Uswah: Waliyullah Mati Su'ul Khatimmah





“ Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami, kemudian Dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu Dia diikuti oleh syaitan (sampai Dia tergoda), Maka jadilah Dia Termasuk orang-orang yang sesat.” (QS. Al A’rof: 175)

Para ‘Ulama berbeda pendapat dalam mentafsiri siapa orang yang dimaksud dalam ayat tersebut. Ibnu Abbas, Ibnu Ishaq, serta Imam As Syadi mentafsiri bahwa orang dalam ayat tersebut adalah Bal’an Bin Bakhura Bin Ba’il Bin Abil Bin Marat Bin Luth As. Beliau adalah salah satu dari wakil Allah SWT yang hidup di zaman Nabi Musa As. Bal’an Hidup bertempat tinggal disuatu kota bernama Bakhura yang dihuni oleh sekelompok Kaum Jababirrah, dimana kelompok kaum tersebut mempunyai perilaku yang sangat buruk, seperti tradisi jahiliyyah membunuh bayi perempuan ketika lahir. 

Pada suatu hari, Nabi Musa As menghimpun kekuatan untuk menyerang kaum Jababirrah, sebab hari demi hari perilaku kaum Jababirrah semakin kelewatan akan kebusukannya. Merasa khawatir terhadap keselamatan kaumnya, Tarot Bin Su’ad selaku tetua kaum Jababirrah memutuskan untuk mendatangi Bal’an Bin Bakhura guna meminta perlindungan karena memang dirinya dikarunia kelebihan berupa doanya yang mustajab.

“Wahai Bal’an, Musa dan bala tentaranya itu sesungguhnya adalah orang-orang yang sangat jahat. Bahkan mereka ingin mengusir kita kaum Jababirrah dari kota Bakhura, tentulah termasuk engkau pula nantinya. Kami semua sepakat untuk meminta padamu agar engkau sudi memohon doa pada Allah SWT agar menghalangi Musa dan pengikutnya menyerang kami”.  Bujuk Tarot dengan memelas.

“Celaka kalian, apa kalian tidak mengetahui bahwa Musa adalah nabi Allah SWT yang tentulah dicintai oleh-Nya. Jika aku melakukan hal sebagaimana engkau pinta maka dunia dan akhiratku tentu akan hilang”, sahut Bal’an.

“Tapi bagaimana nasip kami jikalau nantinya Musa dan pengikutnya mengambil hak-hak kami; rumah-rumah kami, pakaian kami, bahkan istri-istri kami.”, rengek Tarot.

“Sabarlah kaumku, aku akan meminta pertimbangan pada Allah SWT”.

Setelah bermunajat meminta petunjuk pada Allah SWT, Bal’an mendapatkan sebuah petunjuk dalam mimpinya yang berisi larangan agar dirinya mengacuhkan permohonan Kaum Jababirrah terkait Nabi Musa. Keesokan harinya Bal’an pun memberitahukan hasil munajat yang ia dapat kepada Tarot Bin Su’ad selaku tetua kaum Jababirrah, yang tentulah membuat Tarot kecewa tentang hal tersebut. Segeralah dirinya kembali membujuk Bal’an dengan serangan bertubi-tubi bahkan dengan iming-iming harta melimpah.

“Sabarlah kaumku, aku akan meminta kembali pertimbangan pada Allah SWT”, jawab Bal’an bijak.

Untuk kedua kalinya Bal’an pun bermunajat meminta pertimbangan pada Allah SWT terkait aduan Tarot Bin Su’ad . Akan tetapi munajat Bal’an yang kedua ini diacuhkan oleh Allah SWT hingga Bal’an tak mendapati petujuk apa-apa. Secepat mungkin Bal’an kembali memberitahukan hasil munajatnya pada Tarot Bin Su’ad. “Aku sudah bermunajat meminta pertimbangan pada Allah SWT, namun kali ini tuhanku tidak merespon munajatku hingga tak kutemui sebuah petunjuk”.

“Jika memang Allah SWT melarang engkau pastilah Allah SWT akan menegurmu sebagaimana munajatmu yang pertama. Namun untuk munajatmu yang kedua Allah SWT tak menegurmu, dengan demikian berarti Allah SWT telah mengizinkan engkau melakukannya”, kata Tarot dengan berusaha sekuat tenaga membujuk Bal’an.

“Tidak!!!, aku tidak akan mendoakan jelek pada Nabi Musa beserta bala tentaranya. Maafkan aku kaumku”, sahut Bal’an. 

***
Keteguhan Bal’an hampir membuat Tarot Bin Su’ad putus asa, segeralah ia mengadakan musyawarah dengan para penggede kaum Jababirrah lainnya guna mencari solusi penyelesaian lain.

