Belajar Dari Klub Instan

Bhayankara FC

Berbincang tentang geliat sepakbola Indonesia memang tak dipungkiri bahwa perkembangan liga sepakbola Indonesia tak dapat dipisahkan dengan fenomena mergerisasi sebuah klub sepak bola hingga kerapnya berganti nama dalam lintas liga Indonesia imbas proses akuisisi sebuah klub lama. Dua tahun terakhir kita dikejutkan dengan munculnya beberapa  klub baru yang ujuk-ujuk tampil di kasta tertinggi Liga Indonesia Liga 1 (Sebelunya ISL) tanpa memulai estafet perjuangan dari kasta bawah Liga 3 (Sebelumnya Divisi III).

Di Liga Indonesia musim ini saja tercatat empat klub anyaran yang secara resmi terdaftar sebagai anggota PSSI dan ikut meramaikan geliat kasta tertinggi Liga 1 Pula. Tentulah fenomena mergerisasi akuisisi klub efek pergantian saham dan kepemilikan klub menjadi alasan utama beberapa klub langsung tampil di pentas Liga 1 (Sebelumnya ISL) atau pun Liga 2 (Sebelumnya Divisi Utama) tanpa harus bersusah-payah perjuang di kasta terbawah liga Indonesia mulai babak Provinsi hingga putaran Nasional. 

Sebut saja Bali United yang terlahir dari rahim “laskar elang borneo” Persisam Samarinda hingga klub tersebut diboyong dari Samarinda ke Gianyar Bali sejak 15 Februari 2015 guna mengikuti QNB League 2015 sebelum divakumkan Kemenpora pada pekan kedua. Ada pula PS TNI (Lahir November 2015) yang mengakusisi klub papua Persiram Raja Ampat di tahun 2016 sebelum bergulirnya ISC (Indonesia Socceer Championship) sebagai liga semi formal ketika PSSI divakumkan oleh Imam Nahrawi selaku Kemenpora.

Kemudian Bhayangkara FC yang terlahir dari mergerisasi PS PORLI dengan Persebaya versi Wisnu Wardhana Persebaya yang terlahir dari Persikubar Kutai Barat) di tahun 2016. Hingga terakhir Madura United (Lahir 10 januari 2016) yang mengakuisisi eks klub Galatama Pelita yang terakhir bernama Persipasi Bandung Raya tepat menjelang Liga 1 2016 bergulir.

Belum lagi fenomena akuisisi klub pada liga kasta kedua (Liga 2) yang super ramai dengan diikuti 61 peserta efek dualisme liga sejak bergulirnya ISL (Indonesia Super League) dan IPL (Indonesia Primer League), seperti Madura FC (Persebo Bondowoso), Persigo Semeru FC Lumajang (Persigo Gorontalo), Sragen United (Laga FC), hingga Celebest FC Palu (Villa 2000 Tanggerang). 

Kronologis Klub Instan Kekinian 

Jika dilihat dari opini masyarakat terutama di media-media virtual umumnya beberapa kalangan penikmat sepak bola menjuluki beberapa klub-klub sebagaimana diatas dengan istilah “klub kloningan” yang dinistbatkan pada fenomena dualisme klub sejak munculnya liga ganda. Ada pula yang justru menyebutnya sebagai  “Klub Instan” yang ujug-ujug langsung mentas ke pentas utama Liga Indonesia tanpa berproses di kasta paling bawah (Sekarang: Liga 3, Besok: Liga 4).

Membuminya tradisi akuisisi klub yang dilanjutkan dengan bolak-balik ganti nama tentu juga disebabkan imbas carut marutnya sistem sepakbola Indonesia secara marathon. Pribadi menggunakan istilah marathon karena memang sejak kurang lebih sepuluh tahun terakhir peradaban sepakbola Indonesia dilanda carut marut berkelanjutan diberbagai stekholder persepakbolaan; baik penyelengara liga, sistem liga, hingga carut marut tim nasional.

Dimulai dari kemunculan fenomena LPI (Liga Primer Indonesia) ditengah kompetisi yang awalnya digagas pengusaha Arifin Panigoro hingga memicu tiga klub kasta pertama memutuskan keluar dari ISL (Persema, Persibo, PSM) serta diikuti beberapa klub Divisi Utama (Persebaya dan Semen Padang) hingga menimbulkan berbagai pro-kontra antar kepengurusan yang berdampak pula dengan lahirnya klub-klub tandingan baru yang bermain ntah di Liga Super atau pun di Liga Primer.

