Kaum Abangan Dalam Perspektif Psikologi Agama

Selametan, Budaya Kaum Abangan

A.   Deskripsi
         Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa masyarakat Indonesia mayoritas menganut agama Islam, hal ini dikarenakan agama Islam tergolong agama yang toleran terhadap hal-hal yang melekat pada masyarakat, khususnya budaya suatu masyarakat setempat. Oleh karena itulah agama islam mudah diterima oleh masyarakat, khususnya masyarakat tanah jawa yang dulunya banyak yang menganut agama hindu dan budha. Dengan demikian tidak heran jika di tanah jawa masih terdapat masyarakat yang mengaku muslim akan tetapi dalam pengamalan kesehariannya justru hampir terpengaruh dengan budaya dan tradisi pra Islam berkembang di pulau Jawa. Mereka sebagaimana tersebut dikenal dengan sebutan kaum Abangan.

        Berbicara mengenai kaum Abangan maka terlebih dahulu akan membahas tentang istilah tersebut, dimana salah satu tokoh yang memberi argumen tentang istilah abangan adalah Clifford Geertz. Menurut Geertz, Abangan merupakan salah satu hasil dari pembagian konsepsi Masyarakat jawa. Berdasarkan penelitian yang ia lakukan di Mojokuto (sekarang: Pare) pada tahun 1953 hingga 1954, ia membagi masyarakat jawa menjadi tiga jenis budayawi utama, Pertama Abangan yang mewakili sikap yang menitikbertkan pada sinkretisme jawa yang menyeluruh, dan secara luas berhubungan dengan unsur-unsur petani diantara penduduk, Kedua Santri yang mewakili sikap menitikberatkan pada segi-segi islam dalam sinkretisme tersebut, dan Ketga priyai yang sikapya menitikberatkan pada segi-segi hindu dan berhubungan cenderung dengan birokrasi.

        Geertz membuat perbedaan yang tegas antara ajaran-ajaran religious yang dilakukan oleh orang-orang yang tergolong kedalam tiga bagian tersebut, sepertihalnya dalam Istilah Abangan yang diterapkan Geertz pada kebudayaan orang desa, yaitu para petani yang kurang dipengaruhi oleh pihak luar dibandingkan dengan golongan lain diantara penduduk, sehingga golongan ini akan senantiasa menjaga tradisi-tradisi local mereka yang cenderung mengarah pada hal-hal yang berbau mistis seperti kepercayaan Animisme maupun Dinamisme. Oleh karena itulah seringkali dalam menjalankan Ibadah keagamaan mereka, baik yang beragama Islam, Hindu, ataupun Budha, seringkali Kaum Abangan dikenal jarang memperhatikan syari’at-syariat keagamaan mereka dengan sungguh-sungguh, justru mereka terkesan lebih mempercayai nilai-nilai nenek moyang mereka yang cenderung mengarah pada tradisi-tradisi yang merujuk pada kepercayaan animisme dan dinamisme. Tradisi tersebut menekankan kepada integrasi unsur-unsur Islam, Hindu-Budha, dan kepercayaan asli sebagai satu sinkretisme jawa yang mendasar.

         Seiring dengan perkembangan zaman yang berubah, istilah Abangan juga senantiasa mengikuti perubahan tersebut. Sekitar tahun 60-an, istilah abangan di Jawa Timur dan jawa Tengah mengalami perkembangan penafsiran, pada saat itu Abangan diartikan sebagai golongan yang pandangan hidupnya, kepercayaan, serta gaya hidupnya berlainan dengan para muslim yang shaleh. 

        Asal mula adanya kaum abangan di Jawa bermula pasca zaman prasejarah, kurun kepercayaan animism dan dinamisme. Tatkala itu kepercayaan agama Hinduisme dan Budhisme mulai gencar-gencarnya berkembang di bumi Nusantara, hal ini ditandai dengan maraknya kerajaan hindu dan budha di Bumi Nusantara, seperti Kerajaan Majapahit yang bercorak Hindu, Kerajaan Sriwijaya di Palembang yang bercorak Budha, Kerajaan Kutai di Kalimantan, dan kerajaan-kerajaan lainnya.  Setelah jatuhnya Kerajaan Majapahit, Islam mulai merembes ke berbagai penjuru Nusantara terutama di pedalaman pulau jawa. Hal ini ditandai dengan berdirinya kerajaan Islam pertama kali di Tanah Jawa yakni “Kerajaan Demak”.

