai ruang lingkup yang kedua yaitu kehidupan sekolah. Dan agar lebih menarik, maka akan kita kaitkan dengan kehidupan-kehidupan lainnya. Termasuk yang pertama dan ketiga. Banyak dari guru-guru kita barangkali yang terkesan mengajar hanya sebatas mengajar, tanpa membimbing, tanpa mengarahkan dan lain sebagainya. Dia harus mengajar lebih dari satu sekolah, sehingga setelah mengajar dia meninggalkan peserta didiknya. Dengan kata lain itu semua justru dianggap oleh pesertadidik sebagai pelarian, menjadi guru karena hanya ingin gaji semata. Akan tetapi menjadi perlu untuk kita pahami, dia mengajar lebih dari satu sekolah tersebut demi kebutuhan keluarganya. Keluarganya butuh untuk memenuhi kebutuhannya, termasuk makan, biaya pendidikan dan kebutuhan rumah tangganya. Sehingga terkesan loncat sana loncat sini, esensi guru terkait tugas dan tanggung jawab sebagai guru menjadi terelakkan dengan padatnya menjadi guru lebih dari satu sekolah.

Ketika sudah melihat dari masalah tersebut kesejahteraan guru adalah hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Seharusnya guru mengimplementasikan kecakapan dalam berwirausaha, padahal konsep pendidikan sebenarnya juga mengajarkan tentang pendidikan enterpreunership. Selain menjadi guru dia juga dituntut menjadi wirausahawan, dengan demikian dapat mandiri untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan keluarganya. Dari sekian banyak permasalahan yang penulis maksudkan, terutama berkaitan dengan kesejahteraan bukan lain agar guru tidak pragmatis dalam mengajar peserta didiknya. Yang dikhawatirkan adalah terjadinya pergantian niat guru, tidak lagi murni mengabdi tapi terlebih tuntutan kebutuhan semata. Sudah saatnya tidak buta usaha, usaha menjadi salah satu upaya mengatasi serta mengentaskan kemiskinan dalam hidup. Begitupun dalam bidang pendidikan, sekolah dapat menggandeng (kemitraan) dengan sektor-sektor yang berkepentingan dengan pendidikan. Sehingga sekolah dapat mandiri dan mudah melaksanakan semua kegiatannya tanpa mempermasalahkan dana yang dimilikinya.

(Tulisan Konco Ngopi- M. Iwan Ihyak)

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.