Kemudian berlanjut pula pada perebutan dualisme kepemimpinan badan pengelola tertinggi tertinggi Indonesia; Djohar Arifin (PSSI) vis a vis La Nyalla Mattalitti (KPSI) di tahun selanjutnya, yang pada akhirnya berdampak pula dengan munculnya dualisme Timnas Indonesia pula. Terakhir pada tahun 2015 muncul pula mosi tidak percaya Imam Nahrawi selaku Kemenpora dengan pihak PSSI akan sebuah kinerja hingga akhirnya secara resmi Kemenpora membekukan badan sepakbola tertinggi seluruh Indonesia tersebut tak terkecuali liga Indonesia (QNB League) yang baru memasuki pekan kedua.

Nah, akhibat berhentinya kompetisi di tahun 2014 tentulah sedikit banyak juga berdampak pada berbagai klub terutama klub yang tergolong mempunyai budget finansial rendah. Dipungkiri memang bahwa pasca pemberlakuan larangan klub-klub sepakbola untuk menggunakan suplay dana APBD Kabupaten / Kota sebagai jalan menuju era liga professional pada akhirnya membuat sumber pendapatan utama klub yaitu terbatas dari laga home di stadium ditambah keuntungan hak siar media pertelevisian. Oleh karena itu pula bagi tiap klub pun dituntut secara kreatif mencari sponsorship guna menyokong perjalanan klub mengarungi kasta utama Liga Indonesia.

Dengan demikian pasca QNB League dibubarkan pada pekan kedua seiring pembekuan PSSI oleh Kemenpora, otomatis pula beberapa klub pun harus merelakan kehilangan partnership sponsor penyokong dana. Tentu hal ini bukan menjadi masalah berarti bagi klub yang mempunyai nilai jual tinggi semacam Persib Bandung, Arema Malang, atau Persija Jakarta, karena memang klub-klub tersebut memang dalam kurun waktu terakhir telah mempunyai brand nilai jual tinggi sehingga akan dengan mudah mencari sebuah sponsorship.

Namun bagaimana dengan klub-klub pas-pasan semacam Persegres Gresik United, Persela Lamongan, Perseru Serui, hingga Persiram Raja Ampat yang justru kepemilikannya diakuisisi oleh pihak TNI tentulah dampak dibubarkannya QNB League berdampak besar bagi keberlangsungan klub-klub papan tengah tersebut. Adanya deretan turnamen pengisi kekosongan seperti SCTV Cup, Piala Presiden, Jendral Sudirman Cup, hingga Bhayangkara Cup yang disiarkan lewat pertelevisian pun tak begitu membantu finansial beberapa klub karena memang kompetisi tersebut menggunakan format Setengah kompetisi dengan dimulai dari babak grub yang bertempat di venue-venue yang telah ditentukan pula, bukan menggunakan sistem kompetisi penuh dengan format home – away.

Dengan demikian ketika muncul kembali rencana menggelar sebuah kompetisi berformat penuh (Home-Away) bertajuk ISC (Indonesia Soccer Championship) sebagai pengisi kekosongan liga di tahun 2016 yang belum juga bergulir imbas PSSI yang masih mendapat skors pembukuan dari Kemenpora. Akhirnya beberapa klub-klub eks QNB League termasuk pula yang berada di kasta bawah (Divisi Utama dan Liga Nusantara) tertuntut harus segera mempersiapkan diri jika ingin ambil bagian dalam geliat ISC A (ISL) dan ISC B (Divisi Utama – Linus).

Diantaranya mulai dari kembali membentuk kerangka tim baik pemain maupun jajaran pelatih hingga bersusah payah mencari modal penyokong dana baik dari sponsorship atau pun dari donatur guna bekal mengarungi padatnya kompetisi ISC kedepan. Tak khayal beberapa pemilik beberapa klub pun rela memutuskan untuk menjual saham mayoritas kepemilikian kepada pihak lain, alhasil beberapa klub-klub eks liga edisi sebelumnya pun dipermak kembali oleh si pemilik “anyar” mulai dari pindah home base hingga memutuskan mengganti nama untuk menyesuaikan latar tempat (kandang) sekaligus bertujuan menggalang dukungan dari supporter lokal setempat.