      Melalui akulturasi dari berbagai macam kepercayaan inilah yang pada akhirnya membuat sebagian masyarakat jawa yang berada di pinggiran masih terdapat kaum Abangan. walaupun mereka mengaku beragama Islam, namun mereka masih tetap meyakini beberapa kepercayaan animism dan dinamisme yang sedikit banyak dipengaruhi oleh agama Hindu maupun Budha.

      Konsepsi dasar kaum Abangan mengenai dunia gaib (dunia yang tak tampak) didasarkan pada gagasan bahwa semua perwujudan dalam kehidupan disebabkan oleh mahluk berfikir yang berkepribadian yang mempunyai kehendak sendiri. Dari sinilah yang pada akhirnya membuat kaum abangan tetap berpegang teguh pada kepercayaan nenek moyang mereka yakni faham kepercayaan Animisme dan Dinamisme. Menurut mereka segala sesuatu dalam alam, di dunia hewan maupun tumbuhan mempunyai nyawa tersendiri, kemudian nyawa-nyawa tersebut mempunyai kuasa untuk mengembara sekehendaknya atau untuk menuduki tubuh atau benda lain.  

    Kepercayaan-kepercayaan religious para Abangan merupakan campuran khas penyembahan unsur-unsur alamiah secara animis yang berakar dalam agama Hindu dan Budha yang kesemuanya telah ditumpani oleh nilai-nilai dari ajaran Islam.

    Walaupun telah ditumpangi oleh nilai-nilai ajaran Islam, kaum Abangan dikenal jarang menerapkan sepenuhya nilai syariat Islam, mengingat sebagaian dari mereka masih percaya kepada kepercayaan Animisme dan Dinamisme yang tidak diragukan lagi sebagai konsep yang bertentangan dengan Agama Islam.

     Diantara mereka masih ada yang mempercayai kepercayaan terhadap roh-roh, kemudian roh-roh yang mereka percayai tersebut mereka sembah. Orang Abangan menganggap bahwa setiap desa mempunyai roh pelindung sendiri yang tinggal dalam sebatang pohon yang rindang. Supaya tidak menjadi korban roh-roh jahat tersebut, kebanyakan kaum Abangan akan begadang sampai tengah malam sambil membaca ayat-ayat Al Qur’an atau mendengungkan puji-pujian sambil berdoa kepada Tuhan agar terhindar dari penyakit tersebut. Terkadang mereka justru menggunakan mantera tertulis yang disebut Jimat  atau Rajah, kemudian mantera-mantera tersebut diletakkan diatas pintu masing-masing.

     Ibadah orang Abangan meliputi upacara perjalanan, penyembahan roh halus, upacara cocok tanam dan tata cara pengobatan yang kesemuanya berdasarkan kepercyaan kepada roh baik dan roh jahat. Upaara pokok dalam agama jawa tradisional ialah selametan. Ini merupakan acara agama yang paling umum diantara para abangan, dan melambangkan persatuan mistik dan sosial dari orang-orang yang ikut serta dalam selamatan itu. Tujuan selametan ialah mencari keadaan selamet, dalam artu tidak terganggu oleh kesulitan alamiah atau ganjalan gaib.

B. Analilis Psikologi
        Kaum abangan merupakan salah satu fenomena yang unik dalam dinamika sosial masyarakat di era globalisasi sekarang ini, hal ini dikarenakan pada era globalisasi yang dipengaruhi dengan faham rasionalitas, dimana faham tersebut menekankan pada hal-hal yang bersifat kongkret, masih terdapat beberapa kelompok yang masih tetap menganut dan mempercayai pada beberapa pemikiran dan kepercayaan tentang ajaran nenek moyang mereka yakni Animisme dan Dinamisme. 

