Selamat Jalan Captain Choirul Huda, The Real Legend

"Kalau ada klub di daerah asal, kenapa harus bela yang lainnya. 
Bukan apa, bagi saya materi itu tak penting. 
Saya cuma ingin membela klub yang sudah jadi bagian hidup saya "
-----
(Capt. Choirul  Huda - Viva.com 2016)


Innalillahi wa inna ilahi rajiun, tak disangka tak diduga sore ahad hari ini (15/10/17) menjadi hari kelabu bagi dunia sepakbola Indonesia, khusus bagi warga Lamongan dan segenap mania klub Persela Lamongan. Sang legenda, kiper legendaris, kapten teladan, sala satu putra terbaik Lamongan El Capitano “Choirul Huda” telah pulang ke hadirat pangkuan sisi Sang Hyang Ilahiyyah tertunggal.

Kehilangan besar bagi dunia pesepakbola Indonesia, wajar saja sang mendiang Captain Huda memang salah satu senior yang dikenal mempunyai dedikasi tinggi bagi geliat sepakbola Indoneseia, sebagai penegas bagi para pemain muda bahwa tiada kata udzur dalam sebuah perjuangan, bahwa usia bukalah halangan untuk terus menebar eksistensi diri, atau berhenti dari sebuah hobi yang telah menjadi filosofi jati diri. 

Padahal siang hari tepat sebelum Persela Lamongan mengawali pertandingan lanjutan Liga 1 melawan Semen Padang sempat pula pribadi mencari Strating XI tim Laskar Joko Tingkir dalam aneka kabar di dunia virtual. Apalagi pagi harinya dikabarkan bahwa Laskar Joko Tingkir akan melakukan perubahan komposisi XI melawan Semen Padang, dimana tiga pemain yang kerap absen dalam match sebelumnya akan menjadi starter; Ivan Carlos “Si Bot”, winger muda Fahmi Al Ayyubi, dan tak lupa pula El Capitano Choirul Huda sebagai rising star Laskar Joko Tingkir.

Sempat pula pribadi melakukan ritual rutinan stalking beberapa akun punggawa pemain Persela tepat sebelum Kick Off Persela vs Semen Padang. Setelah bermesra dengan stalking akun punggawa, pun akhirnya sempat juga singgah di sebuah akun fans Persela dan menemukan sebuah postingan empat hari yang lalu (11/10/17) berisikan sebuah gambar foto sang legenda dengan kata-kata “Ada yang kangen ?”, karena memang sejak Coach Aji Santoso comeback ke Persela menggantikan Coach Herry Kiswanto Cak Huda kerap menjadi alternatif kedua goalkepper Persela, dibawah bayang-bayang Eks Kiper Persipura tahun lalu Ferdiansyah yang semakin matang pula. Kemudian kala itu pula salah seorang Hatters dengan user @ikhfadhli berkomentar lepas bahwa Sang Kapten perlu dilepas Persela karena terlalu tua dan menurun kualitasnya guna meningatkan efektifitas permainan Persela. 

Disisi lain salah satu pendukung Cak Huda membela matian-matian debat panjang di komentator Instagram kala itu, menanggapi perkataan redaksi dari si Hatters. Masih ingat pula salah satu komentator si hatters dalam perdebatan panjang kala terkait pernyataan “cintamu nak pemain dudu nak Persela, berarti hanya tahu chasing bukan tahu dalamnya ”, hingga saat itu pula akhirnya Mendiang Captain Cak Huda dengan user @c.huda_01 ikut nimbrung juga dalam perdebatan virtual panas kala itu dengan  sebuah pernyataan “Ayo tak jak ngopi mas, tak ceritani bal balan mas cek eroh mas”. Sebuah pernyataan terakhir yang saya dengar dari Cak Huda langsung dalam postingan empat hari yang lalu sebelum kepulangannya hari ini (15/10/17), walaupun hanya melalui redaksi kata-kata dalam pihak ketiga media instagram pula.

Masih teringat pula pertama kalinya kapan mulai mengenal sosok penjaga gawang Legendaris milik Persela, yaitu kala tahun 2005-2006 an saat Persela masih diasuh oleh Coach berdarah batak Zulkarnaen Pasaribu dan dilanjutkan dengan pelatih tiga zaman Moh. Basri. Meskipun tergolong sangat-sangat dini namun sejak saat itu pula rasantya jatuh hati pada geliat sepak bola Indonesia yang kala itu masih bernama Liga Djarum Indonesia. Kala itu mendiang Huda masih tergabung dengan armada semacam mendiang John Scarlet, Marcio Souza, Fabiano, Amsar Reza, hingga Charles Putirai.

Selamat jalan Legenda, One Man One One Club, sang captain yang tak pernah mendua sejak dipinang menjadi punggawa laskar biru muda Joko Tingkir pada 1999. Kesetiannya pada satu klub laksana tokoh Captain Tsubasa dalam sebuah anime klasik, pasca kemoncerannya justru Captain Tsubasa pernah menolak pinangan klub-klub besar bahkan Toho Akademi yang merupakan klub unggulan tingkat SMA dan justru tetap memilih setia pada Akademi Nankatsu yang merupakan akademi pertamanya sejak berkecimpung di Liga Pelajar Jepang.

