Generasi Verbal vs Generasi Visual


Keterbukaan orde reformasi ditengah perkembangan globalisasi  berdampak dengan munculnya dogma peradaban demokrasi virtual. Dampaknya laksana pisau  bermata dua, mampu digunakan menuju kemaslahatan ummah disisi lain juga dampaknya kerap menimbulkan damage pada struktur tatanan sosial melalui agenda Cyberwar secara bebas tanpa terikat sebuah norma sosial. Pembahasan opini disini bukan membincang tentang efek adanya peradaban virtual yang memunculkan dua jalur haluan; haluan minus dan haluan plus. Namun pembahasan dalam opini disini hanya terbatas pada dua jenis pelaku dari peradaban demokrasi virtual sendiri; generasi verbal vis a vis generasi visula. 

Sebenarnya ide pemahasan tema sebagaimana kali ini awalnya bermula dari pembincangan lepas dengan para kolega seperjuangan di HIMMABA  (Himpunan Mahasiswa Malang Alumni Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum Tambakberas) tatkala mampir sejenak di salah satu kedai kopi di daerah Lowokwaru Kota Malang.

Memang bagi para mahasiswa apalagi statusnya ditambah sebagai santri yang terikat dalam sebuah organisasi, kedai kopi bukan hanya sebatas tempat pelampiasan sebuah kejenuhan, tempat mencari sebuah referensi instan guna menyelesaikan tugas perkuliahan, atau bahkan tempat nongkrong dengan para pasangan, melainkan juga berperan laksana sebuah  majlis ta’lim  yang kerap diisi dengan proses edukasi mengembangkan potensi diri melalui berbagai dialeka terkait pengembangan wacana kekinian guna sebagai media untuk membangun chemistry dalam rangka memperluas eksistensi diri.

Kembali ke perbincangan semula, melalui dialeka lepas ala santri terselip sebuah hipotesis wacana tentang efek dari perkembangan peradaban virtual yang sekaan mempunyai elastisitas tak terbatas, mudah sekali untuk lentur mengikuti kondisi rill dari berbagai tiap periodesasi masyarakat. 

Nah, elastisnya peradaban virtual pada akhirnya kerap mempengaruhi tipologi para pelaku peradaban virtual sendiri mengikuti arus Trending Topic fenomena virtual, apalagi masyarakat sosial di Indonesia dikenal sebagai aktor utama dalam peradaban virtual yang salah satu buktinya adalah banyaknya pengguna internet di ruang sosial masyarakat Indonesia, mulai dari para anak-anak hingga para manula kesemuanya pun tak ketinggalan menikmati godaan layanan yang tersedia dalam peradaban virtual. Jika dulu diawal millennium 2000 peradaban virtual kerap dihiasi dengan berbagai konten berbentuk verbal, seperti maraknya kemunculan berbagai situs blog kala itu yang beriskan berbagai uraian wacana verbal dari  para pengguna sesuai paradigma masing-masing, hingga lahirnya berbagai aktifitas dialeka verbal antar penikmat seperti dalam media kaskus.

Namun seiring berkembangnya peradaban virtual dengan keterbukaan menyuarakan kreatifitas gagasan demokrasi maka memunculkan pula berbagai media sosial virtual yang bukan hanya sebatas sebagai tempat bertukar gagasan verbal saja. Tetapi berkembang pula sebagai media untuk saling eksis dalam hal visual, seperti saling share galeri foto kegiatan pribadi, gambaran karikatur, hingga terkini berlanjut pula dengan editing quote dan meme dari para tokoh yang menjadi trending topic perbincangan. Bergesernya paradigma peradaban virtual dari media pemberitaan verbal menuju media visual atau bahkan audiovisual  yang digalakkan oleh berbagai situs media sosial seakan memunculkan dua kelompok kategori penggiat wacana virtual, dalam hal ini generasi verbal dan generasi visual.

Minimnya minat baca dikalangan masyarakat Indonesia terhadap berbagai sumber verbal merupakan salah satu penyebab menurunnya ratting berbagai media verbal semacam situs-situs penyedia berita, atau bahkan situs penampung opini gagasan yang dituangkan dalam sebuah ketikan. Tak heran jika kerap kali muncul gejolak sosial efek provokasi tanpa henti dari suatu pemberitaan yang justru terkadang tanpa disertai sajian sumber referensi rujukan yang shohih secara shorih. Justru terkadang diantaranya kerap hanya berupa postingan foto yang disertai kutipan kata-kata singkat berbentuk Quote; ntah itu berbentuk motivasi, cacian, atau bahkan sebenarnya merupakan kata-kata provokasi.

Munculnya berbagai media sosial yang bergenre visual semacam instagram memang lebih diminati daripada media verbal semacam Wordpres, blogger, hingga situs-situs penampung gagasan verbal lainnya. Hal ini kuatkan dengan banyaknya penggiat yang kerap condong dengan share galeri foto dan video daripada menyempatkan diri bermesraan dengan media verbal berbentuk ketikan. Jangankan berkontribusi membuat opini berbentuk verbal dalam sebuah situs pemberitaan, mencari sebuah komentar pada sebuah tulisan  berita atau opini  yang ditulis dalam sebuah situs saja tentu sulitnya bukan main, coba bandingkan dengan komentar pada galeri foto atau status pada media sosial semacam instagram atau pun facebook tentu sangat jauh perbandingannya. 

Bukannya mengunggulkan generasi verbal daripada generasi visual, opini disini tiada lain sebatas komentator lepas membincang sebuah fenomena dalam peradaban virtual, yang mana memang tak bisa dipungkiri bahwa masyarakat virtual Indoensia masih lemah akan minat baca dalam hal berbau opini bergenre verbal. Berbanding terbalik dengan tingginya minat mengeksistensikan diri dalam hal-hal bergenre visual dikalangan penggiat peradaban virtual.

Meskipun sebenarnya ada hal lain yang kerap terlupa dan tak disadari oleh para penggiat visual, bahwa dalam  sebuah visual tentulah  membutuhkan kolaborasi bantuan rangkaian verbal untuk menjelaskan pemahaman akan pesan yang  ingin disampaikan. Lain hanya dengan sebuah karya verbal,  rangkaian verbal tetap masih mampu memberikan pemahaman meski tanpa bantuan visual, meskipun adanya karya visual juga mampu menguatkan akan kesempurnaan bentuk verbal yang akan dijelaskan. 
--------------------
Oleh: Rizal Nanda Maghfiroh

(Ditulis di Kedai Eyang Kopi Malang, 10 Oktober 2017)

(Tulsian pernah pula dikirim di pesantrenstory.com )


Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.