`    Perilaku kaum abangan yang mengedepankan aspek-aspek mistik tradisional tentu bukan muncul secara begitu saja, melainkan terdapat unsur-unsur yang membentuk kepribadian mereka. Para ahli psikologi mengungkapkan bahwa ada dua faktor pokok yang menyebabkan mengapa manusia berbeda dengan lainnya, termasuk pada kaum Abangan. Pertama adalah Faktor pembawaan (Hereditas), pembawaan disini diartikan sebagai kecenderungan untuk bertumbuh dan berkembang bagi manusia menurut pola, ciri-ciri, sifat-sifat tertentu yang timbul saat konsepsi dan berlaku sepanjang hidup seseorang. Faktor pembawaan menurut Witgerington dilangsunkan melalui sel-sel benih dan bukan melalui sel-sel somatic (Badan).  Hal ini tersimpul dari definisi pembawaan itu merupakan suatu proses penurunan  sifat-sifat atau benih dari satu generasi kepada generasi selanjutnya melalui plasma benih.

       Menurut Prof. Casmir faktor pembawaan (Hereditas) itu merupakan faktor penentu bagi pribadi individu dan tak dapat dihapus sama sekali oleh pengaruh lingkungan. Jika faktor ini dikaitkan dengan kaum Abangan maka dapat disimpulkan bahwa tingkah laku kaum Abangan didasari kepribadian yang dimiliki mereka, dimana kepribadian tersebut berasal dari gen yang dimiliki oleh mereka tersebut. Opini dari Casmir diatas merujuk pada filsafat Natifisme yang mengemukakan bahwa kemampuan seorang individu dalam belajar dipengaruhi oleh faktor pembawaan seseorang.
Kedua yaitu Faktor Lingkungan (Environment), Lingkungan merupakan segala sesuatu yang melingkungi atau mengelilingi individu sepanjang hidupnya.  Secara kelembagaan, pengaruh lingkungan terhadap individu dapat digolongkan dalam tiga bagian yaitu Pengaruh lingkungan keluarga, pengaruh lingkungan sekolah, dan pengaruh lingkungan masyarakat.  Faktor kedua ini jika dikaitkan dengan apa yang terjadi pada kaum Abangan maka kita akan menemukan sebuah keterkaitan antara peran lingkungan terhadap pembentukan perilaku kaum Abangan. Sebagaimana dijelaskan pada paparan sebelumnya bahwasahnya mayoritas kaum Abangan bertempat tinggal di pedesaan dengan mata pencaharian sebagai petani, dengan bertempat tinggal di wilayah pedalaman maka secara tidak langsung  akan merubah pola pikir kaum abangan kearah tradisional berdasarkan kepercayaan nenek moyang mereka. Hal ini disebabkan karena wilayah pedesaan cenderung tertutup dengan hal-hal yang baru, termasuk sistem nilai yang melekat pada suatu masyarakat.  Pola pikir inilah yang mereka pegang selama bertahun-tahun, hingga pada akhirnya datanglah agama Islam. Dalam penyebaran agama islam di daerah-daerah pedesaan yang didalamnya masih banyak terdapat masyarakat yang percaya pada hal-hal animism dan dinamisme, maka agama Islam menggunakan cara yang terbilang halus yakni dengan cara merubah perlahan-lahan sistem kepercayaan mereka melalui Integrasi budaya tradisional mereka dengan nilai-nilai Islam sendiri. Hal inilah yang pada akhirnya membuat mereka adakalanya tetap memegang teguh beberapa kepercayaan dari nenek moyang mereka, seperti halnya tradisi sesajen pada beberapa makam yang dianggap keramat.

      Berdasarkan sikap jiwa manusia, maka kaum Abangan tergolong manusia yang bertipe  Introvers. Orang yang Introvers dipengaruhi oleh dunia subjektif yaitu dunia didalam dirinya sendiri. Pergaulan manusia bertipe ini seringkali jiwanya tertutup, sukar bergaul, sukar berhubungan dengan orang lain, dan sukar menarik hati orang lain.  Kaum Abangan kami golongkan manusia yang bertipe Introvers disebabkan karena masyarakat Abangan merupakan kelompok yang tertutup dengan hal-hal yang baru, mereka senantiasa berpegang teguh pada kepercayaan awal mereka yang bersifat animisme dan dinamisme, walaupun kenyataannya sebagian mereka merupakan seorang muslim.

