Kajian Al Hikam KH. Moh. Djamaluddin Ahmad : Hikmah 294 - ( 4 Munajat Ibnu Attoillah: Bagian Pertama)

Romo Kyai Moh. Djamaluddin Ahmad
 ”Semoga Allah menjadikan kesenangan (kegembiraan) dengan kamu sekaian dengan Allah dan dengan ridho dari Allah. Semoga Allah menjadikan kami golongan yang mengerti segaka sesuatu daripada Allah. Dan jangan menjadikan kami dari golongan ghafil (lalai). Dan semoga Allah menjadikan kami dijalalan orang-orang muttaqin dengan karunia dan kemurahan Allah SWT” 
 (Hikmah 294)

*)

Himkah diatas terdapat empat doa dari Syekh Ibnu Attoillah Assyakandari, antara lain:.    
  1. Semoga Allah SWT menjadikan kesenangan kami dengan ridho Allah.
  2. Semoga Allah SWT menjadikan kami golongan yang mengerti segala sesuatu tentang Allah.
  3. Jangan Engkau jadikan kami orang yang ghofil (lalai)
  4. Semoga Allah SWT menjadikan kami dijalan orang yang muttaqin.
Orang yang senang kepada Allah SWT tidak akan mudah terpengaruh sesuatu pun selain pada Allah SWT, adapun senang kepada Allah dapat diwujudkan dalam berbagai aktifitas yang terbilang baik dihadapan Allah, seperti shalat, mengaji, bershodaqoh menyantuni fakir-miskin, dan lain sebagainya. 

Selain itu orang yang senang kepada Allah adalah orang yang derajatnya tinggi, senang kepada Allah bukanlah senang terhadap surga Allah atau bidadari Allah, melainkan juga harus senang kepada para Nabiyullah dan Rasulullah yang dapat diwujudkan dengan memperbanyak washilah / tawassul kepada para utusan Allah SWT.

Apalagi washilah kepada Rasulullah SAW tentulah diharuskan melakukannya mengingat Rasulullah Muhammad SAW merupakan rahmat dari Allah kepada hambanya bahkan rahmat bagi seluruh alam semesta. Maka senang kepada Rasulullah merupakan salah satu cara untuk menyambung hubungan (penghubung) dengan Allah SWT.
Nabi pernah bersabda yang artinya; “ siapa saja yang pergi mencari ilmu maka harus dihubungi dengan berjuang pada Allah SWT”.  Kemudian berkenaan dengan cinta kepada Nabi, dalam hadist lain yang terdapat dalam Shahih Bukhari dijelaskan bahwa paman Nabi yang bernama Abu Lahab; paman yang sangat menentang keras dakwah Nabi, membenci dan menghasut dakwah Nabi hingga namanya diabadikan dalam sebuah nama surat sebagai pelajaran.

Meski sangat membenci Nabi, Abu Lahab pernah gembira dan cinta pada sepupunya; Nabi Muhammad yakni ketika beliau lahir. Alhasil dalam hadist tersebut diceritakan bahwa Abu Lahab diberi bonus oleh Allah SWT berupa nikmat diberhentikan dari siksa kubur setiap hari senin, yang mana senin sendiri adalah hari kelahiran Nabi Muhammad. 
Melalui hadist diatas dapat ambil hikmah bahwa kita dianjurkan untuk memperbanyak mencintai Rasul agar kelak kita mendapat syafaat dari beliau.

banyangkan Abu Lahab yang sangat membenci pada Nabi saja mendapat nikmat berupa dispensasi siksa kubur setiap hari senin karena pernah mencintai Nabi saat beliau lahir, apalagi umat beliau yang memang benar-benar mempunyai perasaan cinta sejati kepada Nabi Muhammad SAW sebagai Rasulullah. 

Adapun salah satu cara pembuktian cinta kita kepada Nabi Muhammad adalah dengan cara memperbanyak membaca shalawat kepada beliau dengan sepenuh hati, baik shalawat nariyah, shalawat burdah, shalawat munjiah, shalawat faitih, dan shalawat lainnya. 

