(3) Penyucian Pethel Welgeduwelbeh

Ilustrasi Petruk dengan Pethel Welgeduwelbeh

(Edisi Tahun Baru Suro 1951)

Pasca sidang tujuh pewayangan antara empat serangkai punakawan dengan tiga serangkai wanara sakti Kiskenda terkait tema pralaya hastina hingga munculnya kesepatakan pencarian Garuda sebagai petunjuk awal dimana Mustika Garda Panca Sirah sebagai pusaka kenegaraan hastina berada, maka Ki Lurah Petruk pun segera bergegas menuju gudang persenjataannya di daerah Lojitengara guna mengambil pusaka kesayangannya “Pethel (Indonesia: Kapak Kecil)” yang ia simpan di gudang pribadinya sejak tragedi “Petruk kelangan Pethele” yang disebabkan karena lemahnya daya ingat dalam dirinya efek gegar otak saat perang tanding melawan Gareng kala ia belum menjadi abdi Kyai Smarasanta. 

Ki petruk terkejut saat menemukan bahwa pethel yang dicarinya kini dalam keadaan jamuran, “Tidak ini bukan jamur tapi karat yang menyerupai jamur, wah waktunya untuk ngumbah keris, ehh. Pethel”, pikir Ki Petruk dalam sanubarinya. Segeralah ia mengambil kendi kamulyan yang airnya telah dicampur dengan kembang melati beriringan kembang sedap malam dan mengucap asma-asma Sang Hyang Ilahiyyah Wenang tur Tunggal dalam proses penyucian pusaka kesayangannya tersebut.

Anehnya walau digosok bertubi-tubi dengan lantunan asma-asma Haq, karatan di pethel berjuluk welgeduwelbeh terebut tetap tak bisa hilang seakan menempel erat laksana terkena lem perekat. Petruk pun mencoba lebih keras lagi menggosok-gosok mata pethel tersebut pada asahannya namun hasilnya tetap sama seperti sebelumnya. 

Petruk nampak frustasi terhadap pethel kesayangannya tersebut, dilemparkanlah pethel tersebut kedepan hingga hampir mengenai gurunya Kyai Lurah Smarasanta yang mendatangi Petruk. “Sekarang bulan Suro Petruk, bulan Haji telah usai, mengapa engkau tetap saja melempar Jumrah ?”  Sindir Kyai Semar pada muridnya.

“Hatur pangapunten mahaguru, hitamnya tubuh engkau membuat pengelihatanku kabur” Canda Petruk. “Bukankah engkau juga tak kalah hitam pula, toh ada apa gerangan tentang kekesalanmu hingga melempar senjata kesayanganmu ?”, tutur Kyai Semar pada muridnya.

Ki Petruk pun segera menceritakan kronologis cerita secara sistematis pada Gurunya Kyai Lurah Smarasanta, mulai dari alasannya menyimpan pusaka kesayangannya, alasan mengambilnya, hingga peristiwa kekesalannya saat melakukan pencucian pethel dari kotoran karatan. Sebenarnya Pethel Weleduwelbeh tersebut didapat Petruk dari warisan Gurunya sendiri “Kyai Lurah Smarasanta”, dimana awalnya Kyai Semar hendak mewariskan pusaka tersebut pada abdi pertamanya “Ki Lurah Bagong”. Namun karena sifat polos dan ceplas-ceplosnya Bagong maka Kyai Semar urung mewariskan pusaka Pethel pemberian Bathara Guru tersebut, hingga akhirnya ia menjatuhkan pilihan pada Petruk sebagai pewaris Pethel karena sifat Petruk yang lebih peka bersosial dan berinteraksi dalam ruang lingkup sosial dibanding Gareng apalagi Bagong.

“Petruk, engkau perlu tahu sebenarnya Pethel itu merupakan salah satu dari senjata keramat Mahaguruku Bathara Guru yang dihadiakan padaku sebagai tanda kelulusan dari penggembelengan dibangku perkuliahan. Saat itu hanya daku dan Togok yang dipanggil kehadapan eyang guru untuk diberikan warisan senjata “gegawan” tanda bukti kelulusan sebagai murid eyang guru. Bathara Guru menghadirkan pada kami berbagai macam senjata mulai dari tombak trisula, pedang rakasa, cakra, panah nagasaka, gada werkudara, hingga pethel besi. Lalu tanpa pikir panjang ku pilihlah Pethel itu sebagai pusaka pilihanku, sedangkan Togok memilih Pedang rakasa sebagai gegawannya”, Papar Kyai Smarasanta bercerita.