     Aliran Psikoanalisis yang dipelopori oleh Sigmund Freud mengemukakan bahwa kepercayaan seperti yang dipegang kaum  sebenarnya telah berlangsung dari zaman primitif.  Hal tersebut merujuk berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Freud mengenai agama. Dalam penelitiannya tersebut, Freud menemukan istilah Totem dan Taboo ,  keduanya merupakan bagian dari sistem sosial yang mula-mula terdapat dalam kehidupan agama primitif yang ia sebut agama Totemisme. Totemisme sendiri adalah corak organisasi sosial primitif dimana para anggotanya memiliki solidaritas kelompok kren keterkitan mereka dengan sekelompok binatang atau dalam beberapa kasus, tumbuh-tumbuhan atau benda-benda mati tertenru.  Totem merupakan suatu fenomena sosial yang tersimpul padanya permulaan sistem masyarakat dengan agama sederhana yang dikendalikan dengan beberapa larangan keras (Taboo) seperti larangan membunuh hewan tertentu. Aliran psikoanalisis menganggap kepercayaan animisme dan dinamisme merupakan gangguan jiwa bagi seseorang, mereka menisbatkan hal tersebut pada kepercayaan seseorang terhadap tuhan.

       Jika mengacu pada aliran psikoanalisis diatas maka kepercayaan kaum Abangan terhadap hal-hal yang abstrak merupakan hasil dari pelampiasan seseorang karena telah melakukan sesuatu yang mereka anggap bersalah, sepertihalnya contoh yang diberikan Freud, ketika seorang pemuda telah membunuh ayahnya sendiri untuk menikahi isteri-isteri mereka. Setelah membunuh ayahnya tentu anak tersebut akan merasa bersalah atas perbuatan yang ia lakukan, oleh karena itulah si anak terkadang akan melampiaskan kesalahannya dengan cara menuruti segala pesan dari ayahnya ketika masih hidup, bahkan adakalanya anak tersebut mencari sebuah benda atau simbol yang dapat ia gunakan sebagai perwujudan rasa bersalahnya pada ayah, hingga pada akhirnya benda tersebut dianggap seakan-akan menjadi sosok sang ayah yang harus dipatuhi perinta Behaviouristik mempunyai gambaran yang berbeda dalam menanggapi kaum Abangan, menurutnya perilaku kaum abangan yang ditimbulkan dari kepercayaan Animisme dan dinamisme itu dipengaruhi oleh suatu stimulus yang pada akhirnya melahirkan suatu Respon yang keluar dari stimulus tersebut. Respon itulah yang pada akhirnya menjadi suatu tingkah laku yang menjadi ciri khas kaum Abangan yang sangat memegang teguh kepada hal-hal yang berkenaan dengan kepercayaan leluhur mereka.
Kaum Abangan dikenal lebih mengedepankan nilai-nilai leluhur mereka daripada nilai dari agama yang dianut mereka, hal ini disebabkan karena pola pikir mereka telah terpengaruh oleh paradigma yang telah melekat pada diri mereka, dimana paradigma tersebut terbentuk dari suatu kepercayaan tradisional dalam ruang lingkup masyarakat tersebut.

      Pemikiran merupakan salah satu fungsi kejiwaan tertinggi yang dapat dicapai manusia, menurut psikologi karena ketinggian inilah sehingga manusia dapat mencapai kebudayaan yang tinggi pula, yang selalu berkembang dan bertumbuh dalam proses kemajuannya. Pemikiran merupakan kekuatan psikis yang mengorganisasikan secara sistematis unsure-unsur psikis yang lain, sehingga ia dapat mengontrol dan mengendalikannya dengan sadar untuk mencapai tujuan menciptakan sesuatu yang baru, baik itu yang bersifat konseptual, material., maupun gerak perbuatan.  Hal inilah yang pada akhirnya menjadi salah satu faktor yang membuat kaum Abangan tetap memegang teguh kepercayaan awal mereka, meski kepercayaan tersebut sebagian telah terintegrasi dengan agama-agama, seperti agama Islam.

 C. Kesimpulan
    Kaum Abangan merupakan salah satu model dari kelompok di pulau jawa, istilah ini dimunculkan oleh seorang peneliti bernama Clifford Geertz. Menurut Geertz, Abangan merupakan salah satu hasil dari pembagian konsepsi Masyarakat jawa. Berdasarkan penelitian yang ia lakukan di Mojokuto (sekarang: Pare) pada tahun 1953 hingga 1954, ia membagi masyarakat jawa menjadi tiga jenis budayawi utama, Pertama Abangan yang mewakili sikap yang menitikbertkan pada sinkretisme jawa yang menyeluruh, dan secara luas berhubungan dengan unsur-unsur petani diantara penduduk, Kedua santri yang menekankan pada unsur islami, dan Priyai yang lebih ke unsur ajaran hindu.