Sama halnya dengan mendiang Captain Huda yang tetap setia pada panji sakti joko tingkir walaupun godaan untuk hengkang ke klub-klub besar Indonesia semacam Persija, Persib, hingga Sriwijaya FC pada 2013 terus menerjang pasca keberhasilannya mengantarkan Persela lolos menuju delapan besar ISL tahun 2011-2012 dengan finish di posisi empat wilayah barat. 

Wajar saja bagi mendiang Cak Huda Persela bukan hanya sebatas klub pertamanya, melainkan juga keluarga kedua yang didalamnya penuh berbagai prahara dan goresan perjuangan yang luar biasa besarnya. Banyak orang menjuluki mendiang sebagai Buffon Indonesia yang juga sama-sama tetap eksis bermain di liga professional meski sudah mendapati usia kepala tiga lebih dengan status captain pula. Geliat One Man One Club mensejajarkan mendiang dengan pemain kelas dunia semacam El Capitano Francesco Totti (As Roma), Daniel De Rossi (As Roma), Ryan Giggs (Man Utd), Paollo Maldini (Ac Milan), hingga Lionel Messi (Sekarang:Barcelona) yang tercatat juga hanya bermain untuk satu klub dalam perjalanan hidupnya.

Captain Choirul Huda mungkin merupakan segelintir pemain dari jutaan pemain bola yang mempunyai estafet sejarah perjuangan luar biasa bagi perkembangan sebuah klub sepakbola. Siapa dulu yang mengenal nama Persela Lamongan sebagai salah satu peta kekuatan sepak bola Jawa Timur, tentulah dulu orang tak akan pernah berfikir memasukkan Persela ke dalam jajaran klub elite Jawa Timur semacam Persebaya Surabaya, Persik Kediri, Arema Malang.

Tapi nyatanya perlahan demi pasti Persela Lamongan bersama Sang Kiper Legendaris mendiang Cak Huda mulai menunjukkan taji eksistensi untuk menggeser peta kekuatan sepakbola Jawa Timur dari Trio elite; mulai dari keberhasilan bangkit dari kasta bawah Divisi II, melewati Divisi I, hingga promosi ke kasta tertinggi LIGINA yang kala itu masih bernama Divisi Utama dengan menyingkirkan Perseden Denpasar lewat jalur Playoff pada 14 Oktober 2003. Sejak saat itu pula Persela bersama Sang Legenda mulai berhasil mematahkan dominasi trio elite dikanca Jawa Timur hingga menjadi tim terbanyak pengoleksi Tropi Juara Piala Gubernur Jatim (Liga Jatim) dengan lima tropi sebelum disamakan Persik Kediri di tahun 2015 lalu. 

Selamat jalan Sang Legenda, bukan hanya sebagai One Man One Club saja melainkan juga satu-satunya pemain di Indonesia atau mungkin juga di dunia yang pernah merasakan perjuangan di empat kasta divisi berbeda; mulai dari Divisi II (1999-2001), Divisi I (2002-2003), DIvisi Utama (2003-2007), hingga Liga Super Indonesia yang mulai digalakkan sejak tahun 2008.

Atas kontribusinya di Liga Djarum tahun 2007 bersama Persela, pada akhirnya mengangtarkan Persela berhasil menembus edisi pertama Liga Super Indonesia dengan finis di posisi enam klasemen akhir wilayah barat dari delapan besar klub yang diambil tiap wilayah. Berkat kontribusinya dibawah mistar pula Persela menjadi satu-satunya klub Jawa Timur yang tak pernah merasakan degradasi, ntah itu ketika Persela masih berada di liga amatir (Divisi II, I) atau ketika mulai bermain di kasta atas (Divisi Utama, Superliga) sejak menjadi debutan di tahun 2004.

Sayang sampai ketiadaanya tak pernah melihat Sang Kiper Legendaris menggunakan jersey garuda merah putih dibawah mistar dalam sebuah match resmi, sebuah keluputan dari para coach terdahulu yang luput untuk memberi kesempatan mendiang untuk unjuk diri akan caps bersama merah putih, hanya di tahun 2015 Sang Captain pernah masuk ke skuad Timnas ketika Pra Piala Asia sayang Jeksen F Tiago urung memberikannya Caps perdana untuk membela Garuda, meski sebenarnya Sang Legenda kerap mempunyai reflek yang lumayan bagus yang tak kalah dengan Kurnia Meiga dan I Made Irawan yang lebih menjadi favorit Riedl.

Selamat jalan Sang Legenda, Sang Kapten, Sang Komando, Sang Bintang, Maskot Tim, One Man One Club bernama Choirul Huda. Semoga pengabdian perjuanganmu menjadi jalan menuju tempat terbaik disisi-Nya.

-----
Rizal Nanda Maghfiroh

Lamongan - 15 Oktober 2017 


1 komentar:

Terima kasih atas masukan anda.