Antara KH. A. Hasyim Muzadi dan Falsafah PMII untuk NKRI.

*)


Seorang ulama pergerakan
Kerap membawa keajaiban
Demi persatuan kebangsaan
Ke-ikaan dalam kebhinekaan

Seorang kyai pergerakan
Cendekiawan dan ilmuan
Penebar esensi luhur ketuhanan
Kolaborasi sakti keagamaan berbingkai kenegaraan

Penerus ajaran simbah Kyai Haji Wahab Hasbullah
“Tiada kata udzur dalam sebuah perjuangan”.


Kyai  Pergerakan
   
Budayawan NU Kacung Maridjan dalam opininya (Jawa Pos:17/03) menyebut Kyai Hasyim sebagai Kyai Pergerakan yang senantiasa berkreasi di segala aspek dan lini, mengingat sosok kelahiran tuban tersebut merupakan satu-satunya ketua PBNU yang pernah mencicipi geliat organisasi Nahdlatul ‘Ulama secara lengkap dari tingkatan bawah, menengah, hingga puncaknya di PBNU, meliputi; Ketua Ranting NU Bululawang (1964), Ketua Anak Cabang Ansor Bululawang (1965), Ketua Cabang PMII Malang (1966), Ketua KAMMI Malang (1966), Ketua Cabang Ansor Malang (1967-1971), Wakil Ketua PCNU Malang (1971-1973), Ketua DPC PPP Malang (1973-1977), Ketua PCNU Malang (1973-1977), Ketua PW Ansor Jawa Timur (1983-1987), Ketua PP Ansor (1987-1991), Sekum PWNU Jawa Timur (1987-1988), Wakil Ketua PWNU Jawa Timur (1988-1992), Ketua PWNU Jawa Timur (1992-1999), hingga puncaknya menjadi ketua PBNU dua periode berturut-turut (1999-2004) hasil Muktamar Lirboyo dan (2004-2009) di Muktamar Donohudan Boyolali.

Prof Mahfudz MD selaku sahabat karib Kyai. Hasyim menuturkan (Jawa Pos:17/03) bahwa Kyai Hasyim memiliki ciri khas yang nyentrik yang membedakan dengan beberapa ‘ulama khos lainnya.

jika beberapa ulama khos lain lebih sering menghabiskan waktunya untuk melayani, mengajar dan mengabdi pada illahi dalam lingkup pesantren, maka Kyai Hasyim justru kerap kali “menjemput bola” secara langsung untuk membantu memberikan solusi terang pada pihak yang mengalami masalah.

Bahkan ketika memegang mandat sebagai ketua PBNU mulai tahun 1999 menggantikan peran Gusdur , beliau Kyai Hasyim membuat gebrakan luar biasa bagi pengembangan nilai islam luhur ala Nahdlatul ‘Ulama di berbagai penjuru dunia.

Melalui berbagai pertemuan dengan tokoh agama dan negara dari negara lain, beliau Kyai Hasyim mengkampanyekan gagasan plural nilai Islam di Indonesia yang toleran dan moderat terhadap perbedaan budaya dalam suatu sistem sosial. Alhasil pada masa kepemimpinan beliau inilah nama NU mulai dikenal sepak terjangnya dalam kancah internasional, hingga perealisasian gagasan pendirian PCI (Pengurus Cabang Istimewa) NU di beberapa negara seperti; Amerika, Australia, Inggris, Mesir, Saudi Arabiya, Jepang, Sudan, dan lain sebagainya. (Soelaiman Fadhli,2007).

Kyai Hasyim tidak puas hanya dengan menggagas PCI NU saja, geliat naluri pergerakan beliau terlihat lagi pada tahun 2004 saat beliau selaku ketua PBNU memprakarsai berdirinya International Conference of Islamic Schoolars (ICIS) di Jakarta. ICIS sendiri merupakan sebuah forum organisasi islam yang beranggotakan para ‘ulama moderat di berbagai penjuru dunia.

Melalui forum tersebut diharapkan akan membantu pengembangan nilai Islam yang moderat sesuai dengan segala zaman. Soelaiman Fadhli dalam Antologi NU menyebut Gagasan beliau ini  sebagai penjelmaan Komite Hijaz Jilid Dua atau Komite Hijaz Modern. Bedanya, Komite Hijaz I mengemban misi penyelamatan faham Aswaja dari ancaman Wahabi masa Ibnu Saud, sedangkan Komite Hijaz Jilid II mengemban penyelamatan dari serangan nilai liberal (ekstrem kanan) dan radikal (ekstrem kiri) yang telah menjamur di negara barat dan timur tengah.

Semangat untuk terus bergerak dan berproses guna memberikan yang terbaik bagi NKRI oleh diri Kyai Hasyim  inilah yang akhirnya mendorong beliau untuk terjun pada bursa pemilihan presiden – wakil presiden yang pertama kalinya dilaksanakan secara langsung pada tahun 2004.

