Memahami Redaksi Islam Radikal



Nasionalisme vis a vis Radikalisme : (Bagian Pertama)
Aksi Demonstrasi Salah satu Ormas di Indonesia


Sebuah Pengantar Awal

Munculnya fenomena kecam-mengecam dan tuntut-menuntut antar kelompok masyarakat diberbagai daerah menjadi bara api terendiri dalam panasnya orde reformasi, terutama dua kelompok yang mempunyai tipologi pola pikir bertolak-belakang; kebangsaan-nasionalisme vis a vis transnasionalisme yang bernuansa radikalisme agama.

Perlu dicacat radikalisme disini bukan bemaksud mengartikan sebagai sebuah tindakan berebihan, arogan, keras kepala, penuh terror dan tindak kekerasan, atau hal negatif lain. Sependapat dengan opini Buya Syafii Ma’arif dalam naskah memorial Nur Cholis Majid yang diterbitkan Paramadina bahwa radikalisme memang berbeda dan tak dapat diidentikkan dengan kekerasan atau terorisme, akan tetapi menurut Buya radikalisme yang tak sesuai dengan koridor akal sehat tentu berpotensi memunculkan kesenjangan bahkan tindak terorisme pada golongan yang tak sepaham dengan pola pikir yang dianutnya. (Ahmad Syafii Maarif dkk. 2010: Hal 123) 

Sejak tahun 2016 lalu istilah radikalisme agama seakan menjadi trending topic di dua dunia; dunia nyata (realita) dan dunia maya (virtual). Berbagai tempat pun tak bosan-bosannya membincang pahit-manis isu radikalisme agama; mulai naskah wartawan, dunia perpolitikan, bangku pendidikan, presentasi perkuliahan, kantor para ilmuan, pasar pertokohan, hingga penikmat kopi di kedai seberang jalan dan gang-gang, pun tak ketinggalan dalam membincang, menyoroti, hingga mengomentari secara lepas terkait serbuan isu pewacanaan radikalisme atas nama agama.

Hal yang wajar terjadi mengingat globalisasi dengan luasnya pintu akses semakin memudahkan semua kalangan dari berbagai lapisan untuk menyerap pengetahuan yang menjadi populeritas perbincangan, baik itu melewati pemberitaan media pertelivisian yang beberapa kalangan menganggap sebagai konspirasi kaum elit, hingga melalui pembacaan viral media sosial yang seakan seperti salad bowl, bercampur aduk antara fakta, opini, hingga hoax yang tak ada henti. Hingga berimbas pada maraknya pelabelan beberapa individu atau kelompok dengan paradigma hasil doktrinisasi trending topic tanpa filterisasi; radikal, sesat, liberal, kafir, antek barat, antek wahabi, dan sebutan lainnya.

Kembali pada perbincangan radikalisme agama, secara gramatikal istilah radikal berasal dari bahasa latin “radik” yang mempunyai arti berpegang teguh hingga sampai ke akar-akarnya, dalam artian bahwa radikal merupakan sebuah pola pikir kompleks dan mendalam terkait suatu hal yang diyakini dan dibenarkan menurut keteguhan hati seseorang yang meyakininya.

Dengan demikian orang yang berperilaku radikal cenderung akan selalu bertindak diberbagai bidang berdasarkan pada apa yang diyakini dan dibenarkannya secara total. Kemudian yang tak kalah penting lagi bahwa istilah radikalisme bukanlah sebuah istilah yang khusus diperuntukkan bagi kelompok islam saja, hingga kerap memunculkan pelabelan islam radikal dimana-mana. Akan tetapi semua kalangan baik agama lain (Katholik, Protestan, Budha, Hindu, Konghuchu, dan lain sebagainya) hingga kelompok sosial (suku, ras, ormas, dan lain-lain) yang mempunyai paradigma kefanatikan tinggi disertai pembenaran total idealisme yang diyakini juga tergolong kelompok radikal.

Hanya saja karena masyarakat Indonesia mayoritas beragama Islam sehingga umat islam di Indonesia seakan seperti “tokoh utama bintang film” yang selalu disorot baik segi postitif atau pul tentang hal negatif, termasuk ketika munculnya fenomena islam radikal itu sendiri.