Alhasil klub-klub muda hasil “permakan” proses akuisisi pun kembali menghiasi Liga 1 (Sebelumnya: ISL) sebagai kasta tertinggi liga Indonesia; mulai dari Bali United yang terlahir dari tubuh Persisam Samarinda sejak 15 Februari 2015, PS TNI yang lahir menjelang Piala Jendral Sudirman pada November 2015 hingga mengakuisisi Persiram Raja Ampat untuk tampil di pentas atas pada Tahun 2016, Persipasi Bandung Raya yang dipermak menjadi klub baru Madura United sejak 10 januari 2016, hingga terakhir Bhayangkara FC  (resmi lahir 12 April 2016) yang terlahir dari rahim PS PORLI dan dualisme Persebaya Surabaya hingga empat kali bergonta-ganti nama; Surabaya United, Bonek FC, Bhayangkara Surabaya United, hingga nama terakhir Bhayangakara FC.


Bukan Sekedar Klub Instan 

Dua tahun yang lalu sebuah dongeng keajaiban sepakbola datang dari sudut kota London Inggris saat klub biru London kembali menjuarai Liga terelit sejagat English Primer League. Bukan “Si Biru” Standfor bridge dengan berbagai pemain bintangnya, melainkan tim entah berantah “The Fox” Liecester City yang kala itu diasuh Claudio Ranieri justru berhasil merusak tatatan “enam elite” klub Liga Primer (Man United, Liverpool, Chelsea, Man City, Arsenal, dan Totenham) dengan berhasil merengkuh gelar nasional pertama bagi Si Musang.

Tak tanggung-tanggung beberapa punggawa Liecester pun masuk jajaran pemain terbaik Liga Inggris musim 2015 kala itu seperti; Riyan Mahrez, Kolo Kante, Verdy, Casper Schmeichel, Danny Drinkwater, hingga sang juru racik Rainieri yang didaulat sebagai pelatih terbaik FIFA tahun 2015. Meskipun di musim selanjutnya Liecester gagal mengulangi pencapaian terbaik di musim sebelumnya, tapi Si Musang justru kembali meraih membuat heboh di pentas Liga Champions, berstatus debutan Liecester justru berhasil melaju hingga perempat final bahkan di fase grub Liecester mengakhiri diri sebagai juara grub tanpa mengalami kekalahan. 

Lupakan tentang dongeng keajaiban Liecester City, mari kembali ke rumah sendiri dengan geliat sepakbola Indonesia tak kalah “ajaib” penuh drama dan lika-liku begitu banyaknya. Di Liga 1 musim ini saja pertarungan menuju kampiun tak kalah panas dengan kerasnya persaingan liga Inggris sebagai liga terpanas sejagat. Media ternama fox Sport Asia bahkan menyebut bahwa Liga 1 edisi musim ini sebagai liga yang terbaik dalam ketatnya persaingan antar klub, melebihi Liga Super Thailand dan Liga Super Malasyia yang memang secara table peringkat Asia jauh lebih diatas Liga 1 Indonesia (Per-Oktober 2017).

Hal ini dikarenakan hingga menyisahkan tiga laga pamungkas tanda-tanda siapa yang berpotensi menjadi kampiun belum begitu tampak gegara persaingan sengit lima klub dipapan atas klasemen. (Bhayangkara FC, PSM Makasar, Bali United, Persipura Jayapura, dan Madura United). Istimewanya, dari lima klub tersebut tiga diantaranya merupakan klub “anyaran” dalam kancah persepakbolaan Indonesia yang telah disebutkan di awal perbincangan tadi;  Bhayangakara FC, Bali United, dan Madura United. Inilah yang menjadikan Liga Indonesia (Liga 1) musim ini terbilang penuh kejutan, tim-tim anyaran menyodok ke papan atas sedang tim-tim elit semacam Persib Bandung, Semen Padang, hingga Sriwijaya harus rela terperosok ke Papan Bawah bahkan harus berjuang untuk selamat dari zona degradasi. 

