Rihah Islami: Ziarah Ahli Hadist Malang

Rihlah Religi (Ziarah Ke Ahli Hadist)
Jelajah makam waliyullah
        Kali ini kami akan membagi seputar perjalanan rohani atau lebih tepatnya disebut sebagai ziarah kepada Alim Ulama atau Habaib di sekitar Kota Malang. Yah, nampaknya selain pusat daripada banyak wisata, perguruan tinggi dan daerah yang berhawa sejuk serta dingin ini menyimpan banyak orang Alim. Selain itu juga tersebar Majelis-Majelis Ta’lim dan Sholawat. Misalnya Riyadhul Jannah, Ar-Ridwan, PP. Sabilurrasyad (Majelis Ta’lim Wal Maulid Diba’), Dakwah Pemuda Islam (DPI) dll. Ini menunjukkan bahwa Malang masih subur dalam tingkat keagamaannya, terlebih kerohaniaannya. 

       Disekitar pusat kota malang terdapat banyak Ulama, seperti biasanya titik tengah kota selalu ada daerah yang disebut Kauman (lihat: penyebetuan istilah kauman). Konsentrasi kita tertuju kepada pusat kota ini, kenapa demikian?. Ternyata Ulama besar sekaligus Pengasuh Pesantren yang ahli dalam bidang Hadist, Makam nya berada disekitar pusat kota tersebut. Yaitu di daerah Kasin atau lebih tepatnya Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kasin Malang. Pada awalnya kita sempat terheran, bagaimana tidak Makam seorang Alim Ulama sekaliber Beliau di makamkan di TPU Kasin. Terheran karena biasanya rata-rata dimakamkan disekitar pondok pesantren yang telah diasuhnya sendiri.

       Pada awalnya rencana kita tidak hanya Ulama yang berada di Kasin, namun Makam seorang wali lainnya yaitu Ki Ageng Gribig juga lebih awal kita kunjungi. Karena setelah sampai di gerbang makam beliau sudah di tutup, maka perjalanan langsung mengarah ke Makam Ulama yang lainnya yaitu Ulama Kasin. Ulama yang berada di TPU Kasin tersebut ialah seorang Bapak dan Anak, Beliau adalah Habib Abdul Qadir Bilfagih dan Habib Abdullah bin Abdul Qadir Bilfagih. 

     Masyarakat Malang dan Sekitarnya mengenal dua tokoh ulama yang sama-sama kharismatik, sama-sama ahli hadist, sama-sama pendidik yang bijaksana. Dalam sebuah riwayat keluarga dikisahkan bahwa begitu besar keinginan sang ayah untuk “mencetak” anaknya menjadi ulama besar dan ahli hadist mewarisi ilmunya. Ketika menunaikan ibadah haji, Habib Abdul Qadir Bilfagih berziarah ke makam Rasulullah SAW di komleks Masjid Nabawi, Madinah. di sana ia memanjatkan doa kepada Allah SWT agar dikaruniai putra yang kelak tumbuh sebagai ulama besar, dan menjadi seorang ahli hadist. Beberapa bulan kemudian keinginan tersebut dikabulkan dengan lahirnya seorang putra yang diberi nama Abdullah. 

      Dalam kesempatan yang sama, selama hidup sang ayah hanya mencurahkan perhatian agar sang anak kelak menjadi Ulama yang besar. Beliau mendidik langsung Putra tunggalnya tersebut, hal tersebut tidak sia-sia di usia 7 Tahun sudah menghafalkan Al-Qur’an. Semua itu tidak kebetulan, akan tetapi kerja sama yang baik oleh sang Ayah yang menjadi guru dan anak yang menjadi murid. Sebagai murid, semangat belajarnya sangat tinggi. Dengan tekun ia menelaah berbagai kitab sambil duduk. Gara-gara terlalu kuat belajar, ia pernah jatuh sakit. Meski begitu ia tetap saja belajar. Barangkali karena sang ayah menginginkan agar kelak mewarisi ilmunya. Wajar bila di usia yang masih muda, beliau Habib Abdullah telah hafal kitab Hadist, diantaranya: dua kitab hadist shahih, yakni Shahihul Bukhari dan Shahihul Muslim, lengkap dengan isnad serta silsilahnya dan Kitab Ummahatus Sitt (kitab induk hadist). 

      Tidak hanya menghafal hadist, beliau juga memperdalam Ilmu Musthalah Hadist, yaitu ilmu yang mempelajari hal ikhwal hadist berikut perawinya, seperti Rijalul Hadist, yaitu ilmu tentang perawi hadist. Selain dikenal sebagai ahli hadist, beliau juga ahli dalam bidang fiqh dan tasawuf. Dalam bidang akademis, beliau juga sempat bergelar doktor dan Profesor. 

      Pernah pada gilirannya, ketika sang anak menggantikan sang ayah untuk memimpin pesantren. Beliau juga sama dengan ayahnya yaitu penuh perhatian, kasih sayang dan sangat dekat dengan para santri. Sebagai guru, ia sangat memperhatikan pendidikan santri-santrinya. Hampir setiap malam, sebelum menunaikan shalat Tahajjud, ia selalu mengontrol para santri yang sedang tidur. Jika menemukan selimut santrinya tersingka, ia selalu membetulkannya tanpa sepengetahuan si santri. Jika ada santri yang sakit, ia segera memberi obat. Dan jika sakitnya serius, ia akan menyuruh seseorang untuk mengantarkannya ke dokter. Habib Abdullah juga dikenal sebagai penulis artikel yang produktif. Media cetak yang sering memuat tulisannya, antara lain, harian merdeka, Surabaya Pos, Pelita, Bhirawa, Karya Dharma, Berita Buana, Berita Yudha. Juga menulis di beberapa media luar negeri. 

   Begitu luar biasanya beliau, seseorang yang ideal. Seseorang yang taat beragama juga lihai dalam konteks sosial. Maka sepatutnya kita dapat meneladani cara hidup dan akhlak yang sudah disauritauladankan dalam kehidupan semasa beliau hidup. Semoga kita mendapat hikmah dan semangat setelah membaca daripada cerita hidup beliau. Sekian yang dapat kami ceritakan, Semoga Bermanfaat.

25 Oktober 2015
(Tulisan Kolaborasi : Iwan Ihyak & Rizal nanda)

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.