 “Jika Bal’an tetap berpegang dengan pendiriannya, bagaimana kalau kita mengalihkan bujukan pada istri Bal’an. Kita iming-iming dia emas dan permadi-permadani agar ia mau membujuk Bal’an agar sudi melakukan permintaan kita semula. Barangkali Bal’an akan terbujuk karena sekuat-kuatnya seorang ksatria tentu akan lemas tertunduk dengan istri terkasihnya”, opsi dari salah satu penggede Jababirrah lainnya. Hingga opsi tersebut akhirnya diterima dengan Afirmasi melimpah dari para peserta persidangan Jababirrah.

***
Segeralah salah satu diantara kaum Jababirrah menemui istri Bal’an dengan membawa iming-iming berbagai macam harta dan perhisasan agar dirinya sudi membujuk Bal’an untuk melakukan ritual permohonan pada Allah SWT terkait bala’ yang akan menimpa Nabi Musa beserta pengikut-pengikutnya. Gayung pun bersambut dengan berhasilnya siasat mereka, istri Bal’an pun menerima kesepakatan perjanjian dan akan berusaha secara maksimal merayu suaminya agar mau menerima pinta kaum Jababirrah.

Satu kali dua kali Bal’an pun tetap dalam pendiriannya dengan ogah menerima bujukan dari istri terkasihnya. Namun berkali-kali serangan dari sang istri akhirnya membuat Bal’an jebol juga akan ketahanan akan keteguhan hatinya. Bal’an pun segera mengambil keledai tunggangannya menuju puncak gunung Hisan untuk uzlah dan bermakusd mengutarakan hajat pada Allah SWT disana. Anehnya ditengah perjalanan berkali-kali keledai tunggangannya terjatuh (Ambruk: Jawa) tanpa sebab, seperti ada yang menghalang-halangi keledai tersebut untuk jalan.  Nah untuk yang terakhir kalinya ketika keledai tersebut terjatuh maka Bal’an pun memukul keledai tersebut supaya segera berdiri. Setelah itu Allah SWT menampakkan kuasanya, dengan sifat Qudrat dan Iradat-Nya keledai tunggangan Bal’an tersebut dapat berbicara. “Celaka engkau bal’an, apa engkau tidak mengetahui bahwa para malaikat berbondong-bondong menghadang didepanku hingga berkali-kali aku terjatuh. Ketahuilah engkau tidak pantas mendoakan jelek pada Nabi Musa As”.

Mendengar kata-kata si keledai, Bal’an tersungkur bersujud memohon ampun kepada Allah SWT, alhasil para malaikat yang berkumpul di lokasi tersebut pergi karena mungkin merasa tugasnya untuk menyadarkan Bal’an terealisasi atau justru karena muak melihat tingkah Bal’an. Pasca kepergian para malaikat saat Bal’an bangkit dari sujudnya datanglah syetan yang bermaksud menggoda keteguhan Bal’an dengan membisiki kesedian hati Bal’an atas perilaku yang dilakukannya.

“Sudahlah Bal’an jangan engkau menyesal, lanjutkan saja perjalananmu karena sedikit lagi engkau akan mencapai puncak gunung Hisan, semangat !!!. Kata-kata dari keledai tadi bisa jadi berasal dari kata-kata jelmaan Jin atau Syetan yang bermaksud menggagalkan niat baikmu untuk menolong hak-hak kaum jababirrah yang tertindas oleh kediktatoran Nabi Musa As kelak tatkala benar menyerbu Bakhura”

Bisikan syetan tersebut lebih kuat dari penyesalan Bal’an akan tindakan yang ia lakukan, ia pun segera menunggangi keledainya menuju puncak Gunung Hisan. Sesampainya dipuncak ia segera mempersiapkan diri guna melangsungkan ritual penyampaian hajat pada Allah SWT sesuai aduan Tarot Bin Su’ad.

Allah SWT kembali menujukkan kebesarannya, ketika Bal’an Bin Bakhura mengucapkan doanya, Allah SWT pun membalik redaksi doa yang diucapkannya. Maksudnya ketika Bal’an hendak mengucap lafadz “Ya Allah berilah kemenangan kaum kami dan hancurkanlah kaum Nabi Musa”, mulut Bal’an justru mengucapkan redaksi kebalikannya, “Ya Allah berilah kemenangan kaum Nabi Musa As dan beri kehancuran pada kaum kami”.

“Mengapa engkau berdoa seperti itu, bukankah tujuanmu adalah mendoakan kehancuran Nabi Musa As beserta kaumnya ?”, tanya keledai yang kembali dapat berbicara.

