Kajian Al Hikam: Empat Musuh Manusia

Gerbang Belakang Al Muhibbin Tempo Doeloe
“ Penjelasan KH. Moh. Djamaluddin Ahmad Tentang Hikmah Sebelumnya Terkait Maqom Seseorang” 

(Penjelasan Lanjutan Hikmah 290)
 *)

 Allah SWT memberi ujian hamba-hamba-Nya Adakalanya  untuk mengangkat derajat hamba-Nya asalkan dapat menjalankannya dengan sabar dan penuh kerelaan seperti halnya yang menimpa Siti Aisyah dimana beliau mendapat ujian berupa fitnah perzinaan dengan Suffan. Terkait dengan tidak maunya Siti Asiyah berterima kasih kepada Rasulullah diakhir cerita dikarenakan saat itu Aisyah telah memasuki derajat Maqom Jam’i / Maqom Fana’,  dimana pandangan Asiyah hanya tertuju kepada Allah SWT jadi tidak mengherankan kalau Siti Aisyah tidak mau mengucapkan terima kasih kepada Rasulullah ketika diminta oleh ibunya.  Orang yang memasuki Maqom Jam’i / Fana’ ada kalanya sebentar saja, tidak berlama-lama sepertihalnya yang menimpa pada Siti Aisyah. Setelah keluar dari maqom tersebut maka Siti Aisyah akan memasuki Maqom Baqo’, maqom kesempurnaan yang mampu menggabungkan nilai keilahian dengan kemahlukan. Akan tetapi ada pula seseorang yang berlama-lama berada dalam maqom jam’i / fana’ sehingga seeorang tersebut seakan terlihat abnormal dalam kaca mata manusia pada umumnya, orang jenis ini dalam ilmu tasawuf disebut Jadzab atau madjub.
Kemudian agar derajat seorang hamba diangkat oleh Allah SWT maka harus harus mampu melawan empat musuh utama seorang manusia. Syekh Abu Laish berkata bahwa seseorang harus memusuhi empat hal secara terus-menerus, empat hal tersebut yaitu: Pertama, yakni  Pengaruh Dunia dimana Syekh Abu Laish menyebut bahwa dunia tidak punya faedah apa pun jika digunakan tidak pada jalan menuju Allah SWT. Adakalanya dunia dapat berupa harta, tahta (jabatan), atau bahkan wanita (non sholihah). Kedua, yaitu Nafsu dimana merupakan musuh yang cukup berat. Adapun nafsu yang paling sulit dikalahan adalah nafsu amarah yang senantiasa mengajak kearah keburukan. Ketiga, Syetan yang tidak terlihat (Syetan Haqiqi), musuh jenis ini merupakan musuh yang sangat berbahaya dikarenakan syetan senantiasa pantang menyerah menjerumuskan manusia ke jalan kesesatan melalui berbagai trik-trk dan tipu muslihat. Keempat, Syetan yang terlihat (Manusia Sesat), setiap manusia yang mengajak kearah kesesatan tiada beda dengan perilaku syetan haqiqi yang juga menyesatkan. Akan tetapi dalam memusuhi syetan jenis tidak boleh memusuhi lahiriah atau orangnya melainkan sifat atau perilakunya.
KH. Moh. Djamaluddin Ahmad menyebut bahwa dari keempat musuh sebagaimana diatas Nafsulah yang paling sulit untuk dikalahkan, oleh karena itulah beliau berpesan untuk senantiasa pantang menyerah memusuhi nafsu dimana tempatnya. Memusuhi dalam konteks ini yakni menaklukan sisi negatif nafsu dan melatihnya kearah yang positif bukan serta merta memangkas habis sebuah nafsu, karena dalam beberapa kondisi tertentu sebuah nafsu terkadang justru dibutuhkan seperti ketika agama Islam dilecehkan oleh seseorang secara terang-terangan dan dengan niatan melecehkan sepenuhnya maka nafsu amarah justry dibutuhkan. Adapun untuk menaklukkan sebuah nafsu dibutuhkan sebuah senjata, Kyai Djamal menyebut bahwa senjata tersebut adalah Ingat kematian.

Dalam suatu hadist yang sanadnya berasal dari Sayyidah Aisyah, bahwasahnya aku (Aisyah) pernah bertanya kepada Rasulullah; “Ya Rasul, adakah orang yang bukan mati syahid tetapi di akhirat kelak dapat berkumpul dengan para syahiddin”, Nabi menjawab; “Ada, yaitu orang yang tiap harinya selalu memusuhi nafsu tanpa henti, cukup dengan mengingat kematian pada sehari-semalam”. Dalam sebuah hadist lain nabi pernah bersabda bahwa hati itu bisa berkarat seperti besi karena kotoran (maksiat), dan apabila demikan maka akan sulit untuk melakukan amal kebaikan. Kemudian seorang sahabat bertanya; “Ya Rasul, jika hati berkarat cara dengan cara apa membersihkannya? ”, Nabi menjawab “Dapat dibersihkan dengan dua cara, pertama sering-seringlah membaca Al-Qur’an, dan Kedua ingatlah kematian”.
Selain itu Sayyidina Umar Bin Khattab juga berkata; “ Kita hidup di dunia ini laksana seperti menaiki sebuah perahu, dimana saat kita berada ditengah-tengah laut maka kita akan sulit untuk memandang segala sesuatu, kita akan tidak merasakan bahwa perahu tersebut berjalan karena kita akan menduga bahwa perahu tersebut berhenti padahal zaman terus berjalan tanpa henti.
Al Hikayat : (Syekh Junaid Al Baghdadi dan Penghuni Alam Malakut)

