Jas Merah HIMMABA

Jas Merah HIMMABA
Konferensi Komisariat 2013

 *)

Istilah “Jas merah” disini bukan bermakna tersurat yang berarti HIMMABA mempunyai sebuah jas berwarnah merah, mengingat nyatanya warna kebersaran HIMMABA bukanlah warnah merah melainkan biru muda atau biru laut. Jas merah dalam pembahasan disini merupakan sebuah akronim (singkatan) dari perkataan Soekarno sang proklamator bangsa Indonesia, “Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah” itulah penggalan kata dibalik istilah “Jas Merah”. Perkataan Bung Karno tersebut tentulah menimbulkan sebuah tanda tanya besar, apa pentingnya sebuah sejarah ?”, “mengapa harus memahami suatu sejarah?”.

Tak dapat dipungkiri bahwa sebagian kalangan tentu terkadang menganggap bahwa sebuah sejarah merupakan hal yang tak begitu penting dan memahami sejarah dianggap membosankan, memahami sejarah laksana sebuah dongeng sebelum tidur sebagai pengantar hingga terlelap dalam kenyamanan. Faktanya dapat kita lihat pada beberapa museum-musem yang bernuansa sejarah disekitar kita, yang mana mayoritas musem-museum tersebut bagai sebuah gudang penyimpanan barang-barang kuno. Di Malang Raya misalnya, beberapa museum modern seperti Museum Angkut dan Museum Tubuh di Kota Batu yang lebih condong mengarah ke life style justru lebih sering dinikmati oleh kalangan masyarakat, adapun museum yang statusnya bernuansa sejarah justru semakin tenggelam. Alih-alih menjadi pusat informasi dan pemahaman sejarah perjuangan Malang Raya, Museum Brawijaya yang berada di Jalan Ijen justru lebih sering digunakan sebagai ajang life style dengan berbagai kedai dan warung yang tak jarang dipakai kaum muda-mudi untuk bermain hati. Museum Brawijaya lebih beruntung daripada musem Mpu Purwa yang berada di daerah Jalan Soekarno-Hatta, musem bernuansa sejarah kerajaan Kanjuruhan yang merupakan Kerajaan tertua di Jawa Timur tersebut semakin sepi akan kunjungan masyarakat, meskipun diseberang gang masuk menuju museum tersebut sudah dipasang papan nama namun justru tak jarang dari beberapa masyarakat sekitar yang tak mengerti tentang keberadaan museum yang menyimpan Prasasti Dinoyo tersebut.

Padahal jika dikaji secara mendalam terkait keilmuan sejarah khususnya perkataan “Jas Merah” Bung Karno tersimpan makna yang mendalam dan tinggi. “Jangan Sekali-Kali Melupakan Sejarah”, perkataan tersebut mengisyaratkan pada generasi penerus termasuk kita semua agar tidak melupakan jati diri sendiri, dari mana kita berasal dan untuk apa kita hidup berjuang. Hal tersebut tentulah memilki urgensitas tinggi tentang pemahaman eksistensi keberadaan suatu hal, mengingat keberadaan suatu hal di dunia tentu bermula dari ketiadaan yang pada akhirnya memunculkan sebuah proses panjang untuk mencapai keberadaan suatu hal tersebut.  Disinilah letak kevitalan pemahaman suatu sejarah, sejarah laksana sebuah cabang pohon yang jika dapat diambil segi positifnya tentu akan memunculkan suatu buah (tsamrah) yang dapat mengarahkan menuju kemanfaatan akan suatu hikmah demi lil maslahatul ‘amah.

Urgensitas sebuah sejarah dalam setiap ruang lingkup kehidupan tentulah berlaku pula bagi HIMMABA (Himpunan Mahasiswa Malang Alumni Bahrul ‘Ulum), sebuah organisasi alumni pondok pesantren yang sedang dalam beproses menuju kedewasaan. Istilah “Jas Merah HIMMABA” yang dipaparkan diawal bukan mengandung arti sebuah perintah untuk tidak melupakan sejarah HIMMABA sebagai bentuk penghormatan jasa-jasa pengabdian pejuang HIMMABA tempo dulu, karena sebuah perjuangan dan pengabdian yang sejati tidaklah membutuhkan penghormatan atau pun sebuah pengakuan. Akan tetapi istilah “Jas Merah HIMMABA” disini mengandung isyarat sebuah intropeksi bersama khususnya bagi anggota HIMMABA sendiri, mengingat proses intropeksi tentulah harus merujuk pada kejadian atau pengalaman terdahulu yang diambil hikmah dan nilai guna dibalik kejadian tersebut. Sejarah laksana sebuah pisau yang dapat bermanfaat jika digunakan dengan baik, merugikan jika dibuat menyimpang, atau tergeletak berkarat tak terpakai. 

Bagi HIMMABA pemahaman tentang sejarah organisasi merupakan hal yang wajib dipahami oleh setiap stekholder organisasi, suatu anggota dikatakan memahami organisasi secara sempurna selain faktor kontribusi nyata di organisasi dan memahami aturan main (AD-ART), juga harus paham tentang sejarah organisasi sebagai sarana memahami jati diri sebuah organisasi yang diikutinya. Selain berperan sebagai referensi langkah kecil menuju perubahan besar, sejarah juga dapat diposisikan sebagai motivator dan pemompa semangat meraih tujuan kedepan, sebagaimana yang ditujukkan oleh bangsa Jepang yang mempunyai semangat tinggi dalam berproses meskipun beberapa tahun kemarin negara tersebut hancur luluh karena tsunaminamun bangsa tersebut mampu bangkit hingga tetap menjadi salah satu ‘Macan Asia”.

Dalam memahami jati diri HIMMABA tentu harus memahami dan mengerti tentang apa sebenarnya maksud dibalik pendirian organisasi tersebut, sehingga untuk memahami HIMMABA secara komprehensif satu-satunya jalan adalah mempelajari sejarah pengembangan HIMMABA itu sendiri, bukan hanya sekedar faham terkait latar belakang pendiriannya saja melainkan juga harus faham secara utuh dan menyeluruh terkait pengembangan-pengembangan HIMMABA dalam tiap kurun waktu. Hal ini karena keadaan yang dihadapi sekarang tentulah tidak lepas dari kejadian atau peristiwa yang terjadi sebelum-sebelumnya. Memahami sejarah pengembangan HIMMABA laksana sebuah sanat dalam ilmu Hadist yang diperoleh dari seseorang, dimana kehadiran pihak pada masa sebelumnya hingga pihak diatasnya lagi menjadi jalan untuk terhubung Sekaligus tetap sambung dengan Rasulullah Muhammad SAW sebagai penyambung utama Ukhuwah Billah.

*)
  • Ditulis oleh: Rizal Nanda Maghfiroh, Tulisan ini merupakan pengantar dari bagian pertama pendahuluan E-Book Antologi HIMMABA yang kami susun teruntuk dulur HIMMABA

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.