“Entah apa yang terjadi, lidahku tiba-tiba mengucap kata-kata itu”, papar Bal’an.

Pasca itu pula tiba-tiba lidah Bal’an menjulur panjang hingga dada seraya berkata, “Wahai Bal’an Bin Bakhura dan kaum Jababirrah sudah hilang dunia dan akhirat kalian. Nantikan saja kehancuran kalian yang sebentar lagi akan datang. Sekarang yang kalian miliki hanyalah tipu daya dan rekayasa.” 

***
Setelah kejadian tersebut Bal’an berubah seratus delapan puluh derajat, dari awalnya gemar beribadah dan mengagumi para nabi dan rasul Allah SWT. Kini Bal’an juga kerap berperilaku seperti kaum Jababirrah pada umumnya, gemar mabuk-mabukan, berjudi, hingga melakukan perzinaan. Pasca itu pula Bal’an memerintahkan kaumnya tentang untuk melakukan hal yang keji pada pasukan Nabi Musa As untuk mencoba memecah-belah. “Kirim para wanita cantik rupawan dan sexy pula ke markas tentara kaum pengikut Musa. Lalu suruh mereka untuk menggoda para tentara hingga melakukan perbuatan perzinaan”

Kemudaian salah satu dari wanita tersebut yang bernama Kabsah Binti Surayah berhasil merealisasikan mandat dari Bal’an, hingga akhirnya seorang pasukan terbaik abdi Nabi Musa As bernama Zamrah Bin Salum Bin Samun Bin Ya’kub As terbujuk dengan godaan keanggunan Kabsah Binti Surayah. Uniknya sebelum ia melakukan perzinaan dengan wanita bernama Kabsah, Zamrah sempat mendatangi Nabi Musa As untuk menyampaikan apa yang akan ia lakukan. “Wahai Nabi Musa As, ketahuilah bahwa aku akan melakukan hubungan badan dengan wanita ini. Tentulah engkau pasti akan melarangku untuk melakukannya, namun aku tak akan  memperdulikan laranganmu”.

Pasca Zamrah melakukan perzinaan dengan Kabsah timbulah permasalahan besar. Prajurit Nabi Musa As semuanya terkena penyakit kolera, bahkan semua kaum Jababirrah juga tak luput dari sasaran wabah kolera tak terkecuali mantan waliyullah Bal’an Bin Bakhura

***
Suatu saat datanglah salah satu pemuda dari kalangan abdi mendatangi Nabi Musa As untuk menanyakan dalih apa yang sebenarnya telah terjadi dan apa penyebab terjadinya wabah kolera secara missal. Nabi Musa As pun menceritakan hal yang sebenarnya terjadi bahwa wabah missal tersebut adalah wabah yang didatangkan oleh Allah SWT gegara hubungan gelap yang terjadi antara Zamrah dengan seorang wanita bernama Kabsah. Usai mendengar penjelasan panjang lebar dari Nabi Musa, seorang pemuda tersebut naik pitam dan segeralah dicari dimanakah keberadaan Zamrah dan kekasih gelapnya. Setelah berlama-lama mencari akhirnya si pemuda tersebut berhasil menemukan dimana keberadaan zamrah dan wanitanya. Maka ditendanglah Zamrah oleh si pemuda, sambil di tangannya memegang tombak ditancapkanlah tombak tersebut kearah dada Zamrah keemudian melemparkan tombak tersebut ke arah wanita bernama Kabsah hingga sepasang sejoli tersebut tewas.

Allah SWT pun kembali menampakkan kekuasaannya, pasca Zamrah dan Kabsah tewas semua prajurit dan pengikut Nabi Musa As secara berbarengan sembuh dari wabah penyakit kolera. Disisi lain keadaan tersebut berbanding terbalik dengan yang dialami seluruh kaum Jababirrah tak terkecuali Bal’an Bin Bakhura. Justru penyakit tersebut lambat laut semakin parah, hingga puncaknya seluruh kaum Jababirrah beserta sang mantan wakil Allah SWT “Bal’an Bin Bakhura” tewas akhibat wabah tersebut. Mereka semua menyandang status sebagai su’ul khatimmah di mata Allah SWT, na’udzu billah.
Wallahu ‘alam bi showab

----
Oleh: Rizal Nanda Maghfiroh

Sumber: 

Dikutip dari dawuh KH. Mohammad Djamaluddin Ahmad (Majlis Pengasuh Ponpes Bahrul ‘Ulum Tambakberas) dalam pengajian Al Hikam 14 Juni 2010.

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.