Kajian Al Hikam : Hikmah 287 (Cara Orang Lalai Menerima Nikmat)

Bumi Damai Al Muhibbin

*)

“Dan Sesungguhnya manusia dalam menghadapi nikmat pemberian Allah SWT terbagi menjadi tiga kelompok; salah satunya orang yang lalai pada Allah SWT dan memuncak kelalaiannya. Orang ini sangat kuat jiwa materialnya, sangat terpengaruh inderanya, hingga padam sama sekali jiwa rahaninya (Kesucian Jiwanya) maka ia melihat bantuan itu hanya semata-mata dari sesama mahluk, dan sama sekali tidak melihat dari Allah Tuhan Rabbul ‘Alamin. Jika yang demikian ini berupa I’tiqad keyakinan, maka syiriknya jelas. Atau sekedar dianggap sebagai sebab yang diandaikan tidak ada sebab itu tidak terjadi itu karunia, maka ini juga termasuk syirik tetapi samar.
(Hikmah 287)


Hikmah ini berkaitan dengan pembagian manusia dalam menghadapi nikmat pemberian Allah SWT yang mana Ibnu Attolillah membaginya menjadi tiga macam;  yakni 

a.  Orang yang lalai pada Allah SWT
b. Orang memiliki derajat hakekat ( pada hikmah selanjutnya)
c. Orang yang memasuki maqom baqo’ (pada hikmah selanjutnya)

Seseorang untuk dapat melihat Allah (merasakan Allah) maka hendaknya harus melakukan dua perkara; Pertama harus merasakan hakekat dengan cara merasakan bahwa segala sesuatu datang dari Allah SWT, dan Kedua harus pula merasakan syari’at dengan cara selalu mensyukuri nikmat Allah SWT. Sementara itu orang yang lalai pada Allah SWT itu mata hatinya (Basyirah) selalu tertutup, dalam kasus semisal; ada orang diberi orang lain oleh-oleh haji dan kemudian ditanya “engkau dapat dari Allah kah oleh-oleh haji itu wahai fulan ?”, kemudian si fulan menjawab “Oleh-oleh ini diberi dari orang itu”. Dalam kasus ini si fulan tergolong orang yang syirik dan musyrik dalam kaca mata tasawuf, orang tersebut itu tidak bisa melihat tentang suatu hakekat terkait sesuatu yang datang dari Allah SWT. Orang tersebut sejatinya telah keluar dari jalur iman menuju jalur kafir, syirik, dan musyrik.
Riwayat
Syekh Abu Jakfar (Guru Syekh Junaid) merupakan seorang wali Allah SWT yang bekerja di pasar sebagai seorang kuli dengan upah penghasilan sehari satu dinar. Oleh Syekh Abu Jakfar satu dinar tersebut habis dibuat bershodaqoh dalam satu hari, mengingat beliau dikenal dermawan sehingga banyak didatangi oleh para peminta-minta.

Pada suatu hari beliau didatangi oleh 2 orang peminta-minta yang terdiri dari seorang bujangan dan satunya lagi beristri dan mempunyai anak banyak. Orang yang punya istri tadi berdoa “Ya Allah berikanlah kenugerahan pada hamba-Mu ini”, sedangkan orang yang bujangan berdoa “Ya Allah berikan kenugerahan agar Ummi Ja’far memberi hamba-Mu”. Kemudian peminta yang punya istri tadi oleh Abu Ja’far diberi uang 2 dirham, sedang orang yang bujangan diberi 2 potong roti dan seeokor ayam yang tidak disengaja didalamnya diisi oleh Abu Jakfar Dinar yang cukup selama satu bulan. Namun karena kurang tahunya laki-laki yang bujangan maka ia pun menukaran hartanya pemberiannya kepada 2 dirham milik orang yang sudah beristri.

Oleh Kyai Djamalluddin Hikayat tersebut disimpulkan bahwa rizki itu diberikan oleh Allah SWT yang ditentukan atas nama hamba Allah SWT. Adapun salah satu tanda rizki yang datang dari Allah SWT yaitu hasilnya cukup untuk dinikmati terlebih dapat dibagi-bagi kepada orang yang berhak membutuhkan.

Seseorang yang jarang membayar zakat maka lambat laun hartanya akan berkurang dengan sendirinya lalu Allah akan memberikan sebuah musibah / cobaan kepada orang tersebut, dikarenakan kesalahan yang dilakukan oleh orang tersebut sendiri. Sama halnya dengan peristiwa pisahnya Nabi Ya’kub As dengan Nabi Yusuf As dikarenakan kesalahan Nabi Ya’qub karena telah mencintai putra terkasihnya Nabi Yusuf As melebihi kecintaannya pada Allah SWT.

Syekh Shihabuddin mengatakan bahwa Allah SWT memeberi rizki kepada setiap mahluk-Nya sesuai dengan perilaku dan melalui sebab-sebabnya. Sepertihalnya rizki Allah kepada bangsa jin yang tidak lain adalah tulang, karena tulang itu adalah salah satu makanan dari jin yang kerap menyamar sebagai anjing. Oleh karena itu tulang tidak boleh digunakan sebagai alat untuk bersuci. (Qoul Kyai Djamal)

Kesimpulan


kesimpulan Pengajian tersebut adalah ; Jika kita mendapat suatu kenikmatan termasuk yang datang dari pemberan orang lain maka jangan lupa bahwa hakekatnya datang dari Allah SWT bukan dari mahluk Allah. Namun bukan berarti tak memedulikan orang lain yang memberi, tetap diharuskan berterima kasih dan mendoakannya pada Allah SWT. Barang siapa yang tidak mensyukuri nikmat Allah maka tergolong orang yang syirik, musyrik, dan kafir. Orang jenis ini termasuk orang yang mata hatinya (Basyariah) tertutup.


 *)
Tulisan ini merupakan Resuman Pengajian Al Hikam KH. Moh. Djamaluddin Ahmad yang penulis catat ketika singgah di pesantren beliau

Tanggal : 14 Desember 2009
Tempat  : Bumi Damai Al Muhibbin Tambakberas Jombang
Oleh       : Rizal Nanda Maghfiroh


Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.