Pesan Hidup di Balik Pendakian Gunung

PESAN HIDUP DIBALIK PENDAKIAN GUNUNG
Keindahan Alam di atas puncak gunung Lemongan Lumajang

Hidup adalah perjuangan tanpa henti-henti, bagi generasi 2000-an pasti akan mudah menebak penggalan kalimat tersebut. Yups, kalimat tersebut tiada lain adalah penggalan lirik dari grub band legendaris Indonesia “Dewa 19” yang berjudul sama seperti penggalan lirik tersebut, “Hidup adalah Perjuangan”. Melalui lagu tersebut Ahmad Dhani cs berusaha menanamkan pada generasi bangsa akan pentingnya sebuah perjuangan dalam mengarungi kehidupan. 

Sejatinya sebuah perjuangan merupakan “Fardhu ‘ain” bagi setiap mahluk hidup yang singgah di dunia ini, hewan, tumbuhan, bahkan manusia yang pada hakekatnya sebagai “Homo Sapiens” (mahluk yang berfikir). Tumbuhan membutuhkan sebuah perjuangan untuk melakukan fotosintesis, adapun bagi dunia binatang perjuangan tiada lain tercermin melalui aktifitas rantai makanan yang dimana terdapat penyandang produsen atau konsumen.

Bagi manusia sendiri sebuah perjuangan diperlukan untuk membuktikan eksistensinya sebagai mahluk yang berakal, mengingat manusia dikaruniai oleh Tuhan Yang Maha Esa sebuah akal yang tiada lain sebagai alat bantu baginya dalam mengemban anamat sebagai “Khalifah fil ‘ard”. Dalam menjalankan amanat ini tentulah manusia dituntut untuk senantiasa berfikir bagaimana caranya mengimplementasikan nilai khalifah fil ardl. Sebagai seorang pemimpin di bumi tentulah mengharuskan setiap insan untuk senantiasa mengembangkan potensinya sekreatif mungkin guna memberikan warna terbaik bagi bumi ini agar nantinya dapat dinikmati oleh sesama penghuni bumi, mengingat manusia sendiri pada hakekatnya mempunyai tiga kewajiban utama yakni: “Al Khab min Allah”, Al Khab Min Annas” dan Al Khab Min ‘Alam”.

Dua penggalan paragraph diatas hanyalah penegasan bahwa dalam mengarungi kehidupan ini kita dituntut untuk berjuang sesuper mungkin sebagaimana dawuh Almaghfurullah Mbah Wahab Hasbullah “Tiada kata udzur dalam berjuang”. Berjuang disini diartikan sebagai usaha manusia untuk senantiasa semaksimal memanfaatkan waktu hidupnya dengan hal-hal yang positif dan bermanfaat bagi dirinya serta lingkungannya baik lingkungan sosial maupun lingkungan alamiyah. 

Kalimat “berjuang” sebagaimana diatas sebenarnya mempunyai makna filosofis yang mendasar bagi peradaban manusia. Bagi manusia sendiri kehidupan merupakan sebuah perjuangan, tanpa sebuah perjuangan untuk hidup tentulah manusia tidak akan bertahan lama di bumi ini. Begitu juga dengan adanya perkembangan zaman yang begitu pesat dari zaman prasejarah hingga zaman Global Village menunjukkan bahwa sebuah perjuangan merupakan prinsip dasar untuk hidup.

Manusia harus senantiasa bergerak untuk berjuang ke arah kehidupan yang lebih baik dari sebelum-sebelumya. Ungkapan ini ternyata berbanding lurus dengan konsepsus Prof. Imam Suprayogo (Mantan Rektor UIN Maliki malang) yang mengatakan bahwa bergerak merupakan hal yang mendasar bagi perjuangan hidup. Hal ini tercuplik pada perkataan beliau di beberapa pidato-pidatonya yang mengatakan bahwa seorang anak hendaknya diajari tiga hal; berkuda, memanah, dan berenang. Tiga hal tersebut hendaknya jangan dimaknai secara kontekstual akan tetapi secara tersirat.

Melengkapi konsepsus Prof Imam Suprayogo (Mantan Rektor UIN Maliki Malang) terkait metode sebuah perjuangan hidup sebagaimana diuraikannya dalam konsep “Tiga ajakan” tanpa mengurangi nilai dari konsepsus beliau. Ternyata konsep sebuah perjuangan hidup juga tercermin pada kegiatan beberapa kalangan generasi millennium, dalam hal ini dua kegiatan weekend yang seringkali dihabiskan oleh generasi millennium yaitu; Mendaki gunung.

Pada era kekinian mendaki seringkali dinisbatkan dengan gunung. Kegiatan mendaki seakan menjadi hal yang wajib di era global village, hal ini tiada lain merupakan efek samping perubahan dinamika sosial yang begitu cepat. Perubahan dinamika tersebut melanda hampir ke sela-sela ruang lingkup masyarakat, salah satunya adalah bidang perfilman. Tidak bisa dipungkiri bahwa efek film merupakan hal yang cukup mampu mempengaruhi pola pikir manusia, kita lihat adanya film 5cm yang mengambil spot di gunung Semeru dan film Romeo Julliete di Gunung Rinjani pada akhirnya mampu menjadi pecandu beberapa kalangan untuk masuk kedalam dunia pendakian. Beberapa gunung-gunung diberbagai penjuru pun mulai ditaklukkan, dari gunung setinggi 1000-an mdpl hingga 4000-an mdpl, dari gunung tipe strato hingga tipe maar seperti gunung lemongan.

Para pendaki gunung hendaknya sadar dan mampu mengambil hikmah tersirat dalam aktifitas pendakian bahwasanya pendakian gunung bukan hanya berbicara soal menaklukkan puncak, pesan selfie, ataupun tentang menikmati sunrise sejati. Perlu diketahui bahwa dibalik proses pendakian gunung ternyata mempunyai pesan tersirat berkenaan dengan alur perjuangan sejati dalam kehidupan. 

Dalam proses mendaki gunung untuk mencapai sebuah puncak tentu memerlukan sebuah perjuangan keras baik fisik, mental, maupun badget. Hal ini berlaku pula dengan realitas kehidupan yang mengatakan bahwa untuk mencapai sebuah puncak tujuan hidup membutuhkan perjuangan keras, dalam hal ini sikap kerja keras dan pantang menyerah sangat diperlukan. Akan tetapi perlu dicatat bahwa tujuan utama dari pendakian gunung sejatinya bukanlah sebuah puncak melainkan mampu kembali ke bawah dengan selamat, mengingat ekosistem pendaki sendiri tiada lain berasal dari dunia bawah, keberadaan pendaki di dunia atas sendiri hanyalah sekedar singgahan belaka. 

Begitu pula dengan realitas kehidupan, puncak tujuan hidup bukanlah berada diatas akan tetapi berada dibawah, bagi orang yang faham terkait hakekat kehidupan tentulah tidak terlarut-larut keadaan tatkala dia berada diatas dikarenakan sebenarnya sebelum mencapai posisi diatas tadi dia memulainya dari posisi bawah. Dengan demikian tatkala orang tersebut telah mencapai posisi atas (kesuksesan) hendaklah tidak lupa akan keberadaan asalnya yakni di bawah. Namun kembali ke bawah bukan berarti meninggalkan semua kesuksesan yang telah didapatkannya, maksud kembali ke bawah disini tiada lain yaitu mampu membagi kesuksesannya yang didapat diatas dengan orang lain yang berada di posisi bawah. Semoga kita mampu mengambil hikmah tersirat maupun tersurat dari pendakian gunung. (rnm/slow)

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.