Dari Santri Untuk NKRI ( BAGIAN II )


Masih berbincang tentang geliat perayaan Hari Santri Nasional edisi ketiga, meskipun pesta perayaan telah usai sejak tiga hari yang lalu (22 Oktober), namun tentulah semangat nasionalisme para santri tak akan berhenti statis pada perayaan tersebut saja. Tentu semangat kebangsaan pada NKRI tak akan usang terbuang begitu saja dalam kenangan akan perayaan.

Opini lepas kali ini hanya sekedar pelengkap opini lepas pada seri sebelumnya tentang tema perayaan Hari Santri Nasional yang spesifikasinya membincang tentang generalisasi makna santri dalam ruang masyarakat dimana istilah santri dalam konteks kekinian tidak hanya memiliki makna yang spesifik terbatas pada tempat dan waktu dalam artian seperti Pesantren atau tempat sejenis melainkan berarti lebih general. (Baca: Generalisasi Makna Santri).

Ranting Kecil Unjuk Gigi

Hadirnya Hari Santri Nasional sejak ditetapkan dua tahun lalu oleh Presiden Joko Widodo dipungkiri atau tidak tentu berdampak pesat bagi pengkampanyean istilah santri yang lebih unjuk gigi di segala ruang masyarakat. Istilah santri bukan lagi istilah khos yang kerap diartikan sebagai sosok tradisonalis, kolot, cupu dari teknologi karena umumya memang santri kerap dinisbatkan dengan Pesantren sebagai lembaga pendidikan non formal. Akan tetapi sejak saat itu pula santri menjadi wacana baru skala nasional dari awalnya yang kerap dipandang sebagai model tradisonalis kini jutsru diakui sebagai salah satu dari elemen pembangunan nasional seiring dengan ditetapkannya Hari Santri Nasional.

Nah, hadirnya Hari Santri Nasional seakan menggeser dogma bahwa santri terkhusus untuk kalangan pesantren saja, melainkan juga diperuntukkan pada semua stekholder masyarakat yang berafiliasi dengan ajaran islam berhaluan nasionalisme. Buktinya simple saja, adanya perayaan Hari Santri Nasional sejak awal dicanangkan di tahun 2015 sampai tahun ketiga di 2017 ternyata bukan hanya terbatas pada kaum pesantren saja sebagai pihak yang memperingati akan hari bersejarah tersebut.

Melainkan hampir di seluruh negeri kesemua masyarakat di segala lini pun tak ketinggalan ikut merayakan perayaan Hari Santri Nasional. Terkhusus bagi semua kalangan masyarakat yang berafiliasi pada paradigma islam moderat – nasionalis, tentulah hari santri menjadi agenda wajib untuk dirayakan meski banyak diantara mereka yang secara individu bukanlah seorang santri formil yang mengabiskan diri mengkaji ilmu agama dalam bimbingan masyayikh di Pesantren. 

Berbagai daerah dipenjuru negeri pun tak ketinggalan memperingati Hari Santri Nasional yang memang secara kronologis kemunculannya juga dipengaruhi oleh para tokoh nasional Nahdliyyin semacam Kang Said Aqil atau Kyai Ma’ruf Amin yang merangkap sebagai tetua MUI (Majlis ‘Ulama Indonesia). Bahkan geliat hari santri juga terlihat hingga pelosok-pelosok daerah lingkupan kecil. Umumnya diantara stekholder daerah tersebut adalah warga muslim moderat yang berafiliasi dengan Nahdlatul ‘Ulama melalui hubungan formal kepengurusan ranting bahkan anak ranting sebagai sub terkecil sebuah tingkatan kasta kepengurusan organisasi.

Tapi tunggu dulu jangan lihat besar-kecil tingkatan jenjang kepengurusan dalam kaca mata fisik organisasi, toh justru dari ranting-ranting kecil itulah sebuah organisasi dapat terus menujukkan taji eksistensi bahkan hingga mencapai ruang lingkup nasional, termasuk dalam sebuah organisasi bernama Nahdlatul ‘Ulama sendiri yang terdapat tingkatan jenjang “Kasta” kepengurusan dari Pengurus Besar (PB) sebagai komandan tertinggi hingga Ranting dan Anak Ranting sebagai penggerak kasta bawah rakyat jelata. 

Termasuk dalam perayaan Hari Santri Nasional, para warga masyarakat pelosok yang diantara mereka menamakan diri secara formil sebagai Ranting dari Nahdliyyin pun tak lepas akan kontribusi mengeksiskan diri dalam geliat Hari Santri Nasional. Meskipun nyatanya banyak diantara mereka yang secara pribadi bukanlah sebagai santri formal yang mengahabiskan diri belajar ilmu agama di Pesantren, namun itu bukanlah sebuah halangan untuk menghentikan keeksisan untuk memperingati Hari Santri Nasional.