    Dalam sistem kepercayaan, kaum Abangan dikenal sebagai kelompok yang sangat memegang teguh kepada kepercayaan leluhur mereka, dimana kepercayaan-kepercayaan tersebut hampir bersifat Animisme maupun dinamisme. Tatkala Islam datang ke Pulau jawa, para wali sanga selaku penyebar pun sulit mengikis tradisi para masyarakat jawa sebagai tersebut, hal ini dikarenakan tradisi dan kepercayaan tersebut telah melekat erat pada para masyrarakat jawa sehingga telah menjadi suatu paradigma kepercayaan. Oleh karena itulah para wali sanga mengambil jalan dengan cara mengintegrasikan nilai-nilai agama Islam dengan nilai-nilai kepercayaan jawa yang mempunyai kesamaan, sehingga dengan cara inilah para masyarakat jawa sedikit banyak mulai tertarik terhadap agama islam. Dengan demikian nilai-nilai lokal yang berasal dari kepercayaan animisme dan dinamisme adakalanya tetap melekat dalam struktur masyrakat jawa, dan pada akhirnya kelompok tersebut dikenal dengan istilah Kaum Abangan. Diantara kepercayaan-kepercayaan tersebut antara lain sepertihalnya mereka mempercayai adanya roh halus yang menghuni beberapa kawasan, selain itu mereka juga menggunakan pengobatan yang kesemuanya berdasarkan kepercyaan kepada roh baik dan roh jahat. Oleh karena itulah mereka mengenal istilah Selametan (Selamatan) yang dilaksanakan pada hari-hari tertentu guna sebagai media alat bantu untuk mencari sebuah keselamatan atas gangguan alami ataupun gangguan gaib.

    Dalam perspektif  Psikologi, perilaku unik kaum Abangan dipengaruhi oleh dua faktor utama, Pertama yaitu faktor pembawaan (Hereditas) yang berasal dari pribadi setiap individu, dalam hal ini gen dan pola pikir setiap individu merupakan hal terpenting dalam pembangunan paradigma berfikir mereka, Kedua yaitu faktor lingkungan (Environment), lingkungan yang dimaksud adalah segala sesuatu yang melekat pada sekitar individu tersebut. Bagi kaum Abangan lingkungan merupakan hal yang urgent dalam pembentukan pola pikir kaum Abangan, hal ini terjadi dikarenakan lingkungan yang mereka tempati adalah pedesaan, sehingga hal ini akan berdampak pada pola pikir kaum abangan yang cenderung tradisionalis yang menyebabkan mereka sulit untuk menerima kepercayaan dan tradisi-tradisi yang datang dari luar.

    Aliran Psikoanalisis yang dipelopori oleh Sigmund Freud mengemukakan bahwa kepercayaan seperti yang dipegang kaum  sebenarnya telah berlangsung dari zaman primitif yang ia sebut dengan istilah “Agama Totemisme”,  Totemisme sendiri adalah corak organisasi sosial primitif dimana para anggotanya memiliki solidaritas kelompok kren keterkitan mereka dengan sekelompok binatang atau dalam beberapa kasus, tumbuh-tumbuhan atau benda-benda mati tertentu. 

  D. Daftar Pustaka

Darojat, Zakiah. 1970. Ilmu Jiwa Agama. Jakarta : Bulan Bintang

Faisal, Sanapiah. 1991. Dimensi-dismensi Psikologi.Surabaya: Usana Oppset

Muchtarom, Zaini.2002.Islam di Jawa Pepspektif Santri dan Abangan.Jakarta: Salemba Diniyah

Muhaimin.2001. Islam dalam bingkai budaya local potret dari Cirebon.Surabaya: PT Logos

 Suryabrata, Sumardi.2008.Psikologi Kepribadian.Jakarta: Grafindo

Thouless Robert H. 1992. Pengantar Psikologi Agama.Jakarta:Rajawali Press


Oleh: 
Rizal Nanda Maghfiroh 
(Ditulis dalam rangka mata kuliah psikologi Agama PAI UIN Maliki Malang tahun 2014)






Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.