“Mengapa engkau pilih senjata pethel mahaguru, bukankah ada senjata mandraguna lainnya yang kesaktiannya luar biasa hebatnya, yang mungkin apabila engkau memilihnya dapat engkau gunakan untuk menyelesaikan permasalahan gejolak di hastina sekarang ini ?”

“Pertanyaanmu mengingatkanku pada pertanyaan guruku, usai daku menentukan pilihan untuk memilih Pethel sebagai gegawanku, eyang guru menguji keteguhan pilihanku dengan pertanyaan; apa engkau tak merubah pilihanmu selagi belum ku keluarkan surat keputusan tentang peresmian senjata gegawan. Di meja itu ada senjata lain yang kesaktiannya luar biasa dibanding Pethel itu yang mungkin bisa berguna bagimu di kehidupan masyarakat pasca kelulusanu, bagaimana?.- Selain itu Togok juga sempat mengolok-olok daku sebagai orang buta yang tak tahu mana senjata pilih tanding tepat sebelum ia meninggakan ndalem kasepuhan bersama abdinya Bilung yang mewarisi hasratnya pula .”

“Lantas lanjutan ceritanya bagaimana ?” , tanya Petruk sambil menyeruput kopi hitam racikan sendiri.

“ Perlu engkau tahu sejak awal saat guruku menjejer berbagai macam senjata diatas meja prasmanan, daku sudah merasakan aura kekaguman pada senjata Pethel itu meskipun bentuk fisiknya tak semewah senjata lainnya. Aura kesederhanaan dari pethel itulah yang membuat indra batinku tertarik akan menentukan pilihan. Saat aku sudah menentukan pilihan lalu di wisuda sang guru tersenyum bangga pada keputusanku, semakin menambah keyakinanku pada kemanfaatan Pethel itu dibanding dengan apabila aku memilih senjata lain. Pasca itu pula daku menyadari bahwa hakekat sebuah jimat atau senjata gegawan bukan hanya sekedar sebagai media untuk menambah ketenaran kesaktian atau memperkuat kedudukan kelanggengan kekuasaan, melainkan bahwa hakekat senjata gegawan adalah seberapa besar senjata tersebut digunakan untuk menuju kemaslahatan umat manusia di segala ruang publik. Inilah keistimewaan dari senjata pethel yang nilai kemanfaatannya lebih besar untuk membantu kemaslahatan kehidupan sesama manusia terutama kalangan rakyat jelata, contoh kecilnya bisa digunakan untuk memotong kayu yang dapat digunakan untuk menghidupi kebutuhan rakyat-rakyat kecil yang tertindas oleh kapitalisme maupun liberalisme para penguasa,  bandingkan daripada senjata lain yang justru lebih condong mengarah pada unjuk kebanggaan diri.”. Papar Kyai Lurah Semar panjang lebar.

“Aku juga merasa demikian duhai mahaguruku tatkala daku pertama kali menerima warisan pethel ini dari engkau, daku merasakan aura istimewa pula dari pethel yang ku namai Welgeduwelbeh ini. Lantas mengapa kini aura bijak pethel ini kini menghilang, hanya menyisahkan tumpukan karat dan jamur yang menempel di senjata tersebut. Meski berulang kali mencucinya menggunakan asma-asma haq beriringan guyuran wangi kembang melati yang tercampur dalam buah kendi namun karatan tersebut tak bisa memudar lepas dan bebas, ada apa gerangan duhai mahaguru ?”

“Semula kan sudah ku katakan bahwa pethel itu bukanlah pethel besi biasa melainkan mempunyai sebuah keistimewaan akan nilai kemanfaatan yang luar biasa hebatnya bagi orang yang mempunyai nilai keluhuran budi pada sesama. Apa engkau tak melihat ujung pethel itu yang tertulis tulisan rajah bertuliskan Minshorun dalam Tashrif Istilakhi ilmu shorof mengikuti wazan awal Nashara-Yanshuru-Nasran yang berarti alat untuk menolong. Semakin sering digunakan untuk kemaslahatan umat maka kesaktian pethel itu semakin bertambah, semakin tajam dan semakin tajam pula, sebaliknya apabila pemilik pethel itu menggunakannya menuju arah negatif maka keistimewaan pethel itu semakin tak bertaji, aura nur haq dari pethel tersebut pun perlahan memudar meredup, hingga berjamur dan karatan tak bertaji efek hilangnya aura tersebut.inilah alasan mengapa karat dan jamur pada pethel welgeduwelbeh tetaptak bisa hilang meski engkau telah mencucinya, menggosok-gosoknya, mengasahya berulang-ulang kali walaupun dengan campuran air suci melati beriringan asma-asma haq pula. Coba engkau fikirkan tentang hasrat apa yang pernah menempel pada dirimu”

