Dari Santri Untuk NKRI ( BAGIAN I )


Sebenarnya tulisan lepas kali ini tergolong telat untuk diutarakan secara bebas dalam retorika geliat Hari Santri Nasional 2017, karena memang formalitas perayaan Hari Santri Nasional 2017 telah usai kemarin tepat pada tanggal 22 Oktober 2017. Namun daripada sama sekali tak berkontribusi dialeka dalam membincang geliat hari besar tersebut tentulah lebih baik sedikit beropini daripada tidak sama sekali. Pertama sebelum mengawali perbincangan lebih jauh tentang fenomena Hari Santri Nasional edisi 2017 yang kali ini bertemakan “Santri Mandiri, NKRI hebat” tentulah kembali perlu disoroti akan sebuah review adalah tentang istilah “Santri” itu sendiri. 

Generalisasi Makna Santri

Memang sebelum adanya gagasan formalisasi hari santri, istilah santri memang kerap kali diartikan secara spesifik dengan sudut pandang dinisbatkan pada pesantren-pesantren atau majlis ta’lim yang diasuh oleh seorang tokoh agama panutan seperti Kyai, Syekh, Ustadz, dan sebutan sejenis lainnya. Namun seiring berjalanan waktu istilah santri semakin popular seiring dengan gebrakan besar Presiden Jowo Widodo di tahun pertama menjabat sebagai presiden Republik Indonesia.

Kala itu Presiden Jokowi secara resmi merencanakan penganugerahan gelar kepada elemen “santri” berupa pewacanaan Hari Santri Nasional atas jasa-jasa dan kontribusi kaum santri bagi bangsa Indonesia sejak masa penjajahan, mempertahankan kemerdekaan, hingga dimasa keterbukaan demokrasi. Dalam hal ini terlepas dari sudut pandang politik balas jasa atau strategi Jokowi dalam geliat pemilihan presiden 2014 kala, karena memang rana tersebut bukanlah sebuah ruang lingkup dialeka lepas kali ini alias melenceng dari batasan masalah karena keterbatasan akan keilmuan wacana politik dari pribadi sendiri.

Dengan demikian ditetapkannya 22 oktober sebagai Hari Santri Nasional sejak tahun 2015 lalu pada akhirnya berdampak pula terhadap semakin populernya istilah “santri”. Apalagi pengaruh keterbukaan yang ditawarkan peradaban virtual tentulah semakin mempermudah pengkampanyeaan santri sebagai trending topic pembahasan global.

Alhasil istilah santri pun perlahan mulai mengalami pergeseran makna dalam paradigma masyarakat secara umum, dalam artian istilah santri mengalami generalisasi makna yang pada akhirnya merubah stigma masyarakat bahwa istilah santri terbatas pada makna spesifik yang hanya dinisbatkan pada pesantren atau tempat sejenis. Seakan fenomena generalisasi makna santri membawa kembali nuansa pemahaman klasik Clifford Geertz tentang trilogi tipologi islam jawa (Santri, Abangan, dan Priyai), dimana posisi santri dalam trilogi tersebut mempunyai arti yang lebih global, fleksibel alias tidak terbatasi ruang dan tempat (dalam hal ini pesantren). Dalam trilogi tersebut Geerts mengartikan santri sebagai kelompok masyarakat muslim yang taat menjalankan perintah agama secara sempurna. 

Meskipun masih ada yang mengartikan “Santri” sebagai pemahaman spesifik yang terbatas berlaku pada variabel pesantren sebagai variabel utama, namun dipungkiri atau tidak ditetapkannya Hari Santri Nasional sejak tahun 2015 lalu oleh Presiden Joko Widodo sedikit mengorbitkan santri sebagai paradigma nasional yang bukan hanya terbatasi pada kalangan pesantren saja. Melainkan juga dinikmati bagi kalangan masyarakat islam secara umum diberbagai daerah mulai dari perkotaan-perkotaan hingga pedalaman pedesaan. Diantara masyarakat pun adakalanya tidak peduli anggapan lama santri yang terbatas pada lingkup pesantren, bagi mereka santri adalah sebuah retorika bagi masyarkat seluruh masyarakat islam di Indonesia yang berafiliasi dengan para masyayikh dan para ‘ulama melalui sanad keilmuan. 

Dengan demikian ketika Hari Santri Nasional datang maka perayaan hari besar tersebut bukan hanya menjadi perayaan wajib bagi stekholeder pesantren melainkan lebih dari itu bahwa perayaan “Hari Santri” menjadi agenda wajib pula bagi kalangan masyarakat islam secara umum dalam berbagai rana masyarakat. Embel-embel “Nasional” yang dinisbatkan teruntuk para santri termasuk kala 22 Oktober di Surabaya dalam peristiwa Resolusi Jihad keluaran Hadsratussyaikh Kyai Hasyim Asy’ari guna mempertahankan kemerdekaan dari ancaman penjajah merupakan salah satu daya tarik menasionalnya istilah “Santri” yang tidak hanya diperuntukkan bagi kalangan Pesantren saja.

Melainkan lebih luas lagi, bagi kalangan masyarakat islam di segala ruang masyarakat yang terikat dengan empat ukuhuwah; Jamiyyah (Termasuk An Nahdliyyah),  Islamiyyah, Insaniyyah, dan Terakhir Wathoniyyah sebagai daya tarik utama meroketnya dogma Hari Santri Nasional.

Meskipun secara kronologis kemunculannya memang dipengaruhi pula dengan gagasan dari para tokoh yang berafiliasi dengan jamiyyah Nahdliyyah (NU) sebagai penggagas utama, namun tak dipungkiri juga bahwa hari santri mengandung makna yang lebih general, bukan hanya terbatas pteruntuk pada kaum Nahdliyyah sebagai si pengopsi namun sebenarnya hari santri diperuntukkan bagi segenap bangsa Indonesia. Bahwa para santri merupakan salah satu elemen dari bermacam-macam elemen bangsa yang berkontribusi dalam memajukan bangsa Indonesia sejak zaman pergerakan kala penjajahan, merebut kemerdekaan, mempertahankan proklamasi, hingga meramaikan geliat kala tiga orde berlangsung.

Karena itulah hari santri bukanlah terbatas milik kalangan tertentu melainkan milik segenap bangsa Indonesia sebagai penegas Bhineka Tunggal Ika demi kemajuan Negara Kesatuan Republik Indonesia, karenanya Santri mandiri NKRI hebat !!! 

(Bersambung)





----
Rizal Nanda Maghfiroh
 ( Sambeng, Lamongan - 23 Oktober 2017 )


Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.