Kepemimpinan Karismatik Di Lembaga Pendidikan

 
Kepemimpinan Karismatik Di Lembaga Pendidikan
Pemimpin karismatik cenderung dihormati anggotanya
Dalam dunia pendidikan kepemimpinan merupakan unsur yang harus dipenuhi untuk mencapai sebuah tujuan pendidikan. Tercapainya tujuan suatu lembaga pendidikan tergantung kreatifitas pemimpinnya, hal ini dikarenakan pemimpin mempunyai peranan penting dalam segala hal untuk mewujudkan visi dan misi dari lembaga pendidikan yang dipegangnya.

Menurut Mulyadi (2010) Kepemimpinan diartikan sebagai proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilku pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya. Seorang pendidik dalam suatu lembaga pendidikan islam dituntut harus mempunyai kompetensi Kepemimpinan atau yang lebih dikenal dengan kompetensi Leadership. Hal inilah yang membuat Kementerian Agama memasukkan Kompetensi Leadership kedalam lima kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh seorang pendidik.

Berbicara mengenai kepemimpinan maka kita akan dihadapkan dengan gaya dan tipe mengenai kepemimpinan. Gaya kepemimpinan merupakan pola menyeluruh dari tindakan seorang pemimpin baik yang tampak maupun yang tidak tampak oleh bawahannya. Gaya kepemimpinan menunjukkan kombinasi yang konsisten dari falsafah, keterampilan, sifat dan sikap yang mendasari perilaku seseorang. Gaya kepemimpinan merupakan dasar dalam mengklasifikasikan tipe kepemimpinan.

Pesantren merupakan salah-satu lembaga pendidikan yang mempunyai gaya dan tipe kepemimpinan yang khas dan unik. Keunikan tersebut terdapat pada seorang pendidik dalam sebuah pesantren, dimana seorang pendidik dalam pesantren seringkali dianggap mempunyai sesuatu yang lebih dalam dirinya. Sesuatu inilah yang pada akhirnya membuat peserta didik di Pesantren cenderung hormat, tawadhu’ dan kagum terhadap gurunya.     

Menurut Dr. Siagan M.S.P gaya kepemimpinan pendidik di pesantren tergolong tipe kepemimpinan karismatik. Istilah karismatik berasal dari bahasa latin charis yang berarti karunia atau bakat. Sedangkan menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) sendiri Karismatik berasal dari kata karisma, karisma sendiri adalah keadaan atau bakat yang dihubungkan dengan kemampuan yang luar biasa dalam hal kepemimpinan seseorang untuk membangkitkan pemujaan dan rasa kagum dari masyarakat terhadap dirinya. melalui pengerian ini dapat kita ambil suatu kesimpulan bahwasahnya kepemimpinan karismatik mempunyai pengaruh terhadap pengikut pada tingkat yang tinggi secara luar biasa, bukan karena tradisi atau otoritas tapi karena persepsi pengikut.
Pemimpin tipe ini tidak hanya dipandang sebagai bos melainkan sebagai panutan hidup. Hal inilah yang menyebkan pendidik di pesantren cenderung dihormati oleh para anak didiknya. Para peserta di pesantren menganggap bahwa pendidik mereka mempunyai kemampuan yang lebih dalam dirinya.