Kemudian berkaitan dengan membincang tentang islam radikal saya rasa perlu juga dibedakan bobot sesuai tingkat radikalisasi itu sendiri, dengan demikian diharapkan akan lebih bijak dalam menyikapi berbagai fenomena radikalisme agama islam diberbagai lapisan. Berdasar pada pembacaan lepas terkait fenomena radikalisasi di bumi Indonesia, saya rasa berdasarkan pada tingkatan efek yang ditimbulkan dari perilaku radikalisme tersebut, maka radikalisme terdiri dari tiga tingkatan antara lain sebagaimana berikut;

Pertama; Radikalisme Atas (penuh), paradigma pola pikir tingkatan ini yaitu apabila pandangan hasil keyakinan tentang apa yang diyakini dituangkan seacara paksa dalam sebuah realita bermasyarakat. Pihak yang tergolong dalam tingkatan ini cenderung memiliki idealisme ethnosentrisme dan primordialisme yang sangat tinggi bahkan berlebih, alhasil bukan hal asing lagi pelabelan other sebagai musuh yang terkadang harus dilawan, dibasmi serta dibinasakan, hingga berujung pada tindak kekerasan atas nama agama. 

Kasus terorisme dua jilid bom bali oleh kelompok yang kerap memproklamirkan diri sebagai JI (Jamiyyah Islamiyah) atau Mujahidin Indonesia merupakan salah satu contoh dari perilaku radikalisme agama dalam tingkatan ini. Mereka menganggap tindakan fisik yang dilakukan merupakan sebuah aplikatif Jihad memerangi musuh sebagai perintah dari Illahi, dengan demikian kelompok ini kerap mengproklamirkan syahid-syahidah sebagai ganjaran atas tindakan fisikal yang dilakukan.

Kedua; Radikalisme menengah (semi), tingkatan radikalisme ini memang efeknya tak se-brutal tingkatan pertama yang kerap memperkakukan Other sebagai musuh yang harus dilawan, meskipun dalam tingkatan ini taraf ethnosentrisme dan primordialisme juga tergolong tinggi. Adapun pihak yang tergolong dalam tingkatan ini juga cenderung mempunyai idealisme tinggi terhadap keyakinan yang diyakininya, bahkan dalam kasus-kasus tertentu kelompok ini kerap melakukan beberapa kritik tajam kepada pihak yang berbeda dengan pemahaman mereka.

Alhasil pemerintah dan negara menjadi sasaran utama serangan kritik tajam diberbagai sektor, baik ekonomi, politik, sosial, pendidikan, hingga moral masyarakat, demi mempropogandakan usaha mengaplikatifkan idealisme mereka yang sangat tinggi, bahkan melebihi batas-batas negara yang ditempati. Dalam artian bahwa kelompok islam radikal kategori ini mempunyai cita-cita untuk mewujudkan nasionalisme lintas agama, dalam berbagai wacana kerap disebut Transnasionalisme, maksudnya yakni kelompok ini ingin mewujudkan sebuah idealisme negara tunggal yang tidak dibatasi oleh batas teritorial, administrasi, hingga batas geografis.

Gerakan Khilafah yang kerap diwacanakan oleh Akhi-Ukhti Hizbutz Tahrir Indonesia (HTI) sebagai peranakan Hizbutz Tahrir produk Syekh Taqiyyudin An Nabhani merupakan salah satu contoh dari aplikatif tingkatan radikal kategori kedua, hal ini disebabkan gerakan khilafah dalam versi mereka cenderung dipengaruhi tingginya tingkat idealisme ajaran bahkan melebihi semangat kebangsaan kesatuan ikatan nasionalisme pada sebuah negara.

Ketiga; Radikalisme bawah (Biasa), tingkatan islam radikal dalam kategori ini merupakan yang paling ringan taraf idealismenya. Dalam artian bahwa pola pikir kelompok yang berada dalam tingkatan ini tidak serta merta se-ekstrem kelompok radikal pada kategori pertama yang cenderung melalukan pembenaran tindak kekerasan versi mereka, atau kategori kedua yang kerap mengkampanyekan gerakan transnasional sehingga dianggap berbagai pemikir kebangsaan sebagai anti negara. 

Kelompok radikal kategori ketiga masih mempunyai paradigma ukhuwah sebuah negara (baca: tak sepaham transnasional); masih mempercayai Pancasila sebagai dasar negara Indonesia, karena mereka membenarkan bahwa dalam Pancasila terkandung nilai-nilai tentang agama Islam. Hanya saja kelompok ini masih mempunyai sebuah idealisme terkait pemahaman mereka tentang agama Islam, dimana kelompok ini cenderung menginginkan penerapan sistem syari’ah kaffah diberbagai bidang.

