Salam Satu Jiwa An Nahdliyyah


Dualisme, Kloningisme,  Persekutuan ganda. Bosanlah hal itu untuk dibahas dimuka. Membanding-bandingkan program unggulannya. Hingga menimbulkan wacana dinamika pro kontra yang tak ada hentinya.  Kalau kala dalam sepak bola indonesia dikenal dualisme komandannya; PSSI vis a vis KPSI, hingga berujung munculnya liga dan timnas ganda. Pada akhirnya berbagai klub perserikatan dan galatama terpecah belah menjadi klon-klon egois tentang idealismenya. 

Drama terakhir hanya menyisahkan Arema FC yang berada di liga gojek traveloka dan Arema Indonesia yang bermain di liga tiga. Melalui legal formil kedua kubu saling tarik ulur meraih simpatisan Aremania yang tak henti-hentinya berkata; bersatulah, buang ego atas nama yayasan dan pembina, kita ini satu wilayah "Arema".!!!.

Ternyata dualisme ganda tak berhenti pada urusan bola yaa !!. Kali ini menjangkit pula pada organisasi massa berbasis agama, di sebuah kota. Ntah apa yang melatar belakangi munculnya perdebatan klasikal yang memunculkan cabang ganda. Hingga efek gejolak terasa pula pada ranting dan badan kecil tak tahu apa-apa. Kronoginya bagaimana ?, Siapa yang bermain dibaliknya ?, Apa sebenarnya yang diminta ?. Siapa yang harus bertanggung jawab atas kejadiannya ?.  Sayangnya tak dapat diterka sampai ke akar-akarnya, karena memang hanya sebatas penikmat opini yang tak sempurna, dari anggota kultural biasa tak terikat struktural dari atasan sana.

Kabarnya usai hari raya akan diadakan tatap muka dua persekuatuan ganda. Melalui  SK katanya pula fasilitasnya adalah badan tertinggi yang berada di Jakarta. Jika memang benar faktanya semoga dapat menghasilkan islah damai nyata yang membawa empat ukhuwah; Islamiyyah, Bashariyyah, Wathoniyyah, dan An Nahdhiyyah.

Daripada sibuk berdebat tentang administrasi organisasi kita. Apalagi jajaran komposisi didalamnya. Atau berebut aset dan dukungan ranting-ranting yang dinaunginya. Toh lebih baik sebaiknya berdiskusi tentang eksistensi nyata adanya organisasi berbasis agama. 

Apalagi negeri tercinta digoncang serangan dari rana mana saja; radikalisme agama, terorisme masa, atau pula korupsi dan narkoba. Mau dibawah ke arah mana organisasi kita ?. Kearah politik praktis pilkada ?, Kearah perekrutan massa ?, Atau Kearah pencitraan mata yang lebih berkutat pada kuantitas menafikan kualitas anggota ?. Semoga hanya angan negatif saja. Dari Insan biasa bukan siapa-siapa. Wallahu a'lam bi showab tentunya. Untuk agama, untuk bangsa, dan untuk organisasi sedarah. Akhir kata, Salam Satu Jiwa..

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.