Kepemimpinan Mewujudkan Sekolah Adiwiyata



Kepemimpinan Mewujudkan Sekolah Adiwiyata
Cinta Lingkungan: Konsep sekolah Adiwiyata
Minimnya tingkat kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan sekitar membuat lingkungan mengalami kerusakan. Hal ini sangat jelas kita lihat bahwa disekitar sungai di sekeliling kita banyak terlihat sampah yang menumpuk bahkan aliran sungai yang seharusnya mengalir menjadi tersendat. Upaya potensial yang dapat segera membendung kerusakan-kerusakan diatas yaitu dengan pendidikan lingkungan hidup. Pendidikan lingkungan hidup akan mudah dimengerti dan dilakukan jika dimulai sejak tingkat dasar. Adiwiyata adalah program pemerintah untuk menciptakan sekolah berbudaya lingkungan.

Dalam Permendiknas no 13 tahun 2007 pada bagian B tabel manajerial dijelaskan bahwa pemimpin didalam pendidikan ialah dapat menciptakan budaya dan iklim sekolah/madrasah yang kondusif dan inovatif bagi pembelajaran peserta didik. Rasa nyaman dapat diwujudkan pemimpin tersebut membuat sistem strategis yang syarat akan kebahagiaan peserta didik menuju pemahaman yang mudah melalui lingkungan yang mendukung. Barang ini menjadi wajib oleh lembaga pendidikan guna mengantarkan anak didiknya mencapai puncak kesuksesannya. Akan tetapi lingkungan yang seperti apa demi mewujudkan suasana yang kondusif pada kegiatan belajar mengajar siswa. Hal apa yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin (kepala sekolah), guru juga harus sebagai pemimpin dikelasnya sebagai tokoh yang mampu menjadikan lingkungan menjadi temannya. Kalau saja semua ini tidak didasarkan pada kemampuan memahami karakter siswa, model kurikulum, strategi pembelajaran dan begitupun juga memahami lingkungannya. Maka pendidikan lingkungan hidup hanya sebatas wacana dengan kata lain menjadi sebuah kegiatan siswa yang tak dapat dimengerti tujuan diadakannya kegiatan tersebut.

Untuk mewujudkan peduli lingkungan hidup perlu adanya kerjasama antara pihak sekolah, orang tua serta masyarakat. Ini menjadi penting terkait dengan pemahaman anak dan kebiasaan mencintai sehingga muncul prilaku menjaga terhadap lingkungan. Dari ketiga dimensi ini diharapkan saling dukung mendukung demi terwujudnya anak yang berpendidikan lingkungan hidup. Jadi semacam menyamakan idealisme para guru dengan kebutuhan masyarakat termasuk keluarga atau lingkungan. Andaikata lembaga pendidikan dengan ngotot melakukan kegiatannya sendiri tanpa mencoba keluarganya atau orang tua maka sasaran dan tujuan pendidikan lingkungan hidup tersebut akan gagal total. Mereka semua bagaikan anggota tubuh manusia yang saling berkaitan sehingga dari salah satu anggota terkena masalah maka anggota lain di dalam tubuh tersebut juga merasakan dari dampak pengaruh masalah tersebut. Akan tetapi dari pemerintah sudah mengupayakan sedemikian rupa demi terwujudnya pendidikan yang mengedepankan pelestarian lingkungan hidup. Ini sangat jelas ada pada kebijakan pemerintah pada lembaran evaluasi mengenai komponen, standar dan implementasi sekolah adiwiyata Propinsi Jawa Timur Tahun 2012. Yaitu kebijakan mengenai upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, rencana kegiatan dan anggaran pengupayaan perlindungan dan lingkungan hidup, tenaga pendidik memiliki kompetensi dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran lingkungan hidup, peserta didik yang melakukan kegiatan, lembaga sekolah menjalin pola kemitraan, melaksanakan perlindungan terhadap lingkungan hidup, sampai pada ketersediaan lingkungan hidup dan peningkatan (pengelolaan lingkungan hidup).

