PKI bukan Hanya G30S

PKI bukan Hanya G30S
Cuplikan Film G30S PKI 

Masih terbayang memorial tatkala masih menginjak bangku Madrasah Ibtidaiyyah di awal milinium dua ribu dalam menerima informasi terkait gerakan PKI (Partai Komunis Indonesia) kala. Saat itu memang paradigma masyarakat pedesaan hampir pasti sudah terkena dogma propaganda dari pihak penguasa Orde Baru dalam membincang satu sisi terkait PKI sendiri. Karena memang anggapan PKI sebagai pemberontak NKRI seakan sudah seperti Trending Topic terutama bagi masyarakat pedesaan yang saat itu memang minim informasi dan pengetahuan.

Jangankan mendapat informasi dari surat kabar harian, pemberitaan di pedesaan kala hanya mengandalkan siaran Radio yang sangat memungkinkan untuk dijadikan alat propaganda. Hingga kini saya masih teringat cekokan informasi dari para sesepuh desa dan para pendidik di madrasah terkait sepak terjang dari sebuah partai beraliran Komunis bernama PKI. Bahwasahnya pada saat itu kerap kali diajarkan pada siswa bahwa komunis merupakan alliran yang mengajarkan tentang penihilan sebuah unsur ketuhanan. Hingga pada akhirnya anggapan ini jelas sangat bertentangan dengan ajaran sebuah agama termasuk agama Islam. 

Padahal sebenarnya komunis berbeda dengan Atheis dalam menyikapi tentang sebuah agama. Jika Atheis secara kamil tidak mempercayai keberadaan tuhan beserta ajaran-ajarannya diruang sosial, maka posisi agama dalam komunis sedikit mempunyai tempat akan pengakuan terhadap keberadaannya. Hanya saja posisi agama dalam komunis tetap terbilang ekslusif yang mana hanya berkaitan keyakinan dalam diri tiap individu saja. Mengingat secara umum komunisme berlandaskan pada filsafat materialisme dialeka ala Marxisme yang memang lebih mengarah pada hal-hal yang abstrak, nyata, realistis dalam kehidupan. Alhasil komunis menganggap “sebuah agama seperti sebuah candu” yang membuat orang kerap berangan-angan diluar hal materialistik, keluar dari hal yang nyata, sepertihalnya paradigma tokoh filusuf eropa semacam Sighmund Freud dan Jung melalui gagasan Psikolanalisnya.

Mungkin alasan inilah yang pada akhirnya memunculkan anggapan pada para sesepuh dan pendidik kami kala bahwa ideology PKI tak mempercayai tuhan. Padahal fakta dilapangan bahwa pengikut PKI juga banyak pula yang berasal dari warga muslim terutama di pedesaan-pesesaan. Bahkan beberapa sumber berita terkini menyebut Dipa Nusantara Aidit merupakan sosok muadzin selama masa mudanya.  Hingga pada akhirnya anggapan PKI yang tak percaya tuhan diteruskan pula pada anggapan lain bahwa PKI mempunyai sebuah misi khusus yakni ingin mengubah NKRI menjadi negara komunis yang mana posisi Sila pertama Pancasila akan dihapuskan karena komunisme anggapan komunisme tak mempercayai ketuhanan. 

Opini bebas disini bukan bermaksud memihak pada kalangan PKI yang memang posisinya seakan seperti pasukan kurawa di Perang saudara Baratayuda, selalu dicela atas keserakahan akan kekuasaannya hingga memutuskan perang melawan Pandawa lima. Padahal konflik antara Kurawa – Pandawa juga sedikit banyak berkaitan pula dengan perebutan kekuasaan antar keduanya, dimana saat itu Pandawa tetap bersikukuh meminta jatah wilayah Kuru dari kekuasaan negara Hastina Kurawa untuk dapat memperluas Indraprasta hingga keengganan putra Destrarata menerima permintaan Pandawa akhirnya menyebabkan tragedi perang saudara Baratayudha (Kurusetra: Versi asli).

Nah opini tentang PKI disini hanya sekedar berbagai dialeka bebas membincang terkait wacana PKI yang kembai moncer ke permukaan perbincangan di akhir tahun 2017, dengan diawali isu-isu murahan bahwa PKI mulai menyusup ke pemerintahan kabinet Presiden Joko Widodo, hingga berlanjut pada pro-kontra kebijakan Jenderal TNI Gatot Nurmanto melegalkan pemutaran kembali film Penumpasan Pengkhianatan G30S PKI buatan Arifin C Noer (1984) yang tak lagi menjadi tontonan wajib pasca revolusi 1998 kala. Terakhir kembali munculnya aksi berjilid 299 oleh beberapa ormas Islam di Jakarta juga menyinggung tentang penolakan kembali kemunculan Komunisme (PKI) menjadi sebuah epilog tentang phobia berkepanjangan.