Pukulan telak memang bagi klub-klub “lawas” penuh sejarah yang justru tersalip dengan klub-klub anyar hasil permakan, memang tak dapat ditepis bahwa klub-klub anyar sebagaimana diatas memanglah lebih konsisten dalam menyuguhkan permainan terbaik hingga mampu menjelma menjadi tim kuat selama pagelaran Liga 1 musim ini.

Meskipun tetap masih ada pula kalangan yang menganggap klub-klub tersebut sebagai klub instan yang tak layak langsung bermain di kasta utama Liga Indonesia tanpa perjuangan di kasta bawah, namun diakui atau tidak bahwa klub-klub “anyar” tersebut memanglah lebih kompetitif daripada beberapa klub-klub lawas lain, tabel klasemenlah pembuktiannya.

Bukannya mendukung klub-klub anyar tersebut dari anti dogma beberapa kalangan sebagai klub instan yang tak layak berada dikasta utama Liga Indonesia karena dinilai tanpa sebuah perjuangan. Tapi tunggu dulu, jika dilihat dari segi perjuangan hingga fase akhir Liga 1 klub-klub anyar tersebut juga mempunyai nilai perjuangan yang layak sebagai klub anyar hasil “permak” dari klub lama. Meskipun klub tersebut tidak berproses secara sistematis mulai dari berjuang di kasta terbawah (Liga 3) dan langsung berkompetisi kasta pertama melalui cara akuisasi klub lama, tetapi sebenarnya “gampang-gampang susah” bagi pihak yang mengakuisisi klub lama dan memuncukkan klub baru. 

Meskipun dipandang mudah sebagai cara instan untuk menggapai liga kasta pertama, namun bagi klub anyar hasil “Permakan” kemampuan bertahan diri (Adaptasi) hingga kemampuan menarik perhatian supporter setempat merupakan sebuah permasalahan utama klub yang terlahir dari proses akuisisi atau mergerisasi. Bali United dan Madura United merupakan dua dari beberapa klub “Anyar” yang terbilang sukses melewati tahapan awal yang harus dilewati klub anyar dalam hal ini kemampuan mencari simpati dukungan supporter setempat hingga membangun manejerial tim yang baru terbentuk.

Bahkan secara spekakuler berbekal manajerial yang baik kedua klub tersebut diluar dugaan mampu meraih lisensi pro dari AFC selaku badan sepakbola tertinggi skala Asia sebagai syarat jika ingin bermain di kancah Liga Champions Asia atau Liga AFC sebagai kasta kedua. Keberhasilan Bali United dan Madura United merupakan sebuah pencapaian luar biasa bagi klub yang terbilang sangat muda, keduanya membantah anggapan bahwa Liga Indonesia bukan hanya dirajai oleh klub-klub lawas yang kenyang jam terbang akan proses sejarah, namun klub yang baru terbentuk juga tentu mampu berbicara banyak di pentas Liga Indonesia asal mampu membangun tim dengan manajerial yang baik baik pengelolaan skuat tim senior, pengelolaan bibit-bibit muda dalam tim junior, pengelolaan keunangan, pembenahan sarana-prasarana, dan rana-rana lain lainnya berkenaan dengan stekholder club. 

Sebelum fenomena keberhasilan beberapa klub anyaran Liga 1 dalam mempertahankan diri sebagai klub akuisisi, ada pula kasus keberhasilan serupa seperti Deltras Sidoarjo yang terlahir dari tubuh Bali Putra Dewata (2001), Sriwijaya FC dari asal Persijatim Jakarta Timur (2004), hingga Borneo FC yang terkahir dari Persiba Super Bangkalan (2006).

Disisi lain bagi klub “anyaran” yang tak memilki ketahanan diri sebagai klub permakan tentulah akan sulit untuk bertahan diri dalam kerasnya Liga Indonesia yang sarat kefanatikan akan kedaerahaan, sebut saja seperti Pro Duta yang kerap berpindah daerah seiring berganti-ganti pemilik mulai Bandung, Sleman, Deli Serdang, hingga Medan dengan nama Pro Titan.

