Kajian Al Hikam : Hikmah 292 - (3 Golongan Versi Ibnu Attoillah)

Maqolah Kyai Djalil Tulungagung






 *)


“Manusia didalam menghadapi nikmat karunia Allah itu terbagi tiga; 
(1) gembira dengan nikmat itu bukan karena yang memberikannya tetapi semata-mata karena kelezatan dan kepuasan hawa nafsu dari nikmat itu, maka ini termasuk orang yang lalai (Ghafil). Orang ini sesuai dengan Firman Allah SWT; Sehingga bila mereka telah puas gembira dengan apa yang mereka berikan itu, (maka) kami tangkap mereka dengan (siksa) tiba-tiba. 
(2) Seorang yang gembira dengan nikmat karena merasa bahwa itu karunia yang diberikan Allah SWT bertanya, ini sesuai dengan firman Allah; katakanlah: karena merasan mendapat karunia dan rahmat Allah, maka dengan itulah mereka harus gembira, yang demikian itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan. 
(3) orang yang hanya gembira dengan Allah, tidak terpengaruh dengan kelezatan lahirnya nikmat, dan tidak karena karunia Allah, sebab dia sibuk memperhatikan Allah sehingga terhibur  dari segala lain-Nya, maka tidak ada yang terlihat padanya kecuali Allah, ini sesuai dengan Firman Allah; Katakanlah; hanya Allah, kemudian biarkan mereka dalam kesibukan mereka berkecimpung (bermain-main) "
 

(Hikmah 292)

Hikmah ini kembali menjelaskan tentang macam-macam cara menanggapi seseorang tentang nikmat yang didapatnya dari Allah SWT, yang mana Ibnu Attoillah kembali membaginya menjadi tiga kelompok.


Pertama, Menanggapinya dengan gembira terhadap nikmat tersebut bukan karena yang memberikannya (Allah), tetapi karena kelezatan nikmat tersebut.

Golongan pertama ini sepertihalnya seseorang yang bernama Qorun, dimana awalnya ia merupakan orang miskin, kemudian mendapat nikmat berlimpah dari Allah atas doa Nabi Musa As sehingga ia menjadi orang kaya raya berlimpah harta.

Disisi lain nikmat yang didapatnya tak dianggap sebagai karunia Allah melainkan ia tenggelam dalam kelezatan nikmat tersebut. Al hasil Allah pun mengadzab Qarun dengan menenggelamkan dirinya beserta hartanya ke dalam tanah hanya dalam semalam.

Kedua, Menanggapinya dengan senang dan bersyukur karena diperlihatkan sifat Ar Rohman Allah. 

Ketiga, Menanggapinya denga rasa dekat / senang kepada Sang Pemberi nikmat (Allah) bukan karena nikmat yang didapat.

Imam Al Ghozali memetaforakan ketiga hal tersebut dengan metafora; ada seorang rakyat lalu diberi kuda oleh seorang raja, tentu ada yang menanggapinya dengan perilaku lupa kepada pihak pemberi (raja) karena terlena dengan kelezatan pemberian. Ada yang menanggapinya dengan rasa senang karena merasa diperhatikan oleh raja. Ada pula yang justru merasa senang terhadap yang member (raja) bukan karena barang pemberiannya.

Kesimpulan Pengajian: Setiap waktu kita selalu mendapat nikmat dari Allah SWT, adapun tanggapan seseorang terhadap pemberian nikmat Allah tersebut terbagi menjadi 3 macam; 1) Ditanggapi semata-mata karena kelezatan hawa nafsu, 2) Ditanggapi dengan rasa senang karena merasa diperhatikan oleh Allah SWT, 3) Ditanggapi dengan senang semata-mata kepada Sang Pemberi nikmat tersebut (Allah SWT)



*)
Tulisan ini merupakan Resuman Pengajian Al Hikam KH. Moh. Djamaluddin Ahmad yang penulis catat ketika singgah di pesantren beliau

Tanggal : 15 Februari 2010

Tempat  : Bumi Damai Al Muhibbin Tambakberas Jombang
Oleh       : Rizal Nanda Maghfiroh




Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.