Sebuah Pengantar Awal Nasionalisme

Anak-anak Papua

Dinisbatkan pada kata Nation (Inggris) yang berarti Negara atau bangsa, kemudian istilah tersebut terserap dalam Bahasa Indonesia hingga memunculkan istilah nasional. Adapun menurut KBBI (Kamus Besar bahasa Indonesia), nasional merupakan sebuah faham yang menjunjung tinggi nilai kebangsaan dan kenegaraan.

Dalam perkembangannya muncul beberapa pemahaman berbeda dari beberapa kalangan dalam menyikapi istilah ‘Nasionalis”. Diantaranya sepertihalnya Musthofa Kemal Pasha yang dikenal sebagai pembaharu turki melalui gagasannya merubah sistem khilafah daulah turki ustmaniyyah hingga menjadi negara sekuler yang menafikan sistem kenegaraan dari unsur-unsur keagamaan, dengan kata lain Kemal Pasha menganggap bahwa budaya nasional dan kebangsaan turki harus di nomor satukan daripada budaya keagamaan untuk membangkitkan semangat masyarakat turki untuk bangkit dari keterpurukan pada masa akhir kekuasaan Daulah Utsmaniyyah.

Adapun nasionalis yang diperlihatkan di Indonesia sangat jauh berbeda dengan nasionalis ala Musthofa Kemal Pasha yang dikenal cenderung liberalis dan sekuler. Salah satu perbedaannya terletak pada esensi nasional kedua negara, dimana nilai nasional bangsa Indonesia lebih elastis dan flexsibel daripada nasional yang diperlihatkan Kemal Pasha. Dalam hal ini nasionalisme di Indonesia lebih bernuansa “Bhineka Tunggal Ika”, bagaimana mengikat perbedaan-perbedaan yang menjadi realita kehidupan menjadi sebuah kesatuan utuh yang dapat mengikat sebuah persatuan untuk hidup bersama. 


Sangat berbeda dengan gagasan nasionalis Kemal Pasha yang terkesan memaksakan budaya kebangsaan dan kenegaraan dengan mengabaikan budaya dan kearifan lokal, padahal sebelumnya turki sangat kental dengan nuansa Islam mengingat sebelumnya pemerintahan dikuasai oleh Dinasti Utsmaniyyah. Namun Kemal Pasha justru mematikan berbagai budaya lokal termasuk budaya agama untuk dilebur kedalam budaya kenegaraan dan kebangsaan, alhasil budaya keagamaan menjadi nomor dua bagi negara turki.

Salah satu bukti bahwa nasionalisme di Indonesia tidaklah bersifat sekuler (meniadakan unsur budaya keagamaan) tampak pada azas Pancasila yang menjadi azas tunggal bangsa Indonesia, dimana nilai ketuhanan didaulat sebagai sila pertama Pancasila yang menghayati keempat nilai setelahnya. Meskipun beberapa tokoh islam bangsa Indonesia mempertanyakan eksistensi sila pertama tersebut usai dihilangkannya tujuh buah kata “Kewajiban menjalankan syari’at islam bagi para pemeluknya” dengan merevisi menjadi “ketuhanan Yang Maha Esa, meski terdapat nuansa politik keputusan tersebut juga dilatar belakangi untuk tetap menjaga persatuan bangsa Indonesia, dimana islam bukan hanya satus-satunya agama di negara Indonesia.

Namun dalam prakteknya perdebatan tersebut bukanlah menjadi alasan para ‘ulama Indonesia untuk merubah pandangannya tentang semangat nasionalisme. Hal ini tampak pada tindakan para ‘ulama Indonesia yang tetap ngotot mengobarkan semangat bela negara, diantaranya seperti; Almaghfurullah Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari yang mempelopori terwujudnya “resolusi jihad” hingga terwujud gerakan 10 November 1945, Almaghfurullah KH. Abdul Wahab Hasbullah melalui lirik lagu “Ya Lal Wathon” yang bertujuan mengobarkan semangat cinta tanah air pada bangsa Indonesia khususnya warga nahdliyyin, hingga Almaghfurullah KH. Abdurrohman Wahid (Gusdur) yang rela menerima amanat sebagai presiden Republik Indonesia keempat. Selain itu diterimanya Pancasila sebagai salah satu asaz organisasi masyarakat (ORMAS) bernuansa Islam seperti “Nahdlatul ‘Ulama” dan “Muhamadiyyah” semakin menjadi bukti konkret bahwa nasionalisme di Indonesia tidaklah berseberangan dengan nilai agama Islam. 


Oleh: Rizal Nanda Maghfiroh  (Ditulis pula dalam Antologi HIMMABA)


Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.