Bahkan klub legendaris galatama Pelita Jaya juga harus berpindah-pindah rumah mulai Purwakarta, Karawang, Bandung, Bekasi, hingga terakhir singgah di Madura dengan identitas terbaru Madura United. Sementara di Bali sebelum kehadiran klub Bali United hasil yang terlahir dari tubuh Persisam pernah pula ada klub serupa bernama Persegi Bali FC (2007) yang merupakan gabungan mergerisasi dari tiga klub elit di Bali kala itu; Persegi Gianyar, Perseden Denpasar, dan Persekaba Badung, namun nasipnya sangat tragis seiring krisis keuangan hingga bubar sejak akhir tahun 2007 lalu.

Sebelumnya Persegi Gianyar pernah berganti nama menjadi Persegi Mojokerto efek pindah homebase ke Mojosari Mojokerto di Liga Indonesia tahun 2006 gegara Mou Barter Lisensi dengan PS Mojokerto Putra kala itu. Begitu pula dengan klub Persegres Gresik United ( 2 Desember 2005) yang merupakan paduan dari dua klub kota Gresik; Persegres Gresik sebagai klub bawahan Pemkab sejak Perserikatan dengan klub legendaris Galatama Petrokimia Putra yang saat itu bangkrut, meskipun mendapat sambutan positif dari supporter tuan rumah namun dalam segi prestasi Persegres Gresik United jutsru gagal melanjutkan kisah manis pedahulunya PS Petrokimia Putra yang berhasil menjadi kampiun Liga Indonesia 2002. Justru di musim Liga 1 tahun ini Persegres Gresik United hancur lebur didasar klasemen hingga menjelma sebagai tim pertama yang degradasi ke liga 2 musim depan.

Nah, dimusim Liga 1 kali ini justru tiga tim “anyaran” mampu unjuk gigi secara spektakuler, hanya PS TNI saja yang terbilang apes gagal meramaikan geliat papan atas. Meskipun demikian nyatanya pasukan “The Army” kerap mampu memberi kejutan klub-klub lawas Liga 1 hingga mampu lolos dari lubang jarum degradasi Liga 1. Toh serdadu PS TNI muda tahun lalu juga memberikan hasil diluar dugaan dengan keberhasilan merengkuh gelar liga semi formal ISC U 19 dengan mengungguli favorit juara semacam Persib U19, Sriwijaya U19, maupun Persela U19.

Sebuah kejutan kembali dari tim-tim muda dalam kancah persepakbolaan Indonesia, akankah salahsatu dari tiga tim anyaran tersebut mampu merengkuh kampiun Liga Indonesia seperti yang pernah dialami oleh Sriwijaya FC ?, atau justru salah satu dari dua tim lawas eks perserikatan (PSM dan Persipura) yang mampu menjadi jawara dahn menyelamatkan “harga diri” klub-klub lawas yang musim ini terjungkal dengan hadirnya tim anyaran ?, nantikan dan nikmati geliat tiap laga sisia saja hingga akhir kompetisi berakhir. Musim liga tahun ini memang kerap dipenuhi para muda berbahaya, tidak hanya para pemain tapi juga geliat klub muda, yang muda yang berbahaya.

Salam sumpah pemuda.. !!

NO
KLUB
LAHIR
1
Persatuan Sepakbola Makassar
2 November 1915
2
Persatuan Sepak Bola Indonesia Jakarta
3
Persatuan Sepak Bola Indonesia Bandung
14 Maret 1933
4
Persatuan Sepak Bola Indonesia Balikpapan
1950-an
5
Persatuan Sepak Bola Indonesia Jayapura
1 Mei 1963
6
Persatuan Sepak Bola Lamongan
18 April 1967
7
Persatuan Sepakbola Serui
1970
8
Semen Padang FC
30 November 1980
9
Arema FC
11 Agustus 1987
10
Persatuan Sepak Bola Barito Putera
21 April 1988
11
Mitra Kutai Kartanegara FC
2003
12
Persijatim Sriwijaya FC Palembang
23 Oktober 2004
13
Persegres Gresik United FC
14
Borneo FC
7 Maret 2014
15
Bali United Pusam FC
15 Februari 2015
16
Persatuan Sepak Bola Tentara Nasional Indonesia
November 2015
17
Madura United FC
10 Januari 2016
18
Bhayangkara Surabaya United
12 April 2016
Tabel Tingkatan Usia Tim Liga 1



Rizal Nanda Maghfiroh.
---
28 Oktober 2017

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.