Saat itu beliau memutuskan untuk berpatner dengan Megawati Soekarno Putri sebagai calon Presiden guna bersaing dengan lawan politik sesama warga NU semacam Gus Sholah, Jusuf Kalla, dan Hamzah Haz, meski pada akhirnya beliau kalah dengan pasangan SBY-JK pada putaran kedua.

Adapun dalam bidang pelayanan masyarakat tak diragukan lagi kontribusi nyata dari seorang Kyai Hasyim, bersama abangnya KH. Muchith Muzadi  beliau merupakan pendiri dari pesantren mahasiswa Al Hikam di Malang yang bertujuan untuk membekali para mahasiswa yang menjamur di Malang Raya tentang pemahaman nilai spiritualitas dan moralitas guna diimplementasikan dalam kehidupan sosial.

Seiring dengan banyaknya menghabiskan waktu di Ibu kota sejak mendapat amanat mengampu PBNU, akhirnya beliau mengembangkan sayap pesantren Al Hikam di Depok dan mendirikan pusat study Al Qur’an disana sebagai tempat mempelajari Al-Qur’an secara tekstual (Tahfidz) maupun kontekstual (Ta’wil), hingga di pesantren tersebut pula menjadi saksi persinggahan terakhir bagi KH. A. Hasyim Muzadi  pasca dipanggil kehadapan-Nya kamis lalu (16/03). 

Bahkan sebelum beliau berpulang ke rahmatillah, KH. A. Hasyim Muzadi  masih pula mempunyai gebrakan rencana untuk kembali mendirikan Lembaga Pesantren Al Hikam di Kota Bogor. Allahummaghfir lahu teruntuk beliau KH. Ahmad Hasyim Muzadi , sang pejuang tanpa pamrih; aktivis pergerakan sejati.

Falsafah PMII teruntuk NKRI


Kemonceran sepak terjang KH. A. Hasyim Muzadi  sudah tampak tatkala beliau masih menjadi mahasiswa di STAIN Malang, dimana menurut pengakuan Kacung Maridjan beliau kerap kali lebih sering mendahulukan kepentingan organisasi yang diikuti diatas egositas kepentingan diri, menurutnya terkadang kerap kali beliau melewatkan kegiatan perkuliahan demi bergerak mengembangkan eksistensi organisasi yang digeluti.

Loyalitas tanpa batas inilah yang menjadi pegangan beliau tatkala diamanati menahkodai berbagai macam organisasi baik berbasis kemahasiswaan atau bernuansa sosial kemasyarakatan.

Tak hanya unjuk gigi secara instan untuk mendapati mandat menjadi pimpinan suatu perkumpulan, di Malang Raya selain menjadi komandan tertinggi berbagai macam organisasi seperti yang ditelah disebutkan diatas, beliau juga kerap mebmbuat gebrakan keajaiban diantaranya merupakan salah satu sosok yang menghimpun para mahasiswa berhaluan Aswaja di Malang Raya untuk bersama-sama mendirikan dan mengeksistensi PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) di bumi AREMA pada tahun 1964 bersama para aktivis ternama kala itu seperti; KH. Marzuki Mustamar (Pengasuh PP Sabilurrosyad), Prof. Dr Rofi’uddiin (Rektor kampus UM), KH. Zawawi, Sjahid Wiyoto, Mi’is Kabri dan lain sebagainya.

Beliau memahami bahwa sebuah organisasi bukalah sebatas diartikan sebagai objek semata, dalam artian sebatas diartikan sebagai kumpulan atau wadah dari beberapa individu yang tergabung dalam satu wadah.

Lebih dari itu hakekat sebuah organisasi justru mempunyai arti sebuah predikat (aktivitas) dari berbagai individu yang tergabung menjadi satu kesatuan didalamnya.

Jika sebuah organisasi dipahami sebagai objek semata tentulah secara perlahan organisasi tersebut tidak memiliki esensi makna dari tujuan pendirian suatu organisasi bahkan organisasi tersebut akan lenyap jika keadaan tersebut terus menerus dikembangkan dalam ruang lingkup organisasi. Sebagaimana peranan organ dalam sistem kehidupan jika tak mampu lagi beraktifitas tentulah sebuah kehidupan akan rusak bahkan lenyap.

Sebaliknya jika sebuah organisasi dipahami dalam pengertian sebagai aktifitas tentu suatu organisasi akan tetap hidup dan terus berkarya mengikuti perkembangan zaman sebagaimana yang dilakukan organ dalam kehidupan.