Kemudian selain memperbanyak membaca Shalawat hal lain yang harus dilakukan pula adalah memperbanyak membaca Istighfar disertai penyesalan kepada Allah SWT, mengingat kita selama ini tidak terlepas dari berbagai dosa yang tak ada henti menyerbu jasmani-rohani kita.

Berkenaan dengan Istighfar, Nabi pernah bersabda; “Barangsiapa yang rutin beristighfar maka Allah akan memberinya setiap  susah menjadi gembira, setiap kesulitan menjadi kemudahan, dan akan diberi rizki secara tak terduga”. Kyai Djamal berkata bahwa apabila ada hajat seseorang yang sulit dikabulkan oleh Allah maka harrus mengkombinasikan antara istighfar dan shalawat secara istiqomah.
 
Allah memberi kenikmatan hamba-Nya agar hamba-Nya selalu beribadah pada Allah SWT.

Jika Allah memberikan sebuah balak seperti puting beliung yang merusak maka yang harus dipahami bahwa mungkin bencana tersebut merupakan sebuah teguran dari Allah SWT, atau bisa juga merupakan ujian dan cobaan guna meningkatakan derajat kesabaran hamba tercinta-Nya. 

Berkenaan dengan bencana dari Allah, Kyai Djamal berkata bahwa Nabi Muhammad SAW pernah bersabda yang artinya; “Jagalah dirimu dari fitnah (bencana) atau takutlah kepada bencana alam karena bencana alam tidak hanya menimpa pada orang dholim saja.
 
Kemudian dalam tasawuf dikenal pula istilah Musyahadah yang merupakan penyebutan seseorang muttaqin yang senantiasa melihat dan mengingat Allah SWT sebagai Sang Pencipta, semisal ketika melihat tanaman padi maka yang dilihat adalah kebesaran Allah sebagai Dzat pencipta padi. 

Orang yang berada dalam maqom jam’i (Hijab) masih beum bisa melihat kebesaran Allah, dalam artian terhalang, sementara orang yang telah berada dalam maqom Murroqobah setiap waktu selalu mengingat Allah dan mampu bermusyahadah.

Orang kategori ini mampu menyertai dzat Allah, dalam artian segala tingkah lakunya sesuai dengan dzat Allah karena kedekatannya, sedang orang yang berada dalam maqom hijab hanya sekedar mengetahui sifat Allah saja, belum mampu menyelami lebih dalam guna mencapai kedalaman dzat Allah.
 
Kemudian dikenal pula istilah Muttaqin (Orang yang senantiasa bertaqwa pada Allah), dimana orang muttaqin sendiri terbagi menjadi tiga tingkatan; Pertama; menjaga hatinya agar tidak dimasuki apa-apa kecuali Allah, Kedua; Menjaga dirinya agar tidak bermaksiat, Ketiga; Menjaga dirinya agar tidak melakukan perbuatan syirik.


Kesimpulan Pengajian: Dalam kitab Al Hikam ini (juz 2 hikmah 294) terdapat empat munajat Syekh Ibnu Attoillah; 1) Semoga Allah SWT menjadikan kesenangan kami dengan ridho Allah, 2) Semoga Allah SWT menjadikan kami golongan yang mengerti segala sesuatu  tentang Allah, 3) Jangan Engkau jadikan kami orang yang ghofil (lalai), 4) dan Semoga Allah SWT menjadikan kami dijalan orang yang muttaqin.




*)
Tulisan ini merupakan Resuman Pengajian Al Hikam KH. Moh. Djamaluddin Ahmad yang penulis catat ketika singgah di pesantren beliau

Tanggal : 01 Maret  2010

Tempat  : Bumi Damai Al Muhibbin Tambakberas Jombang
Oleh       : Rizal Nanda Maghfiroh

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.