Setidaknya terdapat nilai-nilai budaya lokal, kebiasaan hidup, serta alam lingkungan sekitar dapat dikembangkan di setiap daerah. Ini yang sedang dan mau dilakukan serta dikembangkan oleh lembaga pendidikan dinegara kita, contohnya saja di Poso Sulteng, Singkawang Kalbar. (Kompas, 01/03/2014). Mereka mengusung filosofi pendidikan Mior Dadin. Pendidikan di sekolah-sekolah dikembangkan untuk membentuk manusia yang berkarakter baik, cinta lingkungan, hemat dan mandiri. Untuk mengusung lingkungan hidup, siswa diajak untuk menanam bunga-bunga dan apotek hidup di lingkungan hidup. Semua model pendidikan baik formulasi dari pakar pendidikan sekalipun tidak akan pernah berhasil tanpa adanya pemimpin, pemimpin yang dimaksudkan disini adalah kecakapan dalam melaksanakan program sekolah berbasis lingkungan ini. Maka yang perlu diperhatikan ketika menjadi pemimpin pemahaman mengenai pendidikan lingkungan hidup harus dihayati dengan benar, terdapat enam hal. Pertama, pemahaman mengenai kebijakan pemerintah, meliputi kurikulum seputar pendidikan lingkungan hidup. Tanpa adanya pemahaman mengenai kebijakan ini, maka akan terjadi kesalahfahaman antara kebijakan pemerintah dan pelaku pendidikan lingkungan hidup itu sendiri. Kedua, perencanaan. meliputi anggaran dana, rencana kegiatan, sarana prasarana dan waktu yang dialokasikan. Ini penting berkenaan dengan berlangsungnya kegiatan dan proses belajar mengajar. Ketiga, Implementasi. Setelah pemahaman yang didapatkan oleh setiap pendidik kemudian dilanjutkan dengan perencanaan, maka tiba saatnya untuk pelaksanaan. Pelaksanaan dibutuhkan agar tidak hanya sebatas pengetahuan, terkesan sia-sia apabila pengetahuan diberikan akan tetapi tidak ada sikap peduli dengan lingkungan hidup. Keempat, evaluasi, proses yang keempat ini sangat penting guna penilaian secara angka dan prilaku keseharian. Kita dapat mengukurnya seperti kebiasaan peserta didik ketika membuang sampah atau keikutsertaan dalam melestarikan pohon dan bunga didalam taman sekolah. Kelima, pelestarian dan penjagaan. Komponen yang kelima ini termasuk dari salah satu yang penting, secara tidak langsung menjadi sesuatu yang tidak mungkin utuk tidak dilakukan. Penjagaan sebagai bentuk akhir pengimplmentasian pendidikan berbasis lingkungan tersebut.

Kita harus mulai dari kecil membiasakan peserta didik untuk gemar melestarikan lingkungan dan tidak senang mencemarinya. Pemimpin dalam lembaga atau sekolah seperti kepala sekolah harus memberikan contoh sebelum memberikan pengertian kepada guru-guru yang menjadi anggotannya. Guru-guru juga menjadi uswah bagi peserta didik baik di lingkungan sekolah maupun di dalam kelas. Karyawan mendapatkan pengertian demi terwujudnya pendidikan lingkungan hidup. Begitupun peserta didik, mereka dengan intens dibiasakan dengan informasi dan pembelajaran serta pelaksanaan pelestarian lingkungan hidup. Ketika dari semua lini sudah secara minimal dapat dikatakan memahami dan mengetahui daripada konsep pendidikan berbasis lingkungan (Adiwiyata). Dengan demikian pemimpin lembaga pendidikan tinggal mengfungsikan setiap lini yang ada, sehingga iklim dari keinginan untuk mewujudkan terbangun dari dalam baik kepala sekolah, guru, karyawan dan peserta didik. Akhirnya pendidikan berbasis lingkungan akan terlaksana dengan baik.

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.