Efeknya maraknya tuntutan penerapan perda-perda syari’ah merupakan idealisme paradigma pola pikir kelompok kategori ketiga ini. Forum Pembela Islam (FPI) yang dikomandoi oleh Habib Riziq Syihab dan Majlis Mujahidin Indonesia (MMI) yang tokohi Syekh Abu Bakar Baasyir merupakan diantara kelompok agamis yang terbilang termasuk dalam kategori “radikalisme bawah”, mengingat idealisme kedua kelompok masih berada dalam bingkai keindonesiaan, dalam artian tak sepaham wacana Transnasionlis seperti yang digembor-gemborkan oleh Hizbutz Tahrir Indonesia (HTI).

Hal ini tampak pada tesis Habib Riziq (2012) yang juga menjadikan Syekh Abu Bakar Baasyir (Tokoh MMI) sebagai sumber primer narasumber, bahwasahnya beliau (Habib Riziq) mengemukakan bahwa dirinya hanya menyayangkan perevisian Pancasila Piagam Djakarta yang didalamnya masih terdapat tujuh kata sakral pro islamis dalam sila pertama, “kewajiban menjalankan syari’at islam bagi para pemeluk-pemeluknya”.

Munculnya perdebatan dugaan pelecehan Pancasila oleh Habib Riziq Syihab atas laporan putri Bung Karno; Sukmawati Soekarno Putri, yang dimulai dengan perkataan Habib Riziq; bahwa Pancasila (Baca:sila Pertama) versi Piagam Djakarta berada di kepala /otak (atas) sedang Pancasila versi Soekarno berada di buntut (bawah, atau belakang), juga merupakan imbas dari pola pikir Habib Riziq Syihab yang memang terbilang “pro” sila pertama Pancasila rumusan Piagam Djakarta. Mengingat faktanya sila ketuhanan dalam perkataan Pancasila rumusan Bung Karno diucapkan paling akhir atau paling belakang dalam pidatonya pada 1 Juni saat sidang BPUPKI dalam rangka menentukan dasar negara Indonesia, hingga Riziq Syihab menyebut bahwa Pancasila (Baca: Sila Pertama) versi Bung Karno berada di buntut alias belakang; Kebangsaan Indonesia, Internasionalisme atau Perikemanusiaan, Mufakat atau Demokrasi, Kesejahteraan Sosial, dan Ketuhanan. (Riziq Syihab, 2012, Hal : 50) 

Selanjutnya, melalui tingkatan radikalisme sebagaimana dipaparkan sebelumnya (Radikal penuh, menengah, bawah) diharapkan dapat membantu pemahaman tentang fenomena tindak radikalisme agama di berbagai kelompok masyarakat yang kerap diseragamkan oleh berbagai media masa dengan label “Islam Radikal” yang berpotensi merusak persatuan kebhinekaan dan ikatan keberagaan NKRI. Menjiplak perkataan Almaghfurullah Kiai Hasyim Muzadi; Radikalisme pemikiran itu boleh (Redaksi asli: Liberalisme) akan tetapi radikalisme sikap dan perilaku secara berlebihan apalagi disertai pemaksaan pemahaman itu yang tidak boleh. 

Mungkin alasan inilah yang menyebabkan pemerintah melalui Pak Wiranto mengeluakan “semprotan” pembubaran organisasi Hizbutz Tahrir Indonesia (HTI) yang kerap menyuarakan aksi tentang gagasan perubahan konsep nasionalisme dengan ide nasionalisme lintas batas (Trans-nasionalisme), yang berpotensi menyebabkan gejolak kebhinekaan diantara ormas akhibat efek radikalnya idealisme Hizbutz Tahrir Indonesia (HTI). 

Apalagi jika status radikal Hizbutz Tahrir naik; dari radikalisme menengah menjadi level radikalisme penuh sebagaimana dipaparkan diatas. Adapun terkait pemaparan lebih lanjut tentang fenomena Hizbutz Tahrir Indonesia vis a vis Pemerintah akan dipaparkan pada bagian kedua tulisan ini, Insya Allah. 


Rizal Nanda M
Lamongan, Mei 2017

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.