Ki lurah Petruk sejenak berfikir tentang kesalahan terkait keputusannya kala itu saat memilih untuk menyimpan dan menggunakan kehebatan Jamus Kalimasada tanpa seizin empunya Prabu Puntadewa pasca berhasil merebut mustika keraton tersebut dari tangan Dewi Ning Mustakaweni hingga ia menjadi raja Lojitengara bergelar Prabu Welgeduwelbeh. Kyai Lurah Semar yang memiliki ilmu paningal batin dengan mudah menyadari tentang apa yang difikirkan oleh muridnya tersebut. 

“ Keputusanmu menyimpan Pethel itu di gudang saat itu sedikit banyak juga membuat aura kemanfaatan mustika itu perlahan meredup, menenggelamkan keistimewaan pethel tersebut, hingga digantikan oleh noda karat yang sulit untuk dihilangkan oleh si pemilik senjata tersebut”. Kyai Semar merusak penghayatan Petruk.

“Lantas haruskah daku mengembalikan senjata tersebut pada engkau sehingga engkau yang tak punya hasrat bisa mencuci pethel tesebut ?”

Kyai Semar pun berkata, “Tidak Petruk si pinokio, kesaktian pethel ini tak akan kembali walau daku yang membasuh mencuci dan menggosok pethel tersebut. Selain itu belum tentu juga aku mampu menghilangkan karatan pada pethel tersebut karena hakekat pethel ini sepenuhnya milikmu, aku telah mewariskan padamu dulu dan tidak mungkin aku mengambil kembali pethel itu darimu. Engkau lah pemilik resmi pethel tersebut, jadi masalahmu dengan pethel itu harus engkau sendiri yang menyelesaikan jangan malah melibatkan orang lain yang tak tahu menahu.”. 

“Ternyata seperti wanita saja pethel ini, suka merajuk dan ingin selalu dimengerti akan perhatian hahaha, lantas harus bagaimana gerangan wahai mahaguruku ?” papar Ki Petruk

“Maaf aku tak bisa memberikan solusi jalan keluar terkait masalahmu, meskipun para dalang bilang bahwa aku Kyai Lurah yang mewarisi nur Bathara Ismaya tapi aku juga manusia biasa yang tak tahu menahu tentang qodrat irodat dan skenario dari Sang Hyang Ilahiyyah Tunggal. Coba engkau cari kolega seperjuanganku saat menuntut ilmu keluhuran Resi Ganesa namanya ia memiliki fisik yang besar, mungkin ia dapat memberikan tawaran solusi atas permasalahanmu, seingatku dulu ia singgah di daerah yang bernama Zambrud Khatulistiwa. Jika engkau berhasil bertemu dengannya jangan lupa tolong salamkan atas namaku padanya juga.” 

“Lantas bagaimana dengan kesepakatan kita bersama dalam pertemuan itu untukpencarian garuda untuk mencari petunjuk dimana mustika Garda Panca Sirah berada demi mengatasi keacauan di hastina, bukankah itu tak kalah penting duhai mahaguru?”, kembali Ki Petruk bertanya.

Bagaimana mungkin engkau berhasil menemukan petunjuk dimana Mustika kenegaraan Garda Panca Sirah berada, sedang engkau masih mempunyai sebuah hasrat akan individual tanpa mau bekerja sama dengan punakawan lainnya, ini pula yang menyebabkan Pethelmu berarat tak bertaji”

“Pencarian garuda kita batalkan dulu saja, mari kita mempersiapkan dulu bekal yang cukup sebelum mencari seluk beluk dimana garuda berada, selain itu Petruk ada misi khusus untuk mengembalikan kesaktian Pethel kesayangannya,–Smarasanta”, Tulis pesan Ki Lurah Semar pada grup Whats App yang berisikan tujuh pejuang gila yang merapatkan barisan pada hari sebelumnya.


-----
Prev: Mustika Garda Panca Sirah ?    -   Next: Petruk Mencari Ganesa  

-----

Rizal Nanda Maghfiroh - (Sambeng, Lamongan  23 September 2017)


2 komentar:

Terima kasih atas masukan anda.