Demokrasi dan Peradaban Virtual


Anak-anak di Warung kopi
Lagi-lagi buntu akan sebuah ide yang dapat dituangkan dalam gagasan pribadi sebagai wujud aktualisasi diri melalui opini berbagai macam dialeka lepas tanpa batas. Hingga siang ini saya pacu motor bebek kearah pusat kecamatan menuju kedai warung kopi yang biasanya saya singgahi tatkala penat dalam aktivitas pribadi. Hari minggu memang banyak kalangan libur akan aktivitas kerja atau sekolah, wajar saja jikalau kedai warung ini penuh sesak akan keramaian pengunjung yang turut berkecimpung singgah berteman dengan kopi dari kedai warung ini.

Sekilas teramati dengan seksama sesuai dugaan semula bahwa hampir kesemua pengunjung kedai sibuk dengan urusan pribadinya masing-masing melalui sebuah media sakti bernama gadget, meskipun ada sedikit diantara mereka yang justru lebih memilih bermain permainan Biliyard dengan temannya daripada mengautiskan diri dengan media wifi. Adapun mereka yang bermesra dengan Gadget adakalanya mereka sibuk bermain aplikasi permainan berbasis mobile seperti; Mobile Legend, Clash Of Clans, Poker Online, dan permainan online lainnya, adapula diantara pengunjung yang lebih memilih mengautiskan diri dengan teman virtual mereka melalui berbagai media sosial, mulai dari facebook, whats app, instagram, bbm, dan media virtual sejenis lainnya.

Sehingga fenomena sebagaimana diatas menyadarkan benak pribadi bahwa komposisi utama kebutuhan manusia telah berubah. Jika dulu kerap dipaparkan bahwa Sandang, Pangan, Papan sebagai kebutuhan primer manusia untuk bertahan hidup (Minus kebutuhan Safety, Afeksi, dan aktualisasi diri), maka kini komposisi utama kebutuhan hidup bukan hanya tiga pembagian melainkan menjadi empat dimana kebutuhan akan terknologi informasi dan komunikasi (seperti melalui Gadget) menjadi kebutuhan primer bagi kelompok generasi millineum 2000.

Dengan demikian wajar pula jika masyarakat Indonesia terdogma sebagai aktor utama penikmat teknologi informasi virtual melalui sebuah media internet yang dapat secara mudah diakses menggunakan berbagai media Gadget yang senantiasa di upgrade tiap kurun waktu. Ironi memang bahwa hadirnya perkembagan teknologi informasi skala global dan instan kerap hanya dimanfaatkan sebagai sarana pemenuhan hasrat kebutuhan akan kepuasan pribadi. Tak Khayal jika Indonesia menjadi sasaran utama pasar global berbagai macam aplikasi virtual yang terkadang kerap sebagai candu kepuasan diri.

Contoh kecilnya saja tatkala pasar dunia mencoba menawarkan permainan model sejenis Game Dota ala PC dalam bentuk mobile sehingga melahirkan permainan seperti Mobile Legend dan AOV maka penikmat virtual terutama muda-mudi nusantara akan berbodong-bondong menyerbu lapak penyedia aplikasi tersebut, sama halnya pula dengan  permainan Clash Of Clans atau Pokemon Go !!! yang pernah popular di masa boomingnya.

Begitu pula dengan genre media virtual lainnya seperti media sosial semacam Facebook, twitter, instagram, whats app, dan sejenisnya tentu juga tak lepas dengan serbuan para netizen Indonesia yang berperan menjadi penikmat utama sebagai aktor peradaban virtual. Berbagai situs dan aplikasi berkaitan dengan hiburan atau jual beli memang lebih meroket daripada situs aplikasi berkaitan dengan pengembangan gagasan yang dapat memberikan sebuah pencerahan seperti wordpress, blogger, kaskus, atau forum diskusi lainnya.

Paparan disini bukan bermaksud menyayangkan, karena menolak perubahan zaman merupakan sebuah penyelewengan pada fitrah kehidupan yang juga apabila dilakuan tentulah justru mengarah pada kemunduran kehidupan yang lambat laun akan terbelakang terbenam oleh zaman yang senantiasa dinamis. Namun opini kali ini hanya sedikit menyayangkan dalam sudut pandang pemanfaatan peradaban virtual, dimana peradaban Indonesia yang terkenal ramah tamah berbanding terbalik dengan kondisi peradaban virtual netizen Indonesia yang justru kerap kali menjadi pusat favorit para penggiat berita sara, hoax, hingga provokasi adu domba antar kubu.

Pencekalan situs konten palsu “Saracen” beberapa minggu lalu dan dilanjutkan dengan kabar terbaru munculnya situs nikahsiri.com sebagai penyedia jasa nikah siri dan lelang keperawanan menjadi sebuah justifikasi akan bukti nyata bahwa peradaban virtual Netizen Indonesia belum begitu sehat, jika merujuk pada komposisi penikmat teknologi dengan produk-produk gagasan postif yang dihasilkan dari peradaban virtual tersebut.

Kebebasan berekspresi secara bebas tanpa batasan di peradaban virtual seakan memunculkan justifikasi akan stigma demokrasi virtual sebagai upaya penyuaraan ide gagasan dan kreatifitas hak asasi manusia. Namun disisi lain adanya anggapan konsep demokrasi virtual justru kerap kali gagal dipahami oleh banyak penggiat dunia virtual dimana hampir kesemuanya menganggap bahwa peradaban virtual hanya sebagai media untuk berakulturasi diri menyebarkan ide-ide imaji, terutama bagi kalangan yang merasa tak mempunyai tempat akulturasi diri dalam ruang realitas sosial nyata.

 Atau bisa saja yang merasa terpojokkan dengan realita gejala sosial, seperti karena besarnya ekspektasi berebihan dalam diri yang berseberangan dengan kondisi ruang nyata, sehingga pada akhirnya membuat peradaban virtual sebagai gerbang utama  untuk pelampiasan akan realita yang telah menimpa di ruang kehidupan nyata.  Alhasil munculnya kabar berita sara, pelecehan, hoax, hingga provokasi pengadu dombaan di berbagai perbincangan merupakan produk nyata pengeksisan diri. 

Terakhir kembali disimpulkan bahwa peradaban virtual Indonesia memang tergolonng belum begitu sehat jika mengacu dengan banyaknya konten negatif yang diproduksi dan disebar luaskan. Karena itulah dalam menjelajah peradaban virtual haruslah memperhatikan rambu-rambu batasan dalam hal ini norma-norma sosial masyarakat yang juga harus senantiasa diterapkan pula dalam berproses di peradaban virtual.  Sampai lupa juga untuk menyeruput kopi hitam yang tergeletak diatas meja. Semoga opini praduga-praduga negatif sebagaimana diatas tidaklah berlaku sepenuhnya. Meski memang tersadari benar bahwa globalisasi dan perkembangan teknologi informasi virtual menjadi sebuah kebutuhan tersendiri bagi kalangan yang ingin beraktualisasi diri diberbagai rana bidang yang dikehendaki. 


(Ditulis 25 September 2017 Pukul 12.30 WIB di Kedai Kopi Depan Kecamatan Sambeng)
-----
Rizal Nanda Maghfiroh

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.