Kajian Al Hikam: Seputar Ba'iat Thariqah

Haul Pondok Pesulukan Thoriqoh Agung (PETA) Tulungagung


“ Pembahasan Tentang Bai’at Dalam Thariqoh” 
(Kyai Djamaluddin)

*)

Orang yang telah diba’iat oleh seorang Mursyid dalam sebuah thoriqoh harus melakukan beberapa hal:

1.    Tarbiyyah (mendidik).

Dalam proses ini harus terkandung syarat antara lain; Pertama  harus mempunyai niatan untuk mencari ilmu, Kedua, harus mampu memberikan motivasi / dorongan kearah kebajikan, Ketiga harus mampu memberikan percontohan.

2.    Memperbanyak Wirid
Memperbanyak wirid dalam menjalani ba’iat itu banyak sekali tergantung maklumat seorang Mursyid yang diikuti, bisa berupa wirid dalam sholat lail, wirid dalam membaca Al-Qur’an, wirid usai shalat fardhiyyah, dan lain sebagainya. Adapun kesemuanya harus dilakukan secara istiqomah terus menerus.

3.    Thariqoh (Melayani Masyarakat)
Orang yang telah berba’iat itu harus melayani masyarakat dengan cara yang baik. Contoh dari Thariqoh adalah semisal ketika di pesantren melayani kyainya secara baik.Ketiga hal diatas tidak akan dapat dicari (dilakukan) kecuali menggunakan Guru Mursyid Thariqoh.

Kemudian tatkala menjalani Ba’iat Kyai Djamaluddin berpesan agar jangan pernah berniat untuk menjadi orang yang sakti (dukun), tetapi mintahlah iman. Sejalan pula dengan qoul Ibnu Atto’illah As Syakandarri; “Keinginanmu menghilangkan cacat yang terpendam dalam hati itu lebih baik daripada keinginanmu untuk mengetahui hal-hal yang ghaib”. Adapun Kyai Djamal mentafsirkan bahwa cacat yang terpendam dalam hati diantaranya seperti sifat riya’, sifat takabur, sifat ujub, dan lain sebagainya. Selain itu Kyai Djamal juga berkata bahwa; ada delapan sifat yang bisa membuat amal sulit untuk diterima, kedelapan sifat tersebut antara lain; sifat riya, ujub, hasud, khirsu (rakus), ghibah, namimah, takabur, dendam. Kedelapan hal tersebut amat sulit untuk dihilangkan kecuali menggunakan bantuan dari seorang guru mursyid.

Mencari Guru Mursyid

Mencari guru mursyid itu amat sulit untuk dicari, dikarenakan tidak semua orang mempunyai criteria dari persyaratan menjadi guru mursyid. Adakalanya terdapat sekelompok orang yang justru mengaku menjadi mursyid untuk mendapatkan seorang pengkitut yang banyak sehingga memasyhurkan namanya. Oleh karena itulah Kyai Djamaluddin (Murid Thoriqoh Syadhiliyyah Almaghfurullah Kyai Abdul Djalil Mustaqim Tulungagung) memaparkan bahwa ada sepuluh syarat kriteria seorang guru mursyid, yakni;
  1. Sholeh, dalam artian mampu memenuhi hak-hak Allah dan hak-hak sesama masyarakat.
  2. Nasihun, artinya mampu berperilaku baik dan terpuji. 
  3. Mursyiddin, adalah orang yang mencari ilmu- member motivasi kepada seseorang – dan dapat mencontohkan perilakunya kepada seseorang. 
  4. Arifun bi syari’ah, adalah orang yang mengerti ilmu-ilmu syari’ah yang secara umum memuat tiga hal; Fiqh, Tauhid, dan Tasawuf. Berkenaan dengan bagaimana cara agar seseorag mengerti sebuah syari’at, Kyai Djamaluddin menyebut ada dua jalan mendapati pemahaman syari’at, Pertama; Bi Kasdi wa Ta’lim (Dengan cara berusaha dan belajar), Kedua; Bi wahbi wa ilham (Pemberian langsung dari Allah SWT).
  5.  Salikun li thariqoh, adalah pernah menjalani thariqoh (melayani masyarakat)
  6. Dzaiqun Lil Haqiqah, yaitu pernah merasakan hakikat. Maksudnya adalah pernah melihat hal-hal ghaib secara keseluruahan, yang mana ghaib sendiri dibagi menjadi dua; Pertama; Ghaib Shuari; Ghaib terkait makluq Allah SWT seperti mengerti tentang pikiran / perasaan hati seseorang. Kedua, Ghaib Ma’nawi; Ghaib tentang sifat-sifat Allah SWT, maksudnya yaitu mampu melihat dan merasakan asma Allah SWT serta sifat Allah SWT. Ghaib Ma’nawi ini adalah ghaib yang diinginkan orang yang ahli thariqot.
  7. Kamilul Aqdi, maksudnya yaitu sempurna akalnya.
  8. Wasi’us Shadri, yaitu hatinya luas, daam artian daya pemaaf dan rasa belas kasihannya luas.
  9. Ta’arifun lin nas, yaitu mengerti berbagai tingkatan maqom pada manusia.
  10. Mumayyizun, maksudnya yaitu mampu membedakan sesuatu, semisal antara insting, watak, halq, dan lain sebagainya.
Kembali ke Ba’iat, ada wasiat dari Syekh Abdurrohman As Syuhada’ teruntuk pada orang yang menjalani ba’iat, beliau berpesan bahwa orang yang berba’iat harus banyak-banyak membaca Al-Qur’an dan Kitab Dalailul Khairat (yang telah diijazahkan oleh Mursyid).

Al Hikayat (Waliyullah Menangis)

Diceritakan Kyai Djamaluddin bahwa dulu ada seseorang sufi bernama Kahmas yang selalu menangis selama 90 tahun, ada apa gerangan ?. Ternyata karena suatu saat sufi tersebut didatangi oleh saudara beliau, kemudian sufi tersebut memberikan saudaranya berupa hidangan ikan laut. Dikarenakan ikan laut itu mengandung minyak, lalu sufi bernama Kahmas tersebut mengusapkan tangannya yang terkena minyak pada tanah milik tetangganyya (tanpa izin). Pada saat berniat memminta izin dan keridhoan kepada tetangganya atas perbuatannya yang tanpa izin mengusapkan tangannya ke tanah milik si tetangga, sufi bernama Kahmas tersebut mendapati tetangganya tesebut sudah meninggal dunia. Maka ia pun sangat bersedih dan menangis tiada henti hingga selama 90 tahun

Kesimpulan Pengajian

Hikayat diatas berkesimpulan bahwa orang yang memiiki derajat sufi tentu akan berusaha menghindari barang-barang subhat, bahkan sekecil pun sepertihalnya perbuatan sufi Kahmas yang tanpa izin mengusapkan tangan kotornya pada tanah tetangganya. Sifat seperti inilah yang harus diperhatikan oleh seseorang yang mencari guru mursyid, dimana seorang mursyid tentulah mempunyai perilaku anti subhat yang tinggi.



*)
Tulisan ini merupakan Resuman Pengajian Al Hikam KH. Moh. Djamaluddin Ahmad yang penulis catat ketika singgah di pesantren beliau

Tanggal : 28 Januari 2010

Tempat  : Bumi Damai Al Muhibbin Tambakberas Jombang
Oleh       : Rizal Nanda Maghfiroh
 


Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.