Fenomena Tingginya Perceraian di Indonesia

Penceraian merupakan fenomena dalam keluarga
beberapa isi dari pembahasan kali ini termasuk tanggapan terhadap tingginya angka perceraian yangterjadi pada sebuah pasangan. Sejatinya perceraian tidak akan pernah terjaditanpa adanya pernikahan, dan ini sangat jelas karena memang sebuah hubunganakan terjadi ketika satu sama lain merasa selaras dan saling membutuhkan. 

Begitupun sebaliknya bahwa perpisahan akan terjadi jikalau sudah tidak ada lagikeharmonisan pada suatu hubungan. Sebelum membahas perceraian, terlebih dahulu kita kupas mengapa pernikahan itu terjadi. Latar belakang seseorang menikahsangat dipengaruhi oleh tingkat emosional masing-masing pribadi manusia. Terkadang perceraian dapat diprediksi bakalan terjadi disaat manusia itu melakukan perjalanancintanya. Ada diantara mereka yang melakukan prosesi pernikahan itu hanya sebatas didasari keinginan, tanpa dia memperhatikan apakah pada dirinya sudahsiap secara lahir dan batin. 

Pemahaman inilah yang memberikan kontribusiterhadap tingginya angka perceraian di Negara ini. Didalam islam latar belakangsudah diatur, kususnya pada bidang keilmuan fiqih, dan setidaknya terdapat limahukum. Pertama, Jaiz (diperbolehkan), ini asal hukumnya. Kedua, Sunat bagi orang yang berkehendak serta mampumember nafkah dan lain-lainnya. Ketiga, Wajib bagi orang yang mampu memberinafkah dan dia takut akan tergoda pada kejahatan (zina). Keempat, makruh bagiorang yang tidak mampu memberikan nafkah dan Kelima haram bagi orang yangberniat akan menyakiti perempuan yang dinikahinya. Dalam pelaksanaan nikah pun juga terdapat syarat-syarat yang mengharuskan untuk dilakukan apabila pernikahan tersebut diselengggarakan.

Pernikahan memangbersifat sakral, barangkali hal ini hanya terjadi satu kali pada kehidupanmanusia. Bahkan juga ada saja yang sampai meninggal memang belum menikah dansama sekali tidak berkenan untuk menikah. Padahal sangat jelas, bahwa setiap manusia diciptakan di bumi ini untuk berpasang-pasangan. Memang, pernikahantidak hanya mudah untuk dibayangkan, mungkin apa yang kita fikir sebelum menikah tidak bakalan sama ketika pernikahan itu benar-benar terjadi. 

Oleh karena itu, bagi manusia yang belum menikah untuk segera memahami bahwapernikahan tidak hanya sebatas keinginan yang tidak beralasan. Mahar didalam pernikahan pun diserahkan kepada seorang wanita atau calon istri. Ini sebagaisimbol penghargaan dan keseriusan seseorang untuk melakukan pernikahan. Pernikahanjuga tidak hanya bertemunya dua manusia yang saling menyayangi, akan tetapi lebih dari itu. Mereka memiliki keluarga masing-masing, adat yang berbeda begitupun konstruk sosialnya. Perbedaan-perbedaan inilah yang kerap kali menjadi kendala bagi setiap insan-insan yang sedang memadu kasih tersebut.

Pada pembahasan selanjutnya akan sampai pada penjelasan seputar perceraian. Akan tetapi kita tidak melepas dari semua faktor-faktor yang sudah tertulis diatas. Berbagaiupaya penanggulangan perceraian dilakukan, seperti yang dilakukan oleh KantorUrusan Agama (KUA) mengenai pelatihan pranikah. Didalamnya mencakup pemahamanterhadap pernikahan termasuk syarat dan ketentuan, pelaksanaan serta latarbelakang mengapa dia menikah.

 Harapan dari pelatihan tersebut bukan lain sebagai upaya solusi untuk menekan tingginya perceraian. Upaya yang lain jugadilakukan meskipun gugatan cerai sudah dilayangkan ke meja hijau, yaitumediasi. Jadi, berbagai masalah akan segera dicari jalan keluarnya, dalampersidangan yang berwenang sebagai pihak yang memediasi tersebut adalahmediator. Meskipun demikian secara nasional prosentase keberhasilan darimediator tersebut hanyalah 0,5 %, sehingga tetap berakhir pada perceraian.

Tidak mudah memang dalam mendamaikan dua orang yang pernah hidup bersama kemudian mereka mendapati masalah atau terjadinya ketidakcocokan lagi. Menarik jika kita melihat dari kaca mata disiplin keilmuan matematika, pada kesempatankali ini penulis telah melakukan diskusi yang memang sama dengan tema diatas. Menurutmereka, perceraian dapat saja terjadi jika beberapa relasi tidak salingberhubungan. 

Untuk yang pertama ini adalah relasi reflektif, maksud dari relasiini adalah mencoba untuk segera merefleksi diri mengenai kelemahan dankekurangan apa yang seharusnya diperbaiki. Filosofi tersebut muncul karena bisasaja datang tanpa sepengetahuan kita, dan peluang-peluang tersebut tiba-tibamuncul. Kemudian beranjak pada relasi transitif (x,y) jika dia berhubungan,(y,z) dan jika berhubungan. Maksud dari keduanya adalah pihak ketiga yaituorang lain dan orang tua. (x,z) pasangan suami istri itu sendiri, apabila dapatdengan mudah menjalani hidup bersama. Maka symbol (x,z) bisa terjadi atau damai. 

Perceraian tidak akan terjadi jika refleksi simetri dijalankan x,z,dengan maksud pasangan tersebut tidak bertepuk sebelah tangan. Adanya hubungan timbalbalik atau saling membutuhkan. Refleksi simetri ini bisa saja bermasalahjikalau sudah tidak ada lagi arus timbal balik. Untuk relasi yang terkhir inibernama relasi anti simetri dengan symbol x=z, sehingga mereka sudah merasasatu frame atau satu tujuan. 

Pada relasi ini perceraian mungkin terjadiketika mereka tidak perlu lagi untuk melakukan sesuatu yang terus didasari satutujuan (tidak adanya pandangan hidup bersama). Dari sekian uraian mengenai faktor-faktorperceraian, perlu kita pahami bersama bahwa perceraian adalah sesuatu hal yang dibenci.Kata-kata talak pun seakan menjadi hal yang harus sangat dihati-hati ketikaberhubungan. Sebelum menikah kita persiapkan diri baik secara lahir dan batin,agar tidak menjadi “penambah” dalam tingginya perceraian di Indonesia ini.

Artikel by: Konco Ngopi - M. Iwan Ihyak


Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.