Opini disini tidak membincang tentang pro-kontra kebiadaban PKI buatan Arifin C. Noer tersebut sepertihala yang telah dirangkai dalam sejarah keIndonesiaan sejak rezim Orde Baru, atau tentang versi lain berisikan kontroversi keterlibatan Angkatan Darat dalam hal ini Soeharto yang mengkambing hitamkan PKI untuk mengkudeta kekuasaan rezim Bung Karno melalui Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret). Namun sekali lagi opini disini hanya sebatas komentar bebas sebagai kontribusi opini tentang isu lama kemunculan kembali PKI, seperti halnya ungkapan tema forum diskusi ILC (Indonesia Lawyer Club) di Tvone; PKI hantu atau nyata ?.

Sangat disayangkan munculnya kembali isu PKI di ruang sosial yang kemudian menjadi santapan nikmat para media pertelevisian sebagai isu nasional seakan tak berbanding lurus dengan penjelasan tentang hakekat PKI itu sendiri. Hampir semua media pertelevisian sebagai pamameter demokrasi pers hanya menyinggung tentang sepak terjang pemberontakan PKI (1965) .Dalam artian propaganda siaran yang dipaparkan hanya terbatas pada sudut pandang Aksiologis gerakan PKI itu sendiri yang puncaknya adalah fenomena pengkhianatan G 30S PKI versi rezim Orde Baru (1965).

Hampir kesemua media pertelevisian tidak mencoba member ikan pemahaman secara sistematis tentang gerakan PKI sendiri; mulai dari apa sebenarnya komunisme itu ?, apa tujuan dari gerakan komunis yang akhirnya bertransformasi menjadi PKI (Partai Komunis Indonesia) ?, hingga bagaimana sepak terjang gerakan PKI hingga menjadi salah satu kekuatan Fantastic Four di Orde Lama dibawah PNI, Masyumi, dan Partai NU ?. 

Seyogyanya berkembangnya globalisasi yang dibarengi dengan fenomena peradaban virtual (Baca) haruslah diimbangi dengan produktifitas pewacanaan termasuk dalam menanggapi kembali isu kembangkitan PKI yang kembali moncer ke permukaan sejak Presiden Jokowi menjadi Presiden RI. Dengan kata lain media pertelevisian tak terkecuali  media pers lainnya haruslah bersikap bijak dalam wacana dalam menanggapi pemberitaan tentang isu tahunan tersebut. Bukan bermaksud membela para dinasti PKI yang kalah dalam perang Baratayuda versi Nusantara, melainkan alangkah baiknya pembahasan wacana tentang PKI diimbangi pula dengan pembahasan cakupan lain berkenaan dengan PKI itu sendiri, bukan hanya terus-terusan berpropoganda tentang kebiadaan 1965.

Apalagi masyarakat Indonesia kini dikenal gemar menyerap berita instan daripada sibuk mencari kebenaran dalam wacana kemandirian dari berbagai asrip kesejarahan. Hal ini agar muncul pemahaman kamil dari masyarakat tentang PKI dan komunisme, sehingga akan memberikan sebuah bangunan paradigma baru secara komprehensif tentang PKI itu sendiri mulai Epistimologis, Ontologis hingga aksiologis. Bukan hanya sekedar melakukan fonis turunan pada PKI bahwa penggiat PKI adalah kaum yang antipasti pada agama atau fonis negatif yang lain.

Dengan kata lain mencoba membahas sudut pandang lain dari gerakan PKI sepertihalnya beberapa kasus pertanyaan yang dipaparkan diatas juga tak kalah penting dari membahas PKI dalam perspektif G 30S PKI, hal ini demi mencari sebuah hikmah dari adanya sebuah partai PKI, bukan hanya terus menerus menenggelamkan diri dengan phobia berkepanjangan dengan  isu lama yang tidak produtif jika malah menimbulkan prasangka dan berujung penyebaran sara tanpa kejelasan sumbernya terkait PKI. 

Bukan bermaksud antipati pada kewaspadaan akan kemangkitan PKI, hanya saja membincang rana positif lain dari apa rahasia partai sebesar PKI yang pernah menjadi salah satu dari kekuatan  Fantastic Four Orde Lama dengan berbagai kekuatan strukturnya di segala lini; mulai Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia), BTI (Barisan Tani Indonesia), hingga Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang pada akhirnya mampu menjadi wadah penampung favorit kalangan bawah terutama di desa-desa. Bukankah ini lebih membangun paradigma dan wacana  daripada sibuk berbincang tentang Phobia berkepanjangan yang tak ada hentinya. ?

-----
Rizal Nanda Maghfiroh - Lamongan 30 September 2017

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.