Kajian Al Hikam: Hikmah 288 (Cara Orang Ahli Hakekat Menerima Nikmat)

Masjid Bumi Damai Al Muhibbin yang Dibuat Pengajian


 "Orang ahli hakekat yang telah melupakan mahluk dan langsung melihat kepada Allah SWT yang hak, dan lupa dari sebab musabab karena teringat pada yang menentukan  sebab dan menjadikannya orang ini sebagai hamba yang menghadapi hakekat yang nyata baginya terang, dan sedang berjalan pada jalannya, telah sampai puncaknya, hanya ia sedang tenggelam dalam alam sehingga tidak kelihatan bekas-bekas mahluk, lebih banyak menafikan alam daripada ingatannya, dan bertemunya pada Allah dari renggang-renggangnya, dan lenyaplah dirinya dari tetapnya perasaannya, dan lupanya terhadap mahluk daripada ingatannya pada mereka"


(Hikmah 288)

Hikmah ini berkaitan dengan pembagian manusia dalam menghadapi nikmat pemberian Allah SWT yang mana Ibnu Attolillah membaginya menjadi tiga macam;  yakni: Pertama, Orang yang lalai pada Allah (Ghofilun) (Dijelaskan pada hikmah sebelumnya). Kedua, Orang yang memiliki derajat hakekat (Dijelaskan pada hikmah berikut). Ketiga, Orang yang memasuki maqom baqo’ (Dijelaskan pada hikmah selanjutnya)

Orang yang ahli hakekat sirnalah dari hal kemanusiaan, semisal ada seseorang yang mendapat kenikmatan kesembuhan dan kesehatan atas penyakit yang dideritanya, maka orang kategori ini tidak melihat pada dokter sebagai si pemberi kesehatan, melainkan yang dilihatnya hanyalah Allah SWT.

Orang yang memiliki derajat hakekat bagaikan tenggelam dalam lautan tauhid dimana semua yang diingatnya hanyalah tentang Allah SWT. Akan tetapi sebenarnya orang kategori ini belumlah termasuk sempurna dikarenakan orang kategori ini apabila diberikan kenikmatan oleh Allah SWT melalui hamba-Nya (Sesama mahluk) maka orang ini hanya mengucapkan syukur pada Allah SWT saja dan menafikan ucapan terima kasih beriring doa pada perantara pemberi rizki, dalam hal ini sesama mahluk.

Orang kategori ini (ahli hakekat) dalam segala sesuatu selalu melihat dan merasakan Allah SWT bakhan dalam situasi tertentu kerap kali mengaku sebagai Allah karena terlalu dekat pada Allah SWT.

Orang kategori ini dalam dunia tasawuf / sufi disebut orang yang memasuki  مقام جمع  (Maqom Jam’i), dan orang jenis ini tidak boleh dijadikan sebagai panutan atau rujukan segala sesuatu terutama berkaitan dengan keilahian dikarenakan belum keluar dari derajat Maqom Jam’i menuju Maqom Baqo’, salah satu tokoh yang masuk dalam kategori ini adalah Syekh Siti Jenar.

Setelah seseorang memasuki Maqom Jam’i atau dalam beberapa ulama sufi menyebutnya Maqom Fana’ dan turun menuju Maqom Baqo’ barulah seseorang dapat dijadikan sebagai panutan atau rujukan karena seseorang jenis ini sudah benar menjadi insan kamil dari nilai keilahiyahan dan kebashariyahan. Adapun terkait seseorang yang tergolong memiliki derajat Maqom Baqo’ dipaparka dalam hikmah kajian selanjutnya.

Orang ahli hakekat atau yang disebut kategori maqom jam’i atau maqom fana itu kerap kali lebih senang menyendiri daripada hidup bermasyarakat bersama-sama manusia, dalam baham tasawuf disebut uzlah. 

Al Hikayah:

Diceritakan dari Syekh Al Wasith, suatu ketika beliau berjalan di sebuah padang pasir yang tak ada sama sekali sebuah tanaman. Dalam perjalanan beliau bertemu seorang A’robi atau Badui yang duduk sendirian ditengah padang pasir.

Oleh Syekh Wasith didekatilah orang Badui tersebut untuk diajak bicara. Akan tetapi orang Badui tersebut justru berkata “Nggak-nggak, aku ingin menyendiri mengingat Allah SWT”, Syekh Al Wasith pun terkejut dan heran, sontak Badui tersebut kembali berkata “Mengapa Anak Adam bisa lupa ibadah pada Allah, padahal Allah lah yang member rizki”.

Syekh Al Wasith pun diam membisu, lalu sekali lagi si Badui berbicara “Mengapa Anak Adam bisa senang terhadap hal selain Allah dan lupa pada Allah yang member kehidupan”. Untuk sekali lagi Badui tersebut kembali berkata “Mengapa Anak Adam meminta sesuatu pada selain Allah padahal Allah selalu memperhatikannya”.

Mendengar perkataan si Badui tersebut, Syekh Al Wasith pun menangis dan bertanya pada si Badui “Mengapa engkau sendirian ditempat ini ?”, Kata si Badui “Tidak, aku tidak sendirian di tempat ini, aku bersama Allah”.

Kemudian Syekh Al Wasith pun memohon kepada Allah SWT “Wahai Tuhanku, tolong berilah perlindungan pada orang ini”, mendengar doa Syekh Al Wasith orang Badui tersebut pun lari kencang sontak Al Wasith pun mengejarnya. Melihat ia dikejar si Badui pun berkata pada Syekh Al Wasith “Kembalilah pada Allah, Allah lebih berguna daripada aku”.

Karena sangat cepatnya Syekh Al Wasith pun tak dapat menegejar orang Badui tersebut dan tak dapat menemukannya kembali hingga beliau wafat.

Al Hikayah:

Diceritakan dari Syekh Dinnun Al Mishri, suatu saat ketika beliau sedang thawaf beliau melihat sinar dari langit. Beliau pun heran sinar apakah itu, setelah itu Syekh Dinnun mendengar sebuah suara yang menandakan orang ketaakutan.

Kemudian beliau pun mencarinya dan mendapati bahwa suara tersebut berasal dari seorang wanita kurus. Merasa kasihan Syekh Dinnun pun bermaksud membantu wanita tersebut.

Tetapi wanita tersebut justru hendak lari dan berkata “Illahi, Sayyidi, Maula, sebab cintaku padaku maka ampunilah aku”. Al Mishri pun mengejarnya seraya berkata “Hai wanita, apa engkau tidak takut pada Allah atas ucapanmu tadi.”

“Kenapa harus takut pada Allah, Allah itu bersamaku Dinnun” sahut si wanita. “Darimana engkau tahu namaku Dinnun?” tanya Syekh Dinnun. “Aku tahu dari Allah” jawab si wanita.

Syekh Dinnun kembali bertanya “Hai Wanita, mengapa kau terlihat kurus sakit-sakitan?”

Wanita tersebut berkata “Aku rindu pada Allah” dan menyuruh Syekh Dinnun untuk menoleh kebelakang “Dinnun lihatlah apa yang ada dibelakangmu?”.

Anehnya setelah beliau menoleh ke belakang wanita tersebut hilang entah kemana. Sejak saat itulah Syekh Dinnun tak pernah berjumpa lagi dengan wanita tersebut.

Dua Hikayat diatas menurut Kyai Djamaluddin menyebut bahwa Al Wasith bertemu dengan ahli hakekat laki-laki, sedang Dinnun Al Mishri bertemu dengan ahli hakekat perempuan.

Kesimpulan Pengajian diatas aalah bahwa orang yang memilki derajat hakekat akan sirnah dalam hak kemahlukan lalu akan tenggelam dalam lautan tauhid, orang tersebut yang diingatnya hanya Allah SWT tak ada yang lain.


*)
Tulisan ini merupakan Resuman Pengajian Al Hikam KH. Moh. Djamaluddin Ahmad yang penulis catat ketika singgah di pesantren beliau

Tanggal : 21 Desember 2009
Tempat  : Bumi Damai Al Muhibbin Tambakberas Jombang
Oleh       : Rizal Nanda Maghfiroh

2 komentar:

Terima kasih atas masukan anda.