HIMMABA: Ghibahisasi dan Bertahan Diri

Konferensi HIMMABA Komisariat UIN Maliki Malang 2013

Berbincang tentang HIMMABA tak akan menjadi kebosanan bagi kalangan yang pernah terlibat bergerak didalamnya untuk berdialek  rangkaian cerita tentang estetika yang dialaminya. Sepertihalya ungkapan kolega seperjuangan Iwan Ihyak saat ngabdi di HIMMABA, saat itu ia menuturkan kata lepas berjudul HIMMABA, Antara kebosanan dan Nostalgia. (Baca)

Terakhir pula kembali berbincang ria dengan tetua utama HIMMABA UIN Maliki 2013 sedulur “mewa” berghibah tentang HIMMABA. Memang ghibah merupakan hal yang tercela di mata agama karena ghibah kerap mengarah pada upaya menjatuhkan harkat martabat sesama manusia dan belum tentu pula akan kebenarannya.

Namun bagi setiap organisasi dalam hal ini termasuk HIMMABA pula, sebuah fenomena Ghibahisasi merupakan hal yang memiliki urgensitas tersendiri. Dengan catatan bahwa objek yang dijadikan sasaran perbincangan adalah plus-minus organisasi itu sendiri, baik kepengurusan, pelaksanaan anturan main, peran keanggotaan, efektifitas program kerja, atau pernak-pernik lainnya berkenaan tentang stekholeder organisasi.

Selagi ghibahisasi tersebut tidak melenceng dari tujuan awal dari ghibah itu sendiri, yang tiada lain bertujuan untuk memperbaiki sebuah kesalahan dan melengkapi sebuah kekurangan alias intropeksi diri dalam internal organisasi.

Bukan malah menimbulkan prahara rumah tangga organisasi hingga menimbulkan keretakan elemen stekholder organisasi itu sendiri. Dimana berpotensi pula menyebabkan sebuah klimaks munculnya mosi tidak percaya pada sesama kolega sedulur seperjuangan di HIMMABA yang dampak negatifnya merusak persatuan perseduluran HIMMABA itu sendiri.

Berkenaan dengan ghibahisasi, hal lain yang menarik dari fenomena ghibahisasi berkenaan dengan organiasasi adalah tentang bagaimana organisasi itu memang benar-benar tetap menunjukkan taji eksistensinya.

Bukankah adanya para Haters yang bermaksud menghujat sebuah hal adalah pertanda bahwa memang sebuah hal tersebut memang layak untuk diperbincangkan, diperdebatkan, dikritik, atau bahkan dicekoki hal-hal negatif untuk menjatuhkan keeksistensian sebuah organisasi ?.

Hal ini berlaku juga bagi organisasi HIMMABA pula, adanya fenomena Ghibahisasi terhadap HIMMABA oleh para pihak internal atau eksternal organisasi, baik kepengurusan atau pun keanggotaan, baik yang bermaksud mencari solusi atau pun yang malah bermakud memaki, kesemuanya merupakan pertanda bahwa HIMMABA memang masih dianggap layak untuk dijadikan Trending Topic untuk dibincangkan eksisetnsinya.

Sebaliknya jika di HIMMABA tak ada lagi upaya pengadaan Ghibahisasi organisasi, bahkan di warung-warung kopi sekalipun merupakan sebuah pertanda bahwa organisasi tersebut memanglah mati. Tak berisi akan taji eksistensi. Tak ada “faktor x “yang layak untuk dibincangkan baik kelemahan atau pun kelebihan.

Paparan ini sebenarnya merupakan hasil ghibahisasi kecil dengan dua aktifis HIMMABA (Sedulur mewa dan Gingsul) beberapa bulan lalu katika mampir sejenak di kedai Kidjang Coffee belakang UIN Maliki.

Ghibahisasi inilah yang membuat HIMMABA terus mampu eksis ditengah gelombang perkembangan pergerakan aktivis mahaiswa Malang Raya yang senantiasa dinamis antar waktu. 

Kemudian berkaitan dengan HIMMABA, hal menarik lainnya yang didapat dari perbincangan kolega mewa adalah bahwa di HIMMABA diajarkan untuk memiliki sebuah kompetensi khusus utuk bertahan hidup (Survival)  di tengah ruang masyarakat sosial kelak. karena memang di HIMMABA diajarkan untuk terbiasa menjadi pribadi survival yang mampu menyesuikan diri dengan sebuah lingkungan baru secara lentur dan flexsibel.

Hal ini karena tipologi berproses di HIMMABA seakan seperti Blueprint berproses di ruang masyarakat yang serba kompleks akan fenomena sosial, baik watak karakter tiap angkatan, ghibahisasi para senior, hingga kerelaan untuk tetap berjuang “ngabdi” meski tersakiti oleh keadaan.

Bagi yang mampu bertahan (Survival) inilah yang sedikit banyak mempunyai sebuah kompetensi khusus yang tentu sangat dibutuhkan dalam berproses di masyarakat kelak, dalam hal ini kemampuan untuk bertahan hidup (Survival).

-------
Sambeng - Lamongan (16 September 2017)

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.