Diceritakan oleh Kyai Djamaluddin terkait peristiwa yang menimpa Syekh Junaid, dalam sebuah riwayat Syekh Junaid bercerita; Saat aku akan berangkat pergi haji, aku mendengar suara syair dari seseorang yang berisi curahan hati yang sesorang yang susah. Aku pun mencari darimana sumber datangnya suara tersebut, ternyata suara tersebut datang dari seorang pemuda yang wajahya bersinar terang. Tiba-tiba pemuda tersebut berkata kepadaku “Marhaban Ya Abu Qosim” (Abu Qosim Disini adalah gelar yang diterima Syekh Junaid). Lantas aku pun heran mengapa pemuda tersebut mengetahui namaku sedang sebelumnya aku belum pernah sama sekali bertemu dengan pemuda tersebut. “Wahai Pemuda darimana engkau tahu namaku ?” tanyaku pada sang pemuda. “Aku tahu nama engkau sejak aku bertemu engkau saat berada di alam malakut”. Jawab sang pemuda.

Kemudian pemuda tersebut kembali berkata “Ya Junaid, jika aku wafat tolong mandikanlah diriku dan setelah itu bawalah aku ke puncak gunung lalu berteriaklah; Assholatu ‘ala Ghorib Yarkhamukumullah, apabila engkau usai haji dan melewati jalan zafaran di Baghdad tolong carikanlah ibuku dan salamkan salamku padanya”. Anehnya usai berwasiat, pemuda tersebut meninggal dunia. Maka aku (Syekh Junaid) pun segera melaksanakan wasiat pemdua tersebut. Saat aku berkata Assholatu ‘ala Ghorib Yarkhamukumullah diatas puncak gunung sebagaimana wasiat si pemuda, tiba-tiba datang segerombolan jama’ah dari penjuru dunia, aku pun mennsholati jenazah pemuda tersebut bersama para jama’ah yang datang.

Ketika aku usai melaksanakan haji maka aku pun segera pergi ke Baghdad mencari jalan Zafaoron. Tiba-tiba datang seorang anak kecil menghampiriku dan mengucapkan salam padaku. Aku pun heran dengan kejadian tersebut, kemudian aku diajak anak kecil tersebut ke rumahnya. Dalam rumah tersebut terdapat seorang orang tua yang dari wajahnya terlihat jelas bahwa orang tua tersebut adalah ahli ibadah. Tiba-tiba orang tua tersebut bertanya padaku; “Wahai Junaid, anak saya wafat di daerah mana ?”. Aku pun segera menceritakan kejadian yang telah kualami mulai dari kejadian pertemuanku dengan si pemuda hingga tatkala mensholati bersama rombongan di puncak gunung. Mendengar ceritaku, orang tua tersebut berkata; “Wahai Anakku, mengapa engkau wafat disana, mengapa engkau tidak wafat disampingku ?”. Orang tua tersebut menjerit keumudian wafat. Sementara itu si anak tiba-tiba menghadap langit dan berkata; “Ya Robbi, mengapa Engkau ambil nyawa Ayah dan kakekku, sekarang aku mohon pada-Mu tolong ambilah nyawaku”. Anehnya setelah anak laki-laki tersebut berkata, ia pun ikut menyusul ayahnya dan kakeknya ke pangkuan Allah SWT. Syekh Junaid pun memohonkan kepada Allah SWT agar ketiganya diampuni oleh Allah SWT.

Kyai Djamaluddin menyimpulkan bahwa pemuda, orang tua, dan si anak yang dijumpai oleh Syekh Junaid merupakan salah satu hamba pilihan Allah SWT (Waliyullah). Dibuktikan dengan kejadian pertemuan dengan syekh Junaid tatkala berada di Alam Malakut (Alam Sebelum penciptaan di dunia), dan mudahnya dikabulkan doa tatkala memohon pada Allah SWT semakin menguatkan bahwa ketiganya merupakan hamba pilihan.

Kesimpulan Pengajian:

Kita hidup di dunia ini dihadapkan dengan empat musuh utama; dunia, nafsu, syetan asli, dan syetan berwujud manusia. Dari keempat musuh tersebut nafsulah yang paling sulit untuk dikalahkan, maka untuk mengalahkannya perlu sebuah senjata yaitu mengingat kematian. Adapun mengingat kematian akan membuat seseorang diangkat derajat oleh Allah SWT. 




*)
Tulisan ini merupakan Resuman Pengajian Al Hikam KH. Moh. Djamaluddin Ahmad yang penulis catat ketika singgah di pesantren beliau

Tanggal : 14 Januari 2010

Tempat  : Bumi Damai Al Muhibbin Tambakberas Jombang
Oleh       : Rizal Nanda Maghfiroh
 

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.