Toh bagi beberapa kalangan tersebut istilah santri tak terbatas pada ruang dan waktu melainkan dilihat pada nasap sebuah keilmuan yang dianut, sebagaimana perkataan Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, “Barang siapa yang merelakan diri ngeramut NU, maka dia juga termasuk Santriku dan aku doakan Khusnul Khatimah hingga anak turunnya”. Hal ini pula yang menyebabkan geliat motivasi para stekholder Ranting-ranting kecil di pelosok-pelosok daerah untuk berlomba-lomba mengeksiskan diri dalam geliat Hari Santri Nasional bahkan hingga seri ketiga sejak ditetapkan.

Salah satu buktinya adalah di daerah pribadi sendiri, di Kecamatan Sambeng daerah ujung selatan Kabupaten Lamongan. Hadirnya perayaan hari santri nasional yang digagas oleh pihak MWC NU Kecamatan Sambeng dengan rangkaian upacara masal dengan dilanjutkan pawai karnaval ternyata mendapat sambutan yang sangat antusias dari para warga nahdliyyin di Sub Ranting-ranting kecil yang tersebar di 22 keluarahan sekecamatan Sambeng. Berbagai jenjang umur mulai dari golongan anak kecil di tingakatan PAUD hingga para manula pun tak ketinggalan mengeksiskan diri dalam rangkaian peringatan agenda Hari Santri Nasional mewakili ranting masing-masing.  

Bukankah ini hal yang biasa ?, memang hal tersebut merupakan fenomena yang biasa tapi yang perlu juga diketahui bahwa kontribusi ranting-ranting tersebut tentulah didasari niat tulus dan ikhlas untuk mewarnai geliat perjuangan badan yang diikuti termasuk dalam mengikuti pawai hari santri yang digagas oleh MWC NU. Kalau berbicara tentang enaknya siapa yang mau menghabiskan diri menyempatkan mengikuti rangkaian upacara dan pawai diwaktu senggang pagi hari, di jam-jam aktif kerja dimana waktu pas untuk pergi ke sawah apalagi saat itu adalah waktu yang pas untuk bercocok tanam ?.

Tapi realitanya puluhan kendaraan truck dan mobil van dari para ranting kecil  berdatangan mendatangi lokasi lapangan untuk memperingati Hari Santri Nasional, ranting di daerah pribadi sendiri mendelegasikan enam buah mobil Truck yang ditumpangi berbagai macam tingkatan umur mulai dari anak-anak taman kanak, Madrasah, hingga para manula pria wanita. Toh kesemua yang hadir memeriahkan geliat Hari Santri tentu bukan semuanya merupakan santri formil dalam pengertian spesifik, tapi mereka rela menghabiskan waktu pribadi demi memeriahkan Hari Santri Nasional untuk meneruskan semangat perjuangan para tokoh Nahdliyyah kala. Bagaimana, bukankah luar biasa semangatnya ?.

Dipungkiri atau tidak bahwa garda depan sebuah organisasi bukanlah terletak pada pengurus pusat sebagai pimpinan tertinggi formil organisasi. Tetapi jutru ranting-ranting kecillah yang menjadi tolak ukur suksesor akan eksekutor sebuah langkah kebijakan yang dikeluarkan oleh sebuah pimpinan tertinggi. Toh dalam mengeksistensikan diri dalam berbagai geliat para stekhoder  ranting-ranting di berbagai pelosok kerap kali tak memperdulikan sebuah gejolak pada ruang formil di sebuah tingakatan diatasnya.

Tak memperdulikan formalitas legalitas badan yang dikutinya, ntah itu ikut tingkatan cabang si A dan di SK olehnya atau justru ikut gabung cabang si B dengan SK olehnya pula. Hal itu bukanlah sebuah kendala tersendiri dalam mengeksiskan geliat tradisi badan organisasi yang digeluti. Inilah kekuatan dari Ranting-ranting kasta bawah yang tak boleh dianggap sebelah mata, sebagaimana Qoul Almaghfurullah Mbah Yai Wahab “tiada kata udzur dalam sebuah perjuangan”, perjuangan melanjutkan tradisi-tradisi organisasi yang telah membumi.  Akhir kata selamat hari santri, bagi yang telah memperingati, bagi yang mengaku dogma santri, atau bagi yang seolah-olah menjadi santri.

Tamat

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.