Oleh karena itulah agar sebuah organisasi tetap hidup tentulah harus senantiasa bersifat dinamis, flexsibel, dan direct (bergerak) sebagaimana imbuhan–sasi yang mengharuskan untuk terus berproses. Pemahaman bahwa organisasi harus senantiasa bergerak dan bukan sekedar ikatan atau himpunan inilah yang pada akhirnya menjadi mainseat dari Kyai Hasyim untuk senantiasa memberikan sentuan perubahan pada berbagai organisasi yang digelutinya termasuk tatkala beliau membuat berbagai gebrakan baru dalam era kepemimpinan dua periode di PBNU.

Sebagai sosok yang pernah digodok di organisasi PMII, dalam bertindak KH. A. Hasyim Muzadi  kerap kali mengedepankan esensi tiga motto PMII; Dzikir, Fikir, Amal Sholeh demi terwujudnya insan Ulul Ulbab.

Ulul Albab, yakni seseorang yang selalu haus akan ilmu, dengan senantiasa berdzikir kepada Allah SWT, berkesadaran historis primodial atas relasi Tuhan-manusia-alam, berjiwa optimis transendental sebagai kemampuan untuk mengatasi masalah kehidupan, berpikir dialektis, bersikap kritis dan bertindak transformatif. (Penjelasan AD PMII Pasal 5, ayat 2)

Untuk dzikir, tak dipungkiri lagi bagaimana teguhnya beliau menjunjung prinsip tersebut. Buktinya dalam kondisi sakit parah beliau masih menyempatkan untuk memberikan mauidhah kitab Al Hikam pada para santrinya, sebagai tanggung jawab moral kepada Ilahi atas ilmu yang dimilikinya.

Adapun nilai fikir dapat kita lihat dari tindakan beliau yang gemar berikir liar secara kreatif dalam menyikapi segala sesuatu sebagai representatif betapa fathonah-nya beliau, meskipun tak jarang pemikiran liberalnya membuat beliau dicap sesat, antek barat, oleh kelompok pemikir dangkal. Hal ini di afirmasi langsung oleh Aminudin Makruf selaku ketua umum PB PMII dimana ia kerap kali diingatkan oleh Kyai Hasyim semasa hidup untuk senantiasa menjaga aqidah Aswaja ditengah gempuran liberalisme, sekularisme, dan fundamentalisme. Salah satu nasehat beliau adalah bahwa  “Liberalisme pemikiran itu boleh dan bagus, tapi liberalisme sikap dan perilaku itu yang tidak boleh” papar Amin sebagaimana dalam situs okezone.com (16/03).

Sementara nilai amal shaleh ditelaladankan beliau pada setiap tindak lakunya yang senantiasa mencoba mempersembahkan yang terbaik bagi bangsa dan negara Indonesia, sebagaimana tindakannya telah dipaparkan sebagaiman sebelumnya. Saat masih dirawat di RS Lavallate Malang, beliau sempat memberikan pesan kepada Prof Haidar Nasir (Ketum PP Muhammadiyyah) untuk bersama tokoh islam lain untuk terus peduli pada persoalan bangsa. 

“Beliau menyebutnya persoalan bangsa sedang dalam banyak masalah.” Selain itu Kyai Hasyim juga mengharapkan para tokoh bangsa dan seluruh umat untuk terus merawat jiwa kepemimpinan. Bukan sekedar pemimpin, tapi juga yang punya kualiļ¬kasi. “Memimpin dengan hati nurani, memimpin dengan hati,”, tutur beliau seperti dikutip www.pcmu.co.(17/01).

Trilogi PMII inilah harus berlandaskan pada nilai dasar pergerakan (NDP); Hablum Min- Allah, Hablum Min An Nas, Hablum Min ‘Alam, yang menjadi basis filosofis aktifitas berikir, berucap, dan bertindak demi tercapainya tujuan yang telah diterapkan sebagaimana dalam Pasal 4 Anggaran Dasar PMII;

“ Terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya serta komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia”. (Pasal 4 Anggaran Dasar PMII Kongres Jambi)



Gugur satu tumbuh seribu tentunya
Gugurnya ulama nusantara
Kyai Hasyim Muzadi asmanya
Tak perlu ditangisi kepulangannya

Perjuangannya tak akan berakhir sia-sia
Generasi muda pewaris tahta
Akan Siap siaga memperjuangkan cita
Salam Tangan Terkepal Maju Kemuka



Referensi:

Fadeli, Soelaiman. 2007. Antologi NU. Khalista: Surabaya
_______.2012. Modul PKD XVIII PMII Rayon Chondrodimuko.Lingkar Media: Jogja
www.pmiikotamalang.or.od
www.okezone.com
www.pcmu.co
AD/ART PMII Hasil Kongres Jambi



*) Oleh Rizal Nanda Maghfiroh

*) Tulisan juga ditulis dalam buku Kodifikasi Pemikiran
 PMII Rayon Chondrodimuko UIN Maliki Malang Tahun 2017






Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.