Conger & Kanungo (1987) dalam Yukl (2001) menyatakan teori kepemimpinan karismatik berdasarkan pada asumsi bahwa karisma merupakan sebuah fenomena yang berhubungan (atribusional). Atribusi adalah memperkirakan apa yang menyebabkan orang lain itu berperilaku tertentu. Menurut teori itu, atribusi pengikut dari kualitas karismatik bagi seorang pemimpin, bersama-sama ditentukan oleh tiga hal.Pertama perilaku, Perilaku merupakan faktor utama yang menyebakan seseorang mempunyai kharisma dihadapan orang lain. Pemimpin yang mempunyai perilaku terpuji tentu banyak  dihormati oleh orang lain daripada pemimpin yang memiliki perilaku tercela. Bagi seorang pendidik, perilaku merupakan sesuatu yang urgent dalam sebuah pendidikan. Agar dipandang berkharisma oleh anak didiknya, seorang pendidik hendaknya berperilaku baik  kepada mereka, seperti kedekatan secara lahir dan batin kepada anak didiknya, mengingat seorang guru merupakan orang tua kedua bagi peserta didik. Sebagai orang tua tentu seorang guru harus mampu membimbing, mengarahkan, dan menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh anak didiknya. Kedua yakni keterampilan seorang pemimpin, keterampilan disini termasuk keterampilan kognitif dn psikomotorik. Seorang pemimpin agar memiliki derajat kharisma juga harus memiliki keterampilan kognitif maupun keterampilan psikomotorik. Keterampilan kognitif merupakan kemampuan menguasai berbagai macam pengetahuan dan keilmuan, sementara keterampilan psikomotorik merupakan kemampuan menjalankan dan mengaplikasikan keilmuan yang telah dimilikinya. Ketiga yakni aspek situasi, aspek situasi disini merupakan salah satu hal yang menetukan derajat kharisma seseorang. Maksud dari pernyataan ini seperti halnya seseorang pendidik di sekolah A yang memiliki kharisma dihadapan anak didiknya belum tentu memilki derajat kharisma dihadapan peserta didik sekolah B. hal ini dikarenakan situasi yang dihadapi peserta didik sekolah A tidak sama dengan peserta didik sekolah B.

Pendidik yang memunyai gaya kepemimpinan karismatik cenderung dihormati, dicintai, dan diloyali oleh anak didiknya. Hal ini disebabkan karena pemimpin jenis ini mempunyai komunikasi yang hebat dengan peserta didik. Tidak hanya itu pemimpin jenis ini juga mempunyai visi yang jelas dan mampu mengungkapkannya dengan gamblang. Pemimpin yang kharismatik selau mempunyai ide-ide kreatif yang bertujuan untuk mempengaruhi bawahannya.

Meskipun demikian bukan berarti kepemimpinan karismatik tidak terdapat kekurangan.kepemimpinan jenis ini seringkali membuat bawahannya cenderung merasa bahwa pemimpin tersebut selalu benar dan tidak akan berbuat kesalahan. Seperti halnya dalam pendidikan, pemimpin karismatik cenderung selalu dibuat referensi oleh peserta didik, padahal pendidikan yang baik adalah tidak bersumber dari satu orang, melainkan mampu mengkonstruk dari bermacam-macam sumber.

Memang pendidik yang karismatik boleh kita jadikan acuan dalam kehidupan, namun kita juga tidak boleh hanya berpaku pada pendidik tersebut. Kita harus mampu mengkulturasikan dengan sumber-sumber lain yang dijadikan referensi keilmuan kita sebagai bekal berlayar pada kehidupan. Sebagaimana kaidah pesantren “Menjaga hal lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik”.

Agar seorang gurumenjadiguru yang karismatik maka seorang guru dapat mengupayakan diri dengan merujuk pada Permendiknas nomor 13 tahun 2007 tentang standar kompetensi kepala sekolah. Dalam keputusan tersebut dikatakan bahwa seorang kepala sekolah sebagai pemimpin suatu sekolah dituntut harus menguasai lima kompetensi dasar yakni Kompetensi Kepribadian, Kompetensi Manajerian, Kompetensi Kewirausahaan, Kompetensi Supervisi, dan Kompetensi Sosial.

Kompetensi yang Pertama yakni Kompetensi Kepribadian. Kompetensi ini merupakan faktor yang sangat urgent bagi kekarismahan seorang guru / pendidik. Hal ini dikarenakan agar seseorang dapat dipandang istimewa dimata orang lain tentu hal utama yang harus dilakukan adalah memperbaiki kepribadiaannya. Jika seseorang mempunyai kepribadian yang baik tentu seseorang tersebut akan dihormati oleh sesama, sebaliknya jika seseorang berkepribadian buruk tentu seseorang tersebut akan dicela oleh orang lain. Diantara Kompetensi Kepribadian yang harus dilakukan oleh seorang leadership di sekolah adalah seperti Berakhlak mulia, mengembangkan budaya dan tradisi akhlak mulia, dan menjadi teladan akhlak mulia bagi komunitas di sekolah/madrasah.

Kompetensi yang Kedua adalah Kompetensi Manajerial, pada kompetensi kali ini seorang leadership di sekolah, termasuk guru dan Kepala sekolah diharapkan mampu menjadi seorang manajer dibidangnya. Maksud dari manajer disini yakni mampu mengaplikasikan sistem POAC (Plaining, Organizing, Actualing, dan Controling)  dalam wilayah kerjanya masing-masing, sebagaimana menurut JR. Terry. Bagi seorang guru, pengaplikasian sistem manajemen dapat dilakukan dalam pengelolaan sistem pembelajaran yang akan dilakukan dalam suatu kelas, seorang guru dituntut harus mampu mepersiapkan segala hal dengan sebaikbaiknya, setelah itu mengorganizing yakni mengumpulkan segala hal yang akan dipergunakan dalam suatu pembelajaran, setelah itu Actualing yakni merealisasikan hal-hal yang telah disiapkan dalam suatu kegiatan belajar mengajar, baru terakhir melakukan Controling yakni melakukan evaluasi terhadap hal-hal yang telah dilakukan sebagai sarana untuk memperbaiki kualitas guru itu sendiri. Sementara itu bagi seorang Kepala Sekolah, pengaplikasian sistem manajemen dapat berupa pengelolaan sistem sekolah / Madrasah baik itu sistem Administrasi, Sistem Sarana Prasarana, maupun sietem Akademik. Jika seorang guru atau kepala sekolah mampu menerapkan sistem manajerial dengan sebaik-baiknya tentu guru atau kepala sekolah tersebut akan memiliki kekarismatikan tersendiri dihadapan orang lain.

Kompetensi yang Ketiga adalah kompetensi Kewirausahaan. Kompetensi kali ini merupakan kompetensi yang tidak boleh ditinggalkan dalam sebuah organisasi termasuk organisasi sekolah. Pada kompetensi ini seorang leadership diharapkan mampu menjadi seorang wirausahaan, maksud dari wirausaan disini yakni menjadi seseorang yang memiliki motivasi kuat dalam mengelola suatu lembaga pendidikan. Bagi seorang Leadership, Kompetensi kewirausahaan berguna untuk mensejahterakan anggotanya. Hal inilah yang menjadikan kompetensi ini tidak bisa dilepaskan dalam sebuah sistem pendidikan. Seorang guru dituntut harus mensejahterakan murid-muridnya berupa sebuah pemahaman terhadap materi yang disampaikan. Begitu juga dengan kepala sekolah yang dituntut mensejahterakan suatu lembaga sekolah/Madrasah melalui program-program kerjannya yang inovatif.

Kompetensi yang keempat adalah kompetensi Supervisi, pada kompetensi kali ini seorang pemimpin disekolah diharapkan mampu mempunyai visi dan pandangan kedepan mengenai profesional elemen-elemen pendidikan. Bagi guru supervisi berguna untuk meningkatkan kualitas anak didiknya, sementara bagi kepala sekolah berguna untuk meningkatkan profesionalitas steakholder-steakholder suatu lembaga pendidikan yang ia emban.

Kompetensi yang Kelima adalah kompetensi sosial. Kompetensi yang terakhir ini merupakan kompetensi yang tidak bisa dipisahkan bagi seorang Leadership untuk menjalankan tanggung jawabnya. Bagi seorang pemimpin disekolah termasuk guru dan Kepala sekolah, kompetensi ini berguna dalam hal berinteraksi dengan elemen-elemen dalam bidangnya masing-masing, mengingat manusia merupakan mahluk sosial yang tentu membutuhkan bantuan sesamanya dalam segala hal. Bagi seorang guru, kompetensi ini dapat berguna dalam mentransfer pengetahuan ke murid, mengingat setiap anak didik mempunyai karakter yang berbeda. Kompetensi sosial berguna untuk guru dalam memahami multi karakter tersebut. Bagi seorang kepala sekolah, kompetensi ini berguna dalam berinteraksi dengan steakholder-steakholder sekolah serta elemen luar sekolah seperti masyarakat dan pemerintah.

Jika seorang pemimpin mampu mengaplikasikan lima kompetensi diatas dengan sebaik-baiknya, tentu seseorang demikan mempunyai pandangan berbeda oleh orang lain dengan pemimpin yang tidak mengaplikasikan lima kompetensi tersebut.
           

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.