Kajian Al Hikam: Hikmah 293 - ( Empat Golongan Suci )

Romo Kyai Haji  Moh. Djamaluddin Ahmad

“ Allah SWT telah mewahyukan pada Nabi Daud As, “Hai Daud, katakanlah kepada orang “Shiddiqin” ; dengan Aku mereka hendaknya bersenang gembira, dan berdzikirlah menyebut nama-Ku, hendaknya mereka merasa nikmat” 

(Hikmah: 293)


Dalam Pengajian Al Hikam ini Kyai Djamal memulai kajian dengan Qoul dari Ibnu Atto’illah; Barangsiapa yang menaati Allah SWT dan menaati Utusan Allah SWT maka diakhirat kelak akan bersama-sama dengan empat golongan yang mulia antara lain;

Pertama, Para Nabi – Rasul; golongan pertama ini merupakan golongan yang paling mulia di sisi Allah SWT . Kyai Djamal menuturkan bahwa Nabi yaitu seorang laki-laki yang mukmin, berakal, serta merdeka yang diberi wahyu oleh Allah SWT dan diperintah menyampaikan bahwa dirinya adalah nabi namun bukan diberi amanat menyiarkan risalah serta diberi kekuatan mu’jizat oleh Allah SWT. Sedangkan rasul adalah seorang laki-laki yang mukmin, berakal, serta merdeka dan diberi wahyu oleh Allah SWT untuk menyampaikan risalah serta diperkuat mu’jizat. Adapun terkait jumlah Nabi, Kyai Djamal menyebut bahwa jumlah Nabi sangat banyak sekali sekitar 114.000 sedang jumlah rasul berjumlah 313 namun yang wajib diketahui hanyalah 25 rasul. Lalu cara menyakini Nabi secara global adalah meyakini bahwa Allah SWT mempunyai Nabi yang sangat banyak sekali dimana  tidak ada yang jelas mengetahuinya kecuali Allah SWT sendiri.

Kedua, Syiddiqun ; Kyai Djamal mendefinisikan sebagai orang yang selalu benar perkataannya dan perbuatannya selalu singkron dengan syari’at, dalam artian orang yang shiddiq itu ucapan lisannya selalu sigkron dengan ucapan hatinya, sepertihalnya Maqolah KH. Abdul Djalil Mustaqim “Biasakno, kulinakno pangucapmu podo karo karepe atimu”. Orang yang tergolong Syiddiqun itu biasanya harus melawan kekuatan godaan syetan yang luar biasa dahsyatnya. Berkenaan dengan syetan sendiri ada sebuah riwayat yang diceritakan oleh Kyai Djamal:

Al Hikayat: (Syetan dan Permohonannya)
 
Bahwa dahulu syetan pernah memohon kepada Allah SWT agar diberikan sebuah tempat tinggal / kantor, alhasil Allah SWT pun mengabulkannya dan membeikan pemandian sebagai tempat tinggal syetan. Kemudian syetan memohon pada Allah SWT lagi agar diberikan sebuah tempat duduk / majlis, maka Allah SWT pun menjadikan pasar sebagai majlis dari syetan. Terakhir syetan memohon kepada Allah SWT lagi agar diberikan sebuah jaring sebagai senjata andalan, maka Allah SWT pun memberikan jaring pada syetan berupa (Godaan) wanita. Dengan demikian tidak mengherankan bahwa ketiga hal diatas kerap kali menimbulkan perbuatan yang melenceng dari syari’at dari kalangan orang yang imannya lemah, mengingat ketiga hal tersebut merupakan senjata andalan syetan.

Ketiga, Syuhada’ ; yaitu orang yang meninggal dalam keadaan syahid. Kyai Djamaluddin membagi syuhada’ menjadi tiga kelompok; 

  • Syahid dunia akhirat, adalah syahid yang paling mulya yaitu orang yang wafat dalam rangka berperang dijalan Allah SWT untuk menegakkan keadilan dan perdamaian bagi seluruh umat manusia.
  • Syahid dunia, yaitu orang yang wafat dalam rangka berperang dengan niatan mencari rampasan perang (ghanimah) atau membalaskan dendam.
  •  Syahid Akhirat, yaitu orang yang wafat karena musibah dari Allah SWT seperti wafat karena tanah longsor, gempa bumi, dan lain sebagainya.

Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa Siti Aisyah pernah bertanya pada Rasulullah SAW; “Wahai Nabi, apa ada orang yang bukan tergolong syahidah namun di akhirat kelak dapat bergabung dengan para syuhada”, maka Nabi menjawab; “ada, yaitu orang yang selalu berperang dengan hawa nafsunya dengan cara mengingat kematian selama sehari-semalam sebanyak 20 kali”.
Keempat, Sholikhun; Kyai Djamal menyebut sebagai orang yang mampu memenuhi hak-hak Allah SWT dan hak-hak sesame manusia. Adapun orang yang tergolong Sholikhun cenderung gembira atas nikmat yang diberikan oleh Allah SWT bukan karena hal yang lain. Orang yang selalu bergembira terhadap nikmat Allah SWT maka seseorang tersebut akan terbebas dari sebuah kesusahan dan adzab Allah, sebaliknya orang yang tidak senang atau tidak menganggap nikmat datang dari Allah SWT maka seseorang tersebut akan diberikan adzab kesusahan tiada henti. Terkait senang terhadap Allah SWT itu dapat diwujudkan dengan perasaan bangga menjadi hamba Allah SWT.

Al Hikayat ( Penjahat Menjadi Waliyullah )
Dulu pernah ada seseorang bernama Utbah Bin Ghulam yang terkenal dengan perilaku jeleknya; suka mabuk, zina, mencuri, merampok, dan lain-lain).. sehingga citra Utbah Bin Ghulam dimata masyarakat dipandang sebagai orang jelek. Pada suatu hari disebuah majlis di kota Baghdad terdapat seorang ulama besar bernama Syekh Hasan Al Bashri (Beliau adalah orang yang pernah ditanya oleh Sayyidina Ali Bin Abi Thalib, “Apa pendukung agama dan apa perusak agama ?” dan Syekh Hasan menjawab “Yang mendukung agama ialah sifat wira’ sedang yang merusak ialah sifat tamak).

Suatu saat pada waktu Syekh Hasan mengaji di majlis Baghdad tiba-tiba datang seorang penjahat bekas penyamun dan bertanya dengan nada keras pada Syekh Hasan “Wahai Syekh, aku ingin bertaubat, apa taubatku bisa diterima oleh Allah SWT”, Syekh Hasan menjawab “ Sangat bisa walaupun dosa engkau sebesar dosa Utbah Bin Ghulam”. Pada saat itu kebetulan Utbah Bin Ghulam berada di serambi masjid, ia pun mendengar perkataan Syekh Hasan Al Basyri. Akhirnya ia pun menyesal, mengakui kesalahannya, lalu bertaubat, hingga beberapa waktu setelah masa taubatnya ia diangkat menjadi waliyullah oleh Allah SWT.

Hingga pada suatu saat pasca masa taubatnya Utbah Bin Ghulam bertemu dengan Rabiatul Adawiyyah (waliyullah perempuan) dengan paras dan gaya congkak sambil memakai gamis baru. Rabiah bertanya “Utbah apa yang membuatmu bingung ?”, “Siapa yang bingung” sahut Utbah. Rabiatul Adawiyyah bertanya lagi “Mengapa gayamu begitu congkak dan sombong”. “Karena aku bangga menjadi hamba Allah SWT” balas Utbah Bin Ghulam dengan nada tenang.

Dikaitkan dengan maqom derajat seseorang maka perilaku Utbah Bin Ghulam saat bertemu Rabiatul Adawiyyah berada dalam maqom jam’i / maqom fana’ dimana yang dikagumi dan diingatnya hanyalah Allah SWT tiada yang lain. Sama pula dengan cerita Kyai Djamal tentang seorang ahli sufi yang sedang thafaf lalu ia melihat seorang orang tua menari-nari dengan membawa mushaf. “Apa yang kau lakukan sungguh tidak pantas” kata orang sufi pada orang tua, si orang tua menjawab 
“ Pergilah kau, aku sedang berbicara pada tuhanku” (Orang tua tersebut sangat bangga kepada Allah SWT hingga ia lampiaskan dengan menari-nari seraya memegang mushaf).

Kesimpulan Pengajian:
Seseorang yang menaati Allah SWT dan Rasul-Nya serta senang kepada Allah SWT maka diakhirat kelak akan bersama dengan empat golongan mulya; Nabi-Rasul, Shiddiqin, Para Syuhada’, dan Para Sholihin. Adapun rasa senang / cinta kepada Allah SWT dapat diwujudkan dengan cara bangga mempunyai tuhan Allah SWT dan bangga menjadi hamba Allah SWT.


*)
Tulisan ini merupakan Resuman Pengajian Al Hikam KH. Moh. Djamaluddin Ahmad yang penulis catat ketika singgah di pesantren beliau

Tanggal : 22 Februari  2010

Tempat  : Bumi Damai Al Muhibbin Tambakberas Jombang
Oleh       : Rizal